Jum'at, 22 Juni 2018

Tim Liverpool Tertajam dalam Sejarah Piala Champions

Jum'at, 16 Februari 2018 20:26:51 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Tim Liverpool Tertajam dalam Sejarah Piala Champions

"Liverpool adalah salah satu tim yang paling akhir ingin dihadapi tim mana pun di Eropa."

Mantan bintang Liverpool dan Manchester United, Michael Owen, mengatakannya setelah Liverpool menghantam Fc Porto 5-0 (2-0) di kandang klub Portugal tersebut, dalam pertandingan pertama fase knockout Liga Champions 2017-2018. 

Owen tidak bicara tanpa dasar. Pelan tapi pasti, Jurgen Klopp telah mengubah Liverpool menjadi 'mesin gegenpressing' yang tajam saat bermain di kandang maupun tandang. Di level domestik, Liga Primer Inggris musim 2017-2018, Liverpool berada di peringkat ketiga klasemen sementara dengan nilai 54 setelah menjalani 27 pertandingan. The Reds terpaut 18 angka dengan pemuncak klasemen Manchester City dan hanya dua angka dengan Manchester United.

Liverpool adalah tim yang paling sedikit kalah setelah Man City, yakni tiga kali. Itu pun di luar kandang, yakni melawan Tottenham Hotspur (1-4 di Wembley), melawan Man City (0-5 di Ettihad), dan Swansea (0-1 di Liberty). Jordan Henderson dan kawan-kawan sudah mencetak 61 gol, terbanyak kedua setelah Man City (79 gol). Mereka tak pernah kalah di Anfield sepanjang Liga Primer musim ini. Rata-rata gol yang mereka ceploskan ke gawang lawang per pertandingan adalah 2,26.

Duet Mohamed Salah dan Roberto Firmino masing-masing sudah membukukan 22 dan 12 gol. Salah berada di posisi kedua pencetak gol terbanyak Liga Inggris di bawah Harry Kane dari Tottenham Hotspur yang mengemas 23 gol. Dalam urusan pengoper berujung gol (asis) terbanyak, Salah berada di posisi puncak di tim Liverpool, yakni tujuh asis.

Di level Eropa, Liverpool lebih ganas. Mereka sudah menjalani sembilan pertandingan, mulai dari play-off melawan Hoffenheim hingga pertandingan pertama Babak 16 Besar melawan Porto, dan sudah mengantongi 34 gol, kebobolan hanya 9 gol. Ini artinya rata-rata gol yang mereka cetak ke gawang lawan adalah 3,78. Jauh lebih impresif daripada di level kompetisi domestik.

Firmino memimpin daftar ujung tombak dengan 8 gol, diikuti Mohamed Salah dengan 7 gol, dan Sadio Mane dengan 6 gol. Satu pencatat gol terbanyak lagi adalah Coutinho dengan lima gol sebelum pergi ke Barcelona dalam bursa transfer musim dingin tempo hari.

Terakhir, Liverpool mencetak 34 gol adalah saat Liga Champions 2007-2008. Namun itu diperoleh setelah menjalani 14 pertandingan hingga babak semifinal. Artinya rata-rata gol yang dicetak per pertandingan saat itu hanya 2,43.

Di bawah Klopp, tim ini adalah tim tertajam yang pernah dimiliki Liverpool sepanjang sejarah Piala Eropa (format lama dan baru). Saat menjadi juara Liga Champions 2005, sejak babak awal hingga final, Steven Gerrard memainkan 15 pertandingan dan mencetak 20 gol. Ini artinya rasio gol mereka hanya 1,34 per pertandingan. Ini rasio gol terjelek dibandingkan empat tim Liverpool lain yang pernah menjadi juara Piala Eropa.

Saat Joe Fagan membawa Liverpool menjuarai Piala Eropa pada 1983-1984, Si Merah mencetak 16 gol dalam 9 pertandingan atau memiliki rasio 1,78. Musim 1980-1981, Bob Paisley membawa Liverpool juara dengan memainkan 9 pertandingan dan mencetak 24 gol atau rasio 2,67 gol per pertandingan. 

Sebelumnya, saat menjuarai Piala Eropa 1976-1977, Liverpool menjalani 9 pertandingan dan mencetak 22 gol atau memiliki rasio 2,44. Musim 1977-1978, Liverpool kembali menjadi juara setelah menjalani tujuh pertandingan dan mencetak 17 gol atau rasio 2,43.

Pertanyaannya, apakah mereka akan menjadi yang terbaik? Sebagian fans menyebut Liverpool saat ini memiliki lini serbu terbaik sejak 1980-an. Masalahnya, menjadi tim tertajam tak akan banyak bermakna tanpa diikuti gelar juara. Steven Gerrard boleh jadi memimpin tim Liverpool terburuk dalam urusan sepak bola ofensif pada 2005. Namun mereka dikenang karena berhasil mengangkat trofi dalam sebuah pertandingan final yang menegangkan di Istanbul.

Tak ada yang ingin dikenang seperti Spice Boys di medio 1990-an. Spice Boys adalah sebutan untuk pemain-pemain muda Liverpool di bawah asuhan manajer Roy Evans. Mereka memainkan sepak bola ofensif yang menyenangkan untuk dilihat. Robbie Fowler, Steve McMannaman, Jason McAteer adalah alumnus akademi Liverpool yang memberikan harapan untuk lahirnya sebuah dinasti baru Merseyside Merah. Namun tim Evans lebih dikenang karena publikasi bombastis soal kelakuan ugal-ugalan khas anak muda. Evans gagal menghadirkan gelar juara bergengsi di hadapan publik Anfield.

Bagaimana peluang Jurgen Klopp membawa tim tertajamnya ini menjadi juara? Owen menyebut mereka kuda hitam. Sejumlah pengamat tak berani memandang sepele. Tren inkonsisten Liverpool di Liga Primer ternyata tidak menular ke level Eropa. Sejauh ini, mereka memang sudah kebobolan 9 gol dari 9 pertandingan atau satu gol per pertandingan. Namun, sebelum pertandingan melawan Porto, mereka menunjukkan pertahanan yang kokoh sebagai tim yang paling sedikit menderita tembakan yakni 7,5 per pertandingan.

Ini menunjukkan bahwa tim lawan lebih mengalami kesulitan melepaskan tembakan ke arah gawang Liverpool dibandingkan dengan Juventus (7,8 tembakan), Barcelona (8 tembakan), Man City (8.8 tembakan), dan PSG (10 tembakan). Garis pertahanan tinggi yang dipasang Klopp membuat tim lawan kesulitan masuk ke zona pertahanan Liverpool. Namun Liverpool hanya bisa mencatat empat rekor clean sheet.

Capaian barisan pertahanan ini tak cukup melegakan, jika dibandingkan tim-tim Liverpool lain sepanjang sejarah Piala Eropa. Sama-sama memainkan 9 pertandingan, tim juara 1983-1984 hanya kebobolan 3 gol. Begitu juga tim juara 1980-1981 yang kebobolan 4 gol, tim juara 1976-1977 yang kebobolan 5 gol dari 9 pertandingan.

Tim Liverpool dengan rasio kebobolan yang sama dengan tim Jurgen Klopp adalah tim juara 1977-1978 yang kebobolan 7 gol dalam 7 pertandingan dan tim 2008-2009 yang kebobolan 12 gol dalam 12 pertandingan. Tim terakhir ini akhirnya mentok pada babak perempat final.

Jika dilihat dari pertandingan terakhir melawan Porto, ikhtiar Klopp memperbaiki barisan pertahanan mulai menunjukkan hasil. Kiper Loris Karius mulai tak mudah panik. Kehadiran Virgil Van Dijk membuat benteng Liverpool lebih kalem. Tentu saja, atas nama sepak bola yang menghibur dan penghormatan terhadap filosofi sepak bola menyerang, publik layak berharap Jurgen Klopp menghadirkan happy ending dalam Liga Champions musim ini. [wir]  

Tag : sepakbola

Komentar

?>