Senin, 22 Oktober 2018

Opini tentang Pilgub Jatim 2018

Koalisi Unik: Kiai NU - PDIP - PKS - Prabowo

Senin, 25 Juni 2018 00:09:46 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Koalisi Unik: Kiai NU - PDIP - PKS - Prabowo

Fenomena unik dari Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim) tahun 2018 adalah koalisi pendukung Saifullah Yusuf -  Puti Guntur Soekarno (Gus Ipul – Puti). Ada empat entitas utama di belakang Gus Ipul – Puti. Terdiri dari kiai Nahdlatul Ulama (NU), PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Prabowo Subianto.

Dilihat dari konstalasi politik nasional rentang lima tahun terakhir, koalisi tersebut cukup unik. Tetapi begitulah faktanya, keempat entitas itu saling berkelindan dan berpusar mengelilingi Gus Ipul - Puti.

Awal mula dukungan kiai-kiai NU terhadap Gus Ipul diungkapkan oleh Wakil Rois Am PBNU KH Miftahul Akhyar, Sabtu (23/6/2018) lalu. Pemimpin Ponpes Miftachussunah Surabaya ini memaparkan bahwa Gus Ipul sudah disiapkan para kiai sejak 10 tahun lalu.

"Gus Ipul 10 tahun lalu sudah dipersiapkan oleh para masyayikh (kiai) untuk menjaga suasana kebatinan dimiliki Jatim. Mestine liane rumongso, ngertiyo, urung direstui lembaga resmi NU. Sing liyane urung izin, urung pamit, mbok ngertiyo,” tuturnya dengan bahasa Indonesia campur bahasa Jawa.

Meski telah disiapkan sejak 10 tahun lalu, para kiai sepuh baru mulai bergerak secara nyata pada tanggal 19 Mei 2017. Sebanyak 21 kiai sepuh Jawa Timur mengirim surat kepada Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.

Para kiai terdiri dari KH Zainuddin Jazuli (PP Al Falah Ploso Mojo Kediri),  KH Anwar Mansyur (PP Lirboyo Kediri), KH Nurul Huda Jazuli (PP Ploso Mojo Kediri), KH Miftahul Akhyar (PP Miftahussunnah Surabaya), KH Nawawi Abdul Djalil (PP Sidogiri Pasuruan), KH Agus Ali Masyhuri (PP Bumi Sholawat Lebo Sidoarjo), KH Anwar Iskandar (PP Al Amien Ngasinan Kediri), KH Mutawakkil Alallah (PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo), KH Fuad Nur Hasan (PP Sidogiri Pasuruan), KH Fuad Jazuli (PP Ploso Mojo Kediri), KH Kholil As'ad Syamsul Arifin (PP Walisongo Situbondo), KH Idris Hamid (PP Salafiyah Syafiiyah Pasuruan), KH Abdullah Kafabihi Makhrus (PP Lirboyo Kediri), KH Ubaidillah Faqih (PP Langitan Lamongan), KH Syafiudin Wahid (PP Darul Ulum Garsempal Sampang), KH Ja'far Yusuf (PP Darul Ulum Garsempal Sampang), KH Makhrus (PP Al Ihsan Jrengoan Sampang), KH Nuruddin Abdurrahman (PP Al Hikam Bangkalan), KH Muddasir Badruddin (Pamekasan), KH Mujib Imron (PP Al Yasini Areng-areng Pasuruan), KH Fakhri Aschal (PP Saychona Cholil Bangkalan).

Sebagai partai yang didirikan oleh para kiai NU, PKB diminta untuk mengusung calon gubernur yang berasal dari Nahdliyin. Adapun nama yang disodorkan adalah Gus Ipul. Permintaan para kiai diluluskan PKB.

Berjalannya waktu, dukungan kepada Gus Ipul bertambah dari beberapa pondok pesantren lain. Semisal dari Ponpes Nurul Jadid Probolinggo, Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang, Syaichona Cholil Bangkalan, dan lain-lain.

Merujuk pada kondisi kultural Jawa Timur yang didominasi oleh kaum Santri dan Abangan, Gus Ipul dipasangkan dengan politisi PDI Perjuangan, Puti Guntur.

Ketua Umum PDI Perjungan Megawati Soekarno Putri tampaknya tidak main-main dalam memperjuangkan Gus Ipul – Puti. Terbukti, Megawati beberapa kali keliling menemui tokoh-tokoh nasionalis di Jawa Timur. Dia juga meminta para kadernya untuk tampil all out, termasuk 2 kader yang telah sukses selama jadi kepala daerah, yakni Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Bupati Banyuwangi Azwar Anas.

Lantas bagaimana dengan PKS dan Prabowo? Bukankah unik, bahwa PKS dan Gerindra yang selama ini memilih di barisan oposisi, bersedia satu kitaran dengan PKB dan PDI Perjuangan yang notabene pendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)?

Beberapa kalangan menilai, dukungan PKS ke Gus Ipul tidak murni untuk memenangi Pilgub Jatim. Ada kepentingan lain, yaitu konsolidasi persiapan Pemiliihan Umum tahun 2019.

Penilaian pengamat tersebut mungkin saja benar. Selama ini, rapat koordinasi pemenangan Gus Ipul – Puti di Pilgub  Jatim yang digelar oleh PKS kerap kali disatukan dengan agenda persiapan menghadapi Pemilu Legislatif. Termasuk persiapan caleg-calegnya.

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid (HNW) pun mengakui, meski satu kendaraan dengan PKB dan PDI Perjuangan di Pilgub jatim, pihaknya lebih memiliki ikatan langsung dengan Gus Ipul.  Artinya, koalisi dengan PKB dan PDI Perjuangan di Pilgub Jatim adalah semacam koalisi semu. Koalisi yang sesungguhnya baru akan dibangun ketika menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres).

Pernyataan itu senada dengan yang diungkapkan oleh Ketua DPW PKS Jatim, Arif HS. Menurutnya, PKS bersama Gus Ipul bukan hanya kali ini berkerjasama. Di dua pilgub sebelumnya, PKS juga menjadi pengusung utama Gus Ipul saat mendampingi Gubernur Jawa Timur sebelumnya, Soekarwo.

"Kita sudah dua periode bersama Gus Ipul. Dengan kata lain, kita sudah dekat dengan Karsa dan juga Gus Ipul. Ini momentum terdekat. Sementara untuk tahun berikutnya ada pemilu dan pileg," kata Arief.

Apapun motivasi dan kepentingannya, PKS mengaku tetap serius dalam usaha memenangkan Gus Ipul – Puti. Keseriusan itu dibuktikan dengan membentuk manajer-manajer saksi di seluruh kabupaten/ kota di Jawa Timur. Manajer Saksi akan mengkoordinir semua saksi di wilayah masing-masing. 

Keberadaan Manajer Saksi ini diarahkan untuk mengelola advokasi dan pengamanan suara Gus Ipul – Puti dalam Pilgub. Mereka dibekali dengan berbagai wawasan dan keterampilan. Mulai perundang-undangan, rekrutmen, penanganan kasus, hingga teknis hitung cepat.

Poros keempat di belakang Gus Ipul adalah Prabowo Subianto. Ada pengamat mencurigai campur tangan Prabowo dalam Pilgub Jatim ditumpangi oleh kepentingannya sebagai kandidat Calon Presiden di Pilpres 2019. Melalui Pilgub Jatim, Prabowo berusaha merawat hubungan baiknya dengan kiai dan tokoh masyarakat di Jawa Timur.

Tidak ada klarifikasi resmi Prabowo terkait kecurigaan tersebut. Apakah dugaan itu benar atau salah, Prabowo tidak menjelaskan.

Yang pasti, Prabowo menginstruksikan seluruh kader partainya untuk memenangkan Gus Ipul - Puti. Bahkan komitmen langkah pemenangan ini, menurutnya, lebih prioritas dibandingkan dengan pencalonannya sebagai kandidat Presiden RI tahun depan.

"Saat ini, Presiden belakangan. Yang penting, Gubernur dulu. Menangkan Gus Ipul dulu, baru Presiden," ujarnya.

Apakah rencana para kiai sepuh, perjuangan PDIP, usaha PKS, dan instruktri Prabowo bakal membawa hasil bagi kemenangan Gus Ipul – Puti? Bukan mereka sendiri yang menentukan. Aktor utama Pemilihan Gubernur adalah warga Jawa Timur sendiri. Tanggal 27 Juli 2018 lusa, warga Jawa Timur bebas menentukan tokoh yang bakal memimpinnya selama 5 tahun ke depan. [but]

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>