Minggu, 19 Agustus 2018

Gus Ipul - Puti Berpeluang Menang Telak di Mataraman, Baca Indikator Ini

Selasa, 06 Februari 2018 02:34:34 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Gus Ipul - Puti Berpeluang Menang Telak di Mataraman, Baca Indikator Ini

PASANGAN Saifullah Yusuf (Gus Ipul) – Puti Guntur Soekarno berpeluang besar menang telak di kawasan Mataraman. Peluang itu berkat keberadaan Puti Guntur yang secara kental merepresentasikan kultur (budaya) Mataraman. Antara Puti dan Mataraman seperti dua sisi mata uang kembar, keduanya melekat, inheren.

Dalam sepekan terakhir, Puti secara intens berkeliling wilayah Mataraman. Sambutan warga ternyata luar biasa. Warga seperti mendapatkan sosok yang mewakili dunia bathinnya sebagai orang Jawa. Orang yang Njawani.

Performa Puti memang tampak sebagai wanita Jawa yang ideal. Tutur katanya halus, luwes, paham budi pekerti, betah ngobrol tentang wayang, dan murah senyum. Tetapi tidak hanya lembut, sebagaimana Srikandi mengangkat busur dan menumbangkan Bisma, Puti bila tiba waktunya bisa bersuara lantang, bersikap keras.

Kelembutan dan kekuatan Puti tampak jelas ketika berpidato, berorasi. Puti kala berpidato seperti benar-benar menguasai ruang. Itu berkat olah tubuhnya yang selaras dengan nada suara. Terkadang lembut, terkadang datar, terkadang berapi-api. Seakan ruh bakat pidato kakeknya (Ir Soekarno) mengalir deras dalam diri Puti.

Dan seperti juga Soekarno, Puti tetap menginjak bumi. Dia begitu cepat akrab dengan warga segala kelas. Mulai birokrat, pengusaha, maupun rakyat kecil.

Trah dan kepribadian yang sangat Jawa itulah yang tampaknya membuat Puti begitu disambut antusias oleh warga Mataraman. Lihat saja reaksi warga ketika Puti berkunjung ke Ngawi. Saat mengikuti jalan sehat di Ngawi dan blusukan ke pasar, Minggu (4/2/2018). Puti diserbu ribuan orang. Banyak orang berebut untuk foto bersama.

"Senang bisa bertemu dan berfoto dengan cucu Bung Karno," kata seorang warga usai berfoto.

Selesai jalan sehat, Puti Guntur Soekarno diajak Bupati Ngawi Kanang Budi Sulistyono memasuki Pasar Besar. Sontak, pasar pun menjadi heboh. Perhatian pedagang dan warga tersedot.

"Apa kabar ibu-ibu? Semoga dagangan laris," sapa Puti. Ia salami para pedagang dan warga di pasar, satu per satu. "Ini Mbak Puti ya? Selamat datang di Ngawi," sapa seorang pedagang.

Antusias  yang sama terpampang ketika Puti datang ke Ponorogo. Bersama Gus Ipul, Puti menghadiri pergelaran wayang kulit dengan dalang Ki Anom Suroto di Alun-alun Ponorogo, Minggu (4/2/2018) malam. Ribuan warga Ponorogo seakan terpesona melihat performa Puti.

Apalagi saat itu Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni mendoakan Gus Ipul dan Puti sukses terpilih sebagai pemimpin Jatim. “Yang terhormat, kita cintai dan banggakan, Wakil Gubernur Saifullah Yusuf, Gus Ipul. Mudah-mudahan nanti gubernur,” kata Ipong yang langsung diamini ribuan warga yang hadir.

Di tengah serbuan benda-benda teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan, beberapa kalangan mengira orang telah melupakan tradisi. Perkiraan itu seratus persen salah. Bagi masyarakat yang berlatar belakang Mataraman, mereka telah ditakdirkan untuk selalu berjiwa sinkretis. Menerima nilai-nilai luar dan dipadukan dengan nilai-nilai Jawa. Remaja Mataraman boleh seharian memegang android, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, tetapi begitu bertemu dengan orang tua yang dihormati, mereka tetap saja berbicara dengan krama inggil.

Mengapa demikian? Karena nilai-nilai Kejawaan telah berakar ratusan tahun lamanya. Adiluhung kultur Jawa Mataraman terekam jelas melalui candi Borobudur, Prambanan, dan ribuan situs lainnya.  Tercetak dalam ratusan lembar babad, kitab, maupun cerita Panji. Melintasi zaman Mataram Kuno, kerajaan Kahuripan, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram lagi.

Dan, jangan dikira kultur Mataraman hanya melekat di wilayah seperti Madiun, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, maupun Nganjuk. Kultur Mataraman ditemui di hampir seluruh Jawa Timur, bahkan di Madura, Bawean dan Osing, atau pun Samin.

Coba periksa tradisi Mataraman yang berupa jamasan pusaka. Sebuah tradisi memandikan pusaka ini biasa dilakukan pada bulan pertama Jawa, yang biasa disebut Suro. Kesakralan Suro telah menjadi sebuah keyakinan kuat di kalangan masyarakat Jawa, yang sudah terbentuk sejak masa Mataram. Kerap kali dirayakan melalui gerebek Suro.

Ada perayaan 1 Suro di Ponorogo, serta adanya tradisi ‘adu kekuatan’ beberapa perguruan silat di kawasan Madiun dan sekitarnya. Di Blitar, kita bisa menjumpai jamasan pusaka, walau tidak saat bulan Suro . Wisuda Waranggana menjadi tradisi di Air Terjun Sedudo, Nganjuk. Tradisi penggantian kelambu petilasan atau makam nenek moyang terjadi di berbagai daerah Mataraman. Bahkan di beberapa kawasan yang dianggap sebagai basis pesantren/di luar Mataraman seperti Malang, spirit Mataraman masih terasa kental, seperti yang terjadi di Gunung Kawi.

Di Ngawi, kita bisa menyaksikan jamasan tombak Kiai Plered (putran/tiruan) dan kirab bendera atau panji Tunggul Wulung (aslinya berada di kraton Maratam). Panji-panji ini adalah pusaka pendiri Mataram). Hal yang sama juga berlaku di berbagai kawasan, seperti Pacitan (dengan banyak tempat yang masih dianggap sakral oleh masyarakat Jawa), Tulungagung (legenda dan ritual pesugihannya) dan Trenggalek (penyucian Dam Bagong, yang terkait dengan Menak Sopal dan Legenda Gajah Putih).

Bahkan, di kawasan pesisir utara Jawa sebelah timur seperti Gresik, Tuban dan Lamongan, tradisi serupa juga berlaku. Di Lamongan, tiap tanggal 10 Dzulhijjah, jamasan pusaka tombak Kiai Jimat. Dilakukan pada 10 Dzulhijjah mengacu pada gerebek besar yang terjadi di Demak dengan perayaan jamasan pusaka Kiai Carubuk dan keluarnya baju Ontokusumo, yang diyakini milik Kanjeng Sunan Kalijaga. Di Gresik, terdapat jamasan Keris Kalamunyeng. Begitu pula di Tuban terdapat jamasan pusaka peninggalan Raden Arya Ranggalawe.

Perwujudan kultur Mataraman hingga saat sekarang tetap bertebaran di seantero Jawa Timur dalam bentuk mitos, ritual, upacara-tradisi, gugon tuhon, bahkan kesadaran kolektif. Maka tidak heran, walau belum lama muncul, Puti sebagai anak kandung tradisi Mataraman bisa langsung diterima warga Jawa Timur.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Kusnadi pun mengakui bahwa popularitas Puti Guntur Soekarno terus meningkat, setelah melakukan safari politiknya di beberapa wilayah Jatim. Padahal Puti baru bergerak selama tiga minggu ke Surabaya, Bangkalan, Blitar, Jombang, Banyuwangi, Ponorogo, dan Ngawi.

Merujuk pada takdirnya sebagai perwujudan wanita Jawa dan melihat antusias warga, Puti Guntur Soekarno berpeluang besar menang telak di wilayah Mataraman. Apalagi mesin Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan kali ini sangat solid. Ditambah barisan Nasionalis dan Marhaen di luar PDI Perjuangan. Ditunjang pula oleh sikap kepala daerah di Mataraman yang secara terang-terangan mendukung Puti, semisal Bupati Ngawi, Bupati Ponorogo, bahkan Wakil Bupati Trenggalek.

Jangan dilupakan pula, Puti Guntur Soekarno memiliki modal bobot, bibit, bebet yang ideal. Tiga parameter kultur Mataraman dalam memilih calon pendamping maupun calon pemimpin.

Bobot, Puti telah dua kali menduduki kursi DPR RI. Sejauh ini, kedudukan tersebut diemban secara amanah. Puti juga dikenal bersih, jauh dari praktik-praktik korupsi. Bibit, Puti cucu langsung dari proklamator bangsa Indonesia, yaitu Presiden Soekarno. Bebet, Puti pandai menempatkan diri dalam pergaulan sosial. Cepat akrab dengan segala kalangan. [but]

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>