Kamis, 16 Agustus 2018

Pekan 11 Liga 1

Pembuktian Gagal Persipura Cabang Surabaya

Kamis, 31 Mei 2018 00:12:30 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Pembuktian Gagal Persipura Cabang Surabaya

Jelang pertandingan pekan ke-11 Liga 1 melawan Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Selasa (29/5/2018) malam, akun twitter resmi Persipura menyebut pertandingan itu sebagai 'Derby Jayapura di Surabaya'.

"Persipura akan menjalani laga sarat emosi malam ini menghadapi Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomi Surabaya. Ada sekitar 9-10 mantan pemain dan pelatih Persipura di Persebaya yang membuat laga ini seperti Derby "Jayapura" di Surabaya," cuit akun tersebut.

Bagi Bonek yang terbiasa melihat klub mereka diisi mayoritas pemain hasil binaan kompetisi internal, sebutan 'Derbi Jayapura' agak menyakitkan. Judul berita Tabloid Olahraga Bola juga menusuk: Ketika Tiruan Menantang Aslinya. Teras berita tabloid itu dengan lugas menyebut: Persipura Cabang Surabaya.

Menyedihkan, tapi benar. Selain pelatih Alfredo Vera yang pernah melatih Persipura, Otavio Dutra, Izaac Wanggai, Nelson Alom, Osvaldo Haay, Yohannes Ferinando Pahabol, Ricky Kayame, Fandry Imbiri, Ruben Sanadi, dan Robertino Pugliara pernah memperkuat Persipura. Malam itu, enam nama terakhir bahkan diturunkan di pertandingan oleh Vera, salah satunya Osvaldo yang turun sebagai pemain pengganti.

Dengan separuh pemain inti alumnus Persipura, praktis aroma derbi Jayapura memang terasa. Bahkan, taktik permainan kedua tim nyaris serupa: sama-sama memainkan pressing ketat dan memasang garis pertahanan tinggi serta mengandalkan kecepatan. Dalam hal formasi pun, Persipura melakukan 'mirror': 4-3-3 dengan menempatkan seorang gelandang bertahan.

Jika Persebaya menempatkan trio yang memiliki kecepatan Irfan Jaya, Ricky Kayame, dan Ferinando Pahabol, Persipura menempatkan trio berkarakter kurang lebih sama yakni Prisca Womsiwor, Boaz Salossa, dan Hilton Moreira. Menarik, Persipura membangkucadangkan pencetak gol terbanyak mereka, Marcel Silva Sacramento.

Persipura sejauh ini adalaha tim tertajam di Liga 1 dengan torehan 19 gol dalam 10 pertandingan, dan enam gol di antaranya disumbangkan Sacramento. Sementara Persebaya mencetak 14 gol dalam sembilan pertandingan, dan enam gol di antaranya dikoleksi David da Silva yang absen karena cedera.

Namun tanpa Sacramento sekalipun, trio Persipura lebih tajam daripada Persebaya. Hingga pekan 10, Boaz sudah mencetak tiga gol dan Hilton mencetak satu gol. Sementara Womsiwor sama sekali belum pernah membukukan gol. Sementara trio Persebaya total sudah mencetak tiga gol: Irfan dua gol, Pahabol satu gol, dan Kayame masih nihil.

Dari aspek pertahanan, kedua tim sama-sama keropos. Persebaya sudah kebobolan 12 gol dalam sembilan pertandingan. Sementara Persipura kebobolan 13 gol dalam sepuluh pertandingan. Jadi semua boleh berharap, pertandingan ini bakal menjadi atraksi gol.

Pelatih Persipura Peter Butler mendapat cukup informasi bagaimana taktik yang disukai Vera. Sejak menit pertama, Persipura memilih bermain terbuka dan menyerang. Butler memerintahkan para pemainnya untuk melakukan tekanan terhadap para pemain Persebaya di garis pertahanan lawan.

Saat pemain Persebaya menguasai bola, paling tidak ada tiga sampai empat pemain Persipura yang justru maju ke zona pertahanan anak-anak Surabaya untuk mengganggu. Hal ini membuat Persebaya tidak nyaman berlama-lama dengan bola dan membangun serangan dari bawah, sebagaimana yang biasa mereka lakukan.

Keberanian Butler menginstruksikan para pemainnya bermain terbuka, ofensif, dan nyaris 'gung-ho' bukannya tanpa risiko. Seringnya pemain bertahan Persipura naik membantu serangan dan pressing membuat ada lubang besar di belakang garis tengah. Lubang ini yang kemudian dieksploitasi para pemain Persebaya. Ketika gagal membangun serangan melalui operan-operan pendek, para pemain Persebaya memilih melakukan direct football, mengumpan bola dari garis pertahanan langsung ke depan dan membiarkan trio penyerang beradu lari dengan barisan pertahanan Persipura. 

Berkali-kali Pahabol lepas dari kawalan pemain bertahan dan berlari cepat merangsek masuk ke kotal penalti Persipura. Namun berkal-kali pula tembakannya selalu meleset. Pahabol belum bisa menghilangkan penyakit lamanya: lemahnya akurasi tembakan.

Memanfaatkan lubang pertahanan Persipura, sebenarnya Persebaya menciptakan banyak peluang. Namun saat memasuki kotak penalti lawan, beberapa kali penyelesaian akhir menghasilkan kekecewaan. 

Sebaliknya Persipuran melihat lubang di sisi kiri Persebaya yang beberapa kali dieksploitasi Boaz Salossa. Namun para pemain Persebaya memilih mengepung ujung tombak tim nasional tersebut sehingga tak bisa melepaskan tembakan mematikan. Sekali Boaz lolos dari jebakan offside pada menit 40 dan tinggal menghadapi gawang kosong, namun tembakan mendatarnya menyamping ke sisi kiri gawang Miswar.

Serangan Persipura lebih bervariasi ketimbang Persebaya. Tak hanya menyerang lewat sisi lapangan, Womsiwor beberapa kali melepaskan tembakan jarak jauh dari luar kotak penalti. Menit 36, tembakan tersebut membuat jantung para pendukung Persebaya berdegup kencang sebelum akhirnya kiper Miswar Saputra berhasil menepisnya. Penampilan Miswar malam itu semakin matang dan tenang. Beberapa kali ia berhasil melakukan penyelamatan brilian.

Gol Persipura pada menit 60 oleh Hilton Moreira ptaktis karena kelengahan lini belakang Persebaya yang berkali-kali menghadapi gempuran lini depan Persipura. Berawal dari kesalahan Fandry Imbiri memberikan operan bola ke depan namun bisa diintersep pemain Persipura. Bola jatuh kembali ke Sidik Saimima yang gagal dikontrol dan direbut oleh Immanuel Wanggai. Wanggai masuk memberikan operan kepada Womsiwor yang dioper ke tengah kotak penalti kepada Hilton yang muncul dari belakang dan tidak terjaga.

Gol itu dibalas oleh Persebaya pada menit 64 oleh Fandry Imbiri yang menerima operan dari Irfan Jaya yang sudah mengecoh beberapa pemain Persipura di kotak penalti dengan kecepatannya. Kiper Dede Sulaiman maju untuk menghadang. Namun Fandry melepaskan tembakan datar dan masuk.

Gol yang dicetak Fandry bukanlah hal yang mengejutkan. Sebagai bek tengah, ia beberapa kali justru terlibat dalam skema serangan. Bahkan pada menit 43, umpan terobosan Persipura mulus masuk ke sepertiga akhir pertahanan Persebaya tanpa pengawalan. Untung Miswar sukses menjadi sweeper keeper, menguasai bola jauh dari gawang dan melepasnya cepat ke depan kepada Fandry Imbiri yang sudah berada di area pertahanan Persipura layaknya penyerang.

Stamina Fandry praktis terkuras. Tubuhnya yang capai membuatnya cedera dan tak bisa melanjutkan pertandingan. Ia digantikan Andri Muladi. Andri memiliki karakter bertahan yang kuat. Selain itu Vera juga menggantikan Ricky Kayame dengan Oktavianus Fernando dan Irfan dengan Osvaldo Haay. Pergantian ini menarik, karena sebelum diganti, Irfan dan Ricky praktis rajin bergerak dan taktis dalam penguasaan bola maupun membaca permainan. Assist yang berasal dari Irfan menunjukkan ketidakegoisan.

Sebaliknya, Pahabol memang banyak bergerak dan memiliki kecepatan. Namun dia menguras energi tanpa ancaman berarti. Beberapa peluang yang seharusnya bisa berbuah gol, gagal menghasilkan apa-apa karena buruknya akurasi tembakan. Ia juga kurang bisa membaca permainan dan penempatan posisi pemain lain saat menyerang.

Hasil akhir 1-1 tentu bukanlah hasil ideal. Persebaya dengan demikian sudah mencatatkan lima hasil imbang dari 10 pertandingan. Bonek layak kecewa, karena hasil tak maksimal justru lagi-lagi dicapai di kandang sendiri. Dari lima pertandingan kandang, Green Force hanya mengemas delapan angka dari kemungkinan 15 angka. Rendi Irwan dan kawan-kawan hanya mencatatkan dua kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan. Jika performa kandang tak menjanjikan, maka Persebaya hanya bisa bermimpi untuk mencapai papan atas. [wir] 

 

Tag : persebaya

Komentar

?>