Kamis, 22 Februari 2018
Dibutuhkan Wartawan Kriminal di Surabaya, Usia Maks 27 Tahun, S1, Punya Pengalaman, Kirim lamaran ke beritajatim@gmail.com

Kita Tunggu Saja Teater Deklamatorium Itu

Jum'at, 09 Februari 2018 09:21:47 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Kita Tunggu Saja Teater Deklamatorium Itu

TEATER kontemporer kerap kali memasukkan unsur-unsur di luar teater. Sebuah kolaborasi. Teater yang dikolaborasikan dengan aspek tari, musik, puisi, sulap-akrobat, atau berbagai pola seni tradisional.

Pada dasarnya, seni kolaborasi dalam teater sah-sah saja. Sebab dalam wujudnya, teater memang mencakup beragam hal dalam seni.

Dalam seminggu terakhir, perhatian saya begitu tersita dengan rencana Bengkel Muda Surabaya (BMS) yang bakal mementaskan ‘teater deklamatorium’. Mendengar istilah itu, secara spontan, saya membayangkan sebuah pertunjukan musikalisasi puisi. Tetapi BMS bersikukuh bahwa pertunjukan mereka bukan musikalisasi puisi. Mereka akan menggarap pementasan teater deklamatorium.

Walau bukan musikalisasi puisi, mereka mengakui bahwa deklamatorium bersandar dari deklamasi. Dasar-dasar dari deklamasi itulah yang diekplorasi untuk sebuah pertunjukan teater. Perihal detail penggarapan dan paparan konsepnya, mereka enggan mengungkap.

“Tunggu saja nanti, yang pasti, kita serius menggarap deklamatorium ini,” kata Saiful Hadjar, tim artistik BMS.

Sebagai salah satu bentuk keseriusan, Saiful menuturkan bahwa penggarapan ini melibatkan seniman-seniman senior di BMS. Sutradara Amir Kiah, asisten sutradara Ndindy Indiyati, supervisi Akhudiat, pimpro Jil Kalaran, musik ada Mahamuni Paksi & Nasar Albatati, artistik Saiful Hadjar & Zaenuri.

“Mereka tokoh-tokoh yang sudah lama malang melintang dan diakui kredibilitasnya dalam dunia seni pertunjukan. Jadi antara konsep dan perwujudannya nanti di panggung sudah digagas secara matang,” katanya.

Deklamasi. Dalam catatan saya, Bengkel Muda Surabaya memang memiliki tradisi kuat di bidang deklamasi. Merunut dari sejarahnya, BMS didirikan setelah ada even lomba deklamasi antar pelajar SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) dan Mahasiswa se-Surabaya yang diselenggarakan Dewan Kesenian Surabaya (DKS), 4 April 1972.

Pendiri BMS Bambang Sujiyono seorang deklamator yang ulung. Ketua Umum saat ini pun, Heroe Budiarto, pernah menjuarai lomba deklamasi. Belum lagi anggota-anggota lain yang biasa menjadi langganan juara lomba deklamasi.

Melihat fakta-fakta itu, deklamasi bukan sesuatu yang asing bagi BMS. Tinggal bagaimana teknik-teknik deklamasi itu dieksplorasi dalam kerangka seni pertunjukan teater.

Yang jelas, seorang deklamator mempunyai beragam kelebihan yang bisa menunjang keaktoran. Pertama, olah vokal. Seorang deklamator sudah dipastikan mampu bersuara lantang, pandai memainkan intonasi dan ritme suara. Kedua, olah tubuh. Seorang deklamator terbiasa menyadari potensi mimik, kerjap mata, pergerakan tangan, maupun keluwesan badan. Ketiga, penguasaan panggung. Hanya dengan sendirian saja, seorang deklamator mampu mengisi keseluruhan panggung. Memusatkan fokus audiens kepada performa dirinya. Keempat, tafsir puisi. Seorang deklamator terbiasa menghapal, menafsirkan, dan menghayati puisi. Kebiasaan ini tentu memudahkan dalam menafsirkan naskah dalam drama.

Tapi bagaimanapun juga, dalam artian formal, deklamasi bukanlah pertunjukan teater. Ada hal-hal prinsip yang harus diperhatikan. Salah satunya tentang dramaturgi.

Eugenio Barba, seorang tokoh teater antropologi dari Denmark, mendefinisikan dramaturgi sebagai akumulasi aksi yang tidak terbatas pada gerakan-gerakan aktor, tetapi juga meliputi aksi-aksi yang terkait dengan adegan-adegan, musik, cahaya, vokal aktor, efek suara, dan objek-objek yang dipergunakan dalam pertunjukan. Merujuk pada pendefinisian Barba, teater lebih luas dibanding deklamasi.

Maka, ketika sang deklamator masuk ke wilayah teater, dia harus mempersiapkan kemampuan untuk ruang yang lebih luas. Seni peran. Perihal konsentrasi, ingatan emosi, pembangunan watak, laku dramatik, observasi, irama, ataupun sensasi dramatik. Dari status deklamator menuju status aktor, yakni memainkan karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan.

Di atas panggung, dia harus berinteraksi dengan aktor lain. Dialog, blocking, tata panggung. Memahami pengaturan komposisi front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang).  Menjadi sebuah bagian dari plot (alur cerita) dan menciptakan klimaks.

Tentu saja tantangan-tantangan (sekaligus peluang) itu telah dipahami oleh para penggawa Bengkel Muda Surabaya. Sebab mereka, bahkan, sudah menggeluti 2 dunia ini (teater dan deklamasi) puluhan tahun lamanya. Seperti Akhudiat misalnya, di tahun 1970-an pun, dia sudah bolak balik menjuarai even teater tingkat nasional.

Yang saya lihat dalam penggarapan ini tampaknya bukan usaha menerapkan dramaturgi ke dalam deklamasi, justru sebaliknya, BMS memasukkan potensi-potensi deklamasi dalam teater. Sehingga tetap saja pertaruhannya pada nilai-nilai teater.

Bagaimana hasilnya? Kita tunggu saja pertunjukan deklamatorium dari BMS ini.

Sebab, gagasan boleh besar, potensi boleh berlimpah, wacana bisa saja setebal tembok China; penonton hanya akan menilai dari sajian di atas panggung. Sebuah ruang terbatas yang diterangi cahaya, dimampatkan oleh durasi (waktu).

Kita hanya berharap, pertunjukan deklamatorium bakal memberi kontribusi positif bagi perkembangan teater di Surabaya, Jatim, maupun nasional. Setidaknya, secara gagasan, BMS menawarkan sesuatu yang segar. Dan mereka berani mengambil risiko. [but]

Tag : seni

Komentar

?>