Sorotan

Pekan 10 Liga 1

Epik Gagal Rachmat Irianto pada ‘Malam untuk Jhoner’

Seharusnya, gol pada menit 45 adalah momen epik yang layak diingat dari pertandingan Persebaya melawan PS Tira Kabo, di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (21/7/2019).

Damian Lizio memberikan operan pendek ke Rachmat Irianto. Pemain berusia 19 tahun itu merangsek, menggiring bola mendekati kotak penalti PS Tira. Muhammad Abduh Lestaluhu membayang-bayangi tanpa melakukan tekanan untuk merebut bola.

Lalu Rian, sapaan akrab Rachmat, seperti menemukan momentumnya di luar kotak penalti: ambil ancang-ancang dan menghajar bola ke sudut atas gawang PS Tira yang dikawal Angga Saputro.

Seharusnya ini momen epik: saat Rian dengan menangis menepuk logo Persebaya di dada berkali-kali dan menunjuk bangku cadangan. Djajang Nurjaman berdiri dari tempat duduknya dan menengadahkan tangan: berdoa sekaligus bersyukur.

Seharusnya ini momen epik: ini gol pertama Rian untuk Persebaya musim ini. Dicetak di gawang pemuncak klasemen, saat 19.274 pendukung Persebaya yang hadir tengah merayakan malam penghormatan untuk Jhonerly Simanjuntak yang meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.

Rian anak legenda Persebaya Bejo Sugiantoro. Jhoner, salah satu tokoh Bonek yang disegani dan bakal dikenang karena perjuangannya mengembalikan Persebaya dari mati suri akibat sanksi PSSI.

Legenda di tribun dan calon legenda di lapangan hijau. Seharusnya malam itu adalah malam yang layak dikenang karena kemenangan Persebaya.

Namun tidak. Naskah apik momentum epik itu gagal dituntaskan dengan ciamik, setelah pada menit 67 wasit Yudi Nurcahya menghentikan pertandingan karena lampu stadion mendadak padam total. Saya jadi teringat pertandingan uji coba Persebaya melawan Queens Park Rangers pada 24 Juli 2012 di Gelora Bung Tomo. Lampu juga mendadak padam saat itu.

Ribuan Bonek menciptakan atraksi ‘sejuta bintang’ dengan menggunakan cahaya ponsel. Indah. Namun tetap saja insiden ini memukul nama baik panitia pelaksana, dan melengkapi episode ‘perseteruan’ kenaikan tarif sewa yang diletupkan Pemerintah Kota Surabaya dalam pembahasan rancangan peraturan daerah pekan sebelumnya.

Sementara itu di atas lapangan hijau, naskah epik Rian dihancurkan oleh gol PS Tira yang diciptakan Wawan Febriyanto pada menit 64. Gol ‘mudah’ yang lagi-lagi diperoleh dari kontribusi lemahnya lini belakang Persebaya.

Seharusnya pertandingan malam itu adalah pertandingan yang layak dikenang. Saya membuat jajak pendapat kecil-kecilan di akun Twitter dan mendapati fakta bahwa dari 180 orang, 58 persen menyatakan ini pertandingan dengan hasil seri terbaik Persebaya di kandang sendiri.

Di luar hasil seri yang menjengkelkan, pertandingan ini adalah adu taktik dua pelatih yang menyukai possession football, menyukai build up play, operan kaki ke kaki dari belakang.

Djajang Nurjaman membuat perubahan skema dan posisi pemain. Jika biasanya Persebaya bermain dengan pola dasar 4-3-3, kali ini bermain dengan formasi 4-2-3-1. Double pivot yang melindungi area pertahanan adalah duet Rian dan Muhammad Hidayat. Rian yang biasanya menjadi bek tengah kini ditempatkan sebagai holding midfielder. Dia bertugas menghancurkan serangan Tira sekaligus menjadi blok pertama yang melindungi area pertahanan Persebaya.

Sementara itu Amido Balde diletakkan sebagai penyerang tunggal dengan ditopang Damian Lizio, Rendi Irwan, dan Irfan Jaya di belakangnya.

Perubahan lain ada pada posisi bek kanan. Djajang mengistirahatkan Novan Setya dan memasang Aburizal Maulana. Bek tengah masih duet Mukhamad Syaifuddin dan Otavio Dutra. Ruben Sanadi di posisi bek kiri dan Miswar Saputra menjadi penjaga gawang.

Pertandingan menghadirkan pertempuran di lini tengah. Kedua tim enggan bermain ‘gung ho’. Persebaya dan PS Tira menghadapi situasi yang kurang lebih sama. Mereka sama-sama produktif di depan: PS Tira mencetak 19 gol dan Persebaya 16 gol. Namun barisan pertahanan mereka kurang bagus: Persebaya kebobolan 13 gol dan PS Tira 9 gol.

Statoskop Jawa Pos mencatat, pemain-pemain Persebaya ganas di depan gawang. Mereka melepaskan 124 tembakan selama 9 pertandingan. Lebih rajin daripada PS Tira yang melepaskan 99 tembakan.

Jadi Rahmad Darmawan memilih tak memainkan tempo super cepat dalam melakukan build up play. Namun transisi dari bertahan ke menyerang berjalan bagus.

Saat menyerang, lima pemain PS Tira bergerak bersamaan menuju kotak penalti Persebaya: Loris Arnaud, Wawan Febriyanto, Parfait Louis, Osas Marvellous, dan Ciro Ferreira. Saat lawan merebut bola, mereka tak terburu-buru kembali ke daerah pertahanan. Rahmad Darmawan agaknya hapal dengan gaya main Persebaya di bawah Djajang. Ia menginstruksikan anak-anak asuhnya mengganggu pemain Persebaya di daerah pertahanan lawab agar tak membangun serangan dari kaki ke kaki.

Pergerakan Wawan yang beroperasi di sayap merepotkan Aburizal. Menit 19, gocekannya di sisi kanan kotak penalti Persebaya membuat Aburizal jatuh bangun. Wawan menembak dari jarak dekat, namun Miswar berhasil menepisnya.

Dengan lima pemain bergerak bersama merangsek ke kotak penalti, PS Tira menciptakan sejumlah opsi serangan dengan Ciro sebagai otaknya. Bola bisa mendadak dialirkan lewat sayap yang berujung umpan silang. Namun bisa juga dilakukan umpan terobosan kepada Osas atau Ciro menembakkan bola langsung dari luar kotak penalti.

Ampuhnya taktik pergerakan bersama pemain Tira ini terbukti pada menit 64. Ini berawal dari keberhasilan Perfait merebut bola dari Hidayat. Bola diberikan kepada Ciro yang langsung menyuplaikannya kepada Loris Arnaud yang berlari ke sisi kiri luar kotak penalti Persebaya.

Seharusnya Ruben Sanadi menutup pergerakan Arnaud. Namun justru Dutra yang terbetot menghadang Arnaud dan melepaskan perhatian darj Ciro yang berlari masuk ke dalam kotak penalti Persebaya.

Situasinya kini empat pemain PS Tira melawan lima pemain Persebaya di dalam kotak penalti. Terlihat jelas: pemain Persebaya kebingungan hendak menjaga pergerakan pemain Tira dan terpaku pada bola, sehingga tak mengantisipasi aksi Arnaud yang mengembalikan bola ke Ciro.

Ciro yang bergerak tanpa pengawalan melepaskan bola datar ke arah Wawan Febriyanto yang tak terkawal. Bola disepak keras mendatar masuk ke dalam gawang Miswar. 1-1.

Di luar pertunjukan lemahnya barisan pertahanan Persebaya, taktik Djajang sebenarnya relatif lebih baik daripada saat dikalahkan PSM Makassar 1-2. Djajang mencoba menggunakan taktik seperti saat melawan Persib: memanfaatkan pergerakan Damian Lizio untuk menyuplai bola ke Balde melalui umpan terobosan. Setidaknya sekali Balde lolos dari kawalan bek tengah Tira dan tinggal berhadapan dengan kiper. Namun tendangannya menghantam mistar gawang.

Sebagai variasi, Djajang menginstruksikan adanya suplai bola atas dari sayap untuk ditanduk Balde. Namun tandukan Balde malam itu jauh dari akurat. Damian Lizio malam itu rajin bergerak, mengatur serangan, dan melakukan tembakan jarak jauh. Namun tak ada satu pun menghasilkan.

Praktis malam itu hasil akhir ditentukan pada siapa yang paling sedikit berbuat kesalahan. Dan dua gol terjadi karena para pemain belakang dua tim tak melakukan pressing dengan benar.

Persebaya gagal menang malam itu. “Banyak peluang, tak ada gol tambahan,” kata Djajang. Dari 18 tembakan, hanya empat yang tepat sasaran. Sementara Tira membukukan enam tembakan tepat sasaran dari total 16 tembakan.

Namun seharusnya dengan keberanian Djajang bereksperimen menjajal dua gelandang bertahan dan membangkucadangkan Misbakus Solikin, ini bisa menjadi titik balik kebangkitan. Dengan double pivot yang tangguh dalam bertahan dan merebut bola, serangan lawan lewat sektor gelandang tak akan langsung berhadapan dengan dua bek tengah Persebaya yang lamban.

Ada kalanya titik balik berasal dari pengalaman pahit. Kekalahan Chelsea 0-3 dari Arsenal membuat Antonio Conte melakukan perubahan formasi dari empat bek menjadi tiga bek tengah dan mengantarkannya menjuarai Liga Primer Inggris 2016-17.

Misi berikutnya: menciptakan narasi epik di Padang. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar