Kamis, 18 Oktober 2018

Barney Rubble dan Kemenangan Liverpool di Paris

Sabtu, 26 Mei 2018 16:00:31 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Barney Rubble dan Kemenangan Liverpool di Paris

Parc des Princes, Paris, Prancis, 27 Mei 1981. Liverpool tidak sedang dalam kondisi terbaik untuk melayani Real Madrid dalam pertandingan puncak Piala Champions. Reputasi The Reds di kompetisi domestik pada musim 1980-1981 terhitung hancur lebur untuk klub yang mendominasi Inggris selama sepuluh tahun terakhir.

Jelang berakhirnya kompetisi Liga Inggris, saat pertandingan masih tersisa tiga partai, The Reds justru terperosok di peringkat delapan. Dalam pertandingan terakhir liga yang digelar sepekan sebelum final Piala Champions, Gol tunggal Ray Kennedy ke gawang Manchester City membawa Liverpool ke posisi kelima pada klasemen akhir. Ini posisi terburuk selama satu dekade terakhir. Gelar juara musim itu terbang ke markas Aston Villa di Birmingham.

Langkah The Reds di Piala FA terhenti di putaran keempat oleh tim sekota Everton 1-2. Satu-satunya gelar hiburan di level domestik adalah Piala Liga. Pasukan Bob Paisley berhasil menundukkan West Ham United 2-1 di final ulangan.

Prestasi Liverpool musim itu berkebalikan dengan capaian Madrid di La Liga. Mereka memang menduduki posisi kedua dalam klasemen La Liga musim 1980-1981 di bawah Real Sociedad. Namun sebenarnya Madrid mengumpulkan angka yang sama dengan Sociedad (45) dan memiliki keunggulan selisih gol lebih banyak (29 berbanding 23). Sociedad menjadi juara karena aturan 'head-to-head' dalam kompetisi yang diterapkan Federasi Sepak Bola Spanyol.

Real Madrid punya reputasi sebagai 'Badai Putih'. Di level Eropa, klub dari ibu kota Spanyol ini memiliki capaian yang belum bisa disamai Liverpool. Mereka sudah enam kali mengangkat trofi Piala Eropa Antarklub dan dua kali menjadi runner-up. Inilah klub tersukses di daratan Benua Biru dan tengah menanti trofi ketujuh di Paris.

Paul Breitner, pemain Munich, menyebut Liverpool tidak memainkan sepak bola cerdas. Sementara manajer Madrid asal Bulgaria, Vujadin Boskov, sudah jemawa sejak awal. Dia menyebut pemain-pemain Liverpool sudah terlalu tua. Mereka akan terlalu lamban untuk menghadapi sederet pemain Madrid yang mampu melukai dengan kecepatan, seperti Santillana, Juanito, dan pemain kulit hitam Inggris Laurie Cunningham.

Breitner keliru dan Boskov tak sepenuhnya benar. Sebagian besar skuat inti Liverpool pada musim 1980-1981 memang sudah berumur: Ray Clemence (penjaga gawang, 33 tahun), Phil Neal (bek kanan, 30), Ray Kennedy (gelandang, 30), Terry McDermott (gelandang, 30), Sammy Lee (gelandang, 22), Graeme Souness (gelandang, 28), Alan Hansen (bek tengah, 26), Kenny Dalglish (penyerang, 30), David Johnson (penyerang, 30), Phil Thompson (bek tengah, 27), dan Alan Kennedy (bek kiri, 27). Namun, di level Eropa, kekuatan mereka masih cukup dominan seperti Madrid.

Surat kabar yang memuat penghinaan Breitner ditempelkan di ruang ganti Liverpool, dan di pertandingan semifinal kedua, The Reds menggulung pertahanan Munich melalui pemain sayap Howard Gayle. Liverpool lolos ke final melalui keunggulan gol tandang 1-1 (0-0, 1-1). Sementara Madrid harus bersusah payah mengalahkan Inter Milan 2-1 (2-0, 0-1).

Hasil di semifinal merepresentasikan dominasi dua klub selama turnamen. Dalam putaran pertama, Liverpool mengalahkan Oulun Palloseura dengan agregat 11-2 (1-1, 10-1), sementara Madrid mengalahkan Limerick 7-2 (2-1, 5-1). Putaran kedua: Liverpool mengalahkan Aberdeen yang dilatih Alex Ferguson 5-0 (1-0, 4-0), Madrid mengalahkan Budapest Honved 3-0 (1-0, 2-0). Perempat final: Liverpool menggasak CSKA Sofia 6-1 (5-1, 1-0). Madrid membekuk Spartak Moskow 2-0 (0-0, 2-0).

Di daftar puncak pencetak gol terbanyak, Liverpool menempatkan dua pemain yakni McDermott dan Souness dengan masing-masing mencetak 6 gol. Kombinasi keduanya memberikan kontribusi 52 persen terhadap total gol Liverpool. Selain mereka ada Karl-Heinz Rummenige dari Bayern Munich yang mencatatkan enam gol.

Pertanyaannya adalah bagaimana Liverpool mempertahankan dominasi tersebut di final, jika sebagian pemain inti mengalami cedera. Alan Kennedy tak pernah berharap akan diturunkan oleh Bob Paisley. Pergelangan tangannya patah saat pertandingan pertama semifinal melawan Bayern Munich. Setidaknya dibutuhkan waktu 10 pekan untuk memulihkan kondisinya.

Alan Kennedy adalah salah satu pemain kunci Paisley bersama Kennedy yang lain: Ray. Mereka bukan kakak beradik. Alan ditransfer dari Newcastle United pada musim panas 1978 dengan ongkos 330 ribu pound untuk mengisi posisi bek kiri. 

Kehadiran Kennedy membuat sesak persaingan empat bek. Sebelum ia datang, Liverpool sudah memiliki Emlyn Hughes, Phil Thompson, Alan Hansen, Phil Neal, Joey Jones, dan Colin Irwin. Paisley mendatangkannya karena menginginkan suasana memperebutkan posisi inti di lini belakang kompetitif.

Gaya permainan Alan sebenarnya tidak cocok dengan filosofi 'pass and move' Liverpool. Namun dia adalah tipe pemain yang ngeyel yang siap memberikan 100 persen untuk rim. Paisley sempat mengecamnya karena penampilan buruk di pertandingan awal. "Mereka menembak Kennedy yang keliru," kata sang manajer, mengacu pada penembakan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy.  

Namun Paisley percaya dengan kualitas Alan. "Jika anak ini tidak bermain untuk timnas Inggris, saya akan menceburkan diri ke Sungai Mersey, saat surut," katanya.

Paisley tak keliru. Karakter ofensif, Alan memainkan peran penting di Liverpool. Musim pertama 1978-1979 dan 1979-1980, ia memainkan 43 dan 51 pertandingan di semua kompetisi sebagai pemain inti. Namun problem memang datang pada musim 1980-1981. Cedera membuatnya hanya bemain di 34 pertandingan di semua kompetisi.

Cedera yang dialami saat semifinal Piala Champions adalah yang kesekian kalinya bagi Alan. Namun kali ini demi sebuah pertandingan final, dia memilih langkah yang membahayakan karir dan keselamatannya sendiri: memasang semacam plat metal yang terhitung tak praktis dan berat di pergelangan tangan kanannya dan dibebat perban. Namun langkahnya direstui Paisley.

Alan Kennedy bukan satu-satunya problem Paisley. Penyerang Liverpool asal Skotlandia, Kenny Dalglish, juga sudah absen selama enam pekan. Dia absen dalam empat pertandingan terakhir Liverpool musim ini. Riskan tentu saja menurunkannya sebagai pemain inti pada pertandingan krusial itu. 

Di luar lapangan, Liverpool dihadang urusan nonteknis. Liverpool dilarang mengenakan kostum dengan logo Umbro, karena sponsor resmi klub itu tidak memiliki kerjasama dengan UEFA. Ronnie Moran, salah satu pelatih Liverpool, bertindak lekas, menambalkan semacam kertas putih untuk menutupi logo di kaos.

Alan Hansen, pemain bertahan Liverpool, merasakan tekanan dalam final kali ini lebih kuat daripada final serupa pada 1978. Mereka sudah memenangkan trofi tersebut dua kali berturut-turut. Trofi ketiga akan mendaulat Liverpool sebagai tim Inggris tersukses di Eropa dan Paisley sebagai manajer Inggris terbanyak yang memenangkannya.

Phil Thompson dilanda nervous, berharap-harap cemas mengangkat trofi itu sebagai kapten tim sebagaimana yang dilakukan Emlyn Hughes dua kali di Roma dan London. Ia selalu gagal membayangkan dirinya seperti Hughes. Namun alih-alih menenangkan, dia justru dilanda kepanikan.

Paisley tahu anak-anak asuhnya dilanda ketegangan. Maka ia membawa tim ke stadion mepet dengan jadwal sepak mula untuk menurunkan tensi. Kondisi lapangan Parc des Princes jauh dari ideal untuk sebuah pertandingan final tingkat Eropa. Ini sebuah stadion rugby. Permukaan lapangan sangat keras yang membuat bola memantul terlalu tinggi. Joe Fagan, asisten Paisley, mengingatkan para pemain Liverpool agar waspada.

Paisley kalem seperti biasanya. Saat para pemain mencemaskan kecepatan Laurie Cunningham, ia menanggapi enteng saja. "Oh ya dia licin dan cepat." Itu saja. Paisley jarang merancang taktik khusus untuk meredam satu pemain. Tugas menjinakkan Laurie diserahkan kepada Phil Neal.  

Pertandingan final tersebut di luar ekspektasi banyak orang: sama sekali tidak enak ditonton. Kedua tim bermain hati-hati. Para pemain Madrid bermain keras dan Souness terkapar tak lama setelah peluit sepak mula dibunyikan wasit Karoly Palotai dari Hungaria.

Souness tak ingin Liverpool terintimidasi oleh permainan keras Madrid. Dia mendekati Camacho untuk memberi sedikit pelajaran. Namun pemain Madrid asal Jerman Barat, Stielike, justru menghajarnya lebih dulu. Di luar itu, tak ada ancaman berarti dari Madrid ke gawang Clemence. Cunningham yang berhadapan dengan Alan Kennedy di sisi kiri pertahanan Liverpool juga tak mampu berbicara banyak.

Pertandingan babak pertama berakhir tanpa gol. Paisley masih cukup percaya diri anak-anak asuhnya akan mencetak gol, saat semua berpikir pertandingan akan berujung pada adu penalti. Kuncinya adalah memanfaatkan peluang dengan probabilitas sekecil apapun, dan itu yang dilakukan Alan Kennedy pada menit 81.

Ray Kennedy melakukan lemparan ke dalam di sisi kiri pertahanan Madrid. Alan berlari membuka ruang dan menerima bola yang dilemparkan Ray. Garcia Cortes mencoba menghadang. Namun Alan berhasil melewatinya. Kiper Madrid Agustin maju untuk mempersempit ruang tembak Alan. Sebenarnya David Johnson berada pada posisi tak terkawal di depan gawang dan siap menerima bola. Namun Alan memilih menembakkan bola keras-keras dan mencatatkan diri sebagai pemain Liverpool yang pernah mencetak gol di partai final Piala Champions.

Alan merayakannya dengan berlari menuju tribun belakang gawang yang dikuasai para suporter Liverpool. David Johnson memeluk dan mengangkat tubuhnya. "Kenapa tidak kau oper kepadaku?" tanyanya kepada Alan.

Alan tertawa. "Kalau kuoper kepadamu, kita masih akan melanjutkan pertandingan," katanya.

Setiap kemenangan berujung perayaan. Jalanan di Paris dikuasai belasan ribu suporter Liverpool. Para pemain memilih keluar dari kamar hotel untuk membuka botol sampanye. Namun Bob Paisley memilih tetap tinggal di kamarnya dan menikmati sup hangat.

Dalam sesi jumpa pers, Paisley memuji kualitas anak-anak asuhnya bermain di bawah tekanan taktik keras Real Madrid. "Ini sebuah kemenangan bagi karakter kami sekali lagi. Saya bangga menjadi manajer Britania pertama yang memenangkan Piala Eropa Antraklub tiga kali," katanya.

Bagi Alan, ini musim terbaik dalam karirnya. Dia mencetak gol di dua final, salah satunya di final Piala Liga. Malam itu, golnya menjadi satu-satunya pembeda, dan sekitar 12 ribu suporter Liverpool meneriakkan julukannya: 'Barney, Barney.'

Sebuah malam penobatan bagi seorang legenda bernama Alan 'Barney Rubble' Kennedy.

Post Scriptum

Tiga tahun kemudian, Alan Kennedy kembali tampil di final Piala Champions bersama Liverpool di Stadion Olimpico, Roma, menghadapi AS Roma. Dia mencetak salah satu dari empat gol kemenangan Liverpool dalam adu penalti.

Alan bermain selama delapan musim untuk Liverpool. Dia mengemas 20 gol dalam 359 pertandingan di semua kompetisi. Selama itu, hanya dua kali dia menjadi pemain pengganti. Selebihnya Alan selalu menempati salah satu dari komposisi tim awal dalam pertandingan dan berperan dalam pencapaian lima gelar liga, empat gelar Piala Liga, dan dua gelar Piala Champions. [wir]

Tag : sepakbola

Komentar

?>