Sabtu, 23 Juni 2018

Prediksi dan Sorotan Grup C Piala Dunia 2018

Pelangi Prancis dan Ledakan Dinamit Denmark

Kamis, 07 Juni 2018 14:50:05 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Pelangi Prancis dan Ledakan Dinamit Denmark
Skuat Timnas Prancis.

Juara: Prancis
Runner-Up: Denmark

Didier Deschamps tidak peduli dengan politik warna dan agama. Tujuannya satu: mengulangi memori 1998. Kegagalan membawa Prancis merebut Piala Eropa di tanah sendiri pada 2016 bukan patokan. Prancis memiliki stok pemain berkelas yang tak hanya untuk menjuarai Grup C, namun juga menembus partai puncak.

Sebagaimana dua dasawarsa silam, tim nasional Prancis tetaplah sebuah pelangi, dan justru di situlah kekuatan mereka. Sepak bola menerabas demarkasi ideologi politik. Bermain ofensif dengan formasi 4-3-3, Deschamps bisa tersenyum lebar dengan hadirnya Olivier Giroud dan Antoine Griezmann. Belum lagi barisan pemain muda seperti Ousmane Dembele, Thomas Lemar, dan Kylian Mbappang beroperasi di sisi sayap siap menebar teror.

Paul Pogba di barisan tengah memang kurang berkembang di Manchester United. Namun itu lebih karena ketidakmampuan taktikal Mourinho. Timnas Prancis jelas berbeda. Deschamps akan memanfaatkan betul naluri ofensif Pogba bersama Blaise Matuidi, dan bisa memfungsikan Ngolo Kante sebagai tukang labrak sekaligus penyeimbang lini tengah dan pertahanan.

Bek tengah Real Madrid Raphael Varane dan pemain bertahan Barcelona Samuel Umtiti menjadi pilihan menarik, selain Adil Rami yang menua. Penjaga gawang tentu saja masih akan ditempati Hugo Lloris. Benjamin Mendy jika tidak cedera akan menjadi pilihan di bek kiri.

Dengan deretan pemain bintang yang mayoritas berada dalam masa emas, Deschamps melihat tidak ada alasan baginya untuk gagal kali ini. Dia menghormati Peru, Australia, dan Denmark di Grup C. Namun tim Prancis kali ini lebih matang. Kami sudah melakukan banyak persiapan untuk menghadapi turnamen ini, katanya.

Penantang utama mereka di fase grup adalah Denmark, salah satu legenda sepak bola yang identik dengan kejutan dan kemungkinan-kemungkinan tak terduga. Tahun 1986, Preben Elkjaer dan kawan-kawan mengejutkan dunia dengan menjadi juara Grup E, setelah menggulung Jerman Barat 2-0, Uruguay 6-1, dan Skotlandia 1-0. Langkah mereka baru dihentikan Spanyol 1-5 di babak 16 Besar.

Enam tahun kemudian di Piala Eropa, ledakan mereka lebih dahsyat dan ajaib. Denmark sebenarnya gagal lolos babak kualifikasi. Hanya karena Yugoslavia terkena sanksi akibat terlibat perang Balkan, hak mereka untuk berpartisipasi dalam Piala Eropa dibatalkan. Denmark yang menempati peringkat kedua dalam babak kualifikasi grup pun menggantikannya. Dengan persiapan dadakan, mereka justru berhasil menjadi juara.

Dari sini, julukan Dinamit muncul. Setiap kali Piala Dunia bergulir, kenangan publik diarahkan pada dua momentum tersebut, dan orang bertanya-tanya: mampukah Dinamit Denmark meledak seperti dulu lagi?

Pertanyaan ini adalah tantangan yang harus dijawab pelatih Denmark Age Hareide. Dia punya reputasi memenangkan tujuh trofi domestik di tiga negara, Denmark, Swedia, dan Norwegia dengan lima klub berbeda. Pelatih berkebangsaan Norwegia berusia 64 tahun ini penganut formasi klasik 3-5-2. Namun saat pertandingan uji coba terakhir melawan Swedia, dia memancang 4-3-3 yang ofensif.

Hareide memiliki karakter mirip Jose Mourinho: pragmatis. Hal terpenting bagi dia adalah mengalirkan bola sesegera mungkin ke zona pertahanan lawan dan menyelesaikannya dengan kemenangan. Sepak bola atraktif tak boleh mengaburkan tujuan utama: kemenangan. Dia beradaptasi dengan lawan. Saat lawan memiliki barisan depan yang memiliki kemampuan serangan balik kilat, Hareide akan menginstruksikan anak-anaknya untuk memainkan bola-bola panjang langsung ke area pertahanan.

Pilihan pragmatis Hareide adalah sebuah pertaruhan yang berani. Selama ini Denmark dikenal sebagai penganut sepak bola penyerang nan atraktif, memainkan bola dari kaki ke kaki. Lebih dari sepuluh tahun Denmark menggunakan filosofi pelatih legendaris Martin Olsen. Publik hanya tahu bahwa Denmark bermain cantik, yang sayangnya tidak menghasilkan kesuksesan yang cukup untuk dikenang.

Hareide punya modal bagus untuk menyalakan kembali sumbu dinamit yang sudah lama hanya menjadi cerita. Sepanjang 2017, Denmark tak terkalahkan. Denmark punya gelandang serang nomor wahid yang selama ini memperkuat Tottenham Hotspur: Christian Eriksen. Dia piawai mengalirkan bola ke depan sekaligus mencetak gol, termasuk dari tendangan bebas. Sembilan gol adalah jumlah kontribusinya untuk tim nasional pada 2017. Total sejak 2010, ia sudah mencetak 21 gol dan 17 assist dalam 75 pertandingan. Jumlah assist-nya terbanyak dalam sejarah tim nasional Denmark.

Menarik, Eriksen lebih banyak mencetak gol di bawah kepelatihan Hareide yang pragmatis daripada Olsen yang ofensif dan atraktif. Selama 57 pertandingan di bawah asuhan Olsen, dia hanya mencetak enam gol. Lima belas gol lainnya dicetak dalam 18 pertandingan di bawah Hareide. Ini artinya Hareide bisa memaksimalkan potensi pemain termahal di skuatnya tersebut. Eriksen bukan tipe pemain nomor 10 murni. Dia memiliki kemampuan yang sama kuatnya dalam menyerang dan bertahan. Dia juga bisa dipasang menjadi ujung tombak.

Di barisan penyerang, Hareide punya Nicolai Jorgensen yang bermain untuk Feyenoord di Liga Belanda, dan Yussuf Poulsen di RB Leipzig. Di sisi pertahanan, Kasper Schmeichel masih menjadi penjaga gawang andalan. Formasi tiga bek tengah bisa dipercayakan kepada Simon Kjaer, Andreas Christensen, dan Jannik Vestergaard. Gelandang tengah Thomas Delaney percaya diri dengan skuat Denmark kali ini.

Lantas bagaimana peluang Peru dan Australia? Di bawah rezim pelatih berkebangsaan Argentina, Ricardo Gareca. Peru adalah tim terakhir yang lolos kualifikasi Zona Amerika Latin dan harus mengalahkan Selandia Baru sebelum berangkat ke Rusia. Catatan pertandingan kualifikasi Zona Amerika Latin Peru jauh dari kata mengesankan. Mereka berada di peringkat kelima setelah kalah enam kali. Mereka unggul agregat gol klasemen selama babak kualifikasi atas Chile sehingga bisa lolos.

Gareca memakai formasi 4-2-3-1, setelah formasi 4-4-2 tidak menghasilkan sukses dalam kualifikasi periode Oktober 2015-Maret 2016. Peru hanya berhasil mengoleksi empat dari kemungkinan 18 poin. Perubahan formasi sejak September 2016 membuat Peru berhasil mengumpulkan 22 angka dari kemungkinan 36 angka.

Gareca berhasil menciptakan keseimbangan tim yang terdiri dari pemain-pemain bukan bintang. Sayap kanan Andre Carrillo yang bermain untuk klub Liga Primer Inggris Watford menjadi tumpuan bersama gelandang tengah klub Belanda Feyenoord Renato Tapia. Mereka diharapkan bisa menjadi sumber kreativitas tim. Presenter televisi Peru Pablo Giralt menyebut Gareca pelatih yang impresif. Sederhana saja alasannya. Gareca berhasil membawa Peru ke Piala Dunia setelah 36 tahun absen. Sesuatu yang nyaris utopis, kata Giralt.

Gareca merendah. Saya menyadari semuanya (soal kelemahan Peru), tapi saya seorang soccer man dan saya tahu dalam sepak bola jika sebuah tim tumbuh dan pemain tersedia, banyak hal lebih bisa dikerjakan, katanya.

Ini bukan sukses dadakan. Gareca menyebut keberhasilan lolos ke Rusia adalah hasil sebuah persiapan panjang. Para pemain Peru memang bukan sederet bintang. Namun mereka memiliki kemampuan teknis yang bagus, kuat, dan mudah beradaptasi dengan taktik yang diterapkannya. Ini semua hasil dari tempaan liga sepak bola Peru yang dimainkan dalam kondisi alam yang beragam, mulai dari dataran tinggi hingga temperatur panas.

Sementara itu, Australia di bawah asuhan Lambertus van Marwijk akan banyak memainkan formasi 4-2-3-1. Namun dia menegaskan fleksibilitas di atas segalanya. Saya realistis. Saya suka sepak bola yang kreatif, senang menguasai bola, tapi saya juga suka menang dan itu yang terpenting.

Marwijk menggaransi hanya akan bermain dengan sistem yang disukai pemainnya. Saya bukan tipe pelatih yang mengatakan kami bisa memainkan empat, lima, atau enam sistem, katanya. Apalagi, dia harus berkejaran dengan waktu untuk membentuk tim yang solid sebelum pertandingan awal Australia melawan Prancis pada 16 Juni 2018.

Sejauh ini dia punya sang kapten Mile Jedinak, gelandang bertahan berusia 33 tahun yang bermain untuk Aston Villa. Ada juga Jackson Irvine, gelandang bertahan berusia 24 tahun yang memperkuat klub Inggris Hull City. Aaron Mooy, pemain tengah klub Liga Primer Inggris Huddersfield, diharapkan bisa memainkan peran sebagai dirijen serangan bersama gelandang serang yang sudah berusia 38 tahun, Tim Cahill. Cahill kini bermain di klub kasta kedua Liga Inggris Millwall, dan sudah mencetak 50 gol dalam 103 penampilan untuk tim nasional.

Sejauh mana para pemain yang ditempa kerasnya sepak bola Inggris ini akan membawa Australia terbang jauh di Rusia? Marwijk percaya diri. Para pemain Australia memang bukan yang terbaik. Tapi kami bisa menjadi tim terbaik. Mereka bisa bermain sepak bola, mereka kuat. [wir/air]

Tag : piala dunia

Komentar

?>