Minggu, 18 Nopember 2018

Pasar Seni Lukis di Tengah Kota Industri

Selasa, 16 Oktober 2018 02:28:19 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Pasar Seni Lukis di Tengah Kota Industri

Yogyakarta kerap kali dikenal sebagai kota seni. Bali terkenal dengan seni dan wisata. Bandung, orang-orang menyebutnya sebagai kota mode. Adapun Surabaya, di wilayah paling timur Pulau Jawa ini, publik lebih mengenalnya sebagai kota industri.

Sejak dikembangkan oleh Belanda dulu, Surabaya memang diarahkan sebagai kota perdagangan dan kota maritim. Perencanaan itu sesuai dengan letak geografisnya yang berada di tengah pusaran antara Indonesia wilayah barat dan Indonesia wilayah timur.

Pencitraan sebagai kota industri inilah yang dimanfaatkan oleh Sanggar Merah Putih untuk menggagas even Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI). Sebuah even yang mencoba memberi solusi atas permintaan pasar kelas menengah Surabaya atas lukisan.

Secara umum, kondisi seni lukis Surabaya saat ini sebenarnya sudah lebih kondusif dibanding kondisi 20 tahun silam. Kondusivitas itu setidaknya dipacu oleh bermunculannya galeri-galeri yang secara intens membikin pameran.

Belum lagi kemunculan galeri kecil lain bahkan hotel yang juga kerap menggelar pameran. Kampus pun tidak kalah getolnya.

Bisa dikata, pelukis tidak punya kesulitan mencari tempat unjuk kreatifitas atau unjuk karya. Kolektor juga memiliki banyak pilihan ruang pameran. Di Surabaya, hampir tiap bulan ada pameran seni lukis. Bahkan, pada bulan yang sama, pameran bisa digelar pada tiga sampai empat tempat.

Apakah riuhnya pameran berbanding lurus dengan kualitas karya? Tunggu dulu. Sampai sekarang, lukisan hasil pameran di Surabaya yang laku terjual di atas angka Rp 100 juta, sungguh sangat jarang. Paling banter sekitar Rp 10 sampai Rp 30 juta.

“Harga memang bukan ukuran utama karya. Justru sebaliknya, harga jual kerap kali menyesatkan atawa membiaskan potensi estetik lukisan. Tetapi, begitulah kondisi seni rupa di Surabaya. Perihal harga tidak mampu bersaing dengan seni rupa Yogyakarta dan Bandung,” tutur seorang pemerhati seni, Imam Muhtarom.

Menurut lulusan Fakultas Ilmu Budaya Unair yang tinggal lama di Jakarta ini, di luar masalah harga, karya seni rupa fenomenal memang nyaris tidak pernah muncul di Surabaya.

“Periksa saja laporan pameran atau peristiwa seni rupa di media-media nasional. Isinya hampir selalu disesaki oleh pameran di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan kadang-kadang Bali. Padahal sebagai sebuah kota besar dengan penduduk yang sangat besar pula, media seharusnya memberi porsi pemberitaan yang besar terhadap peristiwa kesenian atau pameran di Surabaya,” katanya.

Uniknya, beberapa tahun belakangan, seni rupa Surabaya lebih dikenal melalui even PSLI. Peristiwa kesenian yang digagas oleh M Anis ini justru mampu menyita perhatian publik seni di Indonesia. Dari tahun ke tahun pesertanya terus bertambah. Beberapa tahun lalu, panitia sampai menolak puluhan calon peserta.

Tanggal 12-21 Oktober ini, PSLI hadir kembali untuk yang kesebelas tahun. Bertempat di JX Internasional, Jl Ahmad Yani, Surabaya, peristiwa kesenian yang dibuka Gubernur Jatim Soekarwo ini melibatkan 140 pelukis dari seantero Nusantara.

Pasar Seni Lukis tahun ini juga dilengkapi dengan seminar seni rupa, musik, aksi melukis on the spot, maupun talk show dan pembacaan puisi. Tidak tanggung-tanggung, penyair yang didatangkan adalah Abdul Hadi WM, Akhudiat, dan Afrizal Malna. Bahkan, PSLI memberikan donasi bagi korban gempa di Palu.

Kemeriahan PSLI tentu saja belum cukup untuk menjadi barometer perkembangan seni rupa di Surabaya. Meski begitu, setidaknya, PSLI bisa menjawab kebutuhan lukisan bagi Surabaya yang bercitra kota industri.

“Tumbuhnya sektor properti menciptakan pasar yang bagus bagi wilayah seni lukis. Situasi itu harus dibarengi dengan pasokan lukisan yang memadai. Pasar Seni Lukis Indonesia, salah satu tujuannya, memang menggarap tantangan tersebut,” tandas M Anis. [but]

Tag : seni

Komentar

?>