Senin, 15 Oktober 2018

Esai Politik

Prabowo Subianto; Capres atau King Maker

Sabtu, 31 Maret 2018 15:20:12 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Prabowo Subianto; Capres atau King Maker
Prabowo Subianto, Ketua Umum DPP Partai Gerindra.

Nama Prabowo Subianto disebut-sebut sebagai penantang terkuat bagi Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 mendatang. Sejumlah lembaga survei memposisikan kedua kandidat ini secara head to head dalam kontestasi politik selama 5 tahun terakhir.

Akankah Prabowo Subianto, mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad ini, running kembali di Pilpres 2019? Setidaknya ada 2 pandangan besar terkait langkah Prabowo di Pilpres 2019.

Pertama, kubu yang memastikan Prabowo bakal running Pilpres 2019. Mereka dari kepengurusan DPD Partai Gerindra di seluruh Indonesia. Setidaknya, kepengurusan 34 DPD Partai Gerindra (tingkat provinsi) secara bulat mendukung tampilnya kembali Prabowo sebagai capres di Pilpres 2019.

Tentu mereka memiliki kalkulasi politik di balik sikap dan keputusan politiknya itu. Pencapresan Prabowo dipastikan berdampak konstruktif untuk menderek suara Gerindra di Pileg 2019, sehingga peluang politik partai ini menggantikan posisi Partai Golkar di tempat kedua hasil Pileg 2019 sangat terbuka lebar.

Pileg dan Pilpres 2019 yang berlangsung serentak diprediksi bakal menderek suara Gerindra jika Prabowo maju capres. Artinya, suara Gerindra dipastikan naik cukup signifikan, tapi kemenangan Prabowo sebagai capres peluangnya tak sebesar perkiraan kenaikan suara Gerindra.

Jika Prabowo tak maju sebagai capres, sejumlah kalangan memprediksi, kenaikan suara Gerindra tak akan signifikan. Bahkan, tak menutup kemungkinan bakal mengalami penurunan dibanding Pileg 2014. Sebab, tak ada 'orang kuat' yang bisa berfungsi sebagai vote getter dan driver politik untuk mendongkrak suara Gerindra di Pileg 2019.

Baik prediksi politik pertama dan kedua sama-sama tak mengenakkan bagi Gerindra, khususnya Prabowo Subianto, sebagai pemegang saham politik mutlak di Gerindra. Akankah Prabowo bersedia mengorbankan nama besar dan reputasinya demi kebesaran Gerindra dan membuka peluang lebih lebar dan besar bagi kader-kadernya masuk ke lembaga representasi politik, seperti DPR dan DPRD. Figur Prabowo tetap bermakna penting dan strategis bagi Gerindra, karena peluang electoral volatility Gerindra masih tinggi dibanding PDIP dan Partai Golkar.

Kedua, kubu yang lebih suka memposisikan Prabowo sebagai king maker. Tentu saja ada argumentasi kenapa Prabowo lebih baik diposisikan sebagai king maker. Prabowo terbukti sukses memenangkan 2 kali berturut-turut Pilgub DKI Jakarta: kontestasi politik paling bergengsi di tingkat provinsi di Indonesia. Pilgub DKI 2012, Prabowo memenangkan pasangan Jokowi-Ahok. Di Pilgub DKI 2017, Prabowo menghantarkan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai orang pertama dan kedua di Pemprov DKI Jakarta.

Selain itu, masih banyak pilgub dan pilkada di provinsi dan kabupaten/kota lainnya yang dimenangkan Partai Gerindra bersama mitra koalisinya. Bagi kubu kedua ini, memposisikan Prabowo sebagai king maker jauh lebih elok dan strategis bagi kepentingan Prabowo dan Gerindra di masa depan.

Di samping SBY, Prabowo termasuk mantan perwira tinggi militer yang sukses membidani dan membesarkan partai baru yang dibesutnya. Banyak mantan jenderal yang kurang dan atau kurang sukses membidani dan membesarkan partai, seperti Jenderal Purn Wiranto sebagai tokoh sentral Partai Hanura, di mana Hanura termasuk kelompok partai kecil di Indonesia. Jenderal Purn AM Hendropriyono yang memimpin PKPI justru partainya tak lolos sebagai peserta Pileg 2019. Jenderal Purn R Hartono tak sukses membangun dan membesarkan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), dan lainnya.

Bagi kubu kedua, dua kali kekalahan Prabowo di Pilpres (2009 sebagai cawapres dan 2014 sebagai capres) sudah cukup dan pil pahit tersebut jangan sampai terulang kali ketiga.

Memang, bukan hanya Prabowo yang pernah mengalami kekalahan di pilpres. Megawati Soekarnoputri juga mengalami hal serupa di tahun 1999 (Presiden dipilih MPR RI), Pilpres 2004 berpasangan dengan KH Hasyim Muzadi dan Pilpres 2009 bertandem dengan Prabowo Subianto. Jusuf Kalla (JK) pernah kalah di Pilpres 2009 ketika berpasangan dengan Wiranto. Jenderal Purn Wiranto pernah dua kali kalah, yakni di Pilpres 2004 sebagai capres berpasangan dengan Gus Solah sebagai cawapres dan di Pilpres 2009 sebagai cawapres berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Wakil Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (UI), Hurriyah, menilai Gerindra menunggu hasil Pilkada 2018 sebagai tolok ukur pencalonan Prabowo sebagai presiden. Setelah Pilkada 2018, Gerindra akan lebih mantap mengukur apakah Prabowo masih bisa dicalonkan lagi sebagai presiden. Penyebab lainnya Partai Gerindra diduga terbagi menjadi dua kubu, antara yang meminta Prabowo tetap maju sebagai capres dan yang menghendaki Prabowo di balik layar menjadi king maker. "Sejarahnya sudah kelihatan. Setiap kali Prabowo mencalonkan orang, orang itu menang," kata Hurriyah.

Sekiranya Prabowo lebih memiliki peran politik sebagai king maker, Pilpres 2019 berlangsung lebih unpredictable dibanding jika Prabowo tampil sebagai capres.

Tokoh atau figur yang di-endorsement Prabowo tak menutup kemungkinan merupakan figur yang memiliki kans politik tinggi mengandaskan ambisi politik Jokowi dan partai-partai pengusungnya meneruskan 5 tahun kedua kepemimpinannya di jagat politik Indonesia. Kontestasi politik yang berintegritas dan demokratis selalu menyuguhkan hasil akhir bersifat unpredictable, dengan ketidakpastian cukup tinggi pula. [air]

Penulis adalah penanggung jawab beritajatim.com dan mahasiswa program Magister Ilmu Politik FISIP, Unair Surabaya.

Tag : politik

Komentar

?>