Selasa, 19 Juni 2018

Mo Salah dan Dua (atau Tiga) Fragmen di Kiev

Rabu, 30 Mei 2018 04:00:04 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Mo Salah dan Dua (atau Tiga) Fragmen di Kiev
Moh Salah saat dilanggar Sergio Ramos. [Foto: Stuff.co.nz]

Final Piala Champions 2018 di Olympiyskiy Stadium, Kiev, Ukraina, Sabtu (26/5/2018) malam, mencatatkan Real Madrid sebagai juara tiga kali berturut-turut di bawah rezim manajerial Zinedine Zidane, menyamai Ajax Amsterdam dan Bayern Munich. Ini gelar ke-13 yang dikoleksi Madrid sejak 1955, saat turnamen tersebut digelar pertama kali.

Galacticos menang 3-1 atas Liverpool, melalui dua gol Gareth Bale dan Kareem Benzema. Satu-satunya gol balasan The Reds berasal dari kaki pemain Senegal, Sadio Mane.

Namun mungkin, orang akan lebih mengingat final ini dalam dua fragmen. Atau tiga fragmen bagi Simon Nainggolan dan Hendri Satrio.

Fragmen 1: Takdir Mohamed Salah

Mo Salah datang ke Kiev dengan reputasi mentereng sepanjang musim 2017-2018. Ini musim pertamanya bersama Liverpool. Namun pemain asal Mesir ini berhasil menjadi pencetak gol terbanyak Liga Inggris dengan 32 gol dalam 38 pertandingan, mengalahkan capaian 31 gol Alan Shearer (Blackburn Rovers 1994-1995), Cristiano Ronaldo (Man United 2007-2008), Luis Suarez (Liverpool 2013-2014).

Salah juga menjadi pemain terbaik Liga Inggris musim ini (PFA Player of The Year). Pemain Liverpool yang pernah mendapat gelar ini adalah Terry McDermott (1980), Kenny Dalglish (1983), Ian Rush (1984), John Barnes (1988), Steven Gerrard (2006), dan Luis Suarez (2014).

Sepanjang turnamen Liga Champions musim ini, Salah juga predator gol. Ia mencetak 11 gol dan lima assist, termasuk dalam pertandingan play-off. Bagi Liverpool, Salah adalah kunci. Dia mencetak 44 gol dari 134 gol dan 16 assist di semua kompetisi.

Maka semua orang mengharapkannya. Ratusan ribu orang di Liverpool mendukungnya, juga jutaan rakyat Mesir yang dipersatukan oleh aksi fenomenalnya.

Dan memang tidak salah, Salah tampil menjanjikan. Sepanjang 20 menit babak pertama, dia membuat para pemain Madrid tidak berani bermain sangat ofensif. Mereka mewaspadai serangan balik trio lini depan Liverpool yang dikenal cepat dan selalu memakan korban tim bertipe ofensif.

Namun takdir Salah hanya sampai menit ke-25. Sebuah gamitan berujung bantingan bak pemain gulat profesional Sergio Ramos membuatnya terkapar. Ia mencoba bangkit, melanjutkan pertandingan. Namun bahu kirinya terlalu sakit untuk digerakkan.

Belakangan di media sosial, akun European Judo Union mengeluarkan pernyataan bahwa Ramos menggunakan teknik Waki-gatame yang merupakan teknik kuncian lengan dalam judo. Teknik ini berbahaya, sehingga dilarang untuk digunakan.

Pertanyaan besar: Ramos sengaja melakukannya atau tidak untuk mengeluarkan Salah dari lapangan. Jutaan orang fans sepak bola terbelah. Sebagian mengatakan, apa yang dilakukan Ramos adalah wajar tanpa kesengajaan dan Salah hanya sedang sial. Namun tidak bagi yang lain, yang melihat rekam jejak Ramos sebagai pemain yang menghalalkan segala cara. Apalagi kemudian beredar potongan video adegan Ramos menyikut kepala kiper Liverpool Loris Karius di babak kedua tanpa diketahui wasit.

Licik? Bisa diperdebatkan. Kelicikan adalah bagian dari 'the dark art' dalam sepak bola. Tapi membahayakan karir seseorang, itu lain persoalan. Apalagi Salah terancam tak akan bisa tampil di Piala Dunia, saat rakyat Mesir menantikan momentum ini sejak 1990.

Akun media sosial Ramos mendadak menjadi ajang perdebatan antarbangsa. Sebagian mencoba membela, terutama mereka yang berbahasa Spanyol. Namun lebih banyak lagi yang mencaci-maki dan mengumpat kapten Madrid itu dalam berbagai bahasa. Fans dari Mesir menyebut Ramos mengubur mimpi sebuah bangsa yang narasinya telah ditulis Salah dengan heroik pada kualifikasi Zona Afrika.

Akun resmi Barcelona, rival Madrid, ikut mengompori dengan mengunggah foto adegan menit ke-25 itu dan menyatakan bahwa Ramos memang sengaja melakukannya. "He knew exactly what he was doing."

Wikipedia, ensiklopedia dalam jaringan yang bisa diubah oleh partisipan, juga tak luput dari serangan terhadap Ramos. Narasi profil Ramos di Wikipedia Indonesia diubah entah oleh siapa, yang menyebutnya sebagai preman pasar asal Condet. Di sela-sela kemarahan, ada selera humor yang tersembunyi.

Sementara itu, lebih dari 300 ribu orang dalam waktu beberapa jam membuat petisi kepada UEFA dan FIFA agar menjatuhkan sanksi kepada Ramos.

Kisah Salah ini mungkin sangat menjengkelkan bagi fans Madrid. Juga boleh jadi bagi Zidane, yang pernah membuat final Piala Dunia 2006 lebih dikenang karena tandukan kepalanya ke dada Materazzi daripada kemenangan Italia atas Prancis.

Namun bagi Salah, yang keluar dengan air mata berderai, perdebatan itu tak penting lagi. Kini ia menanti jatuhnya palu takdir berikutnya: absen atau tetap bisa bermain di Piala Dunia.

Fragmen 2: Air Mata Karius
Saat penjaga gawang Bayern Munchen Sven Ulreich gagal mengantisipasi backpass rekannya dan membuat penyerang Madrid Kareem Benzema mencetak gol dengan mudah dalam pertandingan kedua semifinal Liga Champions, semua orang sepakat: tak boleh ada blunder seremeh itu dalam pertandingan level tinggi.

Namun apa yang dilakukan penjaga gawang Liverpool asal Jerman, Loris Karius, dalam final Liga Champions di Kiev bukan sekadar blunder remeh, tapi juga tidak masuk akal. Dan itu terjadi dua kali.

Sepanjang Liga Champions 2017-2018, Karius sebenarnya bukan penjaga gawang yang buruk. Setidaknya kalau melihat catatan statistik. Sebelum laga final, dia sudah bermain 1.080 menit dalam 12 pertandingan, menghadapi 126 tembakan pemain lawan, 35 di antaranya akurat. Dia melakukan 22 kali penyelamatan, dan mencetak enam clean sheet.

Di Kiev, Karius juga berhasil melakukan beberapa penyelamatan krusial. Namun apa yang terjadi pada menit 51 sama sekali di luar nalar. Dia sebenarnya berhasil mengamankan bola dan memeluknya. Masih banyak waktu baginya untuk menunggu Karim Benzema menjauh sebelum memutuskan untuk mengoper dengan tendangan atau melemparkannya kepada bek terdekat. Skor masih 0-0.

Namun entah apa yang ada di kepala Karius. Ia mendadak menggelindingkan bola ke arah Dejan Lovren saat Benzema hanya berjarak satu meter. Bola membentur kaki panjang Benzema dan menggelinding masuk ke dalam gawang. Tak ada yang percaya bagaimana itu bisa terjadi. Karius menyempurnakan kehancuran kepercayaan diri rekan-rekannya yang memang sudah mulai turun setelah Mo Salah keluar lapangan.

Sadio Mane sempat menyamakan skor pada menit 55. Namun gol salto Gareth Bale pada menit 64 memastikan bahwa Karius bukanlah pembuat keajaiban seperti kiper Inggris Gordon Banks saat Inggris berhadapan dengan Brasil pada fase penyisihan Grup III Piala Dunia 1970. Pele sudah mengangkat tangan untuk merayakan bola masuk gawang. Namun entah bagaimana, Banks bisa merentangkan badannya sejauh mungkin dan menjulurkan tangannya sepanjang mungkin untuk menggagalkan bola sundulan Pele masuk ke gawang.

Tak ada yang membantah gol Bale luar biasa. Namun orang juga tak melihat Karius melakukan upaya keras untuk menepisnya. Dia melompat, namun tidak dengan tangan terentang sejauh mungkin untuk menjangkau bola.

Karius kembali melakukan kesalahan besar pada menit 83. Dia gagal membuang bola tembakan jarak jauh Bale yang sudah tepat mengarah ke tangannya. Bingung antara menangkap atau menepisnya, bola justru menghantam tangan Karius dan masuk ke gawang.

Tak ada yang bisa percaya dua gol Madrid tercipta karena kesalahan kiper Liverpool sendiri. Bahkan Jurgen Klopp hanya berdiri terdiam. Peluit panjang berbunyi, dan Karius tertelungkup menangis di kotak penalti. Tak ada yang menghampiri. Semua pemain dan ofisial Liverpool terpukul.

Akun media sosial Karius berkebalikan 180 derajat dengan akun Mo Salah yang dijejali komentar-komentar pujian dan penyemangat. Akun Karius diserang oleh caci-maki kasar dan ancaman pembunuhan. Beberapa orang mencoba membela dan membesarkan hati, termasuk akun resmi Napoli dan bintang film porno Mia Khalifa. Oliver Kahn, mantan kiper tim nasional Jerman, menduga Karius terkena efek sikutan Ramos saat mengantisipasi bola, sehingga tak nyaman dan berujung blunder kedua.

Namun kekesalan fans sudah tak terbendung. Mayoritas fans Liverpool sepakat: Karius tak layak mengisi posisi nomor satu. Mentalnya mengatasi tekanan pada momen krusial seperti final di Kiev terbukti di bawah Trent-Alexander Arnold, bek kanan berusia 19 tahun, maupun Andrew Robertson, bek kiri yang sepanjang karirnya bermain untuk klub medioker sebelum bermain untuk Liverpool.

Karius berjalan menghadap tribun para fans Liverpool. Air matanya mengalir. Tangannya berkali-kali ditangkupkan, pertanda permintaan maaf, sembari menepuk dada kirinya. Adegan yang mengharukan bagi sebagian orang, namun tidak bagi Simon Nainggolan.

Fragmen 3: 'Scouser' Simon, 'Scouser' Hendri

Simon menatap Karius dari tribun barat Sektor A. Dia sudah mati rasa. "Menangis atau tidak, suatu kesalahan harus ada konsekuensinya," katanya, menanggapi aksi minta maaf Karius. Dia setuju Liverpool perlu kiper baru yang lebih berkelas.

Hendri terdiam. "Kok bisa ada kiper aneh kayak begitu. Kelewatan memang blunder pertama," katanya kepada saya beberapa hari kemudian, masih tidak percaya. Namun dia mencoba memaklumi, bahwa kadang kala orang sedang sial, tanpa alasan jelas. Apalagi usia Karius masih 24 tahun. Dan Hendri berpendapat hukuman terbaik untuk Karius adalah dengan membiarkannya turun di beberapa pertandingan, terutama persahabatan, untuk mengukur seberapa kuat mentalnya menanggung beban.

Simon adalah pemilik Rumah Makan Padang Sarimande di Jakarta. Dia terbang ke Kiev bersama direktur lembaga survei KedaiKOPI, Hendri Satrio. Keduanya menemukan cinta pada Liverpool. Sebelum ke Kiev, Simon menyaksikan pertandingan Liverpool melawan AS Roma, dan sempat menemui pemain Roma asal Belgia berdarah Batak sesama Nainggolan: Radja.

Perasaan Simon dan Hendri sudah galau saat Ramos membanting Salah. Makian untuk Ramos berhamburan di sana-sini. Suasana hening saat Salah tak juga bangun. "Penonton di kanan kiri saya sempat tertegun dan kaget dengan kejadian itu. Tapi kami kemudian bernyanyi kembali untuk mendukung tim," kata Simon.

Salah mencoba bangun dan meneruskan pertandingan. Tepuk tangan terdengar. Semangat para fans Liverpool kembali menyala.

Mo Salah

Mo Salah

Running down the wing

Salah la la la la

Egyptian king


Namun saat Salah terjatuh kembali dengan ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa semua sudah berakhir, ambruklah kepercayaan diri Hendri dan Simon. 'Sang Raja Mesir' eksit dengan diiringi tepuk tangan dan tatapan cemas puluhan ribu suporter Liverpool. "Saat babak pertama selesai, kami semua lega," kata Hendri.

Blunder pertama Karius mengagetkan. Tapi pertandingan belum berakhir. Begitu Mane mencetak gol penyama skor, keriuhan di sekitar Hendri dan Simon pecah. Para pendukung The Reds saling berpelukan. Namun optimisme hanya bertahan sembilan menit, setelah kemudian dihantam gol tendangan salto Gareth Bale.

Blunder kedua Karius praktis menenggelamkan keinginan Simon dan Hendri melihat Jordan Henderson mengangkat trofi sebagaimana dilakukan Steven Gerrard pada 2005. Pertandingan berakhir dan 'You'll Never Walk Alone' kembali terdengar menyambut Jurgen Klopp dan para pemain yang memberikan penghormatan di depan tribun suporter.

Ini pengalaman pertama Simon dan Hendri menonton final Liga Champions. "Banyak orang mencemooh: sudah jauh-jauh ke Kiev kalah. Ini perlu dipertegas. Saya berangkat ke Kiev bukan hanya untuk nonton dan mengharapkan menang saja. Tapi ini masalah dukungan kepada Liverpool. Sakit ya sakit. Tapi tidak kemudian mengubah kecintaan dan menyesal jauh-jauh ke Kiev. Ini lebih pada memberikan dukungan untuk tim terbaik yang ada dalam hidup saya," kata Hendri.

Simon dan Hendri adalah bagian dari fenomena global sepak bola yang diresonansi oleh siaran televisi. Mereka tinggal di Jakarta, ribuan kilometer dari Merseyside. Kecintaan mereka terhadap Liverpool dibentuk oleh TVRI, stasiun televisi milik pemerintah dan satu-satunya stasiun televisi di negeri ini pada era 1980 dan 1990-an, yang menyiarkan beberapa pertandingan Liga Inggris walau jarang.

Jika nostalgia adalah sebuah bangunan yang dibentuk dari tumpukan batu bata kenangan yang disemen dengan imajinasi dan cinta, maka Ian Rush, John Barnes, maupun Bruce Grobbelaar adalah bagian dari tumpukan batu bata itu.

"Saya suka John Barnes. Kalau main bola waktu sekolah saya pada posisi John Barnes. Tubuhnya agak gempal. Dia megandalkan kecerdikan dan operan-operan serta bola mati yang bagus," kata Hendri.

Di Inggris, hari ini para penonton dari negara-negara yang jauh, terutama Asia, dianggap sebagai biang tak menariknya atmosfer di stadion. Saya kira ada bias xenofobia di sini: para orang asing ini dianggap datang ke stadion di Inggris hanya untuk mengikuti gaya hidup yang dipamerkan di media sosial. Mereka rela membeli tiket yang kian mahal dan menguasai kursi yang biasa diduduki kelas pekerja selama ratusan tahun di stadion.

Mungkin ini manifestasi mutakhir dari teori 'leisure time' Thorstein Veblen: perilaku hidup kaum terdidik menyesuaikan diri dengan norma kesenangan dan konsumsi yang menyolok. Dan Veblen sebal dengan candu olahraga dan menyebutnya bisa menurunkan perkembangan moral manusia.

Saya tidak tahu kenapa Veblen begitu sinis. Mungkin karena dia memang malas berolahraga. Dia dikenal sebagai orang yang serampangan, perokok berat, jarang gosok gigi, dan suka berhubungan seksual dengan mahasiswi atau istri dosen sejawat.

Namun bagaimana Veblen menjelaskan Simon dan Hendri? Mereka bukan Scouser, sebutan untuk warga asli Kota Liverpool. Belum ada sejarah marga Nainggolan bermigrasi besar-besaran ke sana. Dalam konsep studi poskolonial, Simon, juga Hendri, adalah the other, liyan, yang memang merepresentasikan inferioritas, orang asing yang tak punya hak keterkaitan kultural dan historis atas Liverpool. Namun masalahnya: siapa yang bisa membatasi dan memeringkatkan cinta, eros?

Saat Simon membuka restoran dan menyisihkan sebagian pendapatannya untuk berziarah ke Anfield, konsep keterkaitan kultural dan historis pun kabur. Ini bukan sekadar urusan swafoto untuk dipamerkan di beranda akun media sosial.

Simon mengganti tafsir keterkaitan kultural dengan emosional dan keterkaitan historis dengan nostalgia. Liverpool adalah bagian dari masa kecilnya dan bagian dari pengetahuannya untuk mengonstruksi dunia. Dan saat dia semakin sering ke Anfield dan mengenal banyak orang di Liverpool, ikatan yang semula imajinatif itu semakin kuat.

Veblen dan juga mereka yang memandang sinis orang-orang Asia yang berdatangan ke stadion di Inggris mungkin bisa menemukan jawabannya pada Albert Camus, seorang filsuf Prancis yang pernah menjadi penjaga gawang di sebuah kesebelasan perguruan tinggi: tentang sepak bola yang mengajarkan obligasi moral.

Atau menyitir ucapan Hendri: "Tidak mudah bagi saya mencintai klub lain. Saya tidak punya tim lain di liga Jerman, Spanyol, atau mana pun. Dua tim yang saya idolakan adalah tim nasional Indonesia dan Liverpool. Kedua-duanya berjuang sangat berat untuk meraih piala. Tapi tidak apa-apa. Sepak bola mengajarkan kita untuk bersabar, baik menang atau kalah. [wir/air]

Tag : sepakbola

Komentar

?>