Sabtu, 18 Agustus 2018

Man United, Liverpool, dan Tonggak ke-200

Sabtu, 10 Maret 2018 11:53:14 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Man United, Liverpool, dan Tonggak ke-200

Akhirnya, pertandingan ke-200. Sebuah tonggak sejarah baru, Milestone. Old Trafford, Manchester, 10 Maret 2018. United menghadapi Liverpool. Dua merah, dua kota, terpisah jarak 30 mil. Derbi kawasan barat laut Inggris: sebuah kawasan yang disebut Simon Hughes sebagai 'cradle of English football'.

Derbi ini sudah berusia 122 tahun, hampir sama tuanya dengan usia Liverpool FC. Ia adalah bagian dari narasi sejarah klub yang berdiri pada 15 Maret 1892 tersebut. Terselenggara lima hari sebelum hari jadi Liverpool, kemenangan atas rival abadi akan jadi kado paling apik yang bisa dipersembahkan Jurgen Klopp untuk warga Merseyside.

Dari aspek kesejarahan, memenangkan derbi ini tak akan mudah bagi Liverpool. Rekor keseluruhan menunjukkan, The Reds selalu kesulitan mengalahkan United. Dari 199 pertandingan dalam semua ajang, Liverpool memetik 65 kemenangan dan mencetak 251 gol, United memenangkan 79 pertandingan dan mencetak 272 gol, dan 55 pertandingan berakhir seri. Ini artinya jika dirata-rata, maka dalam satu pertandingan tercetak 2,63 gol, dengan kata lain pertandingan selalu berjalan ketat.

Old Trafford adalah tempat yang sulit untuk ditaklukkan. Dalam sepuluh lawatan terakhir ke Old Trafford, Liverpool hanya menang sekali, seri dua kali, dan kalah tujuh kali. Mereka hanya bisa mencetak 10 gol dan kebobolan 17 gol. Kemenangan terakhir adalah saat Brendan Rodgers masih menjadi manajer, pada 16 Maret 2014 dengan skor 3-0.

Hasil 'milestone games' juga tidak bersahabat dengan Liverpool. Dalam pertandingan pertama pada 28 April 1894 di Ewood Park, Blackburn, Liverpool menang 2-0. Namun saat pertandingan ke-50, di Old Trafford pada 6 Mei 1939, Liverpool ditekuk 0-2. Begitu juga saat pertemuan ke-100 pada 1 Oktober 1977 di Old Trafford, Liverpool kalah dengan skor yang sama.

Liverpool menjamu United pada pertandingan ke-150 pada 6 Desember 1997 di Anfield. Lagi-lagi Liverpool kalah 1-3. Tentu saja, dalam pertemuan milestone ke-200 akhir pekan ini, Liverpool harus menang, atau mereka masih harus menanti paling tidak 20 tahun lagi untuk bertemu dengan United pada milestone ke-250.

Kalah dalam aspek historis, Liverpool berpeluang dalam aspek taktik. Manajer Liverpool Jurgen Klopp adalah salah satu pelatih yang punya senjata untuk meredam ideologi pragmatis Manajer Man United Jose Mourinho. Keduanya sudah bertemu delapan kali, dan Klopp sudah tiga kali memenangkan pertandingan dan satu kali kalah. Empat pertandingan lainnya berakhir imbang. Agregat gol adalah 12-8. Rekor Klopp sebagai pelatih saat bertemu Man United juga tidak buruk: 1 kali menang, 4 kali imbang, 1 kalah dengan agregat gol 4-3.

Performa dua tim sejak tahun baru hingga medio Maret 2018 ini juga relatif berimbang. The Reds sudah mencatatkan 8 kemenangan, 2 hasil imbang, dan 2 kekalahan di semua kompetisi. Mereka menjadi satu-satunya tim yang mengalahkan Man City di kompetisi Liga Primer Inggris. Sementara itu, Man United sejak awal 2018 hingga jelang pertandingan menjamu Liverpool pekan ini sudah mencatatkan 9 kemenangan, 1 kali imbang, dan 2 kekalahan. 

Publik bertanya-tanya, apakah Mourinho akan berani bermain terbuka menghadapi trisula Liverpool Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino, ataukah akan kembali memasang taktik parkir bus sebagaimana pertandingan sebelumnya di Anfield yang berakhir imbang 0-0.

Dalam 12 pertandingan sepanjang tahun 2018, Mourinho setidaknya sudah mencoba tiga formasi yakni 4-2-3-1 (5 pertandingan), 4-1-4-1 (3 pertandingan), dan 4-3-3 (4 pertandingan). Dari ketiganya, justru formasi 4-3-3 yang ofensif yang lebih banyak menghasilkan kemenangan. Dengan formasi ini, United bisa mencetak 10 gol dan berhasil menjaga gawang De Gea sama sekali tidak kebobolan. Sementara Mou justru kalah saat menggunakan formasi 4-2-3-1 saat bermain tandang melawan Tottenham Hotspur (0-2) dan Newcastle United (0-1).

Namun apakah kemudian berarti 4-3-3 adalah formasi paling mujarab yang bakal dipakai untuk membendung Liverpool? Tentu menarik menanti keyakinan hati Mourinho. Man United menang dengan formasi 4-3-3 saat berhadapan dengan klub yang memiliki level di bawah mereka: Everton (2-0), Derby County (2-0), Yeovil Town (4-0), dan Huddersfield (2-0).

Liverpool jelas tidak bisa disamakan dengan empat klub tersebut. Lini serang Liverpool sedang menggila. Dari 12 pertandingan di semua kompetisi pada awal 2018, mereka sudah mencetak 28 gol dan kebobolan 12 gol. Sementara Man United mencetak 19 gol dan kebobolan 6 gol. Konsentrasi dan motivasi Liverpool juga sedang di atas angin setelah berhasil lolos ke babak perempat final Liga Champions Eropa. Sementara United masih harus berbagi konsentrasi dengan pertandingan melawan Sevilla di Old Trafford dalam babak 16 Besar Liga Champions pekan berikutnya.

Memarkir bus adalah pilihan aman bagi Mourinho sembari mengintip kemungkinan mencetak gol dari serangan balik atau kelemahan lini pertahanan Reds sendiri. Liverpool tidak terlampau suka berhadapan dengan klub yang bertahan total. Lagipula kini United sedang unggul dua angka atas Liverpool di klasemen sementara.

Mourinho bisa belajar dari Spurs yang memasang tiga bek saat berhadapan dengan Liverpool di Wembley pada putaran pertama Liga Primer. Spurs menang 4-1 dan berhasil memadamkan para penyerang lawan. Apalagi Mou punya Jesse Lingard yang beberapa kali mencetak gol di masa krusial, atau Alexis Sanchez yang juga memiliki kecepatan.

Namun tentu saja menduplikasi Spurs juga tak akan mudah. Sejak kekalahan 1-4 itu, Klopp melakukan pembenahan dan sejak saat itu Liverpool menjadi lebih sulit dikalahkan. Melawan United, Klopp hampir bisa dipastikan tetap akan menekan dengan formasi 4-3-3. Sejak melatih Liverpool, ia sudah tak terlalu terpaku pada formasi 4-2-3-1 yang biasa digunakannya saat menangani Borussia Dortmund di Bundesliga. Sepanjang tahun 2018, dari 12 pertandingan, sebanyak 9 pertandingan di antaranya menggunakan formasi 4-3-3. Klopp pernah dua kali menjajal 4-2-3-1 saat menang 2-1 atas Burnley dan Everton.

Lini serang Liverpool dalam kondisi siap. Para pemain bertahan United harus bersiap menghadapi teror Salah dan Mane yang punya kecepatan di sisi sayap. Kebiasaan Antonio Valencia merangsek ke depan lewat sayap untuk membantu serangan bisa berisiko kena serangan balik kilat Salah-Mane. Belum lagi, jika Oxlade Chamberlain diturunkan pula oleh Klopp. Maka barisan tengah dan depan Reds akan seperti mobil Formula 1.  

Sementara itu penyerang United Romelu Lukaku akan berhadapan dengan bek tengah asal Belanda, Virgil van Dijk, yang banyak mendongkrak performa lini belakang Liverpool. Sejak resmi pindah dari Southampton pada awal tahun 2018, ia sudah bermain dalam delapan pertandingan, dengan lima pertandingan di antaranya dimenangkan Liverpool. Dua kekalahan dialaminya dari dua tim yang memainkan sepak bola bertahan, yakni Swansea (0-1) dan West Brom (2-3).

Jika Lukaku diinstruksikan memainkan bola-bola atas, Van Dijk akan menjadi tantangan terberat. Dari lima pertandingan, Van Dijk 33 kali memenangkan bola di daerah aerial dan 43 kali memenangkan duel melawan pemain lawan.    

Loris Karius juga mulai serius di posisi penjaga gawang. Di Liga Champions, dia mencatatkan lima clean sheets alias tak pernah kebobolan sama sekali, terbaik di antara semua penjaga gawang yang tampil di ajang tersebut. Fans Liverpool berharap dia bisa mengikuti jejak kiper Man United David de Gea yang semula diremehkan pada tahun pertama di Liga Inggris, namun belakangan menjadi tembok yang sulit ditembus.

Jadi? "Kami tidak akan pernah bermain hanya untuk satu poin seperti United," kata Dejan Lovren, bek tengah Liverpool. [wir]

foto: metro.co.uk
Tag : sepakbola

Komentar

?>