Senin, 18 Juni 2018

Esai Politik

Dari Baiat Kiai hingga Perang Urat Syaraf di Medsos

Jum'at, 30 Maret 2018 10:21:31 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Dari Baiat Kiai hingga Perang Urat Syaraf di Medsos
Samsul Arifin, wartawan beritajatim.com di Pamekasan Madura. [Foto: Samsul/bj.com]

Memasuki hari ke-43 masa kampanye politik Pilkada Pamekasan, dua pasangan calon bupati dan wakil bupati Pamekasan Badrut Tamam dan Raja'e (Berbaur) maupun Kholilurrahman dan Fathor Rohman (Kholifah) mulai getol mencari pengaruh dukungan dari berbagai elemen masyarakat.

Kedua paslon bersama tim pemenangan masing-masing juga cenderung 'memanfaatkan' berbagai peluang dan kesempatan demi kesuksesan jagoan yang diusung. Mereka juga harus berjuang maksimal demi mengantarkan para kandidat ke singgasana tertinggi sebagai bupati dan wakil bupati di daerah berslogan Bumi Gerbang Salam, periode 2018-2023.

Memang saat ini masih menyisakan waktu 3 bulan 3 pekan dan 5 hari untuk mencapai tahapan pesta demokrasi lima tahunan tingkat kabupaten yang dijadwalkan digelar Rabu (27/6/2018) mendatang.

Namun persaingan sengit di jajaran elit sudah mulai memanas, sekali pun suasana di tatanan pendukung terbilang 'cukup kondusif'.

Namun perang urat saraf melalui 'sentilan-sentilun' di berbagai jejaring media sosial (medsos) di antara kedua pendukung mulai memberikan efek dari panasnya persaingan di tingkat elit.

Bahkan tidak jarang respon antarpendukung juga terbilang variatif, santai, argumentatif hingga respon serius.

Kondisi tersebut juga memunculkan berbagai penafsiran beragam dari beberapa pihak yang cenderung apatis terhadap konstalasi politik, hanya saja kondisi seperti itu rill dan nyata.

Sebagian di antara mereka juga ada yang menilai status medsos maupun wacana yang dilempar hanya sebatas 'onani' semata.

Satu sisi, para paslon justru sangat serius untuk mendapatkan dukungan. Mereka bersama tim pemenangan gencar melakukan sosialisasi melalui berbagai macam forum, baik yang diagendakan partai politik (parpol) pengusung maupun tim pendukung dan simpatisan.

Visi misi dan gagasan program dijadikan sebagai sarana konkrit menarik perhatian maupun simpati masyarakat. Promo besar-besar pun tampak selalu terdengar di setiap momentum kampanye yang sebagian besar dikemas dalam wadah silaturrahim.

Bahkan tidak jarang, pasangan calon juga melakukan 'baiat massal' para pendukung maupun simpatisan agar tetap solid dan tidak berpindah dukungan saat proses pemilihan berlangsung. Pembaiatan dilakukan dari dari satu tempat ke tempat lain, dari desa ke desa lain berdasar basis massa.

Tidak hanya itu, para tokoh masyarakat atau bahkan para ulama dan kiai juga sudah mulai menyatakan dukungan all out untuk paslon tertentu.

Mereka pun mulai 'turun gunung' demi menjadi 'perisai' sekaligus gresrut massa bagi paslon yang memang sangat berharap dukungan meraup suara di momentum Pilkada 2018.

Namun secara umum, mereka pun juga memiliki alasan berbeda mendukung masing-masing paslon pada momentum pilkada. Sebab, adakalanya hal itu tidak murni hanya alasan politik semata. Alasan lain nan jauh lebih penting juga diselipkan sebagai dinamika politik khas Pamekasan.

Namun tidak kalah penting, keberadaan para tokoh masyarakat, ulama dan kiai dalam pusaran politik semestinya harus menciptakan suasana kondusif dalam pelaksanaan pilkada serentak. Seperti yang disampaikan salah satu akademisi Pamekasan Mohammad Kosim, beberapa waktu lalu.

"Pada dasarnya tidak etis jika kita lepas tangan dan memasrahkan penuh kepada penyelenggara maupun pihak pengawas maupun keamanan dalam mewujudkan pilkada damai, tapi pesta demokrasi ini juga harus didukung oleh semua elemen masyarakat secara umum. Termasuk keterlibatan para tokoh masyarakat maupun para ulama," kata Mohammad Kosim.

Bahkan peran mereka sangat vital menciptakan suasana kondusif selama dalam tahapan pilkada, tidak terkecuali dalam momentum kampanye yang cenderung saling klaim ataupun saling serang di antara masing-masing pendukung paslon.

"Ulama dan tokoh masyarakat harus menjadi contoh baik dalam menciptakan suasana kondusif sekaligus mewujudkan pilkada damai. Jangan sampai justru sebaliknya dan menjadi sumber konflik," imbuhnya.

"Para ulama harus meyakinkan umat bahwa pilkada aman dan damai menunjukkan bahwa kita adalah bangsa bermartabat, religius dan cinta damai. Dalam hal ini ulama harus menyakinkan umat agar jangan langsung percaya berbagai berita hoax (palsu), khususnya seputar pelaksanaan pilkada melalui berbagai pemberitaan yang cenderung adu domba. Sebab hal itu justru bisa menjadi sumber konflik," jelasnya.

Dari itu pihaknya berharap agar seluruh elemen masyarakat, khususnya para ulama maupun tim sukses masing-masing calon agar sama-sama komitmen menciptakan suasana kondusif demi mewujudkan pilkada damai seperti yang sudah dideklarasikan oleh KPU Pamekasan, beberapa waktu lalu.

"Mari kita bersama-sama kita menghindari kampanye negatif-provokatif, hindari politik uang, hindari politisasi SARA dan hormati pilihan orang lain yang berbeda. Jika menang tentunya harus merangkul semuanya, sekaligus merealisasikan janji-janji kampanye. Jika kalah harus lapang dada dengan mengajak para pendukung menerima kekalahan," pungkasnya.

Pada pelaksanaan pilkada Pamekasan, tercatat hanya dua paslon yang akan bersaing untuk menjadi bupati dan wakil bupati. Masing-masing paslon Berbaur yang didukung PAN, Partai Gerindra, PKS dan PKB. Serta paslon Kholifah yang didukung Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai NasDem dan PPP. [pin/air]

Tag : politik

Komentar

?>