Selasa, 23 Oktober 2018

Pekan 19 Liga

Kembalinya Kegembiraan di Gelora Bung Tomo

Selasa, 07 Agustus 2018 11:44:16 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Kembalinya Kegembiraan di Gelora Bung Tomo

Rendi Irwan meliuk-liuk di depan kotak penalti Persela, setelah menerima operan pendek dari Ferinando Pahabol yang berlari dari lini tengah. Ia berada di antara dua pemain Persela Lamongan. Tak ada tekanan. Lima pemain Persela berada di dalam kotak penalti. Sang kapten memilih melepaskan tembakan kanon dari luar kotak penalti ke sudut kanan atas gawang Persela yang dijaga Dwi Kuswanto. Boom. Menit 29, Persebaya unggul 2-0 atas Persela.

Rendi berlari ke depan ribuan Bonek di tribun utara. Bersama Oktafianus dia membentangkan kaos hitam bergambar Alfredo Angel Vera, pelatih Persebaya asal Argentina yang mengundurkan diri dan digantikan pelatih sementara Bejo Sugiantoro. Rendi mengakhiri selebrasinya dengan mencium kaos itu. Sebuah selebrasi yang menjadi bagian dari kembalinya kegembiraan di Gelola Bung Tomo, Surabaya, Minggu (5/8/2018) sore. Setelah mengalami tiga kekalahan beruntun, Persebaya berhasil menekuk Persela Lamongan 3-1 (2-0).

Kemenangan ini menjauhkan Persebaya dari zona degradasi. Memasuki pekan ke-19 Liga 1, Green Force menduduki peringkat 12 dengan 25 angka, terpaut lima angka lebih banyak dari PSIS Semarang yang berada di zona merah.

Skema permainan Persebaya tak terlalu banyak berubah. Namun kali ini dia menurunkan lima pemain asli produksi kompetisi internal Persebaya sejak menit awal, yakni Dimas Galih Pratama (kiper), Abu Rizal Maulana (bek), Rendi Irwan (gelandang), Misbakus Solikin (gelandang), dan Oktafianus Fernando (penyerang).

Bejo tidak merevolusi formasi baku 4-3-3. Namun dalam pertandingan terbuka, taktik itu bertransformasi menjadi 4-1-4-1 dengan Misbakus yang bertugas menjaga kedalaman. Ia tak tak terlalu banyak maju membantu penyerangan, karena Oktafianus, Pahabol, Pugliara, dan Rendi beroperasi di lini kedua di belakang David da Silva yang bertugas sebagai lone striker atau ujung tombak tunggal.

Da Silva seringkali tetap berada di posisi depan sendirian menanti umpan-umpan terobosan dari tengah, terutama setelah para pemain Persebaya berhasil melakukan recovery atau merebut bola dari kaki para pemain Persela. Dengan kecepatan dan kemampuan melindungi bola, Da Silva berkali-kali menjadi hantu bagi pertahanan Persela. Ia juga menjadi orang pertama yang mencoba merebut bola dari kaki pemain Persela sejak di zona pertahanan lawan.

Oktafianus dan Pahabol yang berada di posisi sayap seringkali bertukar posisi. Bersama Rendi yang juga memiliki kecepatan eksplosif, mereka bertugas menarik perhatian para pemain bertahan Persela dan menyediakan ruang untuk Da Silva, seperti yang terlihat pada gol kedua. Saat perhatian para pemain bertahan Persela ada pada Rendi yang meliuk-liuk, David da Silva tak terkawal di ujung kotak penalti tak terkawal. Robertino Pugliara, Oktafianus Fernando, dan Pahabol sudah masuk ke kotak penalti dan bersiap menerima umpan terobosan dari Rendi. Ada banyak opsi tersedia ketika konsentrasi para pemain bertahan Persela terpecah.

Selama 90 menit, Persebaya bermain dengan variasi serangan yang beragam. Bejo tak hanya mengandalkan umpan-umpan lambung dari sisi sayap, namun umpan terobosan dari tengah, terutama saat melakukan serangan balik. Tiga gol yang dicetak ke gawang Dwi Kuswanto berasal dari operan terobosan yang memanfaatkan ruang kosong di barisan pertahanan Persela yang ditinggalkan para pemain yang telat kembali setelah menyerang. Bejo agaknya paham benar karakter pelatih Persela Aji Santoso yang memainkan formasi 4-2-3-1 ofensif yang menempatkan Dendi Sulistiawan sebagai ujung tombak tunggal dengan disokong Guntur Triaji, Gian Zola, dan Sugeng Effendi yang beroperasi di belakangnya.

Bejo tidak menurunkan gelandang bertahan murni dan memilih mempercayakan posisi trio gelandang pada Misbakus Solikin, Pugliara, dan Rendi. Selama Vera melatih, trio ini hanya dua kali diturunkan bersama sejak menit awal, yakni saat melawan Perseru di GBT dan Persela di Lamongan. Hasilnya Persebaya memetik kemenangan 1-0 dan imbang 1-1 di putaran pertama. Kemenangan 3-1 memperpanjang rekor tak terkalahkan trio gelandang ini.

Dalam skema sepak bola menyerang, trio Rendi-Pugliara-Misbakus memang ideal. Misbakus dan Pugliara memiliki kemampuan membaca pertandingan dan memberikan suplai bola manja ke barisan depan. Sementara Rendi, dalam usianya yang tak muda untuk ukuran pemain sepak bola, masih memiliki napas cukup panjang untuk terus berlari dan bergerak merebut bola maupun membangun serangan.

Saat pelatih Rusdi Bahalwan membawa Persebaya menjuarai Liga Indonesia 1997, ada istilah yang populer saat itu: coming from behind. Ini taktik yang mengandalkan pemain lini kedua untuk membuat kejutan dengan tiba-tiba muncul di kotak penalti lawan. Taktik ini membutuhkan pemain-pemain yang memiliki kecepatan seperti Rendi dan seorang playmaker yang punya umpan jitu. Saat itu Carlos de Mello yang sering dijuluki Si Bebek memiliki tugas sebagai pengoper. Kendati susah berlari, ia punya mata di kaki sehingga kerap memberikan umpan terobosan kepada Jacksen F Tiago dan Reonald Pieters. 

Variasi 'coming from behind' yang berbahaya sudah terlihat sejak menit 7, saat Rendi Irwan berlari dari tengah dan menerima operan Da Silva. Ia tak terjaga, dan memiliki ruang longgar untuk melepaskan tembakan yang berhasil diantisipasi Dwi Kuswanto. Variasi serangan coming from behind membuat konsentrasi barisan pertahanan Persela mudah terpecah kepada sang pembawa bola, dan melupakan pemain lain seperti Pahabol yang masuk diam-diam ke kotak penalti dan bersiap menerima operan jika Rendi tidak memilih menembak. Skema seperti ini terjadi beberapa kali dalam pertandingan sore itu.

Gol pertama Persebaya pada menit 16 berasal dari counter-attack cepat saat delapan pemain Persela berada di area Persebaya. Pugliara melepaskan umpan kepada Da Silva yang memang menunggu di depan, mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan para pemain Persela. Umpan itu gagal diintersep dan memberikan kesempatan kepada Da Silva yang lolos dari jebakan offside untuk beradu lari dengan Wallace Costa sebelum akhirnya menaklukkan Dwi Kuswanto.

Menit 24, skema serupa terulang. Kali ini Pahabol memberikan umpan terobosan kepada Da Silva yang berlari kencang meninggalkan Arif Satria yang mencoba mengawalnya. Sayang bola tembakannya melenceng. Namun peluang tersebut semakin meneguhkan bagaimana taktik Bejo lebih superior sore itu.

Selain gol kedua, gol ketiga pada menit 61 yang dicetak Da Silva juga berasal dari luar kotak penalti. Kali ini Rendi menjadi kreator yang dengan jeli mengantisipasi blunder Ahmad Baasith yang gagal mengontrol bola operan Birrul Walidain. Ia memberikan umpan terobosan kepada Da Silva yang bediri bebas di antara dua pemain bertahan Persela, Wallace Costa dan Arif Satria. Ia menempatkan bola ke gawang Dwi Kuswanto.

Gol dari luar kotak penalti tidak pernah terjadi saat Persebaya dilatih Vera. Sebanyak 26 gol yang dicetak dalam 18 pertandingan berasal dari tendangan dan tandukan kepala dalam kotak penalti. Tiga gol di antaranya berasal dari skema bola mati tendangan bebas dan sudut. Vera memang lebih menyukai anak-anak asuhnya membangun serangan dari belakang dan memberikan dua sayap untuk merangsek masuk ke dalam kotak penalti atau menugaskan Ruben Sanadi untuk memberikan umpan-umpan lambung ke dalam kotak penalti lawan. Ini yang membuat anak-anak Persebaya jarang melakukan tembakan jarak jauh, dan sekalipun dilakukan, akurasinya lemah.

Di bawah Bejo, mengandalkan operan-operan terobosan dan tembakan-tembakan jarak jauh menjadi variasi serangan Persebaya ketika gagal masuk ke dalam kotak penalti lawan. Bejo tinggal mengasah para 'sniper' Persebaya dan memberikan motivasi agar tak ragu-ragu melepaskan tembakan, saat semua opsi buntu atau untuk memberikan kejutan kepada lawan. Manajer Liverpool Bob Paisley pernah berpesan kepada para pemainnya: tembak saja bolanya ke gawang, (gagal atau berhasil) kita bicara belakangan.

Kemenangan atas Persela bukannya tak meninggalkan catatan. Bejo harus meningkatkan kemampuan anak-anak asuhnya menghadapi bola mati. Gol terakhir Persela di menit 90+3 yang dicetak Agung Pribadi berasal dari tendangan sudut Ahmet Atayev. Ada delapan pemain Persebaya dan tujuh pemain Persela dalam kotak penalti. Namun para pemain Persebaya gagal membaca arah bola.

Setidaknya Dimas Galih mencatat empat kali penyelamatan krusial, sehingga pemain Persela gagal mencetak gol. Namun barisan pertahanan Persebaya terlihat tak meyakinkan saat menghadapi bola mati. Menit 28, Ahmet Atayev melepaskan bola tendangan bebas. Dimas Galih maju hendak menepis bola, namun malah menghantam angin. Untung tidak ada pemain Persela di dekatnya yang memanfaatkan bola yang gagal ditepisnya.

Menit 45+1, bola hasil tendangan penjuru Persela ditanduk Wallace Costa. Dimas Galih lagi-lagi gagal mengantisipasi dan menepisnya. Bahkan tidak ada pemain Persebaya yang ikut melompat berduel di udara dengan Costa dalam jarak dekat. Otavio Dutra yang berada paling dekat hanya berusaha menempel tanpa berusaha melompat.

Menghadapi skema bola mati: itulah pekerjaan rumah Bejo sebelum menghadapi Barito Putra di Banjarmasin. Tidak perlu diingatkan lagi, gol pertama Barito saat mengalahkan Persebaya 2-1 di Gelora Bung Tomo pada putaran pertama berasal dari skema tendangan bebas. [wir/but]

Tag : persebaya

Komentar

?>