Sorotan

Datang dan Pergi, 12 Tahun

\r\n
Beritajatim.com berusia 12 tahun. Di tengah semakin menguatnya media sosial yang menghadirkan pasukan jurnalis warga dan tumbuhnya situs-situs berita baru, pertambahan usia adalah sebuah tantangan yang harus dijawab.

\r\n
Mengelola sebuah media massa dalam jaringan (online) menghadirkan kemungkinan-kemungkinan. Saat awal muncul sebagai situs berita yang berkonsentrasi pada berita-berita lokal di Jawa Timur, kami harus mengedukasi khalayak. Pengetahuan tentang teknologi informasi dan media massa di luar platform cetak, radio, dan televisi di banyak kabupaten dan kota di Jawa Timur belum cukup merata.

\r\n
Saat itu wartawan kami di lapangan masih sering ditanya soal bentuk fisik produk jurnalistik Beritajatim.com. \”Mana majalahmu?\”

\r\n
\”Ini koran harian atau tabloid?\’

\r\n
\”Ini koran milik Pemerintah Provinsi ya?\’

\r\n
Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab dan dijelaskan dengan sabar tentu saja. Ketidaktahuan bukan dosa. Justru di situlah kami merasa bahwa Beritajatim.com akan memainkan peran besar ke depan dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan dengan mengacu pada berita dan informasi yang kami sediakan. Masyarakat daerah seringkali dilupakan dalam lalu lintas informasi. Publik hanya disuguhi peristiwa-peristiwa besar nasional. Sekalipun ada media massa lokal, platform mereka (cetak maupun radio) memiliki keterbatasan ruang untuk menampilkan berita-berita yang penting untuk kepentingan masyarakat setempat.

\r\n
Dalam konteks ini, sumber daya manusia wartawan di lapangan memainkan peran penting. Media massa dalam jaringan tidak direpotkan proses produksi sebagaimana koran maupun majalah. Internet memangkas proses itu dan mempermudah kerja-kerja jurnalistik. Akhirnya, tentu saja, penguatan sumber daya manusia menjadi perhatian besar Beritajatim.com.

\r\n
Beritajatim.com memiliki tradisi merekrut wartawan-wartawan muda yang belum memiliki jam terbang tinggi atau diakui eksistensinya, namun memiliki etos kerja tinggi. Wartawan-wartawan yang selalu tertantang dengan serangkaian pertanyaan di lapangan, pencarian fakta, dan ikhtiar untuk merekonstruksi peristiwa maupun informasi tanpa berpretensi mengklaim diri sebagai kebenaran sejati.

\r\n
Tentu saja, pilihan untuk merekrut para wartawan muda memiliki konsekuensi. Kami tidak bisa menuntut hasil sesempurna mungkin, tapi kami tahu mereka akan berkembang seiring dengan pengalaman dan kepercayaan diri yang tumbuh. Kami hanya memastikan, bahwa ada perbaikan kualitas karya dari waktu ke waktu, tak jumud, tak beku oleh keadaan. Pertumbuhan kualitas personal akan berimbas pada kualitas Beritajatim.com juga secara keseluruhan.

\r\n
Mungkin, ya mungkin, Beritajatim.com tak ubahnya sebuah akademi jurnalisme. Kami bukan media raksasa dan bagian dari jaringan korporasi besar. Namun kami tumbuh bersama, perlahan, sedikit demi sedikit, bersama penguatan sumber daya manusia wartawan di lapangan. Hal ini yang kemudian kami harus mengantisipasi hadirnya kemungkinan pertama: datang dan perginya para jurnalis.

\r\n
Wartawan senior dan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Burhanuddin M. Diah pernah mengungkapkan kegalauannya, sebagaimana ditulis Bondan Winarno dalam sebuah esai. \”Saya telah mendidik begitu banyak wartawan. Tetapi, begitu mereka merasa sudah pintar, mereka lalu meninggalkan saya.\”

\r\n
Kegelisahan BM Diah wajar saja. Sama wajarnya dengan realitas bahwa dalam dunia bisnis, perpindahan sumber daya manusia ke tempat kerja baru bisa muncul karena motivasi apapun. Dan sebuah motif adalah bagian dari hak personal. Yang bisa dilakukan perusahaan media seperti Beritajatim.com adalah bersiap menghadapi kemungkinan tersebut. Selama 12 tahun, Beritajatim.com mengalami banyak momentum di mana redaksi harus mengucapkan salam perpisahan kepada mereka yang pergi dan menyambut wajah-wajah baru dengan ucapan selamat datang yang hangat.

\r\n
Dalam sepak bola Inggris, mungkin Beritajatim.com mirip dengan klub Southampton yang merekrut pemain-pemain muda dan tidak terkenal. Namun saat mereka matang, klub-klub lain antre berebut untuk memboyongnya. Pada titik itu, Southampton tak bisa berbuat banyak untuk menahan para pemain. Namun mereka punya kemampuan untuk merekrut pemain-pemain muda tanpa nama besar lainnya yang berkualitas.

\r\n
Kami sendiri bangga, wartawan-wartawan yang ditempa di Beritajatim.com (sebagian pernah memenangi penghargaan jurnalistik) menjadi incaran media massa lain. Ini semakin mengukuhkan pendapat bahwa sumber daya manusia wartawan memegang peran penting dalam perkembangan sebuah media.

\r\n
Tanpa sumber daya manusia yang bagus, sebuah media massa arus utama seperti Beritajatim.com akan terpapar kemungkinan kedua: gagal memproduksi berita yang berkualitas dan dibutuhkan untuk kepentingan publik. Selain menghadapi persaingan sesama media massa dalam jaringan utama, kami harus menghadapi gempuran air bah informasi dari media sosial.

\r\n
Dalam sebuah air bah informasi, tak ada kejernihan. Fakta bercampur dengan fiksi. Zonder kultur verifikasi atau tabayyun, publik dengan mudah membagikannya, menyebarkannya, dan menahbiskannya sebagai sesuatu yang benar. Ketika fiksi dianggap fakta, kebohongan disebut kebenaran, khayalan disangka kenyataan, maka kita hidup di tengah suasana yang penuh delusi dan \’chaos\’.

\r\n
Bagi media massa arus utama, situasi ini jelas tak menguntungkan. Munculnya kabar-kabar tak terverifikasi di tengah masyarakat membuat situasi tak stabil, dan ini berpotensi merugikan bisnis media massa. Kita bisa bayangkan saat kebohongan dianggap sebagai kebenaran yang jamak, media massa yang mencoba menyampaikan hal yang benar dan meluruskannya justru bisa dianggap tak punya nyali memberitakan kebenaran. Atau lebih parah, dianggap berpihak kepada rezim kekuasaan yang mendominasi kebenaran itu. Tentu tidaklah sehat, jika kadar akurasi kebenaran sebuah kabar ditentukan oleh pendapat umum tanpa melalui proses verifikasi.

\r\n
Begitulah. Dua belas tahun berlalu, dan bersama sumber daya wartawan yang kami miliki, Beritajatim.com tak akan berhenti memberitakan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat. [wir]

\r\n

Apa Reaksi Anda?

Komentar