Minggu, 16 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Esai Sepakbola

9 Pertanyaan 1 Persebaya

Kamis, 21 Juni 2018 15:28:11 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
9 Pertanyaan 1 Persebaya

Persebaya, 18 Juni 2018. Tak ada selebrasi besar. Tak ada pertandingan eksibisi seperti beberapa tahun sebelumnya. Ulang tahun Persebaya mendadak seperti sunyi. Bahkan, akun Twitter resmi klub terhitung terlambat memberikan pernyataan maupun ucapan syukur, atau basa-basi apalah selayaknya dilakukan akun resmi klub manapun untuk mengingatkan fans mereka.

Di media sosial, beberapa pootongan video perayaan oleh Bonek dibagikan cepat: kembang api, nyanyian, tepuk tangan layaknya di stadion. Hanya itu.

Sepi di usia 91 tahun. Bukan hal normal bagi klub legendaris seperti Persebaya Surabaya. Namun tanpa selebrasi, perayaan berlebihan, mungkin memang ini saat yang tepat untuk melakukan refleksi: setidaknya melontarkan sembilan pertanyaan krusial bagi siapapun yang merasa memiliki klub ini.

1. Akankah Persebaya terdegradasi?

Ini pertanyaan utama dan terpenting saat ini. Tahun ini adalah musim kompetisi Liga 1 pertama bagi Persebaya, setelah terdegradrasi pada 2010 dan diabaikan PSSI selama bertahun-tahun. Ekspektasi Bonek melambung, setelah Persebaya datang ke Liga 1 dengan predikat juara Liga 2. Papan atas adalah posisi yang pantas. Bahkan pelatih nasional Indra Sjafrie memasukkan Persebaya sebagai salah satu favorit juara. Maka ketika saat ini, hingga sebelas pertandingan, Persebaya berada di posisi ke-16 dari 18 klub peserta dengan 14 angka, pertanyaan pahit mulai mengapung: akankah Persebaya terdegradasi di tahun pertamanya di level tertinggi kompetisi sepak bola negeri ini.

Degradasi jelas bukan opsi. Status pendatang baru tak seharusnya menjadi alasan bagi manajemen Persebaya untuk mencanangkan target medioker yang berujung turun kasta. Persebaya pernah memiliki sejarah bagus pada 2004. Ditangani Jacksen F. Tiago, Persebaya promosi ke level tertinggi dengan predikat juara level kedua, dan langsung menjadi pemuncak klasemen di akhir musim. Jadi akankah sejarah terulang ataukah Persebaya membuat sejarah baru menjadi 'tim yoyo': naik kasta dan langsung terdegradasi lagi. Masih ada 23 pertandingan lagi yang akan menjawab pertanyaan ini.

2. Apakah Persebaya sudah dikelola dengan benar?

Saat Azrul Ananda bersama Jawa Pos mengambil alih kepemilikan Persebaya Surabaya, optimisme sebagian besar Bonek merekah. Jawa Pos memiliki sejarah panjang bersama Persebaya, terutama pada era kepemimpinan Dahlan Iskan. Boleh dibilang, Jawa Pos membentuk cikal-bakal Persebaya modern hari ini. Belakangan Azrul dan Jawa Pos kemudian pecah kongsi. Media raksasa itu kini tak lagi menangani. Namun sejauh ini Azrul sudah berikhtiar meletakkan fondasi layaknya sebuah pengelolaan klub profesional, kendati kritik kiri-kanan masih terdengar: terutama terhadap komposisi jajaran manajemen yang bisa mengikuti konsep dan gerak cepat Azrul. Tidak semua jajaran manajemen Persebaya berpengalaman di dunia sepak bola, terutama sepak bola Indonesia yang 'unik'. Profesionalisme klub haruslah sejalan dengan prestasi. Jika tidak, maka dipastikan Persebaya belum dikelola dengan keseimbangan yang benar. Pengelolaan yang benar tentu saja membutuhkan keterlibatan semua pemangku kepentingan, terutama klub-klub internal pemegang saham 30 persen. Kuncinya tentu saja: komunikasi dan keterbukaan.

3. Sudahkah komunikasi eksternal manajemen Persebaya berjalan bagus?

Pertanyaan ini penting dilontarkan setelah munculnya rangkaian surat terbuka dari Presiden Persebaya Azrul Ananda terkait beberapa isu. Surat terbuka yang menjelaskan proses rekrutmen idola Bonek, Andik Vermansah, yang berujung pada perang terbuka di media massa antara kedua belah pihak menunjukkan ada yang tidak tuntas dalam memahami cara membangun komunikasi dengan pihak lain. Surat terbuka Azrul seringkali justru menurunkan reputasinya di mata Bonek dan membuat suasana makin panas, alih-alih memberikan penjelasan yang jernih.

4. Perlukah hubungan manajemen dan tim Persebaya dengan Bonek diperbaiki?

Sebutan suporter Persebaya tak ubahnya 'customer' oleh Azrul adalah bagian dari persoalan yang menandai rangkaian episode buruknya relasi manajemen dan tim Persebaya dengan Bonek. Azrul melanggar salah satu tabu dalam dunia sepak bola dengan memosisikan suporter seperti pelanggan atau pemakai komoditas produk jasa biasa.

Jika Bonek adalah customer, maka mereka tentu tak akan bersusah-payah memperjuangkan eksistensi Persebaya selama bertahun-tahun. Jika Bonek menganggap Persebaya hanya komoditas biasa seperti merek sabun mandi atau obat batuk, mereka akan pindah ke merek lain yang lebih berkualitas. Mana ada ada konsumen sabun mandi yang berunjuk rasa menuntut agar merek tertentu tetap dijual di pasaran agar mereka bisa membeli walau dengan harga lebih mahal?

"Bila Anda berkata kepada seorang fans sepak bola Jerman bahwa dia hanya 'customer' biasa, dia akan membunuh Anda," kata CEO Borussia Dortmund Hans-Joachim Watzke.

Salah satu buruknya hubungan manajemen dengan Bonek adalah aksi vandalisme di beberapa toko resmi buah tangan Persebaya, menyusul hasil tidak memuaskan dalam kompetisi Liga 1. Sebagian Bonek menilai Persebaya lebih mementingkan aspek komersial daripada aspek kompetisi. Sementara di satu sisi, manajemen memiliki tanggung jawab agar klub ini dikelola seperti perusahaan yang bisa hidup dan tumbuh dalam jangka panjang. Perbedaan ini perlu dipertemukan agar tak terus memanas.

5. Cukup militankah para pemain untuk memakai seragam Persebaya?

Semangat pengelolaan Persebaya menjadi klub profesional belum berjalan mulus, saat etos patembayan dan paguyuban belum sinkron. Saat manajemen melihat Persebaya dalam perspektif sebuah perusahaan (etos patembayan), kalangan suporter masih memandang klub seharusnya tak menghilangkan etos paguyuban. Sejarah lahir dan tumbuhnya Persebaya berbeda jauh dengan sejarah klub-klub Eropa yang sejak awal lekat dengan warna kapitalisme. Maka, perlakuan terhadap klub ini seharusnya berbeda: profesionalisme tak seharusnya menghilangkan aspek kultural yang dimiliki klub.

Kalangan suporter menilai, aspek kultural ini yang membedakan Persebaya dengan klub lain di Indonesia. Ini bukan klub biasa. Sejak awal Persebaya terlibat dalam perjuangan kemerdekaan bangsa dan salah satu dari klub yang mendirikan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Jadi secara kultural, aspek kejuangan, militansi, dan keberanian selalu menjadi warna dan ciri khas ini. Selama puluhan tahun, semua aspek ini terbentuk salah satunya karena kedekatan dengan suporter. Tidak ada jarak antara pemain dengan pendukung klub.

Saat Persebaya masih menempati Wisma Eri Irianto (dulu bernama Wisma Persebaya) di Karanggayam, para pemain mudah ditemui dan ngobrol dengan Bonek. Mereka juga bertegur sapa dengan warga sekitar. Ini yang kemudian membuat Persebaya dekat dengan publik. Manajemen dan para pemain bukanlah selebritis yang tak terjangkau.

Saat tim bermain jelek, Bonek bisa mengkritik para pemain secara langsung. Pemain juga bisa menyampaikan kesulitan yang dialami. Salah satu bentuk kedekatan Bonek dengan pemain terlihat saat manajemen klub terlambat membayar gaji. Beberapa pertemuan dilakukan, dan Bonek berada di pihak pemain. Para Bonek juga pernah melakukan aksi berjalan mundur sebagai bentuk protes terhadap manajemen yang dianggap tak menghargai pemain.

Kedekatan ini yang membuat para mantan pemain Persebaya tetap memiliki hubungan baik dengan Bonek. Jacksen Tiago mendapat sambutan hangat saat kembali ke Gelora Bung Tomo sebagai pelatih Barito Putra. Saya pernah mendengar cerita dari salah satu kawan soal seorang mantan pemain Persebaya yang menyebut Bonek sebagai kelompok suporter yang luar biasa, karena memperjuangkan hak-hak pemain.

Kedekatan ini membuat para pemain Persebaya pada masa lampau selalu bermain seratus persen. Taktik yang bagus, skill individu yang brilian, tak cukup tanpa militansi. Bonek bisa menerima kekalahan, selama itu melalui sebuah pertandingan habis-habisan.

Militansi menjadi pertanyaan yang ditujukan untuk skuat Persebaya saat ini. Beberapa kali kritik terdengar dari Bonek soal tak terlihatnya mentalitas 'Suroboyoan' dalam skuat yang diasuh Alfredo Vera. Bonek merasakan operan-operan pendek nan rapi, taktik pressing ketat, tidak diikuti semangat juang yang tinggi. Ada kalanya semangat juang itu terlihat. Namun di lain waktu, semangat juang itu tak terasa. Labilnya militansi ini tentu mengecewakan, terlebih kesejahteraan para pemain Persebaya kini lebih baik.

Ada banyak faktor yang boleh jadi berpengaruh. Salah satunya adalah ditinggalkannya Lapangan dan Wisma Persebaya di Karanggayam. Manajemen lebih memilih berlatih tanpa ditonton Bonek di lain tempat. Para pemain pun ditempatkan di apartemen atau tempat tinggal yang lebih nyaman daripada Wisma Eri Irianto, yang dari aspek profesional patut dipuji, namun memiliki konsekuensi semakin jauhnya hubungan dengan suporter.

6. Layakkah Alfredo Vera dipertahankan menjadi pelatih Persebaya?

Alfredo Vera datang menggantikan Iwan Setiawan yang bermasalah dengan Bonek. Reputasi pria asal Argentina ini sebagai pelatih Persipura cukup bagus. Ia membuktikannya dengan membawa Persebaya menjuarai Liga 2 musim 2017 setelah mengalahkan PSMS Medan 3-2 di babak final.

Vera memiliki filosofi taktik ofensif dengan mengandalkan operan-operan pendek dan 'high press' di daerah pertahanan lawan. Dengan formasi 4-3-3, ia mengandalkan pemain-pemain dengan kecepatan tinggi untuk menggedor pertahanan lawan dan mencetak gol. Namun hingga 11 pertandingan, filosofi sepak bola menyerang ala Vera tidak memberikan hasil memuaskan: tiga menang, lima imbang, dan tiga kekalahan, dengan 15 kali membobol gawang lawan dan 14 kali kebobolan. Hanya meraup 14 angka dari kemungkinan 33 angka membuat Persebaya terpuruk di zona degradasi.

Dari aspek rasio gol per pertandingan, Persebaya hanya mencetak angka 1,36. Rasio ini sebenarnya lebih baik daripada Bhayangkara FC yang berada di peringkat 6 (1,076 gol per pertandingan), Bali United yang berada di peringkat 9 (1,15), Borneo FC yang berada di peringkat 11 (1,076), PS Tira yang berada di peringkat 13 (1,307). Namun jika melihat gaya ofensif Persebaya yang selalu memiliki penguasaan bola lebih tinggi daripada lawan, baik di kandang maupun tandang, rasio gol ini jelas tidak cukup bagus.

Kondisi diperburuk dengan pertahanan Persebaya yang mudah jebol. Rasio kebobolan barisan pertahanan Persebaya lebih buruk daripada Perseru Serui yang berada satu strip di bawah dalam klasemen sementara (1,27 berbanding 0,66 gol per pertandingan).

Dari aspek teknis, Vera tidak memiliki komposisi 'winning team'. Dia sering sekali merotasi komposisi pemain, terutama di sektor gelandang dan depan. Tercatat dalam sebelas pertandingan, Persebaya memiliki tujuh komposisi trio lini tengah dan sembilan komposisi pemain depan yang berbeda-beda. Ada tiga faktor yang memungkinkan hal ini terjadi: ingin mengelabui lawan, kebingungan dengan kualitas pemain yang serba pas-pasan, dan persoalan cedera.

Faktor pertama terbantahkan, karena alih-alih lawan terpedaya, performa Persebaya justru jeblok. Jika faktor kedua jadi alasan, maka ini menunjukkan betapa buruknya rekrutmen pemain Persebaya. Vera sudah diberi kebebasan memilih pemainnya, dan ia memilih mayoritas mantan pemain Persipura Jayapura sehingga Persebaya dijuluki 'Persipura Cabang Surabaya'. Tak ada alasan untuk menjadikan kualitas pemain sebagai kambing hitam. Faktor cedera juga bisa memantik pertanyaan soal metode latihan fisik untuk menjaga pemain Persebaya tetap bugar. Hanya dalam sebelas pertandingan sejumlah pemain Persebaya yang tumbang. Bisa dibayangkan, betapa ringkihnya kondisi fisik pemain Persebaya untuk melakoni kompetisi panjang. Buruknya fisik pemain juga berpengaruh terhadap konsistensi penerapan filosofi sepak bola menyerang Vera: tak ada 'high pressing' tanpa stamina kuda.

Keputusan ada pada manajemen: memberikan kesempatan Vera atau membuangnya. Membuang Vera memiliki dua konsekuensi: pertama, Persebaya harus memilih pelatih berkualitas yang harus segera beradaptasi di tengah musim kompetisi, dan kedua, kehadiran pelatih baru berpotensi memicu disharmoni dalam tim, terutama karena banyaknya pemain yang terpilih karena faktor Vera. Namun jika manajemen memilih mempertahankan Vera, maka diperlukan kerja keras untuk mengembalikan Persebaya ke jalur yang benar. Manajemen harus memberikan tekanan kepada Vera untuk memastikan bahwa Persebaya tak akan malu menyandang nama klub legendaris di ujung kompetisi.

7. Apa kabar rekonsiliasi internal?

Kembalinya Persebaya ke kompetisi resmi PSSI masih menyisakan persoalan dengan tanda tanya besar: rekonsilisasi klub-klub amatir internal. Sejak berstatus profesional dan berbadan hukum swasta, Persebaya memang secara regulasi tidak memiliki keterkaitan. Klub-klub amatir kini di bawah naungan PSSI Surabaya. Namun secara historis, klub-klub tersebut tak bisa diabaikan, karena menjadi tulang punggung Persebaya sejak berdiri. Oleh sebab itu, 20 klub berhimpun dalam koperasi yang mendapat jatah 30 persen saham kepemilikan Persebaya.

Masalahnya, dualisme nama Persebaya yang terjadi delapan tahun silam juga memunculkan perpecahan di tingkat klub internal. Ada sepuluh klub yang tidak bergabung sebagai bagian dari pemilik saham Persebaya saat ini, karena berpihak kepada Persebaya versi PSSI. Beberapa klub internal tersebut berusia tua, seperti Suryanaga, Assyabaab, Setia Naga Kuning, dan PSAD.

Belum adanya rekonsiliasi meninggalkan cacat sejarah pada Persebaya. Pertanyaan penting: seberapa besar kebesaran hati semua kelompok untuk berdamai.

8. Inikah saatnya moratorium awayday atau 'tret tet tet' untuk menanggulangi kaum 'bondo maling'?

Banyak perubahan positif pada Bonek dibandingkan sepuluh tahun silam. Kesadaran untuk memiliki klub dan menjaga nama baik komunitas semakin menguat, terutama pasca pembekuan Persebaya. Keberhasilan Bonek melakukan rekonsiliasi dengan kelompok suporter lain yang sebelumnya berseteru seperti Pasoepati Solo dan Maczman Makassar menunjukkan ada itikad baik untuk mengubah reputasi yang berangasan.

Namun ada satu problem yang belum teratasi: kaum bondo maling (boling). Boling adalah sebutan mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman terhadap oknum Bonek yang memanfaatkan nama komunitas dan Persebaya untuk melakukan tindakan kriminal berupa pencurian, pemalakan, maupun penjarahan. Boling jarang muncul saat Persebaya menggelar laga kandang. Mereka muncul saat Persebaya bertandang ke kota lain.

Boling memiliki kebiasaan menumpangi suporter yang melakukan estafet dan biasanya selalu memaksa masuk stadion walau tanpa tiket. Korban mereka tak hanya warga dan kelompok suporter lain, namun juga sesama Bonek. Para Boling ini bergerak dalam kelompok-kelompok kecil yang baru beraksi saat tidak berada dalam kelompok besar suporter yang datang terkoordinasi. Ini membuat sulitnya penanganan.

Polisi menjadi kunci penanganan melalui penegakan hukum yang tegas dan keras untuk memunculkan efek jera. Selama ini oknum-oknum penjarah setelah ditangkap hanya mendapatkan 'hukuman pembinaan' dengan memulangkan mereka. Sudah saatnya aparat Kepolisian tegas dengan memproses mereka layaknya pelaku kriminal lainnya. Ketegasan akan membuat masyarakat percaya dan tidak melakukan razia sendiri terhadap penjarah ini yang bisa berakibat munculnya korban jiwa. Beberapa suporter yang diserang warga justru bukan pelaku penjarahan.

Kaum boling ini juga terbukti berdampak buruk terhadap ikhtiar rekonsiliasi Bonek dan Jakmania. Kelompok Jakmania mengklaim menjadi korban pemalakan para oknum boling. Sialnya, aksi balasan justru menimpa Bonek yang tidak melakukan pemalakan, sehingga perkelahian pun terjadi.

Salah satu solusi yang patut dicoba adalah moratorium awayday atau tret tet tet mendampingi Persebaya dalam jangka waktu tak terbatas, khusus untuk partai tandang di Jawa. Moratorium ini membutuhkan andil Persebaya, PSSI, dan seluruh klub di Jawa untuk tidak memberikan kuota tiket untuk Bonek dan melansir larangan resmi terhadap mereka.

Moratorium ini bisa dilaksanakan jika basis-basis komunitas Bonek yang terkoordinasi mematuhi dan memilih tidak berangkat menyaksikan pertandingan tandang Persebaya. Pasalnya, jumlah Bonek yang terkoordinasi sesungguhnya lebih besar daripada boling yang datang dengan cara estafet. Tanpa kehadiran komunitas besar, lebih mudah bagi aparat kepolisian untuk melakukan penertiban dan penegakan hukum karena para oknum kriminal ini bisa terpantau.

9. Bersediakah Dahlan Iskan turun gunung?

Sejumlah persoalan di tubuh Persebaya, terutama komunikasi antara manajemen, tim, dan suporter, membutuhkan sosok penengah yang dihormati semua pihak. Dari Bonek muncul suara agar Dahlan Iskan, mantan bos Jawa Pos dan pernah menjadi manajer Persebaya, turun gunung menjadi penengah. Posisi Dahlan sebagai ayah Azrul Ananda dan sekaligus orang yang dihormati Bonek akan membuatnya lebih didengar. Tak ada yang meragukan loyalitas Dahlan untuk Persebaya. Kita tinggal menunggu jawabannya. [wir]

Tag : persebaya

Komentar

?>