Kamis, 18 Oktober 2018

Pekan 10 Liga 1

Catatan dari Terputusnya 'Kutukan Sisifus' Persebaya di Madura

Minggu, 27 Mei 2018 19:59:52 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Catatan dari Terputusnya 'Kutukan Sisifus' Persebaya di Madura

Setelah tidak bertanding di pekan ke-9 karena penundaan pasca teror bom di Surabaya, Persebaya Surabaya melakukan laga tandang ke Gelora Ratu Pamelingan, Pamekasan, menghadapi Madura United, Jumat (25/5/2018). Ini Derbi Suramadu (Surabaya Madura): sebuah friendly derby (pertandingan derbi yang bersahabat) karena faktor kedekatan geografis maupun pendukung. Sejak lama, sebelum Madura United berdiri, warga Madura mayoritas adalah pendukung Persebaya.

Madura United berkepentingan mengembalikan reputasi mereka setelah digulung Persipura Jayapura 0-6 dalam partai tandang. Sementara Persebaya berharap memutus siklus 'Kutukan Sisifus' menang-seri-kalah yang berjalan selama delapan pertandingan. Jika 'Kutukan Sisifus' itu masih berjalan, maka seharusnya dalam pertandingan kali ini Persebaya akan menelan kekalahan, setelah pada pertandingan sebelumnya bermain seri 2-2 melawan tuan tumah Borneo FC.

Namun catatan statistik sejak awal sudah menunjukkan bahwa Persebaya berpeluang mengakhiri siklus kutukan itu. Dalam dua pertemuan pramusim, Persebaya tak pernah kalah dari Madura United. Aspek teknis kedua tim juga relatif berimbang. Rata-rata gol yang dicetak Persebaya dan Madura United adalah 1,5 berbanding 1,7. Sementara itu sektor pertahanan, rasio kebobolan Persebaya adalah 1,25 dan rasio Madura United 1,7. Ini artinya pertahanan Persebaya masih lebih kuat, kendati lini serang madura lebih tajam.

Berdasarkan statistik Statoskop-Jawa Pos, kendati kedua tim selama ini memiliki intensitas melepas tembakan yang sama (125 tembakan Persebaya dan 121 tembakan Madura), Persebaya lebih intensif membangun serangan melalui operan (3.067 kali) dibandingkan Madura (2.512 kali). Bahkan anak-anak Persebaya juga lebih berani melakukan 'drible' untuk masuk ke area pertahanan lawan selama delapan pertandingan (164 kali) dibandingkan Madura United (136 kali).

Permainan cepat yang digelar sejak menit awal menunjukkan bahwa statistik tidak berdusta dalam menggambarkan kecenderungan kedua tim. Dalam waktu tujuh menit awal dua gol sudah tercipta melalui Alberto Antonio de Paula pada menit lima untuk Madura United dan menit tujuh oleh David da Silva untuk Persebaya.

Pelatih Madura United Milomir Seslija menginstruksikan para pemainnya menggedor jantung pertahanan Persebaya melalui trisula Greg Nwakolo, Alberto de Paula, dan Bayu Gatra. Mereka didukung gelandang serang berpengalaman asal Liberia Zah Rahan.

Persebaya yang juga turun dengan formasi 4-3-3 menempatkan trisula Irfan Jaya, David da Silva, dan Ferinando Pahabol yang menandakan bahwa serangan cepat akan dimulai dari sayap. Pelatih Alfredo Vera mendukung kecepatan barisan depannya dengan meletakkan Rendi Irwan yang bergerak mobil bersama Robertino Pugliara yang handal melepas operan matang ke Da Silva, dan Sidik Saimima yang menjaga kedalaman menggantikan Nelson Alom yang absen karena cedera.

Barisan pertahanan yang masih dibekap badai cedera diisi Abu Rizal Maulana di kanan dan M. Irfan Febrianto di kiri, dan Muhammad Syaifuddin serta Fandry Imbiri di tengah. Miswar Saputra masih belum tergantikan di bawah mistar gawang.

Menghadapi para pemain yang lebih berpengalaman, Persebaya justru berani bermain terbuka. Data statistik pertandingan yang dirilis Madura United sendiri menunjukkan, pada babak pertama, Green Force menguasai bola 56 persen dan memiliki akurasi operan yang lebih baik (77 persen berbanding 65 persen). Madura United memang rajin melakukan tembakan (11 kali berbanding enam kali). Namun kedua tim sama-sama memiliki tiga tembakan tepat sasaran.

Lini pertahanan Persebaya sebenarnya berhasil menjinakkan Greg Nwakolo dan Alberto de Paula sehingga tak bisa melakukan tembakan mematikan. Dua gol Madura United justru lahir dari skema bola mati (tendangan bebas), memanfaatkan kegagalan para bek Persebaya bertarung di udara.

Gol pertama Madura berawal dari tendangan bebas yang dilepaskan Andik Rendika Rama dari sisi kiri pertahanan Persebaya. Pelanggaran yang menghasilkan tendangan bebas ini sekali lagi menunjukkan betapa sisi kiri Persebaya tereksploitasi sebagaimana beberapa pertandingan sebelumnya. Pemain belakang Madura Beny Wahyudi yang maju justru berhadapan dan dilanggar oleh Pahabol dan bukan oleh Irfan Febrianto. Irfan Febrianto justru bertahan di dalam kotak penalti.

Gol sundulan Alberto yang memanfaatkan bola tendangan bebas yang dilepas Andik Rendika menunjukkan kelambanan bek tengah Persebaya mengantisipasi bola atas. Tak ada pemain yang ikut melompat untuk berduel di udara. Fandry Imbiri dan Syaifuddin hanya memperhatikan bola melintasi kotak penalti sebelum disambut dengan 'killing-header'.

Gol kedua Madura oleh Fabiano Beltrame juga melalui skema yang kurang lebih mirip pada menit 45+3. Kali ini tendangan bebas Greg Nwakolo dari sisi kanan pertahanan Persebaya. Bola parabola itu mendarat manis di kepala Fabiano yang bebas melompat tanpa kawalan dari Syaifuddin yang berdiri di dekatnya.

Keluarnya David da Silva pada menit 37 digantikan Ricky Kayame karena cedera setelah berbenturan dengan gelandang Madura United Onoriondhe Kughegbe John sedikit banyak mempengaruhi daya gedor Persebaya. Selain rajin membantu pertahanan, Da Silva memiliki kemampuan menjaga bola dan sentuhan pertama yang bagus. Tubuhnya yang tinggi besar membuatnya seperti 'juggernaut' dalam terminologi sosiolog Anthony Giddens: berlari, melindas apa saja di depannya. Tak mudah bagi pemain belakang menghentikan lari Da Silva yang memiliki langkah-langkah kaki panjang.

Gol pertama Persebaya pada menit 7 menunjukkan keistimewaan Da Silva. Ia memanfaatkan kesalahan lini pertahanan Madura United berlari kencang ke kotak penalti yang kosong setelah melewati Fachruddin Wahyudi Aryanto dan melepaskan tembakan datar ke kiri gawang Hery Prasetyo.

Kayame memang pemain lincah dan memiliki kecepatan. Namun dia memiliki gaya yang kurang lebih mirip dengan Irfan dan Pahabol, sehingga tidak memberikan alternatif opsi model serangan. Vera menurunkan Kayame boleh jadi karena ingin menguras energi para pemain bertahan Madura United yang sejak menit awal memang terlihat kesulitan menangani kecepatan Irfan dan Pahabol yang bergerak bebas tanpa terikat pakem posisi.

Pelanggaran sebanyak 25 kali sepanjang 90 menit pertandingan yang dilakukan para pemain Madura United yang berbuah tiga kartu kuning menunjukkan betapa kerepotannya mereka. Salah satu puncak kerepotan Madura United menghadapi para pelari Persebaya terjadi pada menit 42. Memanfaatkan umpan terobosan Rendi Irwan, Irfan Jaya berlari meninggalkan para pemain bertahan Madura United. Sontekan kaki kanannya lebih cepat mengubah arah bola ke kaki kirinya saat kiper Hery Prasetyo maju untuk menghadangnya. Sentuhan bola datar ke gawang kosong mengubah skor menjadi 2-1.

Penguasaan bola pada babak kedua tak berubah banyak. Total sepanjang 90 menit, 53 persen bola berada dalam penguasaan Persebaya. Namun intensitas serangan ada pada Madura United yang melepaskan 20 tembakan, lima di antaranya tepat sasaran. Sementara sembilan tembakan Persebaya, 66 persen tidak tepat sasaran. Banyaknya jumlah tendangan pojok yang diperoleh Madura United (tujuh kali berbanding satu kali) menunjukkan bagaimana kuatnya intensitas itu. Namun barisan pertahanan Persebaya bermain taktis dan tanpa kompromi. Miswar Saputra sekali lagi tampil cukup solid.

Pekerjaan rumah Persebaya yang belum diselesaikan Vera adalah akurasi tembakan, terutama jarak jauh. Beberapa kali Pahabol melepaskan tembakan keras melambung dan mengakhiri skema serangan cepat Persebaya dengan kekecewaan. Pekerjaan lainnya tentu saja mengantisipasi semakin panjangnya daftar pemain cedera dengan nama Da Silva di dalamnya. Praktis, tanpa Da Silva, opsi alternatif serangan Persebaya menjadi kurang bervariasi. Ada Rishadi Fauzi. Namun dia belum bisa menyamai Da Silva, terutama dalam hal kekuatan fisik.

Kabar baiknya: hasil seri ini dan bagaimana anak-anak Persebaya menangani intensitas permainan Madura United di kandang lawan, menunjukkan bahwa tak ada yang perlu ditakuti. Persebaya memiliki kemampuan untuk melukai siapapun, apalagi setelah Irfan Jaya kembali menemukan puncak performanya. [wir/air]

Tag : persebaya

Komentar

?>