Minggu, 21 Oktober 2018

Tentang China (1)

Paradigma Dua Apapun Hua Geofeng vs Prinsip Kucing Deng Xioping

Minggu, 23 September 2018 22:45:21 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Paradigma Dua Apapun Hua Geofeng vs Prinsip Kucing Deng Xioping
Ainur Rohim, Penanggung jawab beritajatim.com.

Tak sampai 70 tahun, Republik Rakyat China (RRC) yang Komunis mampu mengimbangi Amerika Serikat (USA) yang Liberal dan Kapitalis dalam perspektif ekonomi, politik global, militer, diplomasi internasional, dan lainnya. China di bawah Presiden Xi Jinping sedang berperang dagang versus USA yang dipimpin Presiden Donald Trump.

China pasca Mao Zedong yang tetap Komunis mengalami revisi terjemahan ideologi politiknya di lapangan ekonomi-bisnis. China hanya melaksanakan prinsip perestroika (reformasi ekonomi) dan memarkir prinsip glassnot (keterbukaan politik) jauh-jauh di luar wilayah teritorial China. Itu berbeda jauh dengan yang dianut Mikhail Gorbachev ketika memimpin Uni Sovyet. Dia menerapkan kedua prinsip ini secara simultan. Hasil akhirnya: Uni Sovyet bangkrut dan bubar.

Artikel berikut berusaha memotret China di era Deng Xioping dan setelahnya dalam perspektif historis-politik, sehingga negeri Tirai Bambu tersebut saat ini mampu mengimbangi USA dalam banyak ranah kehidupan.

Dan kedua negara ini dalam setahun terakhir terlibat perang dagang, yang dampaknya bukan sekadar dirasakan rakyat dan pemerintah kedua negara. Banyak negara lainnya terkena efek negatif dari dua kekuatan utama ekonomi dunia tersebut yang sedang berperang.

Republik Rakyat China (RRC) di era Mao Zedong, bapak pendiri China modern yang berpaham Komunis, dengan China di era Deng Xioping dan setelahnya perbedaannya bagai bumi dan langit. Di era Deng, Komunisme China mengalami revisionis, tak lagi bersifat ortodoks, kaku, dan konservatif.

Mao dikenang selain sebagai bapak pendiri China modern yang berpaham Komunis dan mengusir kaum Nasionalis Kuomintang ke Taiwan, Mao yang di era kekuasaannya yang menggagas program Lompatan Jauh ke Depan: Mimpi besar Mao menjadikan China layaknya negara-negara industri maju di Eropa Barat, seperti Inggris, Prancis, dan tentu Amerika Serikat.

Di era Mao pada 1966-1976 di China ada gerakan besar Revolusi Kebudayaan. Revolusi yang mengakibatkan kaum intelektual, budayawan, dan termasuk kamerad Komunis China yang dituding teracuni ideologi kanan (Liberalisme- Kapitalisme) dipinggirkan dari inner circle kekuasaan Mao.

Revolusi Kebudayaan ini tutup buku setelah Mao menghembuskan nafas terakhir dan Geng Empat, kelompok politik di sekitar lingkaran kekuasaan Mao yang menggerakkan dan mengawal Revolusi Kebudayaan, kalah dalam pertarungan politik di China versus elite politik Komunis China di luar garis konservatif dan ortodoks.

Deng Xioping dan Hua Guofeng adalah dua elite Komunis revisionis China, meski Hua pandangan politiknya masih agak dipengaruhi nilai-nilai konservatisme komunis yang rigid vis a vis Deng yang pemikiran politiknya lebih revisionis dan terbuka.

Hua Guofeng pengikut ajaran "Dua Apapun": Sebuah pemahaman nilai politik yang mesti diikuti semua elite politik komunis China terkait dengan apapun perkataan dan perbuatan Mao Zedong.

Jadi, apapun yang dikatakan dan diperbuat Mao sebelum pemimpin kharismatik China itu meninggal dunia, harus dijadikan semacam "fatwa" atau "ayat suci" yang wajib dijalankan elite komunis China secara tekstual, kaku, ketat, dan paripurna setelah era Mao Zedong.

Deng menolak dan melawan prinsip "Dua Apapun" Hua Geofeng. Ajaran tersebut bertentangan dengan prinsip Maoisme itu sendiri. Karl Marx, Lenin, Engel, dan Mao Zedong, keempatnya penggagas dan penganjur Komunisme Internasional, tak pernah menyuruh pada pengikut mereka untuk mengikuti ajaran ideologi politiknya secara membabi- buta. Deng mengajukan prinsipnya sendiri: Mencari Kebenaran dari Kenyataan.

Deng memberikan akses kepada riset teknologi dan ekonomi untuk memberikan saran dan masukan kepada kebijakan-kebijakan rezim Komunis China. Kebijakan pemerintah tak boleh ngawur, seperti pada program Lompatan Jauh ke Depan di era Mao Zedong. Draft kebijakan itu, menurut Deng, harus diuji lebih dulu sebelum diimpelemtasikan secara penuh, kebijakan itu terbuka untuk direvisi dan dievaluasi secara umum, dan tidak kaku.

Sikap dan pandangan politik Deng yang bersifat lebih terbuka kendati keukeh memegang ideologi Komunis merupakan perubahan visi politik penting dari elite komunis China. Deng menjadi korban pengucilan ketika Revolusi Kebudayaan berlangsung, dan dipandang sebagai elite Komunis yang mulai tercemar ideologi politik kanan.

Deng memiliki pandangan politik yang lebih pragmatis dibanding elite Komunis China dari generasi pertama yang pernah terlibat long march bersama Mao Zedong. Salah satu prinsip Deng bersifat pragmatis yang sangat terkenal adalah: Tidak peduli apakah kucing hitam atau putih, selama kucing itu bisa menangkap tikus, itu adalah kucing yang baik.[air/bersambung]

Penulis adalah penanggung jawab beritajatim.com dan mahasiswa program Magister (S-2) Ilmu Politik FISIP, Unair Surabaya.

Tag : china

Komentar

?>