Senin, 10 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Pekan 15 Liga 1

Mentalitas 'Wani' Persebaya di Hari Bhayangkara

Jum'at, 13 Juli 2018 15:31:43 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Mentalitas 'Wani' Persebaya di Hari Bhayangkara

Akhirnya mereka bertemu. Dua klub yang menjadi bagian dari sejarah sengketa dan dualisme klub paling hebat dalam sejarah sepak bola negeri ini: Persebaya Surabaya dan Bhayangkara FC.

Ini pekan ke-15 kompetisi Liga 1 di Stadion PTIK, Jakarta, Rabu (11/7/2018). Sesungguhnya inilah pertandingan yang penuh gengsi dan dinantikan Bonek.

Pertama, Bhayangkara adalah juara Liga 1 musim 2017 dan Persebaya adalah juara Liga 2 musim yang sama. Pertemuan keduanya bolehlah jadi semacam pertandingan 'Charity Shield' sebagaimana di Liga Inggris yang memertemukan juara Liga Primer dengan Piala FA.

Kedua, Persebaya dan Bhayangkara pernah mengalami pergesekan historis. Semua berawal pada akhir musim kompetisi 2009-2010, saat Persebaya dipaksa PSSI melakukan pertandingan ulangan melawan Persik Kediri hingga empat kali. Merasa dikerjai, manajemen Persebaya akhirnya memilih tak hadir dalam pertandingan terakhir dan mereka dinyatakan kalah WO 0-3. Kekalahan ini membuat Persebaya gagal masuk fase playoff dan terlempar ke level kedua kompetisi musim berikutnya. Pelita Jaya memetik keuntungan dari kekalahan WO Persebaya.

Persebaya kemudian memilih menyeberang ke kompetisi Liga Primer Indonesia yang digagal Arifin Panigoro. PSSI merespons dengan memfasilitasi sejumlah klub internal di Asosiasi Sepakbola Kota Surabaya untuk mendirikan Persebaya tandingan yang bertanding di kompetisi Divisi Utama yang berada di kasta kedua.

Gara-gara dualisme nama ini, PT Persebaya Indonesia terpaksa membubuhkan angka 1927 agar bisa mendapat izin menggelar pertandingan Liga Primer. Sementara Persebaya versi PSSI dipersilakan tetap memakai nama klub tanpa imbuhan apapun.

Cerita berikutnya adalah epik. Setelah pertempuran elite sepak bola Indonesia dalam Kongres PSSI selesai dengan kekalahan kubu Arifin Panigoro, Persebaya 1927 dibekukan dan tak boleh berkompetisi. Posisi mereka digantikan Persebaya versi PSSI yang belakangan dimiliki PT Mitra Muda Inti Berlian.

Bonek melawan dengan memboikot pertandingan Persebaya milik PT MMIB. Sementara manajemen PT Persebaya Indonesia menempuh jalur hukum untuk merebut hak nama. Perjuangan yang berat, karena sejak 2013, praktis Persebaya (1927) sudah tak lagi bertanding di kompetisi mana pun, bahkan kompetisi antarkampung sekalipun.

Namun di akhir cerita, Persebaya (1927) memenangkan pertarungan di jalur hukum. Persebaya versi PSSI terpaksa beberapa kali berganti nama. Mulai dari Persebaya United, Surabaya United, Bonek FC, hingga akhirnya menjadi Bhayangkara FC setelah saham klub dikuasai Kepolisian RI.

Dengan latar belakang demikian, tak heran jika pertandingan tersebut layak pula disebut derbi atau pertandingan antara dua tim yang memiliki hubungan kesejarahan maupun geografis. Bumbu makin sedap karena pertandingan digelar bertepatan pada momentum peringatan Hari Bhayangkara.

Di atas lapangan, Bhayangkara FC terlihat bakal memenangkan pertandingan, setelah unggul 2-0 melalui gol bunuh diri Rishadi Fauzi pada menit 17 dan Vendry Mofu pada menit 34. Dua gol yang menunjukkan betapa ringkihnya tembok pertahanan Persebaya.

Kelemahan pertahanan Persebaya sekali lagi terekspos saat menghadapi skema bola mati dan umpan silang. Saat gol pertama terjadi, tak satu pun dari pemain bertahan Persebaya yang siap mengantisipasi pergerakan pemain lawan saat bola tendangan bebas Paulo Sergio meluncur ke kotak penalti. Hanya Rishadi yang notabene pemain depan yang mencoba memotong bola ketika Vladimir Vujovic dan Herman Dzumafo bergerak maju. Sayang bola yang diantisipasi Rishadi justru masuk ke gawang sendiri.

Gol kedua pun berasal dari sisi kiri dengan skema umpan diagonal dari Sergio. Mofu dan Sani Rizki Fauzi berada tepat di depan gawang Miswar Saputra tanpa pengawalan. Bek-bek Persebaya seperti kehabisan napas mengawal pergerakan mereka.

Gol ketiga Bhayangkara yang dicetak Alsan Putra Masat Sanda pada menit 84 juga tak kalah bikin gemas. Ia bisa meliuk-liuk bersolo run melewati sekian pemain Persebaya dan melepaskan tembakan yang sebenarnya tak terlampau keras. Bola datar bisa diantisipasi dan mengenai jari Miswar yang menjatuhkan diri. Namun itu tak cukup untuk menghalangi bola menerpa jala gawang Persebaya.

Di tengah performa yang mengecewakan, satu hal yang patut dipuji adalah mentalitas 'wani' (berani) para pemain Persebaya. Mereka menunjukkan mentalitas sejati arek Suroboyo yang pantang menyerah. Never-say-die. Gung-ho. Tertinggal 0-2, alih-alih putus asa, mereka justru bermain habis-habisan. Dua gol balasan dari Osvaldo Haay pada menit 39 dan Irfan Jaya pada menit 83 menunjukkan mentalitas itu.

David da Silva yang masuk pada menit 52 menggantikan Rishadi Fauzi menjadi pembeda. Pergerakannya sulit dikawal. Tubuhnya yang tinggi besar membuat Da Silva tak gampang dikerjai pemain belakang lawan. Apalagi dia punya motivasi lebih untuk membuat pelatih Bhayangkara Simon McMenemy merasa bersalah telah membuangnya. Golnya pada menit 88 yang berasal dari operan Misbakus Solikhin adalah gol ketujuh musim ini.

Mentalitas 'wani' dan ngeyel ditunjukkan pula oleh bek Andri Muladi yang bertarung merebut bola-bola atas. Dia harus dilarikan ke rumah sakit, setelah terbanting dengan kepala bagian belakang menghantam tanah pada menit 66.

Semangat pantang menyerah para pemain terkoneksi dengan militansi dan nyali sejumlah Bonek yang datang di Stadion PTIK. Mereka berani bernyanyi lantang dan mengibarkan atribut, kendati beberapa pekan sebelumnya terjadi insiden dengan suporter Jakarta.

Persebaya berada di peringkat 10 saat ini dengan 19 angka dari 14 kali pertandingan. Tiga pertandingan lagi putaran pertama selesai. Tak ada jalan lain kecuali memaksimalkan raihan angka agar bisa menembus papan atas.

Tiga calon lawan Persebaya tak bisa dipandang sebelah mata: PSIS Semarang, PSMS Medan, dan Persib Bandung. Semuanya rival berat masa perserikatan. PSMS dan PSIS saat ini terbenam di zona degradasi, yakni peringkat 17 dan 18. Namun peringkat ini hanya ilusi jika melihat selisih angka semua tim Liga 1 tak terpaut jauh.

Dengan masing-masing telah bertanding 14 kali, PSMS sudah mendapatkan 15 angka dan PSIS 14 angka. Pergeseran posisi klasemen secara signifikan bisa terjadi sewaktu-waktu jika salah satu tim terpeleset.

Sementara Persib Bandung tak perlu lagi diragukan. Klub ini kekuatan tradisional sepak bola Indonesia.

Alfredo Vera harus bergegas: mentalitas 'wani' harus dikombinasikan dengan taktik yang jitu jika ingin mengulangi sejarah juara 1997 dan 2004. [wir/but]

Tag : persebaya

Komentar

?>