Kamis, 18 Oktober 2018

Pekan 9 Liga 1

SuroboyoWani dan Solidaritas dari Stadion

Minggu, 20 Mei 2018 16:05:19 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
SuroboyoWani dan Solidaritas dari Stadion

Tidak ada pertandingan di Surabaya pada pekan kesembilan kompetisi sepak bola Liga 1. Bom bunuh diri meledak di tiga gereja pada Minggu (13/5/2018). Pertandingan Persebaya melawan Persib Bandung di Gelora Bung Tomo pada Minggu (20/5/2018) ditunda, dan rivalitas apapun dalam sepak bola tak lagi penting saat bom melukai dan membunuh banyak orang.

Di Stadion Kanjuruhan, Malang, pertandingan antara Arema melawan PSM Makassar didahului aksi mengheningkan cipta dan pemasangan pita hitam di lengan semua pemain. Spanduk dukungan untuk warga Surabaya dan perlawanan terhadap terorisme muncul di sejumlah stadion di Solo, Jakarta, Bandung, maupun kota-kota lainnya, mengiringi ucapan solidaritas dari berbagai kelompok suporter di media sosial.

Di Surabaya, beberapa jam setelah ledakan terjadi, seruan pemasangan spanduk berisi kalimat perlawanan terhadap terorisme di kampung-kampung oleh Bonek, komunitas pendukung Persebaya, tersebar masif di media sosial. Mereka ingin menyampaikan pesan bahwa warga Surabaya tidak akan takut kepada para teroris. Tagar #SuroboyoWani, #KamiTidakTakut, dan #TerorisJancuk menjadi penanda keberanian itu. Tagar terakhir sempat diperdebatkan karena vulgarnya kosakata yang digunakan (jancuk adalah umpatan kasar khas Surabaya).

"Seruan ini sudah disepakati arek-arek yang lain. Kami ingin menegaskan sikap dalam spanduk ini. Kami ingin memberikan pesan kepada peneror, bahwa arek-arek Suroboyo akan melawan," kata Andi Peci, salah satu Bonek.

Malam harinya mereka berkumpul, menyalakan lilin, dan menyatakan tak akan menyerah di hadapan hantu teror. Bahkan sebagian sudah bertekad untuk melantunkan lagu-lagu kutukan terhadap para teroris saat berada di stadion.

Andi menegaskan, persoalan terorisme adalah persoalan rakyat. "Bonek adalah bagian dari rakyat. Kenapa harus dipasang di kampung-kampung? Kami ingin mengirimkan pesan perlawanan terhadap terorisme dan memberi edukasi kepada warga agar bisa menjaga kampung masing-masing, bila ada penyusup yang diindikasikan teroris," katanya.

Pemasangan spanduk itu juga untuk mengingatkan kepada seluruh warga Surabaya bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. "Ini arek-arek Suroboyo. Ini bukan kota biasa. Kalau kami diganggu, kami akan melawan," kata Peci, mengingatkan perlawanan warga dan santri dalam Perang Kota 1945.

Respons kelompok-kelompok suporter sepak bola menjadi penanda bahwa sepak bola tidak akan pernah bisa steril dari lingkungan sosialnya. FIFA memang mengharamkan penanda apapun, termasuk spanduk dan kaos perayaan gol  di luar tema sepak bola, beredar di dalam stadion. Namun nalar FIFA selalu gagal meringkus sepak bola dalam tafsir tunggal. Sejak ditemukan, sepak bola adalah bagian dari peradaban, dan klub-klub sepak bola berdiri di seluruh dunia sebagai respons terhadap lingkungan sosial: seperti Rayo Vallecano.

"Rayo is not a football team. It's a sporting religion here. It is class-proud and the voice of the conscience," kata mantan Presiden Rayo Vallecano Pedro Ruiz. 

Rayo Vallecano adalah sebuah klub kecil di salah satu distrik di Madrid, Spanyol. Orang lebih mengenal Real atau Atletico Madrid. Namun Rayo punya identitas signifikan sendiri. Para pendukungnya punya semboyan 'Poor but Proud'. Miskin tapi punya harga diri. 

Setiap pemain yang menandatangani kontrak dengan klub ini harus menyadari bahwa mereka tak hanya bermain 90 menit setiap pekan di atas lapangan, tapi juga melayani komunitas yang menjadi pendukung Rayo. Itu ditunjukkan saat para pemain Rayo patungan untuk membantu Carmen Martinez Ayuso, warga distrik itu, agar tak diusir dari rumahnya.

Komunitas lokal pendukung Rayo memiliki identitas anti-fasis dan kelas pekerja. Mereka menjadi bagian dari kelompok yang berani melawan Jenderal Franco, poenguasa fasis Spanyol, dan menjadikan stadion sebagai tempat untuk merawat memori perlawanan itu. Mereka punya semboyan 'No, no, no pasaran' yang sampai saat ini diteriakkan di stadion, yang artinya 'Mereka tak akan lewat': ini jawaban atas pidato Jenderal Franco yang mengatakan pasukannya berhasil menembus barikade pengepungan kota Madrid oleh rakyat. Kira-kira jika diperbandingkan, teriakan mereka sama dengan kata 'wani' (berani) yang dipekikkan puluhan ribu Bonek berkali-kali di Gelora Bung Tomo, saat mendengar teriakan 'salam satu nyali'. 

Sebagaimana di Rayo, stadion juga menjadi kuil perlawanan terhadap rezim diktator junta militer pada era 1970-an di Uruguay. Saat pertandingan hendak digelar dan lagu kebangsaan diperdengarkan, puluhan ribu penonton berdiri tegak dan bernyanyi keras saat lagu sampai pada pada lirik 'tiranos temblad'. Gemetarlah kau para tiran. Hal itu dilakukan berulang-ulang untuk mempermalukan para jenderal yang hadir di stadion.

Steve Crawshaw dan John Jackson dalam bukunya menyebut tindakan itu sebagai 'small acts of resistance'. Tindakan kecil perlawanan. Sesuatu yang mungkin 'Sartreian': 'aku bertindak, maka aku ada'. Tindakan yang bisa kita temui pada pemain Persebaya yang mendatangi rumah keluarga suporter yang meninggal dunia untuk ikut berdoa bersama dan menyampaikan rasa duka cita, pada Persebaya yang memberikan beasiswa untuk anak-anak korban bom bunuh diri, pada Liverpool yang menjadi klub sepak bola pertama di Inggris yang memenuhi panggilan wajib militer dalam Perang Dunia II, atau pada klub St. Pauli yang membela hak-hak minoritas.

Keterlibatan pemain maupun klub dalam aktivisme sosial seperti ini menunjukkan bahwa tak ada klub sepak bola yang lahir tanpa afeksi lingkungannya, karena pada dasarnya klub adalah bagian dari identitas dan nilai-nilai sosial masyarakat sebuah kota. Itulah kenapa sebuah klub sepak bola akan selalu dicintai, terlepas dari baik atau buruknya prestasinya. Di Surabaya, jumlah suporter Persebaya tak berkurang kendati selama beberapa tahun dibekukan PSSI. Mereka mendukung Persebaya menjadi klub pertama yang berani melawan ketidakadilan federasi dengan menyeberang ke 'breakaway league'. Sementara itu, suporter Rayo Vallecano menolak klubnya main mata agar lolos dari degradasi atau bermain pragmatis hanya untuk menghindari kekalahan.

Tidak ada pertandingan sepak bola pekan ini di Surabaya. Namun pekan ini, dari kota ini kita belajar, bahkan dalam sepak bola, nilai-nilai tradisional seperti keberanian untuk melawan dan memperjuangkan kepentingan kemanusiaan penting untuk dilestarikan dan dirawat. [wir]

Tag : persebaya

Komentar

?>