Sorotan

Liga 1 Pekan 24

Dalih Persebaya dan Seorang Abang Becak yang Kecewa

(Doc) Laga Persebaya 24 September 2019 lalu. (Foto: Wahyu Jimbot/BJ)

Pria berkulit keriput itu turun dari sadel becak dan menyodorkan sejumlah uang ribuan rupiah kepada Untung untuk pertukaran satu eksemplar koran pada Rabu (23/10/2019) siang yang terik. Ia membaca sekilas halaman muka: ada formasi pemain Persebaya melawan Persela.

Pria berkulit keriput itu yakin Persebaya bakal menang kali ini. “Nek kalah korane tak suwek,” selorohnya sembari mengayuh kembali becaknya.

Untung, si pemilik kios koran tepi jalan di Kabupaten Jember itu, tersenyum lebar. Ia tidak tahu nama si penarik becak. “Tapi setiap Persebaya main, dia pasti ke sini beli koran. Dia fanatik betul sama Persebaya.”

Saya tidak tahu apakah koran yang dibeli Si Tukang Becak jadi dirobek-robek setelah Persebaya ditekuk 0-1 oleh Persela di Stadion Surajaya, dalam pertandingan pekan 24 Liga 1. Namun saya yakin si tukang becak tak akan kecewa sendirian saat melihat permainan Persebaya sore itu. Performa Persebaya jauh dari mengesankan, dan pertandingan melawan Persela adalah yang terburuk selama Liga 1 musim ini. Lebih buruk daripada saat dihajar Arema 0-4 di Malang.

Sejak menit awal, Persela memaksa Persebaya bermain dalam tempo tinggi. Dalam tempo kurang dari 15 detik setelah peluit sepak mula dibunyikan wasit, Persela nyaris membobol gawang Miswar Saputra. Rafael Oliveira berlari kencang menembus sisi kanan pertahanan Persebaya tanpa bisa dibayang-bayangi Aburizal Maulana. Ia mengirimkan bola umpan silang yang memangkas kotak penalti. Beruntung Alex Goncalves terlambat menyambutnya.

Pertandingan berjalan ketat dan keras. Benar-benar sebuah pertandingan yang layak disebut derbi Jawa Timur. Tidak seperti pertandingan Arema melawan Persebaya yang justru cenderung kalem dan pemain berusaha meredam emosi, pertandingan Persela melawan Persebaya kali ini berjalan dengan tensi tinggi. Dalam delapan menit awal saja sudah terjadi tujuh kali pelanggaran: tiga kali oleh Persela, empat kali oleh Persebaya. Statoskop mencatat selama 90 menit ada 45 kali pelanggaran, 24 kali di antaranya dilakukan Persebaya. Kerasnya tensi juga bisa dilihar dari enam kartu kuning yang dikeluarkan wasit, empat di antaranya untuk pemain Persebaya.

Kunci kemenangan Persela ada pada pressing. Pemain Persela menekan terus pemain Persebaya, sehingga membuat pemain lawan tak nyaman dan terburu-buru mengalirkan bola cepat ke lini depan. Ketergesa-gesaan pemain Persebaya dalam melakukan operan langsung dan daerah ke zona pertahanan Persela membuat akurasinya sangat buruk. Statoskop mencatat akurasi operan Persebaya hanya 62 persen. Ini yang terburuk sepanjang Liga 1 tahun ini.

Pola permainan Persebaya memang sama sekali tidak jelas. Selain terburu-buru menyuplai bola ke depan, dukungan lini tengah untuk David da Silva dan Irfan Jaya yang memotori lini serang juga minim. Lini tengah dikuasai Persela yang menempatkan gelandang pekerja keras Kei Hirose. Persebaya selalu kesulitan melewatkan bola melalui lini tengah. Ini membuat Irfan dan Da Silva harus rajin mundur untuk mencari bola. Aryn Williams gagal menjadi ball winner yang baik untuk merebut bola dan mengonsolidasikan serangan Persebaya.

Babak kedua, Persebaya mulai berani memainkan bola dari kaki ke kaki dan tak terburu-buru memberikan umpan langsung kepada Da Silva maupun Irfan. Menit 47, Rendi Irwan berhasil menusuk ke kotak penalti dan melambungkan bola untuk disundul Da Silva. Namun bola sundulan Da Silva yang tepat mengarah ke gawang berhasil ditepis kiper Dwi Kuswanto.

Belum tajamnya Da Dilva ini dimaklumi oleh Pikal. “Mungkin dia belum form 100 persen seperti tahun lalu, perlu satu dua gol, kepercayaan diri Da Silva naik lagi,” katanya.

Namun lubang di sisi kanan Persebaya masih menganga. Abu Rizal Maulana tak efektif memainkan peran untuk menyokong serangan dari sayap. Ia malah justru sering meninggalkan ruang kosong di sisi kanan Persebaya yang menarik minat pemain Persela untuk mengeksploitasinya.

Gol Persela pada menit 63 berawal dari sisi kanan pertahanan Persebaya. Izmy Hatuwe mengirimkan bola lambung tanpa ada yang menekan ke kotak penalti Persebaya. Alex Goncalves sudah menanti dan melakukan tandukan. Tandukannya sebenarnya bisa ditepis Miswar. Namun bola pantulan itu tidak segera disapu keluar oleh Hansamu Yama Pranata. Hansamu melindungi bola agar Miswar segera mengambil bola pantul itu. Di tengah ruang kosong kesalahpahaman itu, Malik Risaldi memasukkan kaki kanannya di sela-sela kaki Hansamu dan menendang bola masuk ke dalam gawang Persebaya: 1-0 untuk Persela.

Ini hasil negatif untuk sekian kali. Persebaya seperti tengah mengalami masa kemarau panjang. Namun di luar kualitas permainan yang memang jeblok (Persebaya hanya bisa melepaskan empat kali tembakan, dua di antaranya akurat), Persebaya menemukan sederet ‘kambing hitam’ baru.

Kambing hitam pertama tentu saja masalah absennya pemain yang disebut Wolgang Pikal sebagai pemain kunci dan sedikitnya opsi pemain yang bisa dipilih. “Kami tidak bermain dengan pemain full (team). Pemain kami total kurang dalam skuatnya. Kami punya 20 pemain di luar tiga kiper. Kami punya pemain kena kartu merah, tiga pemain cedera, ada yang demam. Sisanya 15 pemain memang begitu. Kita hadapi untuk maksimalkan,” katanya.

Kambing hitam terbaru adalah wasit. “Empat lima kali saya rasa ada keputusan aneh dari wasit,” kata pelatih asal Austria ini.

Sang kapten Ruben Sanadi juga kecewa dengan wasit. “Saya rasa kami dirugikan. Tapi mau bagaimana lagi, itu bukan alasan buat kami.”

Kambing hitam lainnya adalah panasnya cuaca dan minimnya pemulihan kondisi pemain setelah pertandingan sebelumnya. “Energi pemain kami kurang. Kami kalah duel, masalahnya adalah recovery,” kata Pikal.

Pikal paham bahwa Bonek menginginkan kemenangan. “Tapi kita harus lihat situasi sebenarnya bagaimana,” katanya.

Kekalahan selalu memproduksi banyak dalih dan penjelasan. Namun bagi Si Tukang Becak tua di Jember, kekalahan tetaplah kekalahan. Kamis siang (24/10/2019) itu, ia kembali ke kios Untung dan membeli koran lagi. Namun kali ini dengan lesu. “Katanya korannya cuma ditaruh saja, dibaca nanti-nanti,” kata Untung.

Memang hanya kemenangan yang membahagiakan. Sisanya tidak penting. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar