Sorotan

Bonek, Semarang Fans, dan Narasi Gagal Elite Sepak Bola

Foto: sumber youtube

Suporter sepak bola sering disalahpahami oleh orang-orang di luar mereka. Itulah kenapa narasi yang dibangun elite-elite sepak bola seperti CEO PSIS Semarang Yoyok Sukawi tidak pernah sinambung dengan realitas.

Saat Persebaya melumat PSIS 4-0 pada pekan 19 Liga 1, hal yang paling mudah dilontarkan Yoyok bukan urusan teknis sepak bola. “Kesepakatan awal kan sudah jelas, tertuang dalam surat resmi jika pertandingan PSIS lawan Persebaya tanpa penonton. Bonek melanggar kesepakatan itu dan menjebol pintu sehingga membuat situasi panas tak terkendali,” katanya sebagaimana dikutip goal.com.

“Yang disalahkan harusnya Bonek bukan suporter PSIS. Kami masih mampu menyelenggarakan pertandingan sampai selesai, dengan situasi yang membahayakan. Kalau pihak lain pasti tidak mau melanjutkan pertandingan. Kami menjunjung tinggi fair play, dan lebih banyak dirugikan,” jelasnya.

Narasi Yoyok memiliki banyak lubang, ketergesaan, dan simplifikasi. Ia lupa bahwa pertandingan itu bukan laga hukuman. Tak satu pun dari Bonek dan suporter PSIS yang boleh diperlakukan seperti terpidana yang kehilangan hak untuk mendukung tim mereka.

Yoyok lupa bahwa tengah berada dalam posisi sebagai tuan rumah dan ada aturan yang mengharuskan suporter tim tamu mendapat kuota di stadion. Persebaya sudah menjalankan kewajibannya pada putaran pertama. Panitia pelaksana PSIS tidak punya hak memperlakukan Bonek seperti pesakitan saat menjadi tuan rumah.

Alasan keamanan yang mengkhawatirkan bakal ada benturan antara Bonek dan Semarang Fans adalah ahistoris dan tidak relevan. Fakta beberapa kali suporter Semarang diterima dengan baik di Gelora Bung Tomo, Surabaya, menunjukkan tak ada persoalan di antara mereka.

Sebuah spanduk putih di tribun pendukung PSIS bertuliskan ‘Jangan halangi niat kami Panser Biru untuk bersilaturahmi dengan Bonek’ adalah penanda kerinduan terhadap tontonan sepak bola yang merdeka.

Saat Bonek memekikkan yel-yel ‘PSIS’ dan menyanyikan anthem ‘Jiwa Ksatria’ dan suporter PSIS menyanyikan ‘Emosi Jiwaku’, semua daftar persoalan dan kemungkinan-kemungkinan buruk mendadak teranulir. Bangunan prasangka pun runtuh. Tak ada situasi yang membahayakan, yang menurut Yoyok, bisa membuat “kalau pihak lain pasti tidak mau melanjutkan pertandingan”.

Saya tidak tahu apakah Yoyok menyaksikan pertandingan yang sama. Kekalahan telak di Stadion Achmad Soebroto, Magelang, Jumat (20/9/2019), adalah keniscayaan tak terhindarkan saat para pemain PSIS membiarkan pemain-pemain Persebaya bebas beroperasi tanpa pressing konstan. Teknik individu pemain Persebaya juga di atas pemain PSIS.

Tengok statistik versi Statoskop Jawa Pos. Persebaya mendominasi 52 persen penguasaan bola. Mereka juga melepaskan tembakan lebih banyak dibandingkan PSIS: 11 kali, tujuh di antaranya akurat berbanding enam tembakan, empat di antaranya tepat sasaran.

Gol pertama yang dicetak Otavio Dutra pada menit 29 menunjukkan bagaimana kematangan Persebaya memanfaatkan skema bola mati. Bola dikirimkan melalui sepak pojok sisi kiri pertahanan PSIS oleh Diogo Campos dan ditanduk Dutra.

Gol kedua yang dicetak David da Silva pada menit 45 adalah bukti efektifnya serangan Persebaya dalam menghadapi benteng pertahanan PSIS yang rapuh. Hanya dibutuhkan sentuhan empat pemain dengan membangun serangan dari belakang sebelum Da Silva menyarangkan gol ke gawang Jandia Eka Putra.

Berawal dari Ruben Sanadi yang mengirimkan bola lambung ke depan dan diterima Osvaldo Haay. Osvaldo memberikan umpan satu sentuhan kepada Diogo. Pemain dengan rambut berkelir perak ini memutar tubuh dan memberikan bola kepada Da Silva yang berdiri bebas. Tak ada yang mampu mencegah gol Da Silva jika sudah merangsek kotak penalto kecuali takdir Tuhan.

Diogo tak hanya mahir memberikan umpan matang, tapi juga mencetak gol via tendangan bebas pada menit 49. Tak banyak pemain Persebaya memiliki keahlian mencetak gol via tendangan bebas. Misbakus Solikin punya potensi besar. Namun dia kerap tak stabil. Maka Diogo hadir menjadi opsi.

Gol keempat Persebaya pada menit 65 yang dicetak Osvaldo Haay seharusnya membuka mata manajemen PSIS bahwa kekalahan telak itu tak ada urusan dengan Bonek. Gol itu berawal dari keteledoran pemain PSIS dalam menguasai bola di area pertahanan sendiri. Da Silva berhasil merebutnya dan menyalakan mesin serangan balik kilat. Dia oper bola ke Oktafianus Fernando dan kemudian berlari ke kotak penalti: menarik para pemain belakang PSIS bagai magnet, sehingga membiarkan Osvaldo tanpa kawalan. Oktafianus membacanya dan memberikan bola kepada rekannya itu untuk menggandakan skor 4-0.

Hermawan Sulistyo, ilmuwan politik, saat berkunjung ke Jember beberapa tahun lalu sempat mengatakan: bangsa kita tidak mengenal kosakata sportif untuk mengakui kekalahan dengan jiwa besar. Namun elite sepak bola sebenarnya tak perlu mencari ke mana-mana. Tengoklah sebuah sore di Magelang, Jumat itu. Saat dua suporter yang pernah bermusuhan di masa kompetisi perserikatan saling memberikan hormat dengan nyanyian dan pekikan, kita tahu: tak butuh narasi lagi untuk menjelaskan bahwa kita masih berharap menjadi lebih baik. Itu jika elite sepak bola mau belajar. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar