Kamis, 15 Nopember 2018

Pertempuran di Media Sosial

Selasa, 16 Oktober 2018 11:30:48 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Pertempuran di Media Sosial

Media sosial adalah arena pertempuran politik yang keras. Saling serang antar pendukung dan tim kandidat presiden berjalan tak lagi dalam hitungan hari, namun detik. Setiap saat dari media sosial selalu muncul isu, hoaks atau faktual, mengenai kandidat presiden dan wakilnya. Sebagian besar isu tersebut, jika tak ingin dikatakan seluruhnya, tidak mengampanyekan program maupun visi dan misi para kandidat, namun serangan terhadap kelemahan kandidat lawan.

Serangan tersebut tak selalu menyangkut kebijakan kandidat petahana saat berkuasa, rekam jejak masa lalu kandidat oposisi saat menjabat, namun juga menyangkut urusan personal. Sejumlah regulasi baru pemilu yang diterbitkan Komisi Pemilihan Umum mencoba membatasi kontestasi politik tak seperti tarung bebas martial art. Namun adu gebuk di media sosial tak mudah dicegah.

Kampanye negatif cenderung tak mendidik. Namun bagi sebagian pendukung kandidat presiden, itu lebih efektif untuk membetot minat pemilih. Kerangka yang digunakan adalah kerangka oposisi biner: jika lawan saya buruk, maka berarti saya baik. Para pecandu politik di Indonesia tak terbiasa meyakinkan orang bahwa kandidat mereka baik. Mungkin karena memang tak mudah: ada benturan kultural, bahwa memuji dan menyanjung diri sendiri adalah sebentuk kesombongan yang tak patut. Ketika seseorang menawarkan diri sebagai sosok yang baik, orang akan merespons: 'tidak ada merek kecap nomor dua. Semua merek kecap nomor satu'. Dengan kata lain, tak mudah bagi kita untuk meyakini bahwa seseorang yang menyatakan diri baik memang sejatinya orang baik.

Apalagi parameter kebaikan juga beragam dan sangat relatif dalam politik. Ketika memberikan sejumlah uang kepada pemilih, orang akan menyebut seorang kandidat baik dan murah hati. Ketika seorang kandidat hanya bisa menawarkan janji program dan ikhtiar memperjuangkan aspirasi warga tanpa dibumbui pemberian sejumlah uang, maka dengan mudah dia dituduh pelit, pahit, dan bukan sosok kandidat yang baik.

Sementara itu, apa yang disebut buruk lebih mudah diidentifikasi dan disebarkan. Saat seorang kandidat terpeleset lidah menyebut 'Al Fatekah' karena logat yang tak biasa, dengan gegap gempita para pecandu politik melahapnya. Saat seorang kandidat presiden belum menikah, maka para pecandu politik beramai-ramai bersorak mensyukuri sebagai kesialan yang patut dirayakan. Kita lebih mudah merayakan keburukan sebagai bahan perbincangan, karena aib lebih mudah dikenali daripada kebajikan. Dan itulah yang terjadi di media sosial kita hari ini: perbincangan politik moralis yang tak bermoral dari pendukung dua kubu kandidat presiden dan wakil presiden.

Persoalannya, benarkah semua keriuhan gosip keburukan ini efektif untuk mempengaruhi pemilih saat salah satu kandidat dijatuhkan? Sejauh ini belum ada survei ilmiah yang bisa akurat menerkanya. Justru sejumlah jajak pendapat di media sosial meneguhkan kelucuan-kelucuan maupun ketidakstabilan, seperti seorang kandidat yang kalah telak saat dibandingkan dengan tiang listrik atau ada kandidat tertentu yang menang di satu jajak pendapat, namun kalah di jajak pendapat lainnya.

Sesungguhnya para pecandu politik kita masih belum memerlakukan politik dan pemilihan presiden sebagai bagian dari proses kesepakatan bersama untuk mengelola negara. Mereka memerlakukan kontestasi politik tak ubahnya kompetisi sepak bola dan para pecandu politik itu adalah kaum ultras atau suporter sepak bola yang siap melakukan apa saja untuk mendukung klub mereka.

Andai masih hidup, mungkin Karl Marx akan buru-buru merevisi pendapatnya. Ternyata bukan agama saja yang candu. Aksi dukung-mendukung politik juga candu yang melenakan. Setidaknya untuk membuat kita melupakan persoalan yang tengah bikin mumet. Ketika kandidat presiden yang kita dukung menang, kita berpesta, dan baru merasa puyeng lagi dihantam realitas sosial politik setelah pesta usai. [wir/but]

Tag : pilpres 2019

Komentar

?>