Selasa, 22 Mei 2018

Jombang yang Tidak Kau Kenal

Senin, 12 Februari 2018 07:40:09 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Jombang yang Tidak Kau Kenal
foto/ilustrasi

Jombang kembali membetot perhatian, baik di tingkat lokal maupun nasional. Bukan karena ada tokoh 'nyleneh' yang muncul di kota santri itu. Bukan pula ada kehebohan yang dikumandangkan oleh para pemuka agama.

Namun ini soal wajah Jombang yang lain. Jombang yang tidak kita kenal. Jombang yang terjangkit virus korupsi. Tentang bupatinya yang terkena OTT (operasi tangkap tangan) KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Tentang pejabat yang menggangsir uang negara.

Ya, selama sepekan, pemberitaan itu terus menghiasi wajah media. Uang rakyat mengalir ke pejabat. Uang Puskemas yang membuat mereka adem panas. Tentu saja, ada pihak yang menepuk dada, jumawa. Ada pula pihak yang waspada karena takut tersangkut perkara. Jika kita mau jujur, korupsi di Jombang bukan kali ini saja. Upaya menggarong uang negara sudah berlangsung lama.

Sejak 15 tahun terakhir, sederet kasus korupsi muncul silih berganti. Satu ditebang, yang lain muncul ke permukaan. Satu ditebas, yang lain makin ganas. Tak ada ujung pangkalnya, seperti lingkaran setan. Lagi-lagi, itulah wajah Jombang yang lain. Jombang yang tidak kita kenal. Jombang yang terjangkit virus korupsi.

Tengok saja pada 2006, Kantor Depag (sekarang, Kemenag) Jombang mendidih. Sejumlah pejabatnya terlilit kasus korupsi gaji pegawai negeri. Akibat manipulasi itu, negara dirugikan setidaknya Rp1,03 miliar. Kepala Kandepag Jombang saat itu Munsyief ditetapkan sebagai tersangka. Kasus yang menyita perhatian publik ini kemudian menggelinding ke pengadilan. Vonis pun dijatuhkan.

Dua tahun berselang atau 2008, giliran kantor PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) yang didera masalah. Pelakunya juga orang dalam, yakni Kepala Bagian Keuangan PDAM Jombang Bambang Irawan. Akibat korupsi, instansi pengelola air minum itu mengalami kerugian sekitar Rp 198 juta.

Uang yang ditilep Bambang berasal dari dana pensiun karyawan PDAM dan uang setoran dari rekening pelanggan. Kasus penjarahan uang negara itu kemudian masuk ke persidangan. Bambang diganjar hukuman empat tahun penjara.

Ternyata penjara tidak membuat mereka jera. Kasus korupsi tetap silih berganti. Tak berujung dan berpangkal. Betapa tidak, pada 2010 giliran kantor Dinas Perhubungan (Dushub) yang tersengat korupsi. Kejaksaan melakukan penyidikan. Tiga mantan Kepala Dishub Jombang ditetapkan sebagai tersangka. Masing-masing Sony Hersono (Kadishub 2006-2007), Hernawan (Kadishub 2007-2008) dan Sujoto (Kadishub 2005-2006). Tiga orang itu akhirnya dijebloskan ke penjara.

Mereka terbukti melakukan korupsi dana pungutan retribusi kelas jalan ratusan juta rupiah. Hanya itu saja? Tenyata tidak. Karena selang setahun kemudian, kasus korupsi juga 'mampir' ke kantor klub sepak bola kebanggan Jombang, PSID. Katua Umum PSID Lukman Oesin berikut Sekretrisnya Haryono, ditetapkan sebagai tersangka oleh kejaksaan.

Dua orang itu terbukti melakukan korupsi dana hibah yang diberikan Pemkab Jombang. Jumlahnya ratusan juta. Nasib Lukman dan Haryono juga berakhir di balik terali besi. Mereka terbukti korupsi. Lagi-lagi, itulah wajah Jombang yang lain. Jombang yang tidak kita kenal. Jombang yang terjangkit virus korupsi.

Kalender baru tahun 2018 belum begitu lusuh ketika putaran korupsi di kota santri terjadi lagi. Tidak tanggung-tanggung, pelakunya adalah bupati. Sedangkan yang turun melakukan penangkapan adalah lembaga antirasuah atau KPK. Itu dilakukan di ujung masa jabatannya.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan 'alumni' Pulau Buru, mengingatkan kita tentang bahaya menggangsir uang negara dalam novelnya yang berjudul Korupsi. Novel itu ditulis pada 1954. Mengisahkan seorang pegawai rendahan bernama Bakir. 

Korupsi pertama yang dilakukan Bakir adalah mengambil persediaan alat tulis kantor dan menjualnya ke Tauke di Pasar Tanah Abang seharga Rp 20. Namun dari situlah semuanya bermula. Korupsi dilakukan dari sesuatu yang bersifat sederhana. Seiring laju waktu, korupsi menjadi kebiasaan. Bahkan semakin membesar.

Perubahan pada diri Bakir nampak jelas. Dandanannya semakin perlente. Sepeda tua disulap menjadi mobil Plymouth. Tubuhnya selalu berbalut kemeja buatan luar negeri. Warga sekitar rumah menghormatinya karena ia tidak pelit mengeluarkan uang untuk bantuan sosial. Namun perubahan tersebut ujungnya tetap sama; penjara. Begitu juga dengan Bakir.

Begitu juga dengan deretan kasus korupsi di kota santri. Begitu juga korupsi yang menjerat sang bupati. Namun sekali lagi, itulah wajah Jombang yang lain. Jombang yang tidak kita kenal. Jombang yang terjangkit virus korupsi. [suf]

Tag : sosial

Komentar

?>