Kamis, 26 April 2018

Solusi Tiket dan (Sekali Lagi) Surat Presiden Persebaya

Sabtu, 17 Maret 2018 15:07:22 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Solusi Tiket dan (Sekali Lagi) Surat Presiden Persebaya

Manajemen Persebaya Surabaya menghadapi protes dari sebagian Bonek terkait harga tiket untuk pertandingan persahabatan Blessing Game melawan Sarawak FA, Malaysia, Minggu (18/3/2018). Manajemen memancang harga Rp 50 ribu untuk kelas fans dan Rp 250 ribu untuk kelas Super Fans.

Ada beberapa penilaian Bonek yang saya rangkum dari pendapat yang bertebaran di media sosial soal harga tiket. Pertama, harga tiket terlampau mahal untuk ukuran pertandingan uji coba dan tidak memperhatikan beragamnya kemampuan ekonomi Bonek. Kedua, harga tiket tidak bersahabat dengan kalangan pelajar. Ketiga, harga tiket Persebaya yang mahal tidak sebanding dengan ikhtiar manajemen mendatangkan pemain berkualitas. Salah satu yang mengecewakan Bonek adalah kegagalan Persebaya membawa pulang pemain kesayangan mereka, Andik Vermansah, karena terbentur masalah nominal kontrak.

Keempat, belum berimbangnya benefit yang diperoleh Bonek dengan harga tiket tersebut (selain menonton Persebaya). Kelima, kualitas kenyamanan menyaksikan Persebaya masih belum sesuai harapan.

Dua komunitas tribun yang berpengaruh di Surabaya, Green Nord dan Tribun Kidul, sama-sama sepakat mengosongkan tribun utara dan selatan yang biasa mereka tempati sebagai tanda protes kepada manajemen dan solidaritas kepada sesama Bonek yang tak mampu membeli tiket.

Dalam industri sepak bola modern, klub dikelola seperti perusahaan. Sebuah klub mengandalkan pemasukan dari sponsor (utama maupun bukan), penjualan tiket pertandingan, penjualan merchandise resmi, pembagian hak siar televisi. Selain itu juga ada pemilik klub yang mengandalkan pembiayaan klub dari uang hutang seperti Glatzer (Manchester United) yang sempat bikin fans meradang.

Tak ada patokan soal harga tiket pertandingan sebuah klub sepak bola. Klub-klub Liga Inggris juga memiliki harga tiket beragam. Musim 2017-2018, tiket musiman (terusan) kandang Huddersfied termurah yakni 100 pound, dan Arsenal termahal yakni 891 pound. Sementara untuk tiket untuk orang dewasa paling murah adalah Liverpool, yakni 9 pound dan Chelsea yang termahal yakni 47 pound. Jumlah suporter, kapasitas stadion, gengsi klub, dan kemampuan sosial ekonomi masyarakat setempat dikombinasikan dengan nominal pengeluaran operasional klub menjadi pertimbangan penentuan harga tiket.

Jadi berapa harga tiket yang tepat untuk pertandingan Persebaya? Posisi Surabaya sebagai kota dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di Indonesia tentu menjadi pertimbangan. Perspektif manajemen dan kelompok yang kontra harus sama-sama memiliki pijakan argumentatif yang jelas dengan menggunakan survei pasar. Survei ini akan mengakhiri polemik soal kemampuan ekonomi suporter Persebaya. Selain itu, harga tiket yang diberlakukan Persebaya bisa dibandingkan dengan harga tiket klub di kota lain. Rentang jarak harga tiket yang terlampau murah atau terlampau mahal sama-sama merugikan Persebaya.

Manajemen saatnya menerapkan kategorisasi dan zonasi tiket. Mengacu pada industri sepak bola Eropa, kategorisasi meliputi tiket untuk dewasa dan anak-anak, serta penyandang disabilitas. Dalam konteks Persebaya, bolehlah ditambah kategori pelajar.

Zonasi mengacu pada posisi kursi di tribun yang terkait dengan tingkat kenyamanan menyaksikan pertandingan. Harga tiket termurah biasanya adalah kursi di tribun belakang gawang dan agak jauh dari lapangan. Setiap zona memiliki harga masing-masing, dan penonton bisa memiliki kebebasan memilih zona sesuai selera dan kekuatan kocek mereka. 

Kategorisasi dan zonasi tiket mengedepankan aspek keadilan. Namun untuk merealisasikannya aspek transparansi dan kejujuran sangat penting. Manajemen harus memastikan sebuah sistem penjualan tiket yang tepat sasaran. Sistem itu harus mengeliminasi calo semaksimal mungkin dan sekaligus memastikan bahwa tiket kategori anak-anak dan pelajar yang lebih murah benar-benar tidak jatuh ke tangan yang keliru.

Bukan hanya itu. Bonek juga harus jujur dan tidak memanfaatkan disparitas harga kategori tiket ini untuk keuntungan pribadi. Jika ini dilakukan, kita tinggal sama-sama menanti keruntuhan Persebaya sebuah klub profesional. Profesionalisme klub selayaknya ditopang juga oleh para suporter yang selalu menyatakan cinta sepenuh hati.

Setelah kategorisasi dan zonasi diterapkan berdasarkan hasil survei pasar, Bonek juga harus mulai memandang Persebaya bukan lagi sebuah klub yang mengandalkan amal dan belas kasih (charity). Siapapun yang mengelola Persebaya, suka atau tidak, memang harus memiliki motif laba. Seliberal atau sesosialis apapun sebuah klub sepak bola profesional, aspek keuntungan tetap menjadi salah satu elemen utama dalam sebuah industri. Tanpa aspek itu, tak akan ada orang yang mau mengelola Persebaya dengan dana pribadi. Bisnis tetaplah bisnis. Bonek hanya perlu memastikan syahwat bisnis untuk meraup keuntungan tak menghancurkan Persebaya, sebagaimana yang dulu terjadi pada Liverpool saat dikelola Gillett-Hicks maupun Manchester United yang dikelola Malcolm Glazer dengan duit utang di bank.

Bonek sudah berkorban untuk mempertahankan eksistensi klub ini. Namun eksistensi saja tidak cukup, jika kemudian Persebaya justru tertatih-tatih karena kekurangan dana. filosofi 'No Ticket No Game' yang dikampanyekan Bonek sendiri selama ini sebenarnya memiliki pemaknaan luas. Salah satunya adalah berikhtiar membeli tiket pertandingan dengan jalan mengorbankan hal-hal sederhana dalam hidup: para pelajar menahan diri untuk tidak menghabiskan uang saku dan menabung untuk membeli tiket, mengurangi jatah uang pembelian rokok untuk dialihkan ke pembelian tiket, atau ikhtiar lain yang sebenarnya sudah dikenal pada masa-masa awal Bonek terbentuk. Cerita seorang Bonek menggadaikan sepeda, celana, atau barang lainnya untuk bisa menonton Persebaya bukanlah mitos atau cerita pengantar tidur. Itulah yang membedakan suporter dengan customer, karena hanya suporter yang rela berkorban untuk sesuatu yang dia sukai.

Surat Presiden Persebaya (Lagi)

Presiden Persebaya Azrul Ananda kembali menulis surat untuk menanggapi kontroversi harga tiket. Ini kali kedua ia merilis surat di situs resmi klub untuk menjawab tema kontroversial, setelah ribut-ribut urusan kontrak Andik Vermansah.

Sekali lagi, sebagaimana surat terkait Andik, Azrul sama sekali tak memberikan solusi kongrit dan justru memicu kemarahan baru di kalangan Bonek. Setidaknya ada dua pernyataan yang memunculkan amarah sekaligus tanda tanya.

(1) Tahun lalu adalah tahun kebanggaan saya pribadi. Bisa membawa Persebaya kembali ke Liga 1. Dan tahun lalu saya merasa beruntung, ruginya Persebaya masih di kisaran Rp 9 miliar (dan saya tidak menghitung biaya pelunasan gaji-gaji tahun-tahun sebelumnya).

(2) Kalau memang tidak ingin mendukung program Persebaya, tidak apa-apa. Supporter, di dunia mana pun, dalam definisi bisnis apa pun, adalah customer. Ada customer yang membalas jasa/barang menggunakan uang, ada yang tidak perlu menggunakan uang.

Saya tidak bisa memahami mengapa di antara jutaan kalimat dan kata Azrul memilih dua pernyataan tersebut. Kerugian Rp 9 miliar tentu bukan angka yang sedikit dan mengundang tanda tanya, mengingat sebagian besar pertandingan Persebaya (resmi maupun uji coba) selalu dipenuhi penonton. Saya tak bisa menerka mengapa Azrul berkeluh kesah. Bisnis sepak bola (terutama di negara seperti Indonesia) jelas bukan bisnis roti yang berpotensi menghasilkan profit besar pada tahun pertama. Itu pun sebenarnya sudah disadari putra bos Jawa Pos Dahlan Iskan ini dalam video paparan soal manajemen sepak bola di Youtube. 

John W. Henry, pemilik Liverpool FC, baru bisa memulihkan kesehatan finansial klub tersebut pada tahun kelima. Fenway Sport Group (FSG) mencatatkan keuntungan 60 juta pound pada 2015, tertinggi di Liga Primer Inggris. Sebelumnya, di tangan Gillett dan Hicks, Liverpool terpuruk dalam kubangan utang.  

Pernyataan kedua yang menyamakan Bonek dengan 'customer' dalam dunia bisnis umumnya jelas menyakitkan hati. Bisnis sepak bola adalah bisnis unik. Kapitalisme berpadu dengan romantisme. Klub sepak bola (terutama di Indonesia) rata-rata dibentuk tidak dengan motif mendatangkan profit sebagaimana perusahaan biasa. Mayoritas klub sepak bola di dunia dibentuk karena kebutuhan dan kepentingan komunitas masyarakat lokal. Glasgow Celtic dibentuk oleh Romo Wilfried karena keinginan masyarakat Katolik di sana. Ada pula klub di Jerman yang dibentuk oleh kaum buruh untuk mengisi waktu luang. Di Indonesia, kita tahu, Persebaya dibentuk oleh klub-klub amatir lokal Surabaya sebagai alat perjuangan melawan diskriminasi pemerintah kolonial Belanda.

Motif dan latar belakang terbentuknya klub-klub sepak bola tersebut yang akhirnya memunculkan keterikatan emosi, nostalgia, dan sejarah dengan masyarakat setempat turun-temurun. Klub sepak bola sudah menjadi bagian dari hidup mereka, bagian dari sejarah kota, jauh sebelum kaum pemodal datang dan pergi. Industrialisasi membuat sepak bola menjadi lebih komersial. Namun saya belum pernah mendengar presiden atau pemilik klub di Eropa yang berani menyebut terang-terangan suporter tak ubahnya customer.

Loyalitas suporter terhadap produk atau komoditas (jika memang kita terpaksa menggunakan terminologi bisnis) jelas melebihi customer biasa. Para customer produk obat penyembuh cacing tak akan berunjuk rasa mati-matian jika obat yang dibelinya tak lagi manjur, kecuali mereka keracunan. Paling banter mereka akan membeli merek lain.

Namun kita tak akan menemukan suporter sepak bola seperti Bonek akan berpindah ke lain klub, hanya karena kecewa. Para fans West Ham United menginvasi lapangan saat pertandingan dan memprotes David Gold dan David Sullivan, dua pemilik klub, karena terpuruknya prestasi 'The Hammers'. Mereka masih menyanyikan lagu I'm Forever Blowing Bubbles dan bukannya pindah haluan menjadi suporter Chelsea, klub London lainnya yang lebih mentereng.

Suporter memiliki identitas dan kultur lebih kuat daripada customer. Dan Persebaya tak akan ada jika selama ini hanya ditonton sekumpulan customer yang pasrah saat klub tersebut terlibat konflik dengan PSSI. Syukurlah Bonek bukan customer, dan saya percaya, Azrul juga bersyukur sedalam-dalamnya. [wir] 

 

Tag : persebaya

Komentar

?>