Sorotan

Diletantisme Gramsci dan Gagasan Sastra

Ribut Wijoto.

Sungguh kegiatan bersastra telah merambah dalam dengar pendapat penemuan kerangka ilmu-ilmu sosial ataupun kebudayaan. Gagasan dari bersastra telah mecerahkan dan meracuni produksi gagasan-gagasan dalam pikiran para ilmuwan. Aspek stilistika dalam sastra mempermudah pernyataan keilmuan menemukan format ideal penyajian. Aspek kisah sering dipakai inspirasi atau ilustrasi non empirik bagi keruwetan gagasan filsafat. Aspekis sastra yang lain pun tidak kalah penting bagi percaturan interdisipliner pengetahuan.

Jean Baudrillard, pembicara postmodern paling provokatif, patut berterima kasih kepada Jorge Luis Borges. Berkat cerita berjudul “Lotere di Babilonia”, pemikiran Baudrillard tentang simulakra mendapatkan kegamblangan ilustrasi. Masyarakat Babilonia yang menggemari dan menaruh kepercayaan besar terhadap permainan lotere dipergunakan sebagai gambaran masyarakat yang menerapkan konsepsi simulasi. Bisa jadi, inspirasi tentang simulakra milik Baudrillard diperoleh dari pembacaan terhadap cerita karya Borges, sang sastrawan buta dari Argentina.

Lain Baudrillard lain pula Gramsci. Antonio Gramsci, tokoh kiri dari Itali, penggagas konsep “hegemoni” sempat memberi kerangka kerja bagi kegiatan intelektual. Jenis kerja intelektual mesti menggunakan data empirik dan didistribusikan lewat tulisan. Kegiatan semacam ini memerlukan perjuangan keras melawan kebiasaan “diletantisme” (aliran pecinta seni dan sastra): kebiasaan improvisasi, kebiasaan solusi-solusi “retorika” atau solusi-solusi yang diusulkan (Gramsci, Sejarah dan Budaya, terj. Ira Puspitorini, dkk., 2000: 170). Gramsci benar-benar terhegemoni dengan karakteristik kegiatan diletantisme sehingga perlu mengenali sekaligus menjauhinya.

Minimal ada tiga persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih mendalam. Mengapa Gramsci—bukan sedikit ilmuwan yang sependapat, terutama penguasa!—berusaha menghindari diletantisme? Mengapa diletantisme menjadi pilihan format sastra? Apa yang dapat dicerap dari kinerja diletantisme?

Ketiga persoalan tersebut bukannya saling terpisah. Ketiganya saling bertautan dan membentuk reproduksi dari realitas. Gagasan sastra. Gagasan yang hidup, menghidupi, dan dihidupi oleh kompleksitas kenyataan.

Seorang ilmuwan dihadapkan dengan tugas kajian kebudayaan. Menelusuri peristiwa dan pergeseran pandangan kebudayaan masa silam. Kerja demikian mirip dengan kerja kesejarahan. Hanya saja, seorang ilmuwan tidak berhenti pada pencatatan dan interpretasi. Hasil dari pembacaan sejarah dikaitkan dengan kondisi kebudayaan terkini. Konsepsi kebudayaan terkini tidak tergariskan secara spekulatif karena ditunjang dengan kondisi-kondisi yang sebelumnya telah terjadi.

Seorang ilmuwan juga dibebani dengan tawaran dunia ideal yang mesti realisasikan oleh masyarakat atau pemerintahan. Tidak hanya dunia ideal yang hendak dibangun, cara atau metode yang mesti ditempuh untuk merealisasikan dunia ideal pun mesti disiapkan oleh ilmuwan.

Sekali lagi ilmuwan beranjak dari latar sejarah. Pada tiap vase perkembangan sejarah dapat dibaca permasalahan yang muncul dan penyelesaian yang dijalani. Lepas dari berhasil dan tidaknya penyelesaian permasalahan, latar sejarah menyajikan pengalaman empirik untuk dijadikan landasan membaca dan menyelesaikan permasalahan kebudayaan terkini.

Melihat kerja ilmuwan yang demikian, kegiatan diletantisme memang penting untuk dihindari. Gagasan ilmuwan meskipun bersifat imajinatif, fantasi, dan tidak terduga. Itu bukan diletantisme. Tawaran-tawaran dari ilmuwan sepenuhnya bersifat empirik. Dapat dipertanggung-jawabkan landasan dan solusi yang sodorkan. Peran imajinasi dan fantasi hanya akan membuat pemikiran ilmuwan menjadi kurang valid. Jauh dari representasi yang bertanggung jawab.

Penghindaran kegiatan diletantisme juga penting bagi pemerintah. Masyarakat bukanlah bidak catur yang patut dijadikan permainan spekulatif. Beragam tawaran konsep dan metode dari ilmuwan diseleksi lalu dipilih yang paling tepat. Tentu saja, pemerintah mengkaji ulang dan mendiskusikannya dengan tim kerja pemerintahan. Obyektivitas dari kebijakan pemerintah tampak dalam rancangan kerja dan tujuan rasional yang hendak dicapai.

Ilmuwan maupun pemerintah melihat waktu sebagai jalan raya tanpa kelokan. Setiap pergerakan waktu diusahakan lurus sesuai dengan kejadian masa silam, kekinian, dan masa mendatang. Senantiasa dihindari kemunculan peristiwa tidak terduga. Sedemokratis apapun sebuah pemerintahan, kebijakan yang ditempuh adalah hasil pilihan pemecahan masalah yang rasional. Apalagi dalam pemerintahan fasis. Segalanya mesti menurut dengan garis kebijakan yang telah ditentukan.

Rupanya Gramsci bersepakat dengan adanya empirisitas kebudayaan dan pergerakan linear dari waktu. Diletantisme yang cenderung spekulatif, mengada-ada, dan berada di luar rasionalitas ditolak mentah-mentah. Dilawan, kalau perlu. Kejadian pencekalan dan pembredelan terhadap karya sastra, teori sastra, pertunjukan seni dimungkinkan dengan paradigma pikir semacam Gramsci.

Karya sastra pun banyak yang menghindari kegiatan diletantisme. Seakan-akan imajinatif, seakan-akan fantasi, seakan-akan spontan. Teks-teks sastra tersebut sepenuhnya empirik dan rasional. Teks-teks tersebut semuanya berkualitas buruk. Bisa juga dikatakan bagus, asalkan menggunakan kriterium di luar sastra. Entah ukuran disiplin politik, sosiologi, komunikasi, studi pembangunan, religius, atau iptek. Asal bukan ukuran estetik sastra.

Estetika sastra mempercayai adanya keterputusan waktu. Karya-karya yang berhasil senantiasa menolak linearitas dari pergerakan waktu. Dante Alighieri dalam puisi panjang “Divina Commedia” banyak mempersilangkan realitas dunia dengan realitas sesudah mati. Goethe dalam drama “Faust” mempertautkan kehidupan manusia dengan kehidupan Tuhan, malaikat, dan setan. Chairil pun tegak dengan pernyataan “sedang kepada cermin aku enggan berbagi”. Selalu ada keterputusan empirik-rasio. Sebuah tanda dari keterputusan waktu.

Sastra bukannya mengabaikan sejarah. Octavio Paz dalam pidato penerimaan hadiah Nobel Sastra tahun 1980 menandaskan, “sastra berada dalam sejarah tetapi sastra bukan suara sejarah”. Paz mengingatkan para sastrawan yang mulai terseret dengan ketakjuban pusaran modernitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Proses kreatif sastrawan memang selaras dengan kerja ilmuwan. Membaca pengalaman dan menguasai berbagai kerangka disiplin ilmu. Hanya saja terapan kerja sastrawan membutuhkan sublimasi tema, yaitu tampak gagasan hasil peleburan realitas, imajinasi dan fantasi.

Pada penyajian, karya sastra pun kerap menggunakan konstruksi spontanitas. Arthur Rimbaud dalam puisi-puisinya menyikan tema dalam kata-kata yang liar, meledak-ledak, sering tanpa makna harafiah, dan tidak terduga-duga. Bermacam-macam kenyataan dan wacana ditumpang tindihkan dalam satu teks puisi. Kelak, konstruksi penyajian puisi Rimbaud dikenali melalui konstruksi psikoanalisis –tiruan dari realitas mimpi. Surealisme. Sebuah temuan metode yang mereduksi puisi dalam kerja ilmu pengetahuan. Memang bukannya tidak bermanfaat, sastra membutuhkan kategorisasi agar dapat diapresiasi dan diperdebatkan. Hanya saja, sastra menjadi mandeg dengan adanya satu kategorisasi dan satu metode ajuan.

Penyair Simbolis Mallarme dalam puisinya membiarkan kata-kata masih memiliki makna asli. Hubungan tiap kata dengan kata yang lain pun tetap dijaga. Hal puitik yang dilakukan Mallarme adalah penyusunan anasir-anasir bunyi yang mengkesankan kata-kata dipilih semata-mata karena bunyi semata. Kata-kata seakan muncul dengan kebetulan. Hugo Ball, penyair dadais, melakukan lompatan yang lebih jauh. Kata-kata diredusir sampai kepada kerangka bunyi semata. Tidak ditemui akulirik atau suara penyair dalam puisi.

Puisi di atas tidak hanya memberi konsep tetapi bentuk penyusunan. Teks atau format gagasan tidak mesti linier. Teks bisa juga berbentuk diskontinuitas. Terpecah-pecah sesuai dengan keterputusan waktu. Dampak bagus dari penyusunan teks atau kisah yang diskontinuitas adalah tiadanya pusat penceritaan. Yang ada, kisah-kisah kecil yang saling berdiri sejajar dan akhirnya membentuk satu kisah besar yang plural, saling melengkapi, saling menghubungi, dan saling menolak.

Pola penyajian karya sastra yang terpecah-pecah dapat ditawarkan ke dalam penyajian disiplin ilmu yang lain. Asal saja disiplin tersebut mau peduli terhadap hasil teks diletantisme. Salah satu ilmuwan antropologi, Levi-Strauss entah sengaja atau kebetulan, memiliki konsepsi yang mirip dengan diletantisme. Tercermin dalam pandangannya tentang kebudayaan dan sejarah; kebudayaan adalah permainan seluruh sistem, seluruh paradigma, sehingga, dalam ruang kebudayaan kita akan melihat tidak hanya satu sejarah, tetapi sejarah-sejarah, “awan debu sejarah-sejarah”.

Diletantisme dalam sastra mutlak diperlukan untuk menghasilkan teks bermuatan gagasan kebenaran puitik. Misalnya dalam puisi. Kata-kata dalam puisi merupakan hasil penghancuran dari kata-kata harafiah. Puisi dengan persekongkolan lariknya membawa kata berputar menjelajah makna-makna baru. Ini sejalan dengan pendapat aliran Formalisme Rusia, terutama G. Von Spett (1923) tentang kebenaran jenis ketiga.

Karya sastra memproduksi kebenaran puitik, kebenaran jenis ketiga. Kebenaran pertama adalah empirik atau yang terjadi dalam kenyataan. Kebenaran kedua adalah akal atau masuk dalam kategori rasionalitas. Ironisnya, kebenaran puitik tidak harus berhubungan langsung dengan dua jenis kebenaran lainnya. Yang sering terjadi, karya sastra berupaya merapuhkan dua jenis kebenaran tersebut.

Fungsi diletantisme atau juga kebenaran puitik ialah beragamnya makna dalam karya sastra. Oleh sebab imajinasi dan fantasi, bahasa beroperasi secara bebas dan rentan konstruksi. Pembaca dibebaskan memproduksi sendiri operasional bahasa. Pembaca pun bebas menentukan makna yang sesuai dengan potensi teks.

Diletantisme. Ini adalah sebuah kebebasan tafsir dan tindak yang tidak mungkin dapat ditemui dalam garis Gramsci maupun pemerintahan paling demokratis. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar