Kamis, 18 Oktober 2018

Pekan 12 Liga 1

Tak Ada Pertandingan Sepenting Perdamaian

Selasa, 05 Juni 2018 01:46:31 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Tak Ada Pertandingan Sepenting Perdamaian
Sumber foto: facebook

Apa yang saya takutkan akhirnya terjadi juga. Pertandingan Liga 1 pekan ke-12 antara Persija Jakarta melawan Persebaya Surabaya di Stadion Sultan Agung, Bantul, jogjakarta batal dilaksanakan karena meletusnya kerusuhan antara Bonek dengan Jakmania, Minggu (3/6/2018).

Dua belah pihak yang bertikai punya versi masing-masing dan sama-sama menuduh rival mereka sebagai biang keributan. Namun versi keduanya tidak penting lagi, setelah ikhtiar sekian banyak orang dari dua belah kubu untuk merintis rekonsiliasi hancur dalam waktu sehari.

Siapa yang benar atau siapa yang salah juga tidak lagi penting, jika pada akhirnya kita meletakkan karangan bunga di atas batu nisan perdamaian.

Bonek dan Jakmania memiliki sejarah panjang rivalitas yang gelap. Tak jelas bagaimana semua berawal. Saya masih ingat pada 2001, jelang semifinal Liga Indonesia antara Persebaya dan Persija di Jakarta, dua suporter masih berbaur untuk salat berjamaah di masjid Senayan.

Tak ada kebencian. Tak ada caci maki dan mereka membeli kudapan murah meriah di pedagang yang sama. Lalu malam harinya, usai pertandingan, metromini yang saya tumpangi hancur dihantam batu dan kayu suporter Jakarta yang memburu suporter Surabaya. Saya menyaksikan bagaimana dua kelompok suporter saling hantam.

Tahun 2005, bentrokan kembali terjadi dalam Babak Delapan Besar di Senayan. Bentrokan yang akhirnya membuat manajemen Persebaya memutuskan mengundurkan diri sebelum pertandingan melawan Persija dengan alasan keselamatan Bonek. PSSI memutuskan Persebaya kalah walkover (WO) dan terdegradasi. Setelah itu lama tak terdengar bentrok antar dua kubu suporter.

Tanggal 3 Juni 2012, Persebaya bertemu dengan Persija 1928 dalam Liga Primer Indonesia. Ini bukan Persija yang didukung Jakmania dan tak ada oranye di tribun. Namun sore itu terjadi insiden gas air mata di Gelora 10 Nopember yang berujung pada meninggalnya seorang Bonek bernama Purwo Adi.

Pembekuan Persebaya oleh PSSI mengubah konstalasi. Tensi rivalitas Bonek dan Jakmania mereda. Bonek berangkat ke Jakarta untuk memperjuangkan nasib Persebaya dan Ketua Umum Jakmania Ferry Indra Sjarief menginstruksikan agar tak ada yang menghalangi kedatangan para suporter dari Surabaya.

Dan Bonek membalasnya dengan menyambut hangat ratusan Jakmania yang melakukan perjalanan tandang (awayday) ke Madura dan Lamongan. Ferry Indrasjarief dijamu di Warung Kopi Pitulikur dan berbincang dengan sejumlah Bonek. Kita pun berharap: rivalitas di luar 90 menit pertandingan tak ada lagi.

Seharusnya pertandingan Persija melawan Persebaya kemarin digelar di Senayan. Namun persiapan Asian Games membuat Gelora Bung Kar no tak bisa menjadi tuan rumah. Bantul pun dipilih menjadi alternatif.

Dan saya pun mulai waswas. Saya lebih suka status tuan rumah ditukar. Biarlah Persebaya menjadi tuan rumah lebih dulu dan Bonek memberikan bukti bahwa bisa menerima Jakmania dalam satu stadion. Secara psikologis, Bonek saat ini lebih siap menerima The Jak dalam satu stadion. Selain itu, polisi Surabaya sangat teruji mengamankan pertandingan Persebaya selama ini dan selalu 'cleansheet' alias tanpa ada kerusuhan.

Saya membayangkan proses rekonsiliasi bisa berjalan seperti Bonek dengan Pasoepati Solo pada 2011. Saat itu tempat pertandingan Solo FC melawan Persebaya dalam Liga Primer diubah dari Solo ke Surabaya. Dan saat itu saya mencatat bagaimana Bonek menyiapkan betul proses rekonsiliasi itu dengan mengamankan semua basis yang dilalui kereta api yang ditumpangi Pasoepati.

Harapan ini pernah saya ungkapkan kepada Tessa Witarsa, cucu kiper legendaris penjaga gawang Persija Endang Witarsa yang juga salah satu orang yang berikhtiar merekonsiliasikan Bonek dan Jakmania. Namun rupanya harapan saya bertepuk sebelah tangan, dan apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi: tanaman perdamaian itu tumbang sebelum berkembang.

Pertandingan dibatalkan karena kerusuhan. Manajer Persija Gede Widiade beralasan lebih mengutamakan keselamatan suporter dua klub. PT Liga Indonesia Baru tidak memberikan kemenangan 'gratis' 3-0 kepada Persebaya karena ketidakmampuan Panitia pelaksana menggelar pertandingan. Alasan yang pernah dipakai Persebaya pada 2005 dan berujung sanksi tidak berlaku 13 tahun kemudian.

Penundaan ini bisa menguntungkan karena memberikan kesempatan pemain yang cedera untuk pulih. Namun penundaaan bisa jadi merugikan Persebaya. Sudah dua pertandingan tertunda dan keduanya berhadapan dengan rival klasik Perserikatan. Jika pertandingan melawan Persija digelar, Persebaya sebetulnya berpeluang besar menang karena banyak pemain inti Persija yang absen.

Spekulasi berkembang bahwa penundaan pertandingan memang disengaja oleh kubu Persija. Sesuatu yang dibantah kubu Macan Kemayoran.

Tapi apapun itu, salah atau benar spekulasi tersebut, hari itu ada yang sudah kadung patah. Sebuah pertandingan tak sepadan dengan sebuah proses perdamaian. Dan mari kita sama-sama berdoa agar masih diberi umur panjang untuk merampungkan itikad baik dan ikhtiar kecil untuk membuat sepak bola Indonesia lebih baik: diawali dari tribun tempat kita berdiri. [wir/air]

Tag : persebaya

Komentar

?>