Rabu, 17 Oktober 2018

Sorotan dan Prediksi Grup E Piala Dunia

Misi Berat Brasil: Menghalau 'Hantu 1-7'

Sabtu, 09 Juni 2018 14:29:46 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Misi Berat Brasil: Menghalau 'Hantu 1-7'

Juara: Brasil

Runner-up: Serbia

Tidak ada alasan bagi Brasil untuk tidak menjuarai Grup E. Tim Samba 'hanya' menghadapi Kosta Rika, Serbia, dan Swiss. Performa Brasil selama babak kualifikasi sangat meyakinkan.  Mereka menduduki peringkat pertama klasemen akhir dan terpaut sepuluh angka dengan Uruguay di peringkat kedua (41 berbanding 31). Brasil juga menjadi tim paripurna: kuat dalam menyerang, kokoh saat bertahan. Mereka mencetak 41 gol dalam 18 pertandingan dan hanya kebobolan 11 gol.

Adenor Leonardo Bacchi alias Tite, pelatih Brazil saat ini, memiliki banyak opsi pemain untuk menerapkan formasi 4-1-4-1 kesukaannya atau 4-3-3. Di bawah mistar gawang, ada kiper Manchester City Ederson dan kiper AS Roma Alisson yang sama-sama sedang bersinar. Di barisan belakang, Brasil punya Marquinhos (Paris St. Germain), Marcelo (Real Madrid), Felipe Luis (Atletico Madrid).

Barisan gelandang Brasil juga bikin ngeri: Coutinho, Paulinho  (Barcelona), Casemiro (Real Madrid), atau Fernandinho (Manchester City). Paulinho sudah mencetak 11 gol dalam 46 pertandingan tim nasional (Selecao). Mereka akan menopang Neymar. Di barisan depan, Brazil punya Roberto Firmino (Liverpool) dan Gabriel Jesus (Man City) yang sama-sama tengah bertaji.

Tite punya filosofi sepak bola pass and move, serupa dengan sebutan filosofi Bill Shankly, pelatih Liverpool, di era 1970-an. Dia punya prinsip dalam mengelola tim: transparansi, demokratisasi, keunggulan, dan modernitas. Semuanya soal bagaimana membangun kreativitas dan permainan di sepertiga lapangan terakhir.

Kehadirannya di tim nasional memberi warna. Sebelum Tite ditunjuk menjadi pelatih pada 20 Juni 2016, Brasil berada di peringkat enam kualifikasi Zona Amerika Latin. Namun ia berhasil mendesain tim yang tak lagi bermain hanya dengan kemampun teknik individual, tapi juga etos kerja bersama. Tak ada pengistimewaan terhadap satu dua pemain. Tak ada pemain elite atau alit (kecil). Bahkan selama babak kualifikasi, ada delapan pemain yang menyandang gelar kapten yakni Neymar, Miranda, Fernandinho, Dani Alves, Filipe Luis, dan Renato Augusto.

Teknik memang penting. Namun, Tite menilai, deretan pemain dengan kemampuan teknik individu yang bagus tak ada artinya tanpa kemampuan mengorganisasikan dan menyeimbangkan diri antara satu dengan lainnya. “Kemampuan fisik juga faktor kunci,  terutama bila terjadi perebutan bola dan perubahan posisi. Tapi mungkin yang paling penting adalah kekuatan mental, kemampuan menangani tekanan dan mental untuk menuntut hasil maksimal,” katanya.

Brasil di bawah Tite bukanlah tim dengan sekelompok pemain yang bermain untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kebersamaan. Dia memperkokoh garis pertahanan, membangun serangan dari belakang, dan memberikan kepercayaan kepada Casemiro sebagai gelandang bertahan untuk melapis pertahanan. Dia juga tak segan memberikan kepercayaan kepada Gabriel Jesus. Sebanyak 24 gol sudah disarangkan Brazil dalam delapan pertandingan terakhir babak kualifikasi. Neymar mencetak lima gol, Jesus dan Paulinho masing-masing mencetak empat gol.

Brasil difavoritkan menjadi juara. Namun tugas terberat Tite adalah menghalau trauma bencana kekalahan 1-7 dari Jerman pada 2014 di kandang sendiri. Brasil harus mewaspadai semua celah dan kelemahan yang bisa dimanfaatkan lawan.

Sebutlah Kosta Rika. Siapapun tentu masih ingat, betapa dahsyatnya kejutan negara kecil itu pada Piala Dunia 2014. Diperkirakan hanya jadi tim penghibur, Kosta Rika justru tampil menjadi juara Grup D dengan mengalahkan Uruguay 3-1, Italia 1-0, menahan Inggris 0-0. 

Serbia dan Swiss hari ini tak setangguh Uruguay, Inggris, dan Italia empat tahun sebelumnya. Pelatih Oscar Ramirez percaya bahwa angin sejarah berpihak kepada Kosta Rika saat berhadapan dengan tim-tim Eropa. "Setelah 2014, kami tidak takut dengan siapa saja," katanya.

Zona pertahanan Kosta Rika diisi pemain-pemain yang bermain di sejumlah liga elite Eropa: Giancarlo González (bek tengah Bologna Italia), Óscar Duarte (bek tengah Espanyol Spanyol), Bryan Oviedo (bek kiri Sunderland Inggris), dan Cristian Gamboa (bek kanan Glasgow Celtic Skotlandia). Sementara itu penjaga gawang Real Madrid, Keylor Navas, memberi garansi keamanan dan kenyamanan.

Celso Borges yang ditempatkan sebagai gelandang sentral memainkan peran penting mengatur tempo dan bahkan mencetak gol. Selama 107 pertandingan, pemain klub Spanyol Deportivo La Coruna itu sudah mencetak 18 gol. Posisi sayap kiri ditempati Rodney Wallace dan di sisi kanan ada Joel Campbel. Borges tak sendirian di tengah, karena bertandem dengan Bryan Ruiz.

"Campbell pemain yang sangat menarik. Bagian dari kepandaian saya sebagai seorang pelatih adalah mencoba mengeluarkan apa yang terbaik darinya,” katanya. Ramirez berbeda dengan pelatih Kosta Rika di piala dunia sebelumnya, Jorge Luis Pinto, yang cenderung pragmatis. Namun seperti Pinto, dia menggunakan taktik 5-4-1 yang lebih menekankan pertahanan solid sebelum keluar menyerang dengan menempatkan Marcos Urena sebagai ujung tombak tunggal.

Sementara Serbia di bawah Mladen Krstajic punya sederet pemain bintang nomor wahid yang bermain di Liga Primer Inggris (Nemanja Matic, Marko Grujic, Dusan Tadic) dan Liga Italia (Sergej Milinkovic-Savic, Aleksandar Kolarov, dan Adem Ljajic). 

Bermain dengan formasi 4-1-4-1, Krstajic memiliki komitmen kuat khas kaum buruh untuk mencapai impian. Menggantikan  Slavoljub Muslin yang berselisih pandangan dengan petinggi federasi sepak bola Serbia, Krstajic memiliki kemampuan berkomunikasi dan melakukan pendekatan kemanusiaan dengan para pemain. Dia membuat para pemain senyaman mungkin agar bisa bertarung habis-habisan di lapangan sesuai dengan skema yang diinginkannya.

Krstajic kemungkinan besar akan menggunakan pendekatan taktik berbeda. Jika Muslin lebih memilih bermain defensif dan efektif, Krstajic bisa memanfaatkan para pemain Serbia yang punya mentalitas ofensif, dari semua lini. Catat ini: Branislav Ivanovic yang berposisi sebagai bek tengah sudah mencetak 12 gol dalam 100 pertandingan timnas, bek kiri Aleksandar Kolarov sudah mencetak 10 gol dalam 73 pertandingan. 

Dusan Tadic yang beroperasi di sayap kiri telah mencetak 12 gol dalam 46 pertandingan. Di sayap kanan, Zoran Tosic telah memproduksi 11 gol dalam 76 pertandingan. Sebelas gol dicetak penyerang tengah Aleksandar Mitrovic. 

Milinkovic-Savic akan menjadi protagonis dalam skuat Serbia. Dia memiliki postur ideal: tinggi, kuat, dan bernyali dalam melakukan tekel. Dia juga memiliki kemampuan mengolah bola. Setelah bersinar dalam Piala Dunia U20, tentu saja Krstajic berharap Milinkovic akan bersinar lebih cemerlang di Rusia.

Kandidat runner-up grup lainnya adalah Swiss yang dilatih Vladimir Petkovic. Dia mempertajam daya serang dan bertahan Swiss. Dia melihat celah bahwa pemain bertahan beberapa kali lengah dan membuat kesalahan yang berujung gol untuk lawan. Mantan pelatih Lazio ini menginginkan agar para pemainnya lebih berani melancarkan serangan namun seimbang dalam bertahan

Saat melatih Lazio di Serie A Italia, Petkovic sangat mengandalkan serangan balik cepat. Namun dia tidak pernah berambisi menekankan kepada para pemainnya untuk mengambil inisiatif mendikte pertandingan. Swiss di tangan Petkovic adalah tim yang berani melakukan tekanan setinggi mungkin, jauh di garis pertahanan lawan, sebelum pemain lawan merangsek masuk daerah pertahanan.  Sebuah tim yang menyerang dan bertahan bersama-sama sebagai satu unit.

Swiss diberkati dengan para penjaga gawang yang dibesarkan klub-klub Bundesliga Jerman: Yann Sommer (Borussia Munchengladbach), Roman Bürki (Borussia Dortmund), dan Yvon Mvogo (RB Leipzig). Petkovic memiliki persediaan pemain bagus seperti Xherdan Shaqiri (Stoke), Granit Xhaka (Arsenal), Stephan Lichtsteiner (Juventus), Breel Embolo (Schalke), atau Haris Seferovic (Benfica), untuk tampil dalam balutan formasi 4-2-3-1. Sejauh ini, Shaqiri dan Seferovic adalah yang pemain paling produktif di timnas dengan masing-masing mencetak 20 dan 11 gol.

Shaqiri menjadi kunci karena memiliki kecepatan, kemampuan menggiring bola yang baik, dan visi bermain luar biasa. Sementara di barisan penyerang, Josip Drmic (Borussia Munchengladbach) yang sudah mencetak 10 gol menjadi pilihan jika  Seferovic tak dapat diturunkan. Tapi tentu saja, menarik untuk menantikan Breel Embolo, penyerang yang masih berusia 21 tahun: dia kuat dan pandai mengambil keputusan saat berada di garis pertahanan lawan.

Dalam formasi 4-2-3-1, Xhaka ditempatkan sebagai deep-lying playmaker atau gelandang box-to-box. Filosofi taktik Petkovic mengharuskan pemain disiplin dalam melakukan tekanan kepada pemain lawan yang menguasai bola. Dua pemain bek sayap harus memiliki kedisplinan dan kemampuan untuk naik dan turun dengan cepat. Beruntunglah Petkovic karena tim ini diisi pemain-pemain muda. [wir]

Tag : piala dunia

Komentar

?>