Kamis, 15 Nopember 2018

Majelis Sastra Urban dan Aturan Dilarang Bertanya

Kamis, 08 Nopember 2018 12:21:11 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Majelis Sastra Urban dan Aturan Dilarang Bertanya

Kami bersepakat membuat sebuah forum di mana setiap orang dilarang bertanya. Kecuali moderator. Setiap orang yang datang hanya boleh mengemukakan pandangan, meluruskan pendapat orang lain, menambahi data-data pendukung, membantah, dan dilarang bertanya.

Kami namai forum itu Majelis Sastra Urban. Penamaan forum ini memakan waktu cukup lama. Jauh lebih lama dibandingkan ketika kami merumuskan visi dan menentukan tema-tema. Perdebatan yang berlarat-larat. Mengapa? Karena kami semua sadar, masalah nama adalah hal ihwal yang sepele. Sehingga setiap nama yang diusulkan selalu tanpa argumentasi mendalam. Dan sebagian dari kami dengan mudahnya mementahkan usulan sekaligus menimpali dengan usulan lain. Akhirnya nama Majelis Sastra Urban dipilih setelah semua dari kami bosan berdebat.

Sebelumnya, kami dengan segera bersepakat, bahwa, dalam forum yang bakal kami gelar sebulan sekali (tiap Jumat malam pada minggu terakhir), ada ditegakkan aturan ‘dilarang bertanya’. Kami tentu saja menyadari tentang pemahaman beberapa orang, asal mula pemikiran berasal dari pertanyaan. Namun, kami memilih untuk mengambil risiko.

Pertimbangannya sederhana, kami kasihan dengan narasumber.

Kami membayangkan suatu kali mendatangkan narasumber seorang cerpenis handal. Pintar mengolah plot, penokohannya kuat, pilihan katanya bernas, dan kisah yang dia bikin mampu merangsang pembaca untuk berpikir jauh. Namun itu dalam tulisan. Dalam berbicara di depan publik, sang cerpenis handal ternyata gagap. Juga introvert.

Kami membayangkan, secara terbata-bata, sang cerpenis handal memberi pengantar diskusi berupa pemaparan tentang proses kreatif.  Mungkin dia hanya tahan berbicara antara 10 sampai 15 menit. Selanjutnya, disambung moderator dengan kalimat: “Kita lanjutkan sesi dialog. Dibuka tiga pertanyaan”. Tiga pertanyaan dilontarkan audien dan secara terbata-bata dijawab oleh sang cerpenis handal, moderator lalu membuka tiga pertanyaan lagi. Demikian seterusnya selama hampir dua jam.

Sungguh, kami sulit membayangkan situasi itu terjadi dalam forum kami. Maka, kami memilih memuliakan narasumber dengan aturan ‘dilarang bertanya’.

Kami menginginkan audien lebih banyak memberikan pandangan perihal karya sang cerpenis handal. Tafsir. Kami ingin menciptakan ruang di mana tafsir dirayakan seluas-luasnya. Tafsir pembaca. Perbedaan tafsir yang bisa jadi disebabkan oleh pengalaman pengetahuan yang berbeda, latar belakang pembaca yang berbeda, dan kepentingan yang berbeda. Agar sang cerpenis handal mungkin saja tidak menyangka jika karyanya memiliki beragam makna. Keberagaman makna hasil dari otak pembaca yang berbeda-beda.

Kami telah mengantisipasi bahwa menciptakan keluasan ruang tafsir sangat sulit. Terlebih kita hidup di tengah-tengah kultur diskusi yang dijejali pertanyaan-pertanyaan terhadap narasumber. Untuk itu, kami sendiri juga bakal menjadi audien.

Walau sama-sama mencintai sastra, kami berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada dari kami yang berstatus mahasiswa antropologi, ada mahasiswa sastra Indonesia, mahasiswa teknik, lulusan psikologi, dan lulusan akuntansi. Ada dari kami yang berprofesi guru les musik, ada yang sehari-hari bekerja mengayuh becak, sopir, ada pula wartawan. Sebagai bagian dari audien, kami akan memandang karya melalui latar belakang kami masing-masing.

Selain untuk memuliakan narasumber yang cerpenis handal namun gagap bicara, metode ini, sekaligus sebagai usaha kami menjawab salah satu problem yang kerap kami dengar di ranah kesusastraan Surabaya (baca: Jawa Timur), yaitu kritik sastra.

Beberapa kali kami mendapat keluhan, kemunculan para sastrawan muda Jawa Timur dinilai tidak dibarengi dengan kemunculan kritik sastra yang memadai. Imbasnya, sastrawan seperti iseng sendiri. Jembatan antara tafsir karya dengan publik menjadi terputus. Pembaruan dan jelajah estetik pun tidak dapat teridentifikasi secara terperinci dan teoritis.

Adanya beberapa kritikus seperti  Shoim Anwar, Tjahyono kembar, Mashuri Alhamdulillah, Heru Susanto, Suryadi Kusniawan, dan beberapa lainnya belum sanggup memenuhi kebutuhan kritik yang proporsional. Sedangkan para akademisi dan sarjana sastra kurang membikin penelitian dengan berpijak pada kondisi kekaryaan sastra yang lebih konkret.

Kami mencoba menjawab keluhan itu melalui Majelis Sastra Urban. Satu per satu kami akan membedah karya sastrawan Surabaya (baca: Jawa Timur). Setahap demi setahap kami akan menafsirkan setiap gejala kesusastraan.

Dan atas usaha ini, kami memilih menjadi bagian dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Pertimbangannya dua hal. Satu, mayoritas dari kami adalah anggota dari komunitas sastra atau komunitas seni. Kami menjadikan institusi DKS sebagai wadah aspiratif dan aplikatif dari kami. Apalagi, dalam takdirnya, dewan kesenian memang mengemban tanggung jawab pengembangan kesusastraan di wilayahnya.

Dua, DKS memiliki Galeri Surabaya. Posisi Galeri Surabaya yang berada di kompleks Balai Pemuda mudah diakses dari segala penjuru, karena memang tempatnya tepat di tengah kota. Terlebih, Balai Pemuda merupakan salah satu ikon kesenian di kota Surabaya. Dalam riwayatnya, tidak sedikit sastrawan yang pernah berproses kreatif di Balai Pemuda.

Maka, sekarang dan ke depan, kami ingin mewarnai ikon kesenian kota Surabaya itu dengan aktivitas tafsir sastra. Dengan satu aturan, dilarang bertanya. [but]

Nama-nama kami adalah Aris Rahman Putra, Alfian, Rizki Amir, Satrio, Nanda A Rahmah, Uyung, Mahrus Hadi, Mahdi Betjak, Mahamuni Paksi, Saifuddin Ayyami, Lubet Arga Tengah, Dadang Ari Murtono, Yusril Ihza, Hembing, Ribut Wijoto, Arul Lamandau, Hanif Nashrullah, Maya Amelia Zahra, dan lain sebagainya.

Tag : seni

Komentar

?>