Rabu, 17 Oktober 2018

Grup A Piala Dunia 2018

Salah, Suarez, dan Adu Taktik Latino

Minggu, 03 Juni 2018 16:34:53 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Salah, Suarez, dan Adu Taktik Latino
sumber foto: fifa.com

Prediksi

Juara: Uruguay

Runner-up: Mesir 

Grup A Piala Dunia 2018 akan menjadi perhatian khusus fans klub Liverpool. Di grup ini, Mohamed Salah (Mesir) akan beradu tajam dengan Luis Suarez (Uruguay). Suarez pernah menjadi idola Kopites sebelum pindah ke Barcelona, dan kemudian digantikan Salah yang tak kalah suburnya dalam urusan mencetak gol.

Namun Grup A bukan hanya bicara soal Salah dan Suarez. Ini pertarungan adu taktik tiga pelatih Amerika Latin: Hector Cuper (pelatih Mesir asal Argentina), Juan Antonio Pizzi (pelatih berkebangsaan Argentina-Spanyol yang melatih Arab Saudi), dan Oscar Tabarez yang melatih Uruguay. 

Hector Cuper lebih suka memainkan formasi 4-2-3-1 dan cenderung defensif. Itu artinya, ia tak hanya butuh pemain ofensif dengan kecepatan tinggi. Salah memang akan jadi pemain kunci yang bergerak di sayap. Namun Cuper menepis anggapan orang bahwa Mesir bergantung sepenuhnya kepada Salah. 

Cuper mengakui, dari 21 penampilan untuk tim nasional, Salah sudah mencetak 15 gol. "Orang bilang ini tim ‘Salah dan sepuluh pemain lainnya’. Dia memang mencetak sebagian besar gol kami, tapi dia juga bekerja keras danberlari seperti pemain lainnya. Dia tidak mendapat pengistimewaan," katanya.

Berhadapan dengan Rusia, Uruguay, dan Arab Saudi di Grup A, Cuper menghadapi misi berat sebelum meninggalkan Mesir setelah Piala Dunia berakhir. Ia menjanjikan ikhtiar dan perjuangan maksimal. Pelatih berusia 62 tahun ini realistis. "Kami menyadari keterbatasan tim ini. Tapi kami akan mencari jalan untuk menang dan bersaing sebaik mungkin."

Di atas kertas, tantangan terberat datang dari Uruguay. Namun sejumlah bintang mereka mulai menua. Luis Suarez, pencetak gol terbanyak Uruguay, sudah berusia 31 tahun. Begitu juga tandemnya Edinson Cavani yang seusia. Di barisan belakang, Diego Godin kini berusia 32 tahun. Maka tidak bisa tidak, Piala Dunia kali ini adalah kesempatan terakhir bagi Suarez dan Cavani untuk mempersembahkan trofi ketiga bagi negaranya, setelah 1930 dan 1950.

Bagaimana peluang mereka? Penampilan Uruguay sepanjang kualifikasi Zona Conmebol cukup meyakinkan. Uruguay berhasil menduduki peringkat kedua di bawah Brazil, dan mengangkangi Argentina dan Kolombia. Mereka mencetak 32 gol, terbanyak kedua di bawah Brazil yang mencetak 41 gol. 

Tabarez memainkan formasi 4-4-2 dengan menduetkan Suarez dan Cavani di depan. Mereka disokong bintang kejora berusia 20 tahun yang bermain untuk Juventus di sektor tengah, Rodrigo Bentancur. Tabarez pelan-pelan membangun sukses berkesinambungan dengan mengorbitkan pemain-pemain muda secara berkala sejak menjadi pelatih Uruguay pada 13 Februari 2006. Ia dipandang sebagai figur ayah di tim nasional, dan ini membuat para pemain bersedia berdarah-darah di lapangan untuknya.

Namun Tabarez tak mau menganggap mudah, terutama saat berhadapan dengan Mesir di partai pertama. Tabarez sudah belajar banyak, bahwa selalu ada kejutan di Piala Dunia. Tahun 2014 di Brazil, Uruguay dihancurkan tim anak bawang Kosta Rika 1-3. Mesir berpotensi memberikan kejutan, terutama dengan skema serangan balik setelah merapatkan barisan pertahanan dengan efektif. Dia hapal betul dengan taktik Hector Cuper. Sepanjang karirnya, dia sudah dua kali berhadapan dengan Cuper dan tidak sekalipun menang. Sekali pertandingan dimenangkan Cuper dan sekali imbang.

Tabarez mencoba untuk lebih fleksibel dalam memainkan taktik. “Kami tidak punya banyak pemain elite, dan tim nasional tidak berlatih permanen atau pemain sering bertemu satu dengan lain. Jadi saya berasumsi bagaimana Uruguay bermain tergantung dari lawan yang dihadapi,” katanya.  

Namun Tabarez memastikan tahun ini Uruguay akan bermain habis-habisan. "Kami tidak bisa hidup berdasarkan kejayaan masa silam," katanya.

Suarez juga berjanji akan tampil maksimal, walau tak ringan. “Grup A sulit dan rumit. Tim-tim lain punya pelatih yang tahu bagaimana mempersiapkan diri dengan sangat baik,” katanya. Penampilan bagusnya bersama Barcelona di La Liga musim 2017-2018 dipercaya akan berdampak baik terhadap tim nasional.

Uruguay difavoritkan bakal memimpin Grup A dan menyisakan tempat kedua untuk dipertarungkan antara Rusia dan Mesir. Namun sebagai tuan rumah, Rusia jelas tak bisa dipandang sepele. "Piala Dunia adalah capaian tertinggi dalam sepak bola, jadi kami harus berjuang meraih penghargaan tertinggi," kata pelatih Rusia, Stanislav Cherchesov. 

Namun Cherchesov tak terlampau banyak berjanji. “Lolos dulu ke fase knock out (gugur), baru kita lihat bagaimana selanjutnya,” katanya.

Cherchesov memang punya sekian pekerjaan rumah saat mengambil alih kursi kepelatihan pada Agustus 2016. Mula-mula, ia meremajakan skuat dengan memainkan sejumlah pemain muda sejak awal pertandingan, seperti Daler Kuzyayev, Roman Zobnin, Aleksandr Golovin, Georgi Dzhikiya, dan Andrei Lunyov.

Cherchesov kemudian mulai mengubah formasi dan mulai menggunakan tiga pemain belakang. Formasi tiga pemain bertahan ini dinilainya sesuai dengan kebutuhan tim. Apalagi formasi ini biasa dimainkan tiga pemain andalannya di klub masing-masing, Berezutsky bersaudara dan Sergei Ignashevich.

Perubahan formasi tersebut, menurut Cherchesov, berguna untuk menemukan keseimbangan antara pertahanan dan penyerangan, barisan belakang dan depan. Tanpa keseimbangan dalam menyerang dan bertahan, sepak bola atraktif tak ada gunanya karena tidak menghasilkan kemenangan.

Bagaimana dengan Arab Saudi? Apa boleh buat, jika mereka diposisikan sebagai underdog. Pizzi menyukai formasi 4-3-3 yang ofensif sebagaimana yang dimainkan Barcelona. Dia belajar banyak dari Pep Guardiola dan Luis Enrique semasa di Spanyol. Inti permainan Pizzi: penguasaan bola dan mendominasi permainan. Saat melatih Chile, sesekali ia mengubah formasi menjadi 4-2-3-1 atau 3-4-1-2, dan menginstruksikan para pemain untuk bermain dengan memanfaatkan lebar lapangan.

Namun berhadapan dengan Uruguay, Rusia, dan Mesir di Grup A, tentu menarik untuk ditunggu apakah Pizzi akan tetap ngontot menyerang habis-habisan. Mereka punya tiga tukang bikin gol: Mohammed Al-Sahlawi (20 gol, 23 pertandingan), Taisir Al-Jassim (13 gol,  66 pertandingan), dan Nasser Al-Shamrani (10 gol, 37 pertandingan).

Problem utama: para tukang gedor ini sudah berkepala tiga. Al-Sahlawi berusia 30 tahun, Al-Jassim 32 tahun, dan Al-Shamrani 34 tahun. Dalam rentang 12 bulan terakhir, skuat Arab Saudi dihuni setidaknya 18 pemain yang berusia 30 tahun ke atas. Rata-rata usia pemain tim ini adalah 28,3 tahun, tertua keempat setelah Argentina yang memiliki rata-rata usia 29,2 tahun, Kosta Rika yang memiliki rata-rata usia 28,7 tahun, dan Brazil yang memiliki rata-rata usia 28,6 tahun.

Padahal, semasa melatih Chile, Pizzi menyukai formasi asimetris dan gaya ‘high-press’ yang membutuhkan stamina tinggi. Dengan filosofi yang menekankan intensitas serangan itu, Pizzi menyebut lini serang Arab Saudi masih kurang efisien, dan ini membuatnya harus segera menemukan ujung tombak yang pas. [wir]

Tag : piala dunia

Komentar

?>