Kamis, 16 Agustus 2018

Pekan 13 Liga 1

Zona Degradasi dan Pesan Damai di Makassar

Senin, 11 Juni 2018 18:57:55 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Zona Degradasi dan Pesan Damai di Makassar

Pertandingan pekan 13 Liga 1 di Stadion Mattoangin, Makassar, antara PSM dengan Persebaya, Sabtu (9/6/2018) malam, mengabarkan dua hal di dalam dan di luar lapangan: zona degradasi dan pesan damai.

Mari kita bicarakan kabar pertama dulu. Dengan kekalahan 0-1, para pemain Persebaya harus melewatkan libur lebaran di zona degradasi. Dari 11 pertandingan, Persebaya hanya mengantongi nilai 14, yang dikemas dari tiga kemenangan, lima hasil imbang, dan tiga kekalahan. Tim Bajul Ijo berada di peringkat 16, mengantongi nilai yang sama dengan Perseru Serui dan PSIS Semarang yang berada di peringkat bawah. Satu-satunya keunggulan Persebaya adalah selisih gol (1) dibanding selisih gol negatif Perseru (-3) dan PSIS (-6).

Persebaya memang masih memiliki tabungan dua pertandingan yang tertunda. Namun dua pertandingan itu sama-sama tidak mudah, yakni menjamu Persib Bandung dan bertandang melawan Persija Jakarta. Persib saat ini di peringkat tujuh dengan nilai 18 dan sama-sama memainkan 11 pertandingan. Persija di peringkat 10 dengan nilai 16 dan baru memainkan 10 pertandingan.

Kompetisi memang masih jauh dari garis finis. Namun jika melihat performa Persebaya dalam 11 pertandingan, termasuk saat melawan PSM, maka Bonek layak galau. Persebaya masih belum bisa menunjukkan stabilitas yang dibutuhkan sebuah tim dalam sebuah kompetisi panjang. Kekalahan dari PSM adalah pertandingan keempat Persebaya tanpa kemenangan. Persebaya berhasil keluar dari siklus Sisifus 'menang-seri-kalah', namun justru terpuruk dalam tren yang sama buruknya.

Ada yang salah dari taktik Alfredo Vera. Vera memang berhasil membawa Persebaya untuk konsisten memainkan possession football, bahkan di luar kandang. Sebagaimana 10 pertandingan sebelumnya, Persebaya berhasil menguasai 54 persen pertandingan. Namun semua penguasaan bola sia-sia saja, karena Persebaya juga masih dihinggapi penyakit yang sama: lemah dalam penyelesaian akhir dan miskin kreativitas saat berada di sepertiga wilayah pertahanan lawan.

Statoskop-Jawa Pos mencatat betapa Persebaya kesulitan melepaskan tembakan ke gawang PSM yang dijaga Rifki Mokodompit. Dari enam tembakan, hanya satu yang tepat sasaran: terburuk di antara semua laga yang pernah dijalani Persebaya. Sementara itu, PSM justru lebih efektif. Dari 17 tembakan, delapan di antaranya tepat sasaran. Bahkan PSM berhasil membuat lima tendangan penjuru yang menandakan betapa intensitas PSM di zona pertahanan lawan lebih tinggi.

PSM juga bermain lebih spartan daripada anak-anak Persebaya. Semua parameter defensif berhasil dimenangkan tim Juku Eja: 32 kali tekel sukses (berbanding 20 Persebaya) dan membuat frustrasi dengan berhasil 24 kali memotong serangan Persebaya.

Mengejutkan, Vera tidak menurunkan Robertino Pugliara yang selama ini berhasil menjadi dirijen serangan Persebaya dan lebih memilih Misbakus Solikin. Dimainkannya Misbakus kemungkinan besar dikarenakan keinginan Vera memanfaatkan bola-bola mati dan tembakan jarak jauh. Misbakus piawai dalam dua hal tersebut.

Bagaimana skenarionya? Persebaya akan memanfaatkan kecepatan trisula Irfan Jaya, Ricky Kayame, dan Oktafianus Fernando untuk mengacak-acak garis pertahanan PSM, terutama dari sayap. Mereka akan memanfaatkan kelemahan Steven Paulle yang bertubuh besar namun lamban dalam menghadapi kecepatan para pelari Persebaya. Para pemain Persebaya diharapkan sedekat mungkin merangsek ke kotak penalti dan memaksakan pelanggaran yang berbuah tendangan bebas dengan jarak ideal bagi Misbakus. Selain itu, tiga pemain depan Persebaya bergerak sangat cair tanpa 'target-man', dan suplai bola-bola silang berasal dari sayap diintensifkan untuk mencuri peluang.

Namun skenario itu tidak berjalan mulus. Umpan-umpan silang dari sayap tidak berujung pada eksekusi akurat. Ricky Kayame atau Irfan Jaya bukan tipe petarung di udara. Duel udara menjadi milik PSM yang memiliki pemain dengan tubuh lebih tinggi. Para pemain PSM berhasil sebelas kali memenangkan duel udara berbanding lima kali yang dimiliki Persebaya. Situasi akan berbeda jika David da Silva dimainkan.

Repotnya, saat skema serangan dari sayap berkali-kali gagal, para pemain Persebaya seperti mati akal. Tembakan jarak jauh hanya sekali dilepas Misbakus. Selebihnya, para pemain Persebaya masih sibuk mencoba mencetak gol dari jarak dekat melalui umpan-umpan lambung. Vera seperti tak punya rencana cadangan saat rencana inti gagal.   

Lini tengah PSM yang dikomandani Marc Klok yang bertandem dengan Rizky Pellu dan M. Arfan bermain lebih trengginas dibandingkan trio Rendi Irwan, Misbakus, dan Nelson Alom. Pellu bermain box to box, naik turun tanpa lelah dan berkali-kali mengancam pertahanan Persebaya. Pellu juga akhirnya yang memecah kebuntuan dengan gol yang berasal dari sundulan dengan memanfaatkan operan dari sepak sudut Rasyid Bakrie.

Gol Pellu pada menit 72 menunjukkan betapa lemahnya barisan Persebaya mengantisipasi skema bola mati. Dari 14 gol yang menjebol gawang Persebaya, enam gol (42,85 persen) di antaranya berasal dari bola mati. Tiga gol dari skema tendangan bebas, dua gol dari skema tendangan penjuru, dan satu gol dari tendangan penalti. Beruntung malam itu Miswar Saputra tampil gemilang dan mendadak seperti David de Gea yang melakukan sejumlah penyelamatan ajaib. Tanpa Miswar, Persebaya seharusnya kalah minimal tiga gol.

Pertanyaan juga diarahkan pada komposisi pemain yang diturunkan Vera. Komposisi yang nyaris tidak berubah jika tidak ada cedera adalah komposisi pemain belakang, yakni Abu Rizal Maulana, Fandry Imbiri, dan Ruben Sanadi. Saat cedera, Otavio Dutra digantikan M. Syaifuddin sebagai bek tengah. Kiper Miswar Saputra pun relatif tak tergantikan.

Komposisi pemain tengah dan depan yang menjadi motor serangan tim justru yang seringkali berubah-ubah. Dengan formasi 4-3-3, ada tujuh komposisi trio lini tengah dan sembilan komposisi pemain depan yang berbeda-beda dalam 11 pertandingan. Di lini tengah, Robertino Pugliara sembilan kali dimainkan, Rendi Irwan tujuh kali dimainkan, Nelson Alom enam kali dimainkan, Misbakus Solikin empat kali dimainkan, Fandi Eko Utomo tiga kali dimainkan, Sidik Saimima tiga kali dimainkan, dan Izaac Wanggai sekali dimainkan.

Tujuh komposisi unit gelandang Persebaya yang sudah diturunkan itu adalah 

1. Rendi Irwan - Nelson Alom - Misbakus Solikin (saat melawan PSM, hasil kalah)

2. Rendi Irwan - Pugliara - Misbakus Solikin (menang melawan Perseru, seri melawan Persela)

3. Rendi Irwan - Nelson alom - Pugliara (menang lawan Arema, seri lawan Borneo)

4. Rendi Irwan - Sidik Saimima - Pugliara (imbang lawan Madura United dan Persipura)

5. Fandi Eko - Nelson Alom - Pugliara (kalah lawan Barito, menang lawan PS Tira)

6. Fandi Eko - Misbakus Solikin - Izaac Wanggai (seri lawan Sriwijaya)

7. Sidik Saimima - Nelson Alom - Pugliara (kalah lawan Mitra Kukar)

Dari sini terlihat, jika Rendi diturunkan bersama-sama Pugliara maka Persebaya lebih banyak menuai hasil positif, yakni dua kali menang, empat kali imbang, dan sama sekali belum pernah kalah. Komposisi Rendi-Nelson-Pugliara dan Rendi-Misbakus-Pugliara tak pernah kalah, yakni masing-masing menang lawan Arema dan seri melawan Borneo serta menang melawan Perseru dan seri melawan Persela. 

Rendi, Nelson, dan Pugliara memiliki banyak atribut yang saling melengkapi untuk membuat lini tengah Persebaya menjadi motor serangan sekaligus benteng pertahanan pertama. Rendi memiliki kecepatan yang bisa didorong menjadi penyerang lubang yang menyuplai bola ke trio lini depan, sekaligus mundur dengan cepat membantu pertahanan. Dia tipe gelandang box to box yang ngeyel. Pugliara memiliki kejelian membaca sekaligus mengendalikan arah serangan. Beberapa gol Persebaya berasal dari kreasi dan operan kuncinya. Sementara Nelson Alom merupakan gelandang tukang angkut air terbaik yang dimiliki Persebaya. Misbakus Solikin bisa menjadi alternatif menggantikan Nelson Alom.  

Tak pelak, Rendi, Nelson, Pugliara adalah trio lini tengah terbaik Persebaya saat ini. Sejauh ini, bongkar pasang justru tidak memberikan dampak signifikan. Dari tujuh komposisi lini tengah, lima komposisi pernah mengalami kekalahan dan atau tak menghasilkan tiga angka.

Lini depan juga menjadi lahan eksperimen Vera. Dengan formasi 4-3-3, tercatat ia menurunkan sembilan formasi trisula berbeda dalam sebelas pertandingan. Tidak ada trisula tetap yang pernah melakoni lebih dari dua kali pertandingan sebagai pemain inti. Oktafianus Fernando paling banyak diturunkan yakni dalam tujuh pertandingan, diikuti Irfan Jaya dan Ferinando Pahabol masing-masing enam kali pertandingan, David da Silva lima kali, Rishadi Fauzi empat kali, Osvaldo Hay tiga kali, dan Ricky kayame dua kali.

Sembilan kombinasi Persebaya sejauh ini adalah 

1. Oktafianus - Irfan Jaya - Rishadi Fauzi (menang vs Perseru, seri vs Persela)

2. Oktafianus - Osvaldo Haay - Da Silva (menang vs PS Tira, seri vs Sriwijaya)

3. Oktafianus - Da Silva - Pahabol (kalah vs Mitra Kukar)

4. Osvaldo Haay - Da Silva - Pahabol (kalah vs Barito)

5. Oktafianus - Rishadi Fauzi - Pahabol (menang vs Arema)

6. Irfan Jaya - Rishadi Fauzi - Pahabol (seri vs Borneo)

7. Irfan Jaya - Da Silva - Pahabol (seri vs Madura)

8. Irfan Jaya - Pahabol - Kayame (seri vs Persipura)

9. Oktafianus - Irfan Jaya - Kayame (kalah vs PSM)

Semua kemenangan Persebaya selama sebelas laga terjadi saat Oktafianus Fernando menjadi pemain inti, yakni saat melawan Perseru, PS Tira, dan Arema. Sisanya, Persebaya dua kali seri dan dua kali kalah bersama pemain asli internal Persebaya tersebut.

Saat Irfan Jaya diturunkan, Persebaya sekali menang, empat kali imbang, dan sekali kalah. Bersama Pahabol, Persebaya hanya menang sekali, tiga kali imbang, dan dua kali kalah. David da Silva mempersembahkan satu kemenangan, dua hasil seri, dan dua kekalahan saat turun menjadi pemain inti. Sementara Osvaldo Haay hanya mampu membawa Persebaya memetik hasil menang, seri, imbang.

Satu-satunya pemain yang tak pernah tersentuh kekalahan saat diturunkan menjadi pemain inti adalah Rishadi Fauzi. Dari empat kali penampilannya sebagai starter, ia mendulang dua kemenangan dan dua hasil imbang bersama Persebaya.

Dari sebelas pertandingan dengan tujuh komposisi lini tengah dan sebelas komposisi lini depan yang berbeda-beda, Vera seharusnya sudah bisa membaca kekuatan anak-anak asuhnya dan menyusun the winning team. Semua pelatih di dunia memiliki formasi pakem yang hanya dibongkar jika berkali-kali tak menghasilkan kemenangan. Jika kemudian ternyata Vera memilih membongkar-pasang lini tengah dan depan, tentu menarik untuk mengetahui motifnya. Apalagi sejauh ini bongkar-pasang justru membawa Persebaya terpuruk ke zona degradasi.

Alasan yang paling memungkinkan untuk bongkar-pasang ini adalah kebugaran pemain. Beberapa kali publik mendapat penjelasan bahwa Persebaya didera badai cedera. Pertanyaannya: mengapa begitu mudah pemain Persebaya mengalami cedera dalam 11 kali pertandingan. Adakah persoalan dalam kebugaran dan stamina pemain untuk bermain dalam pressing tempo tinggi yang diinginkan Vera dan ditunjukkan pada awal-awal kompetisi? Jika demikian, seberapa jauh Persebaya meningkatkan stamina pemain? Apakah ada pelatih fisik khusus untuk itu? Kompetisi masih jauh, masih ada 23 pertandingan lagi. Tentu agak merepotkan jika mendadak Persebaya gembos di tengah jalan.

Pertanyaan lainnya adalah belum diturunkannya pemain seperti Arthur Irawan. Sebagai pemain belakang, kapasitas dan pengalamannya bermain di Liga Spanyol seharusnya bisa membawa dampak bagi lini belakang Persebaya yang sudah mengalami kebocoran hingga 14 gol. Jika kebocoran ini tak juga segera ditambal, maka Bonek harus bersiap-siap melihat Persebaya kesulitan menembus papan atas.

Dengan hanya mengemas 14 angka dari 11 pertandingan, berarti ada 19 angka yang hilang atau setara dengan enam kekalahan. Rata-rata poin persebaya 1,27 per pertandingan. Jika performa Persebaya tak diperbaiki dan rata-rata ini bertahan hingga akhir musim, maka persebaya bakal mendapat tambahan nilai 29,21 atau total angka sekitar 43 - 44. Jika mengacu klasemen kompetisi Liga 1 musim lalu, Persebaya hanya menduduki peringkat 10 dari 18 peserta.

Jika tak ingin terdegradasi, setidaknya Persebaya harus mendapatkan minimal 40 angka. Ini artinya performa kandang harus diperbaiki. Kalau laga kandang bisa disapu bersih, maka Persebaya seharusnya bisa membawa total 51 angka. Tapi hingga saat ini Persebaya sudah kehilangan total tujuh poin dari tiga pertandingan. Maka mau tidak mau, 14 pertandingan kandang yang tersisa harus dimenangkan seluruhnya untuk mendapat tambahan modal 42 angka.

Apa yang dibutuhkan Persebaya? Pertama, tentu formasi pakem. Manajer Manchester United Alex Ferguson pernah mengatakan, bahwa setiap pemain selayaknya mendapat kesempatan bermain. "Uang urusan nomor dua bagi mereka," katanya.

Namun itu tidak lantas membuat Ferguson ugal-ugalan membongkar pasang formasi awal jika tidak mendesak. Setiap tim membutuhkan konsistensi. Konsistensi bisa tercapai, jika sebuah tim bermain bersama dalam jangka waktu yang lama, karena di sana tumbuh kesepahaman. Jurgen Klopp berhasil membuat lini depan Liverpool menjadi terhebat di Eropa karena jarang melakukan bongkar-pasang. Kendati musim 2017-2018 adalah musim pertamanya, Mohamed Salah berhasil menciptakan ikatan 'chemistry' dengan dua pemain depan lainnya, Firmino dan Mane, yang lebih dulu bermain di Anfield. 

Kedua, kreativitas serangan. Vera agaknya harus lebih banyak memberikan resep membongkar pertahanan lawan dengan banyak skema kepada para pemainnya jika satu skema buntu. Ketiga, Persebaya membutuhkan tambahan pemain yang mampu membuat tim lawan segan. Selama ini, pemain seperti itu tidak ada pada Persebaya. Pemain karismatik seperti ini ada pada sosok Bambang Pamungkas di Persija dan Boas Salosa di Persipura. Persebaya berpeluang mendapatkan pemain seperti ini jika Andik Vermansah jadi dikontrak tempo hari.

Di luar urusan teknis tim yang menyedihkan, publik mendapat pesan menggembirakan dari tribun penonton di Mattoangin. Persahabatan Maczman dan Bonek begitu kental. Di tengah serunya pertandingan, atmosfer di tribun begitu nyaman untuk dinikmati. Ratusan suporter Bonek duduk dengan aman di tengah lautan merah.

Koreo tiga dimensi Sultan Hasanuddin dan Bung Tomo dengan tulisan Long Time No See membuat kita bisa berharap dari Makassar dan Surabaya. Ini menjadi antitesis permusuhan dua suporter bertahun-tahun lalu. Terakhir pada 2005, dua kelompok suporter terlibat baku pukul di sekitar Senayan Jakarta. Kini keduanya bisa duduk berdampingan dengan bahasa yang sama: sepak bola.

Ewako. Wani. [wir]

Tag : persebaya

Komentar

?>