Jum'at, 27 April 2018

Seharusnya Khofifah Menang Mudah di Pilgub Jatim 2018

Senin, 16 April 2018 09:55:53 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Seharusnya Khofifah Menang Mudah di Pilgub Jatim 2018

SEHARUSNYA KHOFIFAH menang mudah di Pilgub Jatim 2018. Banyak modalitas yang mendukung atau bisa mengantarkan bagi kemenangan Khofifah Indar Parawansa (lahir di Surabaya, 19 Mei 1965; umur 53 tahun) untuk menduduki kursi Jatim 1 alias Gubernur Jawa Timur.

Khofifah sudah dua periode mengikuti ajang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim. Keikutsertaan pada tahun 2008 dan tahun 2013. Pada dua periode itu, meskipun kalah, Khofifah mendapatkan suara sangat besar. Selalu runner up. Selalu nyaris menang. Kekalahan Khofifah bahkan harus ditentukan melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Pengalaman nyaris menang ini tentu sangat berharga bagi Khofifah dalam pertarungan di Pilgub Jatim 2018. Gampang-gampangannya, walau tidak kampanye pun, Khofifah sudah dikenal akrab oleh masyarakat Jawa Timur. Popularitas sudah sangat melekat. Khofifah tinggal merawat dan menambah jumlah konstituen untuk memastikan kemenangan.

Dua periode sebelumnya, beberapa kalangan menilai, Khofifah kalah karena tidak didukung oleh pasangan yang tepat. Dua pendamping sebelumnya memang bukan sosok populer. Sehingga, beberapa pengamat menilai, tidak signifikan dalam menambah jumlah perolehan suara.

Kali ini, Khofifah patut bersyukur. Dia mendapatkan pasangan tepat. Emil Elestianto Dardak (lahir di Jakarta, 20 Mei 1984; umur 34 tahun). Seorang tokoh muda yang cerdas, gagah, populer, beristrikan selebriti (Arumi Bachsin), dan berpengalaman memenangi pertarungan di Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Trenggalek.

Sebagai Bupati Trenggalek, Emil juga berpeluang menyumbang suara besar kepada Khofifah karena dia merepresentasikan wilayah kultur Mataraman. Dalam dua periode sebelumnya, wilayah Mataraman menjadi salah satu titik lemah Khofifah oleh sebab latar belakangnya yang lebih merepresentasikan kultur Santri.

Dua kali ikut Pilgub, Khofifah selalu kalah dari Pakde Karwo (Soekarwo). Kali ini, nasib sepertinya berpihak pada Khofifah. Mengapa? Karena Pakde Karwo menjatuhkan pilihan untuk mendukung Khofifah.

Atas pilihan politik Pakde Karwo itu, Khofifah sebenarnya mendapatkan keuntungan ganda. Pertama, Khofifah terhindar dari lawan berat yang telah dua kali terbukti gagal dikalahkan. Kedua, Khofifah mendapatkan suntikan pengalaman memenangi Pilgub dari Pakde Karwo.

Perpaduan antara Khofifah – Pakde Karwo ini merupakan perpaduan dua tokoh yang sama-sama pendulang suara. Bayangkan jika jumlah pendukung Khofifah dan jumlah pendukung Pakde Karwo dikumpulkan, bisa dipastikan, Pilgub Jatim 2018 sudah selesai sebelum coblosan. Jika itu terjadi, pemenang Pilgub tinggal ketok palu.

Modal lain dari Khofifah yang tidak bisa disepelekan adalah posisi dia sebagai mantan Menteri Sosial dalam Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Selama menjabat menteri, Khofifah hampir tiap minggu (biasanya hari Sabtu dan Minggu) pulang ke Surabaya. Tidak hanya pulang ke rumah, Khofifah rajin keliling Jawa Timur untuk menyalurkan bantuan Kemensos atau mambagi-bagikan kartu PKH (Program Keluarga Harapan). Kegiatan sosial ini tentu saja berpengaruh pada citra positif dari penerima bantuan kepada Khofifah.

Intensitas tinggi Khofifah untuk keliling Jawa Timur mendatangi warga dan menyalurkan bantuan, tidak bisa tidak, membuat dia memahami peta kesejahteraan masyarakat Jawa Timur. Pemahaman ini tidak hanya penting bagi pengambilan kebijakan jika nanti Khofifah terpilih sebagai gubernur tapi juga berpengaruh pada kebijakan strategi kampanye pemenangan.  Strategi kampanye Khofifah bisa lebih tepat sasaran.

Dan jangan lupa, Khofifah adalah Ketua Umum Muslimat NU (Nahdlatul Ulama). Jabatan yang dia emban selama 4 periode sejak tahun 2000 hingga sekarang. Jika tidak salah, awalnya ada aturan di AD/ ART Muslimat NU bahwa Ketua Umum hanya boleh dijabat selama 2 periode. Namun, pengurus lain rela mengubah aturan tersebut demi tetap dipimpin oleh Khofifah.

Kerelaan mengubah AD/ ART itu mengindikasikan adanya kepercayaan besar dari anggota dan pengurus Muslimat NU terhadap Khofifah. Sebuah kepercayaan yang bukan kosong makna.

Selama dipimpin Khofifah, roda organisasi Muslimat NU memang berkembang. Seluruh aspek berjalan lancar. Lembaga pendidikan Muslimat NU ada di mana-mana. Pengajian rutin digelar dari pusat kota sampai pelosok desa. Muslimat NU juga memiliki rumah sakit yang megah berdiri. Tidak hanya dari aspek sosial dan religi, aspek bisnis tergarap secara sukses.

Ketokohan yang mumpuni dari Khofifah membuat dia tidak terlalu mengandalkan mesin partai dalam dua kali Pilgub Jatim. Maka, pendukungnya tidak mempermasalahkan ketika Khofifah berganti-ganti partai utama. Pilgub Jatim tahun 2008, partai utama pendukung Khofifah adalah PPP (Partai Persatuan Pembangunan).  Tahun 2013, PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) jadi leader koalisi. Dan kali ini, tahun 2018, partai utama pendukung Khofifah adalah PD (Partai Demokrat).

Ajang Pemilihan Gubernur di Jatim tampaknya memang lebih condong ke kekuatan figur tokoh dibandingkan kekuatan suara partai politik. Terbukti, calon dua partai yang memiliki basis massa sangat besar di Jatim, yaitu PKB dan PDI (Partai Demokrasi Indonesia) Perjuangan selalu gagal menang.  Calon yang diusung PDI Perjungan selalu hanya mampu menduduki peringkat tiga, yakni mendiang Soetjipto - Ridwan Hisjam dan Bambang DH – Said Abudullah. Calon yang diusung PKB pada periode tahun 2008, Achmady - Soehartono, justru mendapat perolehan suara paling buncit.

Dari fakta-fakta di atas, Khofifah seharusnya menang mudah dalam Pilgub Jatim 2018. Tetapi ternyata faktanya tidak demikian. Berdasarkan hasil survei beberapa lembaga, elektabilitas pasangan Khofifah – Emil bersaing ketat dengan elektabilitas pasangan Saifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno (Gus Ipul Puti).

Mengapa kekuatan kedua pasangan bisa bersaing ketat? Mengapa jalan terjal masih harus dihadapi Khofifah?

Jawabannya hanya dua, mungkin. Pertama, Khofifah – Emil bersama tim pemenangannya belum memaksimalkan beragam potensi. Kedua, Gus Ipul – Puti bersama tim pemenangannya bergerak secara masif dan agresif.

Kini, coblosan Pemilihan Gubernur Jawa Timur masih sekitar 2 bulan, yaitu 27 Juni 2018. Massa mengambang atau warga yang belum menentukan piliihan juga masih cukup besar. Maka, ada waktu untuk Khofifah – Emil bersama tim pemenangan untuk memperluas jaringan sekaligus menajamkan strategi pemenangan. [but]

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>