Sorotan

Benarkah Liverpool adalah Penaltypool?

Waktu pertandingan sudah mencapai batas 90 menit. Ada ekstra lima menit dari ofisial pertandingan. Skor masih 1-1. Liverpool terancam membuang dua angka di Anfield melawan Leicester pada pekan 8: deja vu. Musim lalu Leicester menahan Liverpool dengan skor yang sama. Fans Liverpool tidak terlalu berharap ada keajaiban. Fans Leicester bising dengan keyakinan melambung.

Namum Klopp pernah berkata: saatnya untuk berubah dari peragu menjadi orang yang yakin. Selama peluit akhir masih belum berbunyi, takdir belum diguratkan: jangan menyerah.

Lalu kita melihat penyerang Liverpool asal Belgia, Divock Origi, kehilangan bola yang meluncur ke dalam kotak penalti Leicester. Namun Sadio Mane enggan untuk berhenti dan memilih terus mengejarnya. Ia berputar. Bola dikuasainya, dan ia terjengkang. Pemain Leicester Marc Albrighton melanggarnya. Penalti. Video Assistant Referee memastikannya.

James Milner mengeksekusi bola pada menit 95. Liverpool unggul 2-1 dan menjaga jarak dengan Manchester City yang sehari kemudian kalah 0-2 di Ettihad dari Wolverhampton Wanderers.

Penaltypool.
LiVARpool.
Tukang pura-pura.
Curang.
Sandiwara.

Media sosial heboh. Mahfud Ikwan, seorang penulis novel dan sepak bola, menyebut Liverpool sudah memenuhi ciri-ciri juara Liga Inggris. “Mulai dibenci karena wasit. Ini pujian dan doa baik,” katanya di laman akun Facebook saya.

Musim 2019-20 baru memasuki pekan ke delapan. Masih ada 30 pekan lagi, dan fans Liverpool tidak peduli orang mau berkata apa. Toh sebutan Liverpool selalu diuntungkan karena mendapat hadiah penalti dari wasit tak selamanya benar. Data statistik menunjukkan bukan The Reds yang paling banyak mendapat hadiah penalti.

Selama 10 tahun terakhir (sejak musim 2009-10), inilah tim yang paling banyak mencetak gol dari titik putih kotak penalti.

2009-10: Chelsea, 11 gol
2010-11: Manchester City, 8 gol
2011-12: Manchester United, 9 gol
2012-13: Chelsea, 9 gol
2013-14: Liverpool, 10 gol
2014-15: Manchester City, 7 gol
2015-16: Leicester City, 10 gol
2016-17: Bournemouth, Liverpool, Man City, Tottenham Hotspur, 7 gol
2017-18: Crystal Palace, 8 gol
2018-19: Crystal Palace, 10 gol

Jika diakumulasi, sejak 2009-10 hingga 2018-19, bukan Liverpool yang mendapat keuntungan dari putusan penalti wasit. Manchester City yang layam disebut Penalty City karena dalam kurun waktu itu telah mencetak 58 gol dari titik penalti. Terbanyak kedua adalah Chelsea dengan 53 gol..Liverpool mencetak 48 gol.

Data menunjukkan bahwa klaim Liverpool sebagai tim yang sering diuntungkan oleh hadiah penalti terpatahkan sudah. Namun apakah yang membuat cap ini disematkan di Liverpool? Bahkan beberapa pandit sepak bola di Inggris lebih enteng menuding penyerang-penyerang Liverpool mudah jatuh di kotak penalti karena sentuhan lunak ketimbang berpikir sebaliknya.

Tentu saja, faktor pertama adalah soal bias klub. Sebagian pengamat terkenal di Inggris seperti Gary Lineker, Alan Shearer, Gary Neville adalah mantan pemain klub-klub rival Liverpool.

Faktor kedua, bias nasionalisme. Fans Liverpool menyebut pandit-pandit sepakbola lebih toleran terhadap aksi jatuh di kotak penalti yang dilakukan pemain asli Inggris seperti Harry Kane walau sebenarnya aksi sandiwara, ketimbang terhadap penyerang impor macam Mo Salah dan Sadio Mane yang benar-benar dijatuhkan di kotak penalti.

Namun fans Liverpool tak peduli. Kemenangan tetap kemenangan, mau lewat tendangan penalti atau tidak. Apalagi kehadiran VAR membuat putusan wasit lebih terlegitimasi. Sebutan Penaltypool adalah refleksi kecemasan terhadap tranformasi Liverpool yang selama ini ditertawakan fans rival menjadi sosok Deadpool yang mematikan. (wir/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar