Sorotan

Benteng Terakhir Persebaya

Sepak bola modern membutuhkan keseimbangan, sekali pun mengedepankan filosofi sepak bola menyerang. Dalam keseimbangan itu, dalam balutan formasi apapun (4-4-2, 4-3-3, 4-2-3-1, 4-3-2-1 dan seterusnya), peran kiper sebagai benteng pertahanan terakhir bertransformasi. Hari ini Kiper yang cakap melakukan penyelamatan sama mahal dan pentingnya dengan seorang ujung tombak yang rajin mencetak gol. Itulah kenapa para pendukung Persebaya patut bersyukur dengan kehadiran Abdul Rohim, penjaga gawang yang diangkut dari PSMS Medan.

Jujur saja, saya sudah kesengsem dengan Rohim saat pertandingan final Liga 2 antara Persebaya melawan PSMS di Gelora Bandung Lautan Api pada 2017. Menit 41, dia berhasil menepis tendangan penalti Irfan Jaya. Namun bola pantul yang kemudian ditendang kembali oleh Irfan gagal diselamatkannya. Selain itu, dia melakukan beberapa kali penyelamatan saat pertahanan PSMS dibombardir para pemain Persebaya.

Kehebatan Rohim kembali terlihat saat Persebaya bertemu dengan PSMS di babak perempat final Piala Presiden 2018. Hasil akhir masa normal 3-3. Kiper berlatar belakang personel TNI Angkatan Darat ini menunjukkan kemampuannya mengantisipasi arah bola dalam adu tendangan penalti. Dia berhasil mencegah bola tendangan Ferinando Pahabol, Aburizal Maulana, Otavio Dutra, dan Osvaldo Haay masuk ke gawang.

Setahun berlalu. Rohim kembali berjumpa Persebaya dan kali ini menjadi bagian dari skuat tim turnamen pramusim Piala Presiden 2019. Setelah dipercaya menjaga gawang Bajul Ijo saat melawan Persib, ia kembali menggantikan Miswar Saputra saat melawan PS Tira Kabo dalam babak kualifikasi Grup A di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, 12 Maret 2019.

Kali ini Rohim memakai nomor punggung 1 dan membuat pelatih Persebaya Djajang Nurjaman semakin bisa bernapas lega: memiliki dua penjaga gawang yang berkualitas. Ia menunjukkan kehebatan sebagai penalty-shot stopper handal dengan menahan bola tendangan Loris Arnauld dengan satu tangan kiri.

Pertandingan berakhir 0-0. Ini clean sheet pertama yang diraih Persebaya di kualifikasi Grup A Piala Presiden 2019, setelah sebelumnya kebobolan empat gol saat melawan Perseru Serui dan Persib Bandung. Hasil clean sheet ini tak lantas membuat Persebaya tanpa pekerjaan rumah.

Rohim memang bisa diandalkan di bawah mistar gawang sejauh ini. Dia lebih tenang dalam menghadapi serangan lawan dan membaca arah bola, terutama bola-bola silang di udara, dibandingkan Miswar. Namun dia harus beradaptasi segera untuk tak sekadar menjadi shot stopper, tapi juga sweeper keeper sebagaimana Miswar. Filosofi sepak bola Djajang membutuhkan 11 pemain untuk terlibat dalam permainan. Rohim dituntut lebih pandai membaca permainan, sehingga saat Persebaya mengalami kebuntuan, dia bisa menjadi alternatif awal serangan.

Barisan pertahanan Persebaya membutuhkan seorang bek tengah yang mampu membaca permainan. Beberapa kali peluang PS Tira Kabo terjadi, karena para pemain bertahan gagal membaca arah serangan sekaligus mengantisipasinya. Sejauh ini, pemain bertahan Persebaya yang bagus dalam membaca arah serangan adalah Otavio Dutra. Jika Dutra absen, maka Persebaya kekurangan stok pemain yang memiliki kemampuan tersebut.

Rachmat Irianto, putra asisten pelatih Bejo Sugiantoro, sebenarnya memiliki bakat untuk membaca permainan. Ini terlihat saat dia memperkuat tim nasional yunior. Rian, nama sapaannya, bisa menjadi alternatif dan lebih sering diturunkan agar mendapat pengalaman bertanding lebih panjang. Mempersiapkan Rian adalah pilihan bagus, mengingat usia Dutra juga sudah menua dan tak bisa diharapkan bermain dalam frekuensi tinggi.

Saya percaya, Bejo Sugiantoro sudah bisa membaca problem di lini belakang. Sebagai mantan libero tim nasional dan Persebaya, ia tahu betul cara mendandani sektor belakang. Masih ada waktu untuk memperbaiki sektor lini belakang dan mengasah Rohim menjadi sweeper keeper andalan. Gelar juara liga mendatang tak hanya ditentukan dari produktivitas tim, tapi juga kekuatan sebuah tim untuk bertahan. [wir]

Apa Reaksi Anda?

Komentar