Selasa, 19 Juni 2018

73 Tahun Pancasila, Riwayatnya Kini

Jum'at, 01 Juni 2018 16:34:37 WIB
Reporter : Ibnu F Wibowo
73 Tahun Pancasila, Riwayatnya Kini

Hari ini, Jumat (1/6/2018), adalah Hari Lahir Pancasila ke-73. Apabila diibaratkan sebagai sosok manusia, maka ideology yang menjadi pondasi Republik Indonesia ini tentu sudah menjadi manusia tua yang telah melewati masa emasnya dan tengah menikmati hasil jerih payah di masa kejayaan dulu. Istilahnya, tinggal bersantai dan menikmati hidup dari hasil kerja keras.

Tapi, bagaimana faktanya?
Pancasila nampaknya masih harus bekerja keras dan belum bisa bersantai. Kok bisa? Karena kita, sebagai anak-anak Pancasila belum begitu berbakti kepadanya dan cenderung melupakan ajaran-ajaran yang diberikan.

Padahal, kalau mau dihayati, sesungguhnya Pancasila adalah sebuah panduan hidup lengkap yang sudah dirancang oleh para pendiri Republik Indonesia dengan tujuan kesejahteraan dari seluruh bangsa Indonesia. Filosofi yang ada disana sungguh dalam apabila ingin dipahami secara utuh. Pancasila sebagai ideologi bangsa memiliki 5 azas pokok yang memiliki tujuan sangat mulia.

Pertama, landasan ideologi. Sebagai landasannya, Pancasila mengacu kepada dua hal. Yakni kemerdekaan bangsa dan kedaulatan rakyat.

Kedua, azas teologis. Bagaimana kondisi bangsa kita akhir-akhir ini? Intoleransi terjadi hampir di semua sudut negeri. Ironis memang, karena berdasarkan azas ini, sesungguhnya Pancasila telah memberikan panduan bahwa sebagai negara bertuhan dan berkeadaban menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama.

Ketiga, dasar bentuk negara. Ini tentu sudah sangat jelas dan nampaknya masih bisa tetap bertahan hingga saat ini. Bentuk negara ini masihlah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keempat, prinsip ekonomi dan politik. Dari sudut pandang ekonomi terlebih dahulu, Pancasila sudah memberikan kita panduan untuk meminimalkan adanya ketimpangan ekonomi dengan sistem kesejahteraan dan keadilan sosial. Lalu, dari segi politik, prinsip parlemen demokrasi pun sudah termaktub dengan jelas di dalamnya.

Kelima, azas sosiologis. Kultur bangsa Indonesia sejak dahulu adalah bangsa yang ramah dan saling tolong menolong. Untuk bangsa Indonesia di era setelah kemerdekaan hingga saat ini pun, seharusnya musyawarah dan gotong royong masih menjadi budaya jika kita sebagai anak-anak Pancasila ini mau dan mampu menghayati ajarannya secara utuh.

Pancasila nampaknya perlu untuk diajarkan secara lebih mendalam agar mampu diresapi oleh para anak-anak Pancasila di era millenials. Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang diajarkan di bangku-bangku sekolah perlu memiliki kurikulum baru yang digarap dengan serius oleh para pakar Pancasila untuk lebih bisa mengajarkan substansi esensial dari Pancasila.

PPKn bukanlah hanya sekedar perbuatan terpuji atau tercela semata. Harusnya,pelajaran itu mampu menanamkan ideologi Pancasila yang menjadi pondasi NKRI ke dalam benak anak-anak Pancasila sampai kapanpun.

Kalau itu berhasil diwujudkan, maka bukan tidak mungkin bila ruang-ruang bagi Radikalisme dan Intoleransi tidak akan muncul di tengah-tengah masyarakat. Kok bisa? Karena Pancasila telah memiliki batas-batas yang jelas tentang bagaimana bisa menghargai orang lain dengan melihat fakta bahwa NKRI sendiri berasal dari berbagai suku dan budaya di dalamnya.

Ya tidak salah memang jika pada sidang umum PBB bertahun-tahun yang lalu banyak Kepala Negara yang memuji Bung Karno dan menganggap bahwa Pancasila adalah sebuah panduan hidup lengkap bagi kesejahteraan masyarakat. [ifw/kun]

Tag : pancasila

Komentar

?>