Kamis, 15 Nopember 2018

Scouse Bukan Inggris, dan Piala Dunia Tak Pernah Kembali

Minggu, 24 Juni 2018 11:46:46 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Scouse Bukan Inggris, dan Piala Dunia Tak Pernah Kembali

We are not English, we are Scousers. Kami bukan orang Inggris, kami orang Scouse. Spanduk putih dengan kalimat itu terbentang di The Kop, tribun selatan di belakang gawang Stadion Anfield, Liverpool.

Mamadou Sakho, bek Liverpool asal Prancis, menyebut 'sebuah kemenangan untuk bangsa Liverpool' saat diwawancarai salah satu stasiun televisi di tengah-tengah selebrasi, usai menaklukkan Borussia Dortmund di perempat final Liga Eropa pada 2016. Pernyataan itu mendapat sambutan hangat dari pendukung Liverpool yang beberapa kali juga menisbatkan diri sebagai People Republic of Liverpool.

Scouse adalah sebutan untuk penduduk asli Kota Liverpool. Mereka memiliki logat dan kosakata yang berbeda dengan orang Inggris umumnya. John Williams, penulis buku-buku bertema Liverpool FC, menyebut Liverpool sebagai 'a city on the edge', kota tepian, baik secara geografis maupun kultur. Kota ini memang menjadi tempat para imigran dari Skotlandia dan Wales. Namun biasanya Liverpool lebih memiliki preferensi inspirasi dan sejarah kultural ke arah barat, Irlandia dan Amerika Serikat, ketimbang ke Inggris atau Eropa daratan di selatan.

Liverpool agak mirip kota-kota besar pinggiran lain di Eropa seperti Napoli di Italia dan Marseille di Prancis, yang menjadikan sepak bola sebagai jantung budaya: ada relasi yang tak mudah dan selalu berubah dengan apa yang disebut sebagai bangsa di negeri itu.Dalam konteks ini, menurut Williams, 'Scouse not English' bukan sekadar gurauan. Ini sebuah identitas. Perlawanan.

Orang-orang Liverpool adalah sasaran empuk kesalahan persepsi terkait militansi politik, kehidupan keluarga, kriminalitas, maupun perselisihan hubungan industrial. Tony Lane dalam buku Liverpool: City of The Sea menyebut tuduhan terhadap Liverpool sebagai kota bermasalah dan warganya dianggap sebagai bagian dari masalah. "'Liverpool is the only city in Britain (apart from London) upon which other Britons have definitive opinions," tulisnya.

Tahun 1911, tentara Britania dikerahkan di jalanan Merseyside  untuk mengatasi aksi mogok dan unjuk rasa para buruh galangan kapal dan transportasi. Sekitar 80 ribu orang turun ke jalan di Lime Street untuk berunjuk rasa. Dua warga tak bersenjata mati tertembak.

Kerusuhan itu meneguhkan predikat Liverpool sebagai kota bermasalah, kendati tak sepenuhnya adil. Para pemain Liverpool FC sepakat mendonasikan 2,5 persen gaji untuk dana perang. Warga kota itu ikut mengirimkan anak-anak muda mereka mati untuk Inggris di dua medan perang dunia dan hancur karena serangan udara Jerman pada 1-7 Mei 1941. Sebanyak 2.315 bom berdaya ledak tinggi dan 119 peledak lainnya dijatuhkan ke kota tersebut. Gereja St Luke di pusat kota yang terbakar karena dibom pada 5 Mei tetap berdiri hingga sekarang sebagai pengingat tragedi tersebut.

Buku LFC 125 Years: The Alternative History menyebutkan ada 13 pemain Liverpool FC yang gugur dalam Perang Dunia I dan 11 lainnya gugur dalam Perang Dunia II. Lagu 'Poor Scouser Tommy' yang senantiasa dinyanyikan para fans Liverpool di Anfield adalah bagian dari ekspresi untuk mengenang keberanian dan pengorbanan warga kota itu untuk Inggris. Keberanian yang diakui Perdana Menteri Winston Churchill saat meninjau kota itu setelah pengeboman oleh Jerman. "I see the damage done by the enemy attacks but I also see the spirit of an unconquered people."

Liverpool adalah tempat pertemuan dan persilangan berbagai pengaruh kultur jajahan Inggris seperti Irlandia, Skotlandia, atau Wales. Ini sebuah kota pelabuhan yang kosmopolitan, independen, demokratis, dan lebih terbuka terhadap perbedaan dan pengaruh dari luar, termasuk dalam urusan sepak bola. Beberapa lagu fans Liverpool yang dinyanyikan di stadion memiliki persinggungan sejarah atau kemiripan dengan lagu-lagu suporter Skotlandia. Sebut saja 'You'll Never Walk Alone yang juga menjadi anthem suporter Glasgow Celtic, atau 'Fields of Anfield Road' yang diadaptasi dari lagu 'Field of Athenry' yang bercerita soal penindasan terhadap warga Irlandia oleh pemerintah Inggris.

Ada dua klub Liga Primer Inggris di sini: Everton Football Club dan Liverpool Football Club. Keduanya tercatat dalam daftar klub yang terbanyak merebut gelar Liga Inggris sejak awal penyelenggaraan hingga saat ini. Sebagian pemain berasal dari Skotlandia. Bahkan pada masa-masa awal pendiriannya, klub Liverpool diperkuat para pemain asal Skotlandia yang bisa dikenali dari nama mereka yang menggunakan 'Mc atau Mac'. Tim ini dikenal dalam sejarah sebagai: Team of All Macs.

Di Liverpool, sepak bola dan musik memainkan peran penting dalam pembentukan identitas masyarakat setempat. Sepak bola lebih penting daripada ideologi politik dan bahkan agama. Manajer klub bisa lebih populer daripada wali kota dan pemain-pemain yang hebat lebih dikagumi daripada sederet politisi atau anggota parlemen. Sepak bola menyelamatkan warga kota itu dari frustrasi sosial menyusul merosotnya perekonomian dan meningkatnya jumlah pengangguran, terutama setelah reputasi Liverpool sebagai kota pelabuhan yang melayani kebutuhan industri dan turisme runtuh.

Selama bertahun-tahun duo Merseyside mendominasi sepak bola Inggris dan Eropa. Kombinasi gelar juara liga dua klub merah dan biru menjadikan Liverpool kota dengan gelar liga Inggris terbanyak: Liverpool 18 kali, Everton sembilan kali. Lebih banyak dibandingkan kota Manchester (25 gelar) dan London (21 gelar).

Namun tak mudah menghilangkan bias dan stereotip terhadap masyarakat Liverpool, bahkan dalam urusan sepak bola. Hooliganisme menjadi tuduhan serius bagi warga kota. Menjelang pertandingan melawan Liverpool di Anfield pada 30 April 1910, Aston Villa mengungkapkan kecemasannya terhadap potensi hooliganisme di tengah penonton - potensi yang sesungguhnya ada di semua kota di Inggris.

Perkelahian antara penonton dan pemain tim tamu jarang terjadi di Anfield, namun memang bukannya tak ada. Bek Notts County Bert Mortley pernah terluka dan berkelahi dengan pendukung Liverpool. Pemain bertahan Sheffield, Bob Bensen, sempat jadi sasaran lemparan saat bertanding di Anfield.

Hooliganisme semakin identik dengan pendukung Liverpool FC menyusul terjadinya tragedi di Heysel, Belgia, pada 1985 dan Hillsborough di Sheffield pada 1989. Media massa pemburu sensasi seperti The Sun memperburuknya.

Bias terhadap Liverpool juga dirasakan dalam pemberian gelar kebangsawanan oleh Kerajaan Inggris. Dua manajer legendaris Liverpool, Bill Shankly dan Bob Paisley, hanya dianugerahi gelar OBE (Order of The British Empire), sementara dua manajer Manchester United, Matt Busby dan Alex Ferguson,menerima gelar 'sir'. Shankly, Busby, dan Ferguson adalah orang Skotlandia. Sementara Paisley adalah orang Inggris satu-satunya yang sukses merebut tiga gelar Piala Champions bersama satu klub.

Tak satu pun pemain Liverpool yang mendapat gelar 'sir' selama bertahun-tahun, kecuali Kenny Dalglish yang dinobatkan baru-baru ini. Dua pahlawan Piala Dunia 1966, Geoff Hurst dan Bobby Charlton, mendapat anugerah gelar tersebut, sementara pemain Liverpool yang juga memperkuat tim nasional, Roger Hunt, tidak memperolehnya. Satu-satunya gelar 'sir' untuk Hunt diperoleh dari para suporter Liverpool sebagaimana Kenny Dalglish yang dijuluki 'King Kenny'.

Nasib serupa juga dialami Everton. John Moores dan Philip Carter mendapat gelar 'sir' lebih karena aktivitas di dunia bisnis dan bukannya sepak bola. Dixie Dean, ujung tombak legendaris Everton yang tak pernah mendapat satu kartu kuning dan merah pun selama karirnya, luput dari anugerah tersebut. Pemain The Toffees lainnya, Alan Ball, yang disebut-sebut sebagai pemain terbaik dalam final Piala Dunia 1966 tidak mendapat gelar itu juga.

Mantan wali kota Liverpool yang kemudian menjadi legislator mewakili kawasan Walton, Steve Rotherham, menduga adanya bias regional atau rasisme regional. Ada prasangka yang menyulitkan orang-orang Liverpool di mata London. "Datang ke Westminster dengan logat Scouse lebih sulit ketimbang saya pergi ke sekolah mewah atau bicara dengan logat Estuary (logat yang diasosiakan dengan kawasan Sungai Thames)."

Scouser is not English. Prasangka itu ada, tak peduli bahwa Inggris menjadi juara dunia justru saat dua klub Merseyside berkuasa pada 1966: Liverpool menjuarai liga dan Everton merebut Piala FA. Bersama trofi Jules Rimet, dua piala itu dipajang di Goodison Park, kandang Everton, sebelum pertandingan derbi Charity Shield. Roger Hunt dan pemain Everton yang juga memperkuat tim nasional, Ray Wilson, berjalan berkeliling lapangan sembari bersama-sama memegang trofi Jules Rimet.

Ini kali terakhir Liverpool dan Everton menjadi juara di dua kompetisi bergengsi di Inggris yang bertepatan dengan tahun penyelenggaraan Piala Dunia. Momentum penanda kejayaan itu tak pernah datang lagi, dan penantian orang-orang Inggris terhadap kembalinya trofi Piala Dunia ke negeri mereka pada akhirnya tak ubahnya episode drama Menanti Godot yang ditulis Samuel Beckett.

What are we doing here, that is the question.
And we are blessed in this, that we happen to know the answer.
Yes, in the immense confusion one thing alone is clear.
We are waiting for Godot to come. [wir/kun]

Tag : piala dunia

Komentar

?>