Senin, 20 Agustus 2018

Ode untuk Mo dan Kesalahan Terbesar Para Teroris

Kamis, 14 Juni 2018 19:28:52 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Ode untuk Mo dan Kesalahan Terbesar Para Teroris
planetfootball.com

Kekeliruan terbesar para teroris, orang-orang yang memilih jalan pintas menuju surga dengan meledakkan diri mereka dan orang lain, adalah menempatkan dunia dan liyan sebagai ancaman berkelanjutan yang tak pernah rehat. Bahkan untuk nonton sepak bola. 

Maka, saat Musa Okwonga, seorang Inggris keturunan Uganda, diminta sebuah kelompok seni di Liverpool, Rapid Response Unit (RRU), untuk menulis puisi untuk Mohamed Salah, kita bersyukur: para teroris itu salah.

Puisi itu kemudian divideokan dengan durasi kurang lebih satu menit dan dibacakan lariknya oleh warga Kota Liverpool dari berbagai kalangan: polisi, seorang cacat, seorang tukang semir sepatu, perempuan pelayan toko, seorang guru dan anak-anak didiknya di sekolah dasar, seorang perempuan berjilbab di lapak buah, tukang barbir, dan seorang perempuan China berpakaian kung fu yang mengatakan 'The Muslim maestro' sembari memasang kuda-kuda.

Mohamed Salah, seorang Mesir dengan bola di kakinya, mengubah pandangan banyak orang tentang Islam dan kaum muslim di Inggris hanya dalam waktu semusim kompetisi. Ia menunjukkan bahwa keimanan semestinya berwujud tindakan yang mengayomi dan mempesona, bukan menakutkan. Dan dengan cara itu, persepsi terhadap Islam bisa diubah.

Medio 2015, Abubakar Bhula dan Asif Bodi, dua fans Liverpool, pernah menjadi sasaran hujatan dan pandangan sinis saat video pendek mereka salat di bawah anak tangga di Stadion Anfield diunggah ke media sosial oleh salah satu penonton. Liverpool Football Club menginvestigasi dan mengutuk sang pengunggah. "Kami menghargai perbedaan," demikian kalimat dalam sebuah banner di Anfield. Klub tidak menoleransi diskriminasi apapun.

Namun praktis perubahan persepsi terhadap Islam adalah saat Mo Salah datang dan menyihir Anfield dengan 44 gol sepanjang musim 2017-2018. Rekornya hanya bisa dikalahkan catatan gol striker asal Wales, Ian Rush, pada musim 1983-1984.

Salah tidak berpretensi untuk berdakwah layaknya para ustaz atauk syeikh. Namun sujud syukurnya setiap usai mencetak gol membuat orang kemudian memahami bagaimana muslim menghargai anugerah Tuhan dan beribadah. 

His scoring rate is one a game,

So once a match

Anfield becomes his prayer mat.

Sebenarnya bukan sekali ini saja Liverpool kedatangan pemain muslim. Sebelum Salah, setidaknya ada 12 pemain beragama Islam yang bermain untuk The Reds: Sadio Mane (Senegal), Emre Can (Jerman), Mamadou Sakho (Prancis), Kolo Toure (Pantai Gading), Nuri Sahin (Turki), Mohamed Sissoko (Mali), Oussama Assaidi (Maroko), Nicolas Anelka (Prancis), Samed Yesil (Jerman), Alou Diarra (Prancis), Nabil El Zhar (Maroko), dan Carl Medjani (Aljazair).

Namun kemampuan Salah mencetak gol dan mempengaruhi permainan memang di atas rata-rata semua pemain Liverpool tersebut. Ini yang membuatnya lebih dikenal dan dekat dengan fans. Belum lagi perbuatannya di luar lapangan jauh dari kontroversi dan gosip skandal khas pemain sepak bola Inggris. Sebagaimana permainannya di atas lapangan, kebajikan hati dan kedermawanannya memiliki efek penghormatan, tak hanya pada Salah sebagai individu, tapi juga Islam.

Lagu yang dinyanyikan suporter Liverpool spesifik menunjukkan betapa Islam bukan sesuatu yang asing. 

If he’s good enough for you, he’s good enough for me, 

If he scores another few, then I’ll be Muslim too, 

If he’s good enough for you, he’s good enough for me, 

Sitting in the mosque, that’s where I wanna be!

Paul Machin dari Redmen TV mengatakan, ada kesamaan antara Salah dengan fans Liverpool, sehingga bisa memiliki keterikatan. Suporter Liverpool selalu dengan bangga mengatakan: 'Scouser not English'. Orang Scouser (warga asli Liverpool) bukan orang Inggris, dan untuk itu mereka dibenci. Sementara Salah datang dari sebuah identitas dan latar belakang masyarakat muslim yang disalahpahami. 

"Tapi kami tidak peduli, karena kami sebuah kota yang terbuka, multikultural, dan peduli. Kami mencintai orang lain tanpa peduli soal ras dan agama mereka," kata Paul.

Of course he and this city go hand in hand –

They love a frontman of an all-action band –

Thus this Afro-haired angel is Top of the Docks.

Saat Salah cedera dan meneteskan air mata setelah dibanting bek Real Madrid Sergio Ramos dalam pertandingan final Piala Champions, jutaan orang membelanya, media sosial riuh dengan ucapan simpati dan caci-maki untuk Ramos.

Orang mencintai antusiasme, kesederhanaan, dan dedikasi Salah. Salah kecil pernah menangis saat gagal mencetak gol dalam lima kali kesempatan dribble dan berada dalam situasi satu lawan satu dengan penjaga gawang lawan. Selama masih bisa berdiri, dia pantang jatuh karena tekel pemain lawan dan menuntaskan tugasnya. Gol saat melawan Everton, Tottenham Hotspur, dan Watford menunjukkan dia bukan pemain cengeng yang mudah diving dan minta wasit meniupkan peluit.

He has three superhuman abilities:

Speed. Finishing. Humility.

The players’ choice,

The people’s choice,

He brings us together with his grin.

Salah juga menjadi inspirasi saat meloloskan Mesir ke Piala Dunia. Saat kedudukan imbang 1-1 dan waktu melawan Kongo tersisa beberapa menit lagi, manuver Salah di zona pertahanan lawan bagaikan badai. Dia mencetak gol pamungkas melalui titik penalti dan memastikan Mesir lolos kualifikasi Piala Dunia 2018.

Orang masih ingat bagaimana Stadion Borg El Arab diliputi ketegangan. Menit-menit terakhir adalah saat hidup dan mati. Para pemain Mesir membombardir pertahanan Kongo seperti tak ada lagi esok hari. Mereka harus menang jika ingin lolos. Gol pertama dicetak Mo Salah. Namun dua menit sebelum pertandingan berakhir, Arnold Bouka Moutou menyamakan posisi. 

Menit 94, kesempatan itu datang. Pelanggaran ceroboh di kotak penalti Kongo menghasilkan peluang. Salah menjadi eksekutor dan berhasil menaklukkan kipper Barel Mouko. Mesir melaju sebagai juara Grup E Putaran Ketiga Kualifikasi Zona Afrika.

Hazem Emam, salah satu mantan pemain tim nasional Mesir, menyebut Salah menjadi kunci sukses Negara itu mengakhiri dahaga. "Saat kami lolos ke Piala Dunia 1990, itu lebih Karena ikhtiar tim. Tapi kali ini, Salah adalah pemimpinnya," katanya.

Liverpool’s Mohamed Salah

The Muslim Maestro! – Cairo’s Hero! –

The Golden Smile of the Nile!

The World’s Swiftest Egyptian

(Blink, you’ll miss him).

Kekeliruan terbesar para teroris, orang-orang yang memilih jalan pintas menuju surga dengan meledakkan diri mereka dan orang lain, adalah menempatkan dunia dan liyan sebagai ancaman berkelanjutan yang tak pernah rehat. Dan saya rasa memang mereka perlu nonton sepak bola, menyaksikan Salah, sebelum memutuskan untuk mengebom di sana-sini dan membuat persepsi dan peradaban Islam mundur seratus tahun. [wir]

Tag : sepakbola

Komentar

?>