Jum'at, 25 Mei 2018

St. Divingham's Day (Tak Ada Malaikat dalam Pertandingan)

Sabtu, 10 Februari 2018 12:31:52 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
St. Divingham's Day (Tak Ada Malaikat dalam Pertandingan)

"Curang!"

Teriakan itu terdengar berkali-kali dari seluruh tribun di Stadion Anfield, setelah wasit Jonathan Moss meniup peluit panjang, Senin (4/2/2018) malam. Tiga gol indah. Satu gol penalti kontroversial, dan satu potensi gol dari hukuman penalti yang berhasil digagalkan penjaga gawang Liverpool Loris Karius. 

Dua gol pemain sayap Liverpool Mohamed Salah, terutama yang terakhir pada menit 92, seharusnya menjadi pembicaraan setelah pertandingan yang berakhir 2-2 melawan Tottenham Hotspur. Dia sendirian menari melewati hadangan sekumpulan pemain belakang di kotak penalti Spurs sebelum akhirnya menempatkan bola di sudut kanan gawang Hugo Lloris. Namun 'diving' Harry Kane pada menit menit 84 dan Eric Lamela pada menit 93 mengapungkan pertanyaan kembali tentang nilai-nilai dan moralitas Machiavellian dalam sepak bola.

Sebelumnya, Moss memberikan kartu kuning untuk pemain Spurs Dele Alli karena 'menyelam' di kotak penalti Liverpool pada menit 69. Pemain berusia 21 tahun itu pernah mendapat kartu kuning karena aksi serupa dalam pertandingan melawan Manchester United pada April 2016 dan Huddersfield Town pada September 2017. Mendadak malam itu layak dirayakan sebagai 'St. Divingham's Day': hari di mana Spurs kembali gagal mengalahkan Liverpool di Anfield dan terselamatkan dari kekalahan oleh diving. Saya kira sebutan ini layak disejajarkan dengan St. Totteringham's Day, sebuah ledekan fans Arsenal untuk menandai ketidakmampuan Spurs melampaui peringkat klasemen The Gooners di Liga Inggris.

"Football is about trying to trick your opponent. Yes or no?" kata Manajer Spurs Mauricio Pochettino.

Saya tidak tahu apakah Pochettino pernah membaca Machiavelli. Ia pernah dalam situasi tersudut saat pertandingan Argentina melawan Inggris dalam Piala Dunia 2002. Dia adalah kambing hitam sempurna bagi bingkisan penalti untuk Inggris setelah menjatuhkan Michael Owen, ujung tombak Inggris dan Liverpool. Pochettino menggeleng: 'Owen melompat seperti dalam kolam renang'.

Mungkin sejak saat itu Pochettino menyadari bahwa lebih baik ditakuti lawan daripada dicintai. Tak ada malaikat dalam sepak bola. Argentina punya Maradona yang mencetak gol ke gawang Peter Shilton dengan ayunan tangan pada pertandingan klasik melawan Inggris dalam Piala Dunia 1986. Ia menyebutnya 'Tangan Tuhan' dan tak ada yang bisa dilakukan FIFA untuk mengubah hasil pertandingan, karena ayunan tangan Maradona adalah 'titik buta' Ali Bennaceur, wasit dari Tunisia yang bekerja keras hari itu.

Liverpool punya Luis Suarez yang identik dengan aksi tipu-tipu itu sebagai jalan pintas kemenangan. Beberapa kali berhasil. Beberapa kali tidak. Bahkan, saat berlatih pun, Suarez suka 'menyelam' untuk menggoda kawan-kawannya. Dia tertawa-tawa, saat kawan-kawannya berteriak: 'dia selalu diving'.

Suatu kali, Daniel Agger datang bersama anaknya yang berusia lima tahun ke Melwood, markas latihan Liverpool. "Kamu kelak ingin jadi pemain sepak bola seperti ayahmu?" tanya Suarez. Sang anak mengangguk.

"Ayo." Suarez mengajaknya ke ruang ganti dan bermain video game sepak bola di sana. "Kamu bisa belajar dari sini."

Melihat itu, Agger menggeleng. "Tidak, tidak. Dia ingin jadi pemain sepak bola, bukan atlet selam (diver) Olimpiade."

Suarez selalu dicurigai penuh kebohongan dan bakal selalu berpura-pura jatuh, bahkan sebelum pertandingan, Manajer Everton David Moyes sudah mengeluarkan peringatan: jangan sampai wasit tertipu. Ucapan Moyes memotivasi Suarez. Pertandingan di Goodison Park, 28 Oktober 2012, berakhir imbang 2-2.

Suarez merayakan gol pertama ke gawang Merseyside Biru dengan menjatuhkan diri layaknya penyelam di hadapan Moyes. Brilian. 

Sofi, istri Suarez, tertawa geli. Masalahnya, gol itu kemudian dicatat sebagai gol bunuh diri Leighton Baines. Namun tak masalah. Enam menit kemudian Suarez mencatatkan diri di papan skor.

Tak ada yang tersinggung dengan perayaan Suarez. "Hebat," kata Moyes. Semua tahu itu hanya bercandaan ala pemain sepak bola, tanpa bermaksud menghina.

Direktur Liverpool Damien Comolli meminta Suarez tak risau dengan omongan orang dan memintanya belajar dari Didier Drogba, penyerang Chelsea asal Pantai Gading. "Saat kau di sini dua atau tiga tahgun, dan mereka tahu kamu dan kamu mulai punya nama, mereka akan sedikit menghormati. Tonton saja video Didier Drogba, tengok 'fouls' yang diberikan wasit dibandingkan dengan awal-awal. Jadi santai saja, lupakan saja. Dalam jangka panjang, kamu akan lihat, wasit akan mulai lebih banyak memberimu hadiah tendangan bebas."

'Diving' bagaikan sihir hitam dalam dunia magik Harry Potter, seperti Avrakadavra yang butuh kecerdasan, memerlukan latihan untuk menguasainya, dan mematikan ketika digunakan pada saat yang tepat di kotak penalti lawan. Ini teknik terkutuk yang melukai imaji bahwa seorang pesepakbola adalah sosok yang penuh sportivitas dan jujur.

'Diving' adalah 'dark art of the game' yang menghadirkan hipokrisi. Hari ini kita mengecamnya karena tim lawan diuntungkan. Pekan depan kita mendapat sumpah serapah karena menang dengan cara yang sama. Otoritas sepak bola dunia di mana pun agaknya menyepakati hipokrisi itu, dengan menganggapnya sebagai bagian dari serunya pertandingan dan bergantung sepenuhnya kepada kecermatan wasit untuk memberikan sanksi kartu kuning atau mungkin juga merah. Para 'penyelam' dibiarkan hidup dengan kebiasaan buruk mereka tanpa sanksi berat, dibandingkan pemain yang suka mengigit seperti Luis Suarez.

Mungkin karena itulah, kita kasih aplaus untuk Robbie Fowler karena membantah Machiavelli. Seorang striker memang tak seharusnya punya belas kasih. Dia bukan malaikat, tapi tak seharusnya juga menjadi iblis yang memanipulasi kelengahan wasit. David Seaman, kiper Arsenal, tahu pasti itu.

Anfield, 28 Agustus 1994. Pekan pertama sebelumnya, Liverpool menjadikan Selhurst Park sebagai ajang pembantaian Crystal Palace 6-1. Usianya baru 19 tahun, dan Fowler berniat menambah saldo rekening golnya ke gawang Arsenal kali ini. Dia hanya butuh waktu empat menit 33 detik untuk membuat David Seaman seperti penjaga gawang magang yang tiga kali memungut bola dari gawang.

Highbury, 24 Maret 1997. Fowler kembali membuat Seaman dan semua pemain belakang Arsenal seperti kakek-kakek yang bergerak terlalu lamban. Dia berlari mengiris pertahanan Arsenal setelah menerima umpan panjang dari tiga perempat lapangan. Seaman mencoba menghadang. Fowler melompat dan terjatuh. Serupa dengan ituasi penyerang Spurs Harry Kane dan Karius.

Di Highbury, Gerald Ashby menunjuk titik penalti. Fowler menggelengkan kepala dan melambaikan tangan: tidak, itu bukan penalti. Dia terjatuh sendiri. Seaman tak menyentuhnya.

Di Anfield, 21 tahun kemudian, Jon Moss menunjuk titik penalti. Asisten wasit memberikan opininya, dan penalti harus tetap dilaksanakan.  

Di Highbury, 21 tahun silam, Fowler meletakkan bola di titik putih, dan menendangnya asal-asalan. Seaman berhasil menepisnya, namun tak semua pemain Liverpool sependapat dengan Fowler. Bola rebound dilesakkan Jason McAteer ke gawang Seaman. Liverpool hari itu menang 2-1, McAteer mencetak gol pertamanya, dan Fowler mendapat  penghargaan dari UEFA. 

Di Anfield, Minggu malam itu, Harry Kane gagal di penalti pertama, dan tak melewatkan yang kedua. Teriakan penuh amarah terdengar dari seluruh sisi stadion. Sementara para pandit berdebat dan beradu opini di televisi tentang apa yang benar dan salah, apa yang seharusnya dan tidak.

"Curang!" 

Mungkin kita memang butuh Fowler untuk menampik anggapan kemenangan bisa diperoleh dengan jalan apa saja. [wir] 

 

Tag : sepakbola

Komentar

?>