Sorotan

Liga 1 Pekan 4

Awal Tren Positif Persebaya atau Hanya Selingan?

Usai kegagalan menalukkan Madura United dalam pertandingan pertama babak perempat final Piala Indonesia, Djajang Nurjaman menyatakan akan melakukan pendekatan personal kepada para pemain. Ia paham benar mental para pemain tengah terpukul, karena gagal menangguk kemenangan dalam enam pertandingan berturut-turut. Persebaya dalam situasi tertekan. Djajang dalam sorotan.

Di tengah tekanan itu, anak-anak Bajul Ijo harus bertandang ke Kalimantan melawan Borneo FC. Persebaya selalu sulit menang di sana. Dalam Liga 1 musim 2018, Persebaya tak pernah menang menghadapi Borneo: imbang 2-2 di Samarinda dan kalah 0-1 di Surabaya.

Namun apa yang terjadi di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (23/6/2019), di luar perkiraan. Para pemain Persebaya justru bermain lepas. Mereka berhasil mendikte tuan rumah dengan penguasaan 53 persen permainan. Aliran permainan dari kaki ke kaki dan transisi dari bertahan ke menyerang maupun sebaliknya berjalan relatif bagus. Muhammad Hidayat yang beroperasi sebagai gelandang bertahan melakukan tugas dengan baik mendampingi Misbakus Solikin dan Damian Lizio.

Manu Jalilov tidak diposisikan sebagai penyerang tengah dalam formasi trisula. Ia beroperasi di sayap kiri, sementara posisi nomor 9 diisi Osvaldo Haay dan di sisi kanan ada Oktafianus Fernando. Djajang mengandalkan akselerasi Lizio di tengah dan Jalilov yang bersama Ruben Sanadi mengacak-acak sisi kanan pertahanan Borneo, bertarung dengan Diego Michels dan Terens Puhiri.

Borneo memilih menanti serangan Persebaya dan melancarkan serangan balik kilat melalui Terens Puhiri dan Ambrizal Umanailo. Dua pemain gelandang sayap ini memang punya kecepatan kaki yang bisa merepotkan lini pertahanan Persebaya. Pelatih Roberto Mario Gomez menginstruksikan para pemain melakukan dua hal: direct football dan melepaskan tembakan dari luar kotak penalti.

Inti permainan Borneo adalah sebanyak mungkin mengirim bola di area Persebaya dan lepaskan tembakan-tembakan jarak jauh, terutama saat posisi bola mati. Matias Conti dan Renan Silva menjadi andalan di depan. Ini terlihat pada menit 35. Bola tendangan bebas Renan Silva melayang membentur mistar gawang setelah sempat ditepis Miswar Saputra. Tercatat Borneo melepasan 20 kali tembakan, dan hanya tujuh yang tepat sasaran.

Sementara Persebaya membangun serangan dari kaki ke kaki yang konstan sejak awal hingga akhir. Ruben Sanadi dan kawan-kawan bermain nyaman karena para pemain Borneo tidak ketat dalam melakukan pressing. Duet lini tengah Wahyudi Hamisi dan Asri Akbar tidak seintensif Lizio dan Hidayat dalam bergerak dan melakukan tekanan.

Menit-menit awal, para pemain Persebaya belum bermain lepas. Beberapa kali terjadi salah oper dan ketidakjelasan arah serangan. Namun mereka cepat beradaptasi. Duet lini tengah Muhammad Syaifuddin dan Hansamu Yama Pranata bermain solid. Mereka membuat para pemain Borneo kesulitan mendekati kotak penalti dan senantiasa memenangkan duel-duel udara. Kiper Miswar Saputra pun bermain tenang.

Keberhasilan memenangkan lini belakang dan tengah berhasil menyuntikkan kepercayaan diri kepada pemain depan. Persebaya memang hanya melakukan tujuh tembakan. Namun empat di antaranya tepat ke gawang. Sangat efektif. Mereka tahu kapan harus menyerang dan memainkan tempo.

Menit 41, operan Damian Lizio dari tengah diterima Jalilov. Ruben dengan cerdik datang dari belakang membuka ruang dalam kotak penalti. Tanpa kawalan. Bola dari Jalilov dibawa sedekat mungkin ke sisi tiang dekat. Kiper Nadeo Argawinata mempersempit sudut tembakan di tiang dekat. Namun Ruben dengan cerdik membuat gerakan tipuan, seolah-olah mengoper, namun malah melepaskan tembakan langsung. 1-0.

Gol kedua pada menit 71 juga berasal dari assist Jalilov. Akselerasinya dalam kotak penalti gagal ditahan Diego Michels. Ia masih bisa melepaskan bola untuk Oktafianus yang berada tepat di depan gawang. Gol. 2-0.

Malam itu Jalilov tampil penuh pesona. Dalam jajak pendapat kecil-kecilan di akun Twitter saya, sebanyak 38 persen dari 169 orang memilihnya menjadi ‘Man of The Match’. Menit 79, aksi individunya dalam kotak penalti berhasil mengecoh Diego dan Terens Puhiri sebelum melepaskan tembakan keras dari sudut sempit dan bola ditepis oleh Nadeo.

Apa kunci kemenangan Persebaya? Bermain lepas. Entah apa yang disampaikan Djajang kepada para pemain. Namun para pemain terlihat bermain lebih tenang dibandingkan tiga pertandingan Liga 1 sebelumnya. Begitu lepas dari tekanan, mereka bisa bermain eksplosif dan variatif. Ini juga membuktikan, bahwa filosofi taktik Djajang lebih sesuai untuk pemain-pemain yang bermain dengan kecepatan dan pergerakan cair, bukan striker murni seperti Amido Balde.

Kemenangan perdana ini bisa menjadi harapan bakal bangkitnya Persebaya. Namun jika tidak hati-hati, kemenangan ini hanya selingan dari serangkaian ketidakberuntungan berikutnya. Menit 44, Misbakus digantikan Fandi Eko Utomo. Menit 57, Hansamu digantian Rachmat Irianto. Menit 68, Muhammad Hidayat digantikan Abu Rizal Maulana. Semua pergantian dikarenakan cedera, bukan pertimbangan taktik. Tiga pergantian pemain karena faktor cedera ini sedikit-banyak menunjukkan ketidakmampuan Persebaya menghadapi ketatnya jadwal pertandingan.

Terhitung sejak 19 Juni hingga 1 Juli, Persebaya menghadapi empat pertandingan beruntun: dua di kandang dan dua tandang. Pertandingan melawan Madura United dalam Piala Indonesia dan Borneo pada pekan keempat Liga 1 berhasil dilewati. Tinggal pertandingan kedua melawan Madura United di kandang lawan pada 27 Juni dan melawan Persela di Gelora Bung Tomo pada 1 Juli. Semuanya melelahkan.

Jika tiga pemain tersebut mengalami cedera serius, maka opsi pemain untuk Djajang semakin tipis. Apalagi jika Hansamu dan Hidayat benar-benar tak bisa diturunkan pada pertandingan selanjutnya, maka perjuangan Persebaya untuk mempertahankan tren positif akan semakin berat. Dua pemain itu memegang kunci penting dalam kemenangan atas Borneo. Terbukti setelah Hidayat dan Hansamu keluar, sisi pertahanan Persebaya lebih kendor dan akhirnya Terens Puhiri berhasil mencetak gol pelipur lara pada menit 89.

Dalam situasi jadwal ketat, Djajang agaknya bakal melakukan adaptasi taktik dengan tidak selalu memainkan sepak bola tempo tinggi yang menguras stamina. ‘Build-up play’ tetap akan dilakukan. Namun tempo permainan akan diatur sedemikian rupa. Persoalannya adalah apakah mentalitas pemenang seperti di Borneo bisa ditunjukkan saat bertanding di Gelora Bung Tomo?

Kegagalan meraih empat kemenangan dalam empat pertandingan kandang (2-2 melawan Arema dalam Piala Presiden, 1-1 melawan Kalteng Putra, 1-1 melawan PSIS, dan 1-1 melawan Madura Uniteda) menunjukkan bahwa ada persoalan mental saat bermain di kandang. “Saya takut sama Bonek,” kata Ferinando Pahabol, saat bermain untuk Persebaya. Kita tidak tahu apakah ketakutan yang sama juga dirasakan pemain saat ini. Namun Gelora Bung Tomo tak akan pernah bisa menjadi benteng jika rasa takut itu masih bersemayam. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar