Selasa, 13 Nopember 2018

Lukisan adalah Representasi Dunia Pelukisnya

Kamis, 13 September 2018 14:28:24 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Lukisan adalah Representasi Dunia Pelukisnya

Lukisan adalah representasi dunia pelukisnya. Seorang pelukis yang kerap mengambil tema-tema lingkungan hampir bisa dipastikan dia memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah ekologi atau kerap terlibat dalam aktivitas kepedulian lingkungan. Begitu pula yang sering menggambar tema-tema sosial, sang pelukis biasanya aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

Hubungan timbal balik antara lukisan (karya) dengan pelukisnya (kreator) ini mengindikasikan adanya keutuhan proses kreatif. Termasuk di dalamnya sublimasi tema, intensitas, hobi, obsesi, maupun ungkapan jiwa. Seperti buah yang jatuh tidak pernah jauh dari pohon, lukisan adalah anak kandung pelukis. Dan, identitas pelukis ditentukan oleh lukisan-lukisan karyanya.

Mari kita simak satu per satu hubungan antara lukisan dengan pelukisanya:



(1)

Banyak makna bisa ditafsirkan dari lukisan Azam Bachtiar yang menggambarkan 4 nelayan mendorong perahu. Lihat saja, perahu itu seakan tidak menyentuh air laut. Dia lebih tampak mengambang di udara. Mengapa seperti itu? Entahlah.

Juga tiga ikan yang besarnya seukuran manusia. Mengapa dibikin sebesar itu? Entahlah. Begitu pula posisi kepala ikan yang berada di bawah, seakan-akan terjun. Apakah Azam ingin memberi pesan bahwa hasil tangkapan ikan nelayan merosot drastis? Bisa jadi.

Yang jelas, Azam memberi warna kelam pada langit di atas aktivitas nelayan tersebut. Langit berwarna hitam yang mungkin memberi gambaran nasib nelayan. Kelam. Kontras dengan kekecerahan warna warni air laut di lukisan itu. Biru, putih, kuning, dan kehijauan.

Kedalaman makna tampaknya menjadi kekuatan karya pelukis asal Malang yang sempat mengenyam pendidikan  di  Akademi Seni Rupa Indonesia (sekarang ISI) Yogyakarta dan jurusan psikologi Wisnu Wardhana Kota Malang itu. Terlebih, perihal memaknai hidup, Azam juga telah 20 tahun mengurusi kematian (maklum profesi sebenarnya adalah Modin). Klop. Sehingga lukisan Azam meskipun sekilas mengabaikan bentuk, tetapi begitu dicermati, kilatan-kilatan cahaya dan komposisi warnanya mengundang orang untuk mempertanyakan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan.

Bahkan kini, melalui lukisan, Azam mendedahkan filosifi ‘cacing anil’ atau cacing yang bersiul. “Cacing anil merupakan falsafah hidup. Bahwa, setinggiapapun pencapaian hidup, derajat, kesuksesan, kekayaan, akan dihentikan oleh mati. Lalu cacing akan memakan jasad kita,” tutur pria asal Malang kelahiran 28 Februari 1961 itu.



(2)

Keindahan itu mungkin tidak cukup terletak pada objek, pada alam. Keindahan menjadi lebih bermakna berkat orang-orang yang memiliki perasaan sensitif. Orang yang mampu memaknai alam dengan segala keunikan sekaligus kemegahannya. Dan salah satu orang itu adalah pelukis asal Surabaya, Anggik Suyatno.

Melalui lukisannya, Anggik menularkan keindahan yang dialaminya, yang dirasainya, ketika melihat alam di Nusantara. Tentang sawah membentang, tentang hutan lebat, tentang masyarakat pedesaan dengan segala kesederhanaannya.

Suatu ketika, Anggik melukis suasana hutan yang masih liar. Tidak ada manusia di lukisan itu. Hanya pepohonan, rerumputan, kembang-kembang kecil,  bebatuan, dan sungai yang mengalir tidak terlalu deras. Cahaya menerobos di sela kelebatan daun dan dahan.

Sebatang pohon tumbang. Patah. Patahannya sebagian menggantung, patahan lainnya tergeletak begitu saja di pinggir dan tengah sungai. Tak ada manusia di situ. Tampaknya pohon tumbang bukan karena ditebang namun oleh sebab tak tahan dimakan usia. Lapuk. Dan air sungai terus mengalir di sela-selanya.

Entah itu kejadian sebenarnya atau rekaan, Anggik menggambarkannya dengan cukup detail. Sapuan halus cat dari pelukis yang karyanya telah dimiliki kolektor dalam maupun luar negeri itu membuat suasana hutan tampak nyata. Akar pohon yang menembus bibir sungai, ranting-ranting kering jatuh, semak belukar. Semuanya tampak alamiah. Anggik seperti ingin membagikan pengalaman merasakan keindahan hutan kepada siapapun yang melihat lukisannya.

“Alam Nusantara ini sejuk dan indah. Membentang luas. Keindahan ini wujud rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa dalam anugerah-Nya,” tutur Anggik Suyatno yang sempat menjalani hidup sebagai petani.



(3)

Kuda adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna, setelah manusia. Itu menurut saya. Banyak seniman, penyair pujangga, musisi, pematung, pengusaha, penguasa yang menjadikan kuda sebagai sebagai objek karya karyanya. Ada juga yang menjadikan kuda sebagai lambang atau simbol. Kecepatannya, kekuatanya, keanggunannya, keperkasaannya, kemewahannya.

Dan saya juga, sebagai pelukis, rela meninggalkan objek yang lain. Karena terinspirasi oleh sosok kuda.

Sudah 20 tahun saya melukis dengan objek kuda. Dengan melukis kuda, saya bisa menuangkan ide-ide tentang sosial, politik, budaya, adat religi, kemesraan, kemarahan, dari perkara dunia sampai akhirat.

Yang saya lukis itu sosoknya memang kuda. Tapi sebenarnya itu bukan kuda. Itu adalah kita.

Kalimat-kalimat indah dan mendalam di atas diungkapkan oleh Amor Saputra, pelukis asal Brebes, kelahiran 18 Juli 1962. Pelukis yang aktif di Sanggar Lukis Pandawa Lima, Taman Sari Lippo Kawaraci Tangeran banteng.


 
(4)

Masa kecil yang ceria dan menggemaskan tidak pernah habis untuk dikenang. Dalam pandangan anak kecil, dunia tampak indah semata. Dunia anak kecil juga dikenal sebagai dunia yang polos tanpa dibebani hal ihwal kerumitan ambisi duniawi.

Keceriaan masa kecil itulah yang dituangkan Indahsari melalui lukisan. Pelukis cantik asal Probolinggo ini seperti menyentuh kembali sisi sensitif manusia yang mungkin sering dilupakan, yakni keceriaan. Maka, memasuki lukisan Indahsari, orang seperti dituntun untuk melihat dunia secara berbeda. Kaca mata kanak-kanak.

Dan sebagai pelukis otodidak yang sehari-hari mengajar di TK, Indahsari secara apik mampu menyelami dunia anak secara utuh. Itu terlihat ketika dia mengambil obyek dolanan layangan, menari padi, maupun pergi ke mall.



(5)

Lukisan 'Ayam Tarung' dari MB Santoso sangat ekspresif. Pilihan warna tajam. Goresan-goresan liar maupun lelehan cat dalam kanvasnya menambah kekentalan efek artistik. Sangat kentara, pelukis asal Lawang-Malang dan kini menetap di Ubud Bali ini mengutamakan kebebasan berekspresi. Terlebih, obyek yang dilukis adalah duel ayam jago. Antara teknik dengan obyek menjadi lebih menyatu. Saling mendukung.

Bagi MB Santoso sendiri, pertarungan ayam jago bukan sebatas menang kalah. Menurutnya, ketika 2 ayam jago bertarung, di situ ada kobaran semangat. Ada perjuangan keras mengejar cita-cita. "Ini bisa sangat panjang kalau diceritakan," katanya.

Walau lukisannya ekspresif, MB Santoso ternyata termasuk orang rendah hati. Ditanya keistimewaan dari lukisannya, MB Santoso memilih menjawab singkat: "Ngga ada kelebihan. Saya masih belajar". Dan salah satu tempat dia belajar adalah lukisan-lukisan Affandi.



(6)

Dengan memilih dominasi warna putih, abu-abu, dan kuning; Virgorina Hendrianti melalui lukisan berjudul 'Morning in Paris' menampilkan kota di suatu pagi yang berkabut. Suasana kota yang romantis dan sensual. Paris.

Virgorina -kadang disapa Henny kadang dipanggil Hence- sepertinya ingin membagi pengalaman menikmati kesejukan pagi di ibukota Perancis itu. Bus umum membelah jalan, deretan kendaraan pribadi yang mewah, orang-orang berjalan di trotoar, pohon-pohon meranggas. Dan yang lebih mengesankan, bangunan-bangunan kuno yang kokoh berdiri di sepanjang jalan. Abad lampau dan zaman kekinian seperti dimampatkan di kota Paris.

Kota dan bangunan. Dua objek itu memang akrab dalam lukisan-lukisan Hence. Cityscape. Dia sendiri tidak memungkiri, hatinya mudah terkesan pada suasana kota. Apalagi kota yang berciri klasik. Penuh bangunan-bangunan kuno. Entah kota Surabaya, Yogyakarta, maupun Eropa.

(7)

Merujuk pada tema-tema lukisan dan aktivitas 6 pelukis di atas, ada beberapa hal perlu dicatat. Pertama, proses kreatif pelukis bisa sangat berbeda-beda. Personal. Azam menggeluti tema-tema kematian, kebetulan dia berprosesi sebagai modin. Amor melukis kuda karena obsesi. Virgorina membutuhkan jalan-jalan ke berbagai kota untuk mengejar cityscape.

Kedua, meski berbeda-beda, pelukis memiliki intensitas tinggi terhadap tema-tema yang kerap diangkat dalam lukisan. Indahsari menyintai dunia kanak-kanak, dan mungkin bukan sebuah kebetulan, dia seorang guru TK. Artinya dengan menjadi guru TK, Indahsari punya waktu panjang berkumpul dengan banyak anak. Dunia anak adalah dunia keseharian Indahsari.

Ketiga, kesadaran lingkungan.  MB Santoso hidup menetap di Ubud Bali. Adu ayam petarung, sangat mungkin, memang sering dia temui di lingkungan sekitarnya. Bukan sekadar pertarungan 2 ayam. Tapi, sebelum dan sesudah pertarungan itu, banyak hal yang melingkupinya. Mungkin tentang budaya, tentang ekonomi, tentang perawatan terbaik terhadap ayam petarung, tentang kelas sosial, mungkin juga tentang filosofi. Oleh sebab berada di lingkungan seperti itu, sangat wajar, MB Santoso mengejawantahkannya dalam bentuk lukisan.

Keempat, pendalaman tema adalah suatu hal dan teknik adalah hal yang lain. Pelukis menyadari untuk selalu belajar dan mengembangkan teknik. Seperti yang dilakukan oleh MB Santoso. Ketika telah memilih jalur ekspresionisme, dia pun belajar kepada lukisan-lukisan Affandi. [but]

Tag : seni

Komentar

?>