Sorotan

Perempat Final Piala Indonesia Leg 2

Batu Kripton Los Galacticos Bernama Persebaya

Jika Madura United adalah Superman, maka Persebaya adalah batu kripton. Itu yang terjadi pada Kamis (27/6/2019) sore di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan. Ini pertandingan kedua babak perempat final Piala Indonesia.

Persebaya memang kalah 1-2. Madura United akhirnya mengakhiri rekor tak pernah menang dalam enam pertandingan sebelumnya (dua seri dan empat kali kalah). “Hasil akhir tetap kita hargai, perjuangan (Persebaya) Surabaya sudah luar biasa. Saat ini giliran kamu yang menang,” kata Presiden Madura United Achsanul Qosasi, dikutip dari salah satu jejaring media sosial (medsos) resmi klub, Jumat (28/6/2019).

Namun siapapun tahu bagaimana Persebaya mendominasi permainan dan merepotkan tuan tumah yang berjuluk Los Galacticos. Jika pada pertandingan pertama di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Madura United mendikte Persebaya, kali ini sebaliknya. Para pemain Persebaya menunjukkan bagaimana dalam sepak bola nama besar bukan segalanya.

Bermain dengan formasi 4-2-3-1, pelatih Djajang Nurjaman menempatkan M. Hidayat dan Fandi Eko Utomo sebagai double pivot di tengah. Osvaldo Haay ditunjuk sebagai tombak tunggal dengan disokong tiga pemain di belakangnya: Damian Lizio, Oktafianus Fernando, dan Manu Jalilov.

Barisan belakang sebenarnya pincang, setelah Hansamu Yama Pranata menyusul Otavio Dutra masuk ruang perawatan. Namun Djajang memberikan ruang kepada Rachmat Irianto untuk berperan menjadi bek tengah bersama M. Syaifuddin di depan penjaga gawang Miswar Saputra. Sementara Ruben Sanadi di posisi bek kiri dan Novan Setya menjadi bek kanan.

Persebaya bermain mendominasi lini tengah. Kali ini, Djajang tak menginstruksikan para pemainnya untuk memainkan bola-bola umpan silang melalui sayap, namun melalui umpan terobosan. Djajang tahu, bola-bola umpan silang di udara akan bisa diantisipasi dua bek tengah Madura United Jaimerson da Silva dan Fandry Imbiri. Namun bola-bola terobosan akan lebih merepotkan, karena empat pemain depan Persebaya memiliki kecepatan.

Taktik jitu, karena berkali-kali Persebaya memberikan ancaman. Dua bek tengah Madura United tak cukup cepat menghadapi pergerakan para pemain depan Persebaya. Selain itu, berbeda dengan beberapa pertandingan Persebaya, kali ini jarak antar pemain cukup rapat, sehingga memungkinkan situasi ‘coming from behind’: ada pemain yang berlari dari belakang yang memberikan kejutan.

Kiper Madura United Muhammad Ridho menjadi tokoh kunci yang menyelamatkan gawang dari ancaman lawan. Ridho mengulangi penampilan gemilang bak Alisson Becker, kiper Liverpool yang keren itu, sebagaimana ditunjukkannya di Gelora Bung Tomo pada pertandingan pertama. Tanpa Ridho, Madura United bakal benar-benar menjadi butiran debu.

Namun dua gol Madura United layak menjadi catatan bagi lini belakang Persebaya. Dua gol itu terjadi dengan skema yang nyaris sama: berasal dari sayap serang kiri Madura United. Alfath Faathier dari sisi kanan pertahanan Persebaya melepaskan umpan lambung dengan bebas ke depan gawang Miswar Saputra. Tak ada yang menjaga Aleksandar Rakic, sehingga bisa dengan mudah memberikan operan dengan menggunakan kepala kepada Beto Goncalves. Beto tinggal menceploskan bola ke gawang dari jarak sekitar dua meter pada menit 6.

Gol kedua oleh Beto pada menit 23 setali tiga uang. Kali ini Andik Vermansah membawa petaka. Ia mengoperkan bola dengan cara yang sama dengan Alfath. Bola gagal ditanduk Beto, namun jatuh ke kaki Marckho Sandi yang melepaskan operan ke Beto, yang lagi-lagi berada di posisi yang sama seperti gol kedua.

Andik Vermansah benar-benar merepotkan di sisi sayap. Tekanan dari sayap mulai berkurang, ketika pemain asal Jember itu ditarik keluar pada menit 45+1 digantikan Slamet Nurcahyono. Tipe Andik dan Slamet berbeda. Kendati sempat dikenal sebagai pemain yang memiliki kecepatan, usia Slamet sudah tak bisa dibohongi. Dia lebih cocok sebagai pengendali serangan di tengah.

Sementara di sisi Persebaya, di luar dua gol kebobolan, mereka bermain nyaris sempurna. Damian Lizio menunjukkan kelasnya sebagai ‘the great feet’. Kakinya menari-nari, mengolah bola lengket, membingungkan para pemain Madura. Golnya pada menit 20 juga mencengangkan: dari jarak sekitar 30 meter. Bola sempat memantul ke tanah sebelum masuk ke gawang Ridho. Babak kedua, tendangan jarak jauh kembali dilepaskan Lizio dan bisa ditepis Ridho.

Persebaya sebenarnya bisa mendapatkan penalti setelah dalam kemelut di depan mulut gawang Ridho, bola tersentuh tangan Alfath. Namun wasit Dodi Setia Purnama mengabaikan klaim pemain Persebaya.

Dodi kembali menggagalkan kesempatan Persebaya menyamakan kedudukan, setelah tidak memberikan hadiah penalti kepada Persebaya setelah Amido Balde ditekel Ridho di kotak terlarang. Balde sudah berlari cepat tanpa pengawalan ke dalam kotak penalti setelah mendapat operan terobosan dari Osvaldo Haay. Ridho keluar dan menghantamnya di dalam kotak penalti.

Tayangan ulang televisi berkali-kali menunjukkan bahwa seharusnya Persebaya berhak mendapatkan hadiah penalti. Tak ada keraguan. Protes terjadi. Namun, pemain Persebaya melakukannya dengan elegan. “Persebaya kalah, tapi saya merasa tidak kalah,” kata salah satu Bonek di Twitter.

Itulah kenapa kemudian lagu Song For Pride yang dinyanyikan Bonek dan para pemain Persebaya di akhir laga terdengar lebih keras dan bersemangat. Kali ini, para pemain berhasil menerjemahkan apa arti bermain untuk sebuah tim bernama Persebaya. Mereka kalah, namun tidak takluk. Mentalitas ‘wani’ dalam dua pertandingan terakhir membuat harapan kembali terbangun di kalangan suporter.

Problemnya: jumlah pemain cedera bertambah. Osvaldo Haay dan Ruben Sanadi harus dirawat di akhir pertandingan. Kaki kiri Osvaldo terpincang-pincang, namun tetap bermain karena kuota pergantian pemain Persebaya sudah habis. Pekerjaan rumah berat bagi Djajang setelah berhasil memulihkan mental pemain. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar