Kamis, 18 Oktober 2018

Bom Surabaya, Kartosuwiryo Mengejek Bung Karno

Jum'at, 18 Mei 2018 11:37:01 WIB
Reporter : Teddy Ardianto Hendrawan
Bom Surabaya, Kartosuwiryo Mengejek Bung Karno

Minggu pagi 13 Mei 2018 saya terkejut  ketika mendapat laporan dari wartawan di lapangan ada bom bunuh diri meledak di depan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Jalan Ngagel Madya.

Sontak saat itu saya langsung mengambil laptop dan menuliskan laporan per telepon dari wartawan di lokasi dan mengabarkannya ke online.

Saya dari Sidoarjo kemudian meluncur  ke lokasi Gereja SMTB. Saat datang
polisi sudah memblokade jalan dengan jarak hampir 200 meter di seputaran
lokasi kejadian.

Akhirnya saya berjalan dan lewat perkampungan di jaan Ngagel Wasono
gang I. Saat berjalan di gang tersebut suasana sangat mencekam, portal-poral ditutup
warga degan rapat.

"Iya mas tadi sudah ada seruan dari polisi dan tentara agar menutup portal karena sewaktu-waktu pelaku pengeboman   bisa saja  datang lagi," ujar seorang warga yang saya temui.

Terlihat wajah sejumlah warga di jalan Ngagel Wasono lokasi yang berjarak sekitar 200 meter terlihat tegang dan mencekam seperti habis perang. Ada rasa curiga dengan sejumlah orang yang berlalu lalang untuk melihat bom di Gereja SMTB.

Tak jauh dari saya berjalan sejumlah warga juga bergerombol di sebuah
rumah dengan jarak sekira 100 meter dari lokasi (Gereja SMTB), di rumah tersebut diberi garis polisi warna kuning.

Disitu terlihat ada seonggok daging dengan warna kemerahan. Kata
sejumlah warga daging yang jatuh di rumah warga tersebut adalah punggung
dari pelaku bom yang jatuh di rumah warga.

Sejumlah anak-anak yang berada di lokasi yang dibawa oleh ayah mereka
untuk melihat  lokasi kejadian juga terlihat ketakutan.  Tak lama kemudian anak-anak itu
merengek minta pulang.

Sungguh luar biasa efek bom ini hingga denyut nadi kota Surabaya yang biasanya hingar-bingar menjadi muram dan diliputi rasa ketakutan jalan-jalan sepi.

Terus terang saat saya berjalan di sekitar lokasi saya akui saya merinding
dan takut juga melihat begitu banyak aparat membawa senjata otomatis di dekat lokasi dengan warna seragam serba hitam.

Sejumlah komentar dari mulut yang melihat lokasi juga beragam. Namun ada juga yang ingin kembali ke jaman Pak Harto yang aman jarang terjadi bom  karena menggunakan ABRI sebagai keamanan.

"Kalau jaman pak Harto gak mungkin ada seperti ini, mereka rapat saja langsung ditangkap." kata warga yang melihat lokasi kejadian.

Saat itu saya langsung berpikir, apakah ada sejarah yang melatari lahirnya pemikiran dan ideologi atau kejadian ini hingga orang-orang tersebut yang diluar nalar melakukan kekejian sesama warga dengan bom bunuh diri?

Bung Karno dan Kartosuwiryo

Teman Dita Oeprianto pelaku bom Gereja Pantekosta di jalan Arjuno
Surabaya menulis di laman facebooknya tentang Dita yang bergabung  dengan Negara
Islam Indonesia  (NII) yang didirikan oleh Kartosuwiryo.

Dita masuk organisasi yang ingin mencitakan-citakan Indonesia  berdasarkan syariat Islam dan meminta merekrut orang sebanyak-banyaknya.

Kartosuwiryo dan Bung Karno serta tokoh komunis Semaun pernah satu rumah dan belajar tentang nasionalisme di rumah HOS Cokroaminoto di jalan Pineleh Surabaya.

Tokoh-tokoh pendiri bangsa bersatu menjadikan Indonesia Merdeka. Namun usai Indonesia merdeka tokoh-tokoh pergerakan Nasional itu tidak sependapat dan menjalankan ideologinya masing-masing.

Bung Karno dalam bukunya Penyambung Lidah Rakyat Indonesia Karangan Cindy Adams menjelaskan Surabaya merupakan dapur Nasionalisme Indonesia Merdeka.

Surabaya dan tingkat Nasional saat ini adalah representasi kemenangan Nasionalis. Surabaya dipimpin oleh Tri Rismaharini yang merupakan kader terbaik PDIP dengan ketua Megawari Seoekarno Putri Anak Bung Karno. Risma dalam Pemilu 2015 menang 80 persen Sedangkan di tingkat Nasional Jokowi merupakan representasi Nasioalis dengan kemenngan 52 persen.

Bung Karno dan Kartosuwirjo. sejak tahun 1918 terlibat jalinan pertemanan
yang kental di rumah HOS Cokroaminoto jalan Pineleh  Surabaya.

Mereka bahu-membahu berjuang demi kejayaan negeri bersama Cokro. Akan tetapi, di bagian akhir, keduanya terlibat perbedaan paham yang keras. Bung Karno yang nasionalis berselubungkan Pancasila. Kartosuwiryo bergaris Islam ekstrim dan menghendaki Indonesia menjadi negara Islam. .

Ingat kebiasaan Bung Karno berpidato di depan kaca di dalam kamar yang  pengap dan gelap? Ya, di satu kamar paling ujung, satu-satunya kamar tak berjendela sehingga siang-malam Bung Karno harus menyalakan pelita, Bung Karno acap berpidato berapi-api.
Dari luar kamar, teriakan-teriakan Bung Karno membahana. Sekali-dua, rekan-
rekan satu pemondokan menegurnya.

Akan tetapi, ketika Bung Karno tidak juga menghentikan kebiasaannya berpidato di depan cermin mereka pun mengabaikan. Nah, salah satu penghuni rumah yang tak bosan dan nyinyir berkomentar atas ulah Bung Karno hanyalah Kartosuwirjo seperti yang saya nukil dari buku Roso Daras Total Bung Karno.

“Hei Karnu buat apa berpidato di depan kaca seperti orang gila saja” Kartosuwirjo tak bosan mengejek dan melempar ledekan kepada Bung Karno.

Atas itu semua, Bung Karno tak menggubris. Ia melanjutkan orasinya, meski hanya didengar tembok dan sekawanan cicak, nyamuk, dan keremangan suasana.

Usai berpidato, barulah Bung Karno membalas ledekan Kartosuwirjo.  Bung Karno akan  mengatakan apa yang ia lakukan adalah salah satu persiapan menjadi orang besar.

Tahun 1948, Kartosuwirjo memaklumatkan perang kepada Bung Karno (pemerintah yang sah). Lalu dua tahun kemudian 1950 ia menyalakkan api perang dengan statement.
“Bunuh Sukarno. Dialah penghalang pembentukan Negara Islam.”

Sejak itu, sejumlah usaha pembunuhan terhadap Bung Karno pun dilakukan
oleh para teroris anak buah Kartosuwirjo.  Peristiwa penggranatan Cikini 30 November 1957 adalah salah satu saja dari sekian banyak rentetan percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno oleh anak buah Kartosuwirjo.

Dua kutub sejarah dan ideologi berseberangan itu hingga saat ini masih terus bertarung hingga menimbulkan korban jiwa. Bahkan martir bom dari kelompok NII terus melawan dengan metode dan aksi yang semakin tahun eskalisinya meningkat. Sampai kapan?. Saya tidak tahu. [ted]

Tag : bom surabaya

Komentar

?>