Jum'at, 17 Agustus 2018

Baper (Kisah Liverpool dan Persebaya)

Senin, 05 Februari 2018 00:19:27 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Baper (Kisah Liverpool dan Persebaya)
John W. Henry dan Azrul Ananda

Pelatih - pemain - fans. 

Pemilik klub sepak bola (sebagian dari kita sering menyebutnya: presiden) tidak akan pernah menjadi bagian dari 'Trinitas Suci' Bill Shankly. "Direktur hanya bertugas menandatangani cek untuk beli pemain," demikian keyakinan pelatih masyhur Liverpool itu. Ia kemudian menetapkan prinsip 'tembok api' yang tidak bisa diterabas: urusan teknis tim jangan diutik-utik.

Shankly keras kepala. Dia adalah antitesis pelatih sebelumnya, Don Welsh, yang tak berdaya menghadapi intervensi para petinggi Liverpool dalam menentukan komposisi tim. Mungkin itu yang membuatnya berhasil. Keras kepala, sekaligus seorang yang romantik.

Namun sosok romantik adalah hal terakhir yang dibutuhkan dalam industri sepak bola modern. Sepak bola modern adalah anak kandung kapitalisme, dan kalkulasi profit menggantikan romantisme. Pemilik klub tak pernah ada dalam 'Trinitas Suci', karena ia melampauinya. Dalam sebuah klub sepak bola, ia adalah pemilik otoritas tunggal, pemegang kuasa, bertindak bagai tuhan yang dilindungi regulasi ekonomi.

Apa yang membuat pemilik klub begitu berkuasa, mungkin karena dalam industri sepak bola, kompetisi dan perebutan trofi bukan satu-satunya refleksi teori Darwin tentang seleksi alamiah (Survival of The Fittest). Klasemen akhir dari hasil 38 pertandingan selama satu musim memang menentukan siapa yang terdegradasi ke divisi bawah dan siapa yang bertahan di puncak piramida merit kompetisi. Terdegradasi memang menyedihkan dan mengusik gengsi maupun sentimen seorang fans sepak bola. Namun itu tak pernah lebih menyeramkan dibandingkan masuk ke meja administrasi federasi sepak bola. Kapitalisme memiliki nalar sendiri di luar regulasi sepak bola untuk menentukan siapa yang terkuat dan terlemah.

Tiga tahun setelah menjadi juara Piala Eropa di Istanbul pada 2005, sepasang Amerika Serikat, Tom Hicks dan George Gillett, mengambil alih kepemilikan Liverpool pada 2007. Mereka membeli klub tersebut 218,9 juta poundsterling, 44,8 juta pound di antaranya adalah berupa surat utang klub. Mereka mendirikan perusahaan Kop Holdings Limited untuk mengelola Liverpool.

Fans agak khawatir Hicks-Gillett meniru sesama kapitalis Amerika Serikat, Malcolm Glazer, yang membeli Manchester United dengan uang utang di bank dan hanya menumpuk profit untuk kantong sendiri. Tapi mereka menepis kecemasan itu. "Beri kami sedikit waktu. Kita akan bersenang-senang bersama," kata Gillett.

Gillett berjanji akan mendukung langkah pelatih Rafael Benitez. "Kalau Rafa ingin membeli Snoogy Doogy sekalipun, kami akan dukung." Ia juga berjanji akan membangun stadion baru yang lebih besar daripada Anfield.

Namun yang dicemaskan fans terbukti. Hicks-Gillett tak pernah membelanjakan apapun untuk kepentingan klub dengan uang mereka sendiri. Mereka meminjam duit di bank untuk biaya administrasi dan desain sebesar 35 juta pound untuk pembangunan stadion baru yang tak pernah terwujud.

Pada 2010, utang membengkak menjadi 350 juta pound, dengan bunga mencapai 30 juta pound per tahun. Otoritas sepak bola pemerintah Inggris menilai kondisi Liverpool sudah tak sehat, dan memasukkan klub dalam meja pengawasan administrasi. Hicks-Gillett mulai mendapatkan tekanan untuk melepaskan saham kepemilikan klub tersebut.

Fans Liverpool mulai mengorganisir diri dalam Spirit of Shankly yang memiliki kesamaan akronim dengan Save Our Soul: SOS. Di Anfield, mereka mulai menyanyikan tuntutan agar Hicks-Gillett segera hengkang. Hanya nyanyian dan aksi protes, karena mereka tahu tak punya kendali apapun atas klub. Mereka mencintai Liverpool, tapi tak memilikinya. Begitu juga Rafa Benitez. Begitu pula sang skipper Steven Gerrard. 'Trinitas Suci' Shankly mendadak tak lagi kalis. Mereka tak bisa berbuat banyak menghadapi ancaman kehancuran klub. Bahkan kemudian Rafa harus pergi, meski dibela mati-matian oleh suporter. Romantisme bertekuk lutut di hadapan kapitalisme.

Kapitalisme hanya bisa dihadapi dengan kapitalisme. Lalu masuklah industrialis Amerika lainnya John William Henry bersama Fenway Sports Group (FSG), dan membeli Liverpool 300 juta pound. Mereka menebus 69 juta pound utang klub dan menyuntikkan dana segar dari uang pribadi untuk klub. FSG adalah wajah baru dalam sepak bola, dan Henry lebih dikenal sebagai peminat bisbol yang memiliki klub Boston Red Sox. Ia pengagum 'Moneyball', sebuah kalkulasi statistik untuk menilai kemampuan seorang pemain dan membelinya dengan harga murah. Ini kalkulasi yang meruntuhkan falsafah Jawa: 'ana barang, ana rupa'. Harga dan kualitas tak selamanya sejalan.

Henry menyelamatkan Liverpool dari ancaman kehancuran pada 2010. Lima tahun kemudian, Liverpool berhasil mencetak pemasukan 297,9 juta pound, atau naik 61. persen. Sebanyak 122,6 juta pound dari hak siar televisi, 116,3 juta pound dari aspek komersial klub seperti penjualan merchandise dan lain-lain, dan 59 juta pound dari tiket penonton. Liverpool untuk pertama kalinya mencetak keuntungan 60 juta pound, tertinggi di Liga Primer. Utang bersih tersisa hanya 57 juta pound, jauh berkurang dibandingkan 2010 yang mencapai 237 juta pound.

Finansial klub kembali sehat. Sponsor berdatangan. Henry menginvestasikan 49 juta pound untuk perluasan kapasitas stadion dari 44 ribu menjadi 54 ribu kursi penonton. Dari aspek prestasi, selama tujuh tahun terakhir Liverpool berhasil menembus empat puncak final kejuaraan di tangan dua pelatih, Kenny Dalglish dan Jurgen Klopp: dua kali final Piala Liga (2012 dan 2016), final Piala FA (2012), dan final Piala UEFA (2016). Namun baru Kenny yang berhasil meletakkan satu Piala Liga di lemari trofi di Anfield.

Namun tak ada yang sempurna. FSG dikecam suporter karena dianggap kurang memiliki ambisi untuk menjadi juara dibandingkan mengail profit. Saat Manchester City, Manchester United, dan Chelsea mengacak-acak bursa transfer dengan membeli sederet pemain bintang dengan harga mahal untuk memburu trofi, FSG menerapkan kebijakan transfer ketat dengan mengadaptasi 'Moneyball'. Mereka menetapkan Komite Transfer layaknya Liverpool sebuah klub bisbol untuk menentukan pemain-pemain yang layak direkrut. Dua pemain terbaik dijual ke Barcelona: Luis Suarez dan Coutinho. Sementara pemain rekrutan dari klub lain justru jadi produk gagal. FSG dianggap tak punya pengalaman dan kompetensi cukup untuk mengelola klub sepak bola sebesar Liverpool.

Kenny Dalglish yang membawa Liverpool ke final Piala FA dan menjuarai Piala Liga 2012 hanya bertahan dalam 74 pertandingan, 56 pertandingan di antaranya Liga Primer. Alasan Managing Director Ian Ayre sederhana: Dalglish gagal membawa klub lolos ke Liga Champions Eropa. "Tulang punggung sepak bola hari ini adalah Liga Primer dan sepak bola Eropa di level tertinggi," katanya.

Kebijakan menaikkan harga tiket memicu reaksi keras suporter. Tagar #WalkOutOn77 bertebaran di media sosial menyambut pertandingan Liverpool melawan Sunderland di Anfield, 7 Februari 2016. Sebagian penonton meninggalkan kursi mereka pada menit 77 sebagai protes. "Let me tell you story of a poor boy": potongan lirik lagu 'Poor Scouser Tommy' dibentangkan menjadi banner.   

Pada satu titik, saya melihat ada banyak kesamaan Liverpool dengan Persebaya. Azrul Ananda mengambil alih Persebaya setelah mengalami krisis berkepanjangan: bukan hanya krisis finansial, tapi juga eksistensi. Sejak 2013, Persebaya di bawah naungan PT Persebaya Indonesia tidak bisa mengikuti kompetisi resmi karena ada klub lain yang menggunakan nama yang sama. Kemenangan di meja hukum memuluskan jalan Azrul untuk mengakuisisi saham kepemilikan klub sekaligus melunasi utang-utang manajemen lama kepada pihak pemain, ofisial, dan pihak lain.

Azrul merombak total manajemen Persebaya, dan dia lebih dikenal sebagai promotor liga basket pelajar ketimbang berurusan dengan sepak bola. Sejumlah keputusan Azrul (entah dia berdiskusi dengan siapa) juga memunculkan reaksi Bonek: pemilihan Iwan Setiawan sebagai pelatih, persoalan harga dan distribusi tiket, manajemen pengaturan penonton saat hari pertandingan, pembelian pemain yang dinilai tak mencerminkan ambisi untuk membangun dinasti juara, tidak digunakannya lagi Wisma Eri Irianto di Karanggayam sebagai sentra aktivitas klub menjadi amunisi kritik Bonek, terutama di media sosial. Azrul dinilai mengeksploitasi profit dengan memanfaatkan loyalitas Bonek kepada Persebaya tanpa timbal balik setimpal. 

Terakhir keputusan Azrul melansir surat terbuka yang menceritakan detail kegagalannya mengontrak pemain idola Bonek, Andik Vermansah, menjadi sasaran empuk kritik. Apalagi pada saat yang sama, manajemen justru mengontrak pemain bertahan asal Brasil Ottavio Dutra yang dianggap manifestasi 'Judas' oleh Bonek, karena pernah memilih bermain untuk klub 'kloningan' Persebaya.

Kabar baiknya, sebagaimana John W. Henry, Azrul berhasil memulai kembali tradisi trofi di Persebaya dengan menjuarai Liga 2 dan promosi ke Liga 1. Di bawah komando pelatih Angel de Vera asal Brasil, Persebaya menunjukkan permainan yang menghibur walau belum sempurna: pressing football dengan menempatkan garis pertahanan setinggi mungkin untuk menekan dan merebut bola sejak zona pertahanan lawan.

Liverpool dan Persebaya memiliki basis suporter dengan karakter yang kurang lebih sama: keras dan cerewet. Pada masa lampau, kedua klub sering terkena masalah karena kerusuhan yang dilakukan suporter masing-masing. Persebaya dan Liverpool sama-sama mencatatkan diri sebagai klub yang memiliki jumlah suporter yang meninggal dunia terbanyak karena urusan sepak bola. Tentu saja, dari sini kemudian sulit untuk membantah besarnya loyalitas Bonek dan Kopites terhadap klub mereka.

Sejak 2008, suporter Liverpool sudah terbiasa dengan pengorganisasian kekuatan kritis terhadap otoritas klub melalui Spirit of Shankly. Sementara Bonek mulai rapi mengorganisasi perlawanan sejak 2010, setelah PSSI merestui munculnya klub imitasi Persebaya untuk berkompetisi resmi. Bonek mengayunkan pedang tak hanya kepada PSSI, tapi juga pemilik klub. Mereka pernah melakukan aksi jalan mundur untuk memprotes Presiden Persebaya Saleh Ismail Mukadar yang terlambat menggaji pemain. Gerakan yang sama masifnya dilakukan untuk memprotes Kongres PSSI: membanjiri jalan dengan ribuan orang.

Tak ada fans sepak bola yang rasional di dunia ini. Mereka menganggap klub sebagai bagian dari sejarah hidup dan mempunyai keterpautan emosional. Mereka membayar untuk masuk stadion dan berlangganan televisi kabel hanya untuk menyaksikan klub yang didukung bertanding: merasakan kesedihan, kemarahan, juga kegembiraan sebagai pengalaman hidup untuk dilekatkan dalam kenangan dan nostalgia. Inilah mungkin yang kemudian mendasari 'Trinitas Suci' Shankly: sebuah keterikatan yang murni. Passion. Dan itu tak bisa dipahami oleh orang-orang yang mengkalkulasi sepak bola dengan kalkulator atau neraca kas keuangan. 

Kapitalisme tentu saja lebih lentur, dan tak hendak bertabrakan dengan passion ini. Tak ada untungnya, karena toh siapapun memahami: klub sepak bola tanpa passion fans tak ubahnya sebuah gedung bioskop yang didatangi orang tanpa harus merasa terikat. Klub sepak bola kehilangan maknanya tanpa kegilaan sekelompok orang yang bersedia berdiri dan bernyanyi selama 90 menit setiap pekan. Jika semua suporter rasional, Persebaya yang asli tak akan pernah bangun dari tidur dan pertandingan klub 'kloningan' akan ditonton ribuan atau puluhan ribu orang.

Manajemen Liverpool sejak lama menyadari kekuatan suporter dan memandang perlunya berkomunikasi intensif dengan mereka. Ada Komite Suporter yang secara reguler menyampaikan sekian tuntutan dan masukan, terutama soal hak-hak sebagai penonton. Saat Porto memasang tarif mahal untuk para suporter tandang Liverpool dalam Babak 16 Besar Liga Champions, pertengahan Februari, manajemen Liverpool merespons dengan melayangkan protes resmi.

Manajemen Persebaya pernah merasakan kekuatan intimidatif Bonek saat pelatih Iwan Setiawan berulah dan bermusuhan dengan suporter. Tekanan fans membuat 'Special Wan' harus pergi sebelum membuktikan sesumbarnya untuk membawa Persebaya juara.

Kebanyakan fans memiliki memori pendek tentang betapa terpuruknya klub mereka pada masa lalu. dan bagaimana peralihan kepemilikan klub menjadi penyelamat. Chief Executive Ian Ayre pernah mengeluh: 'orang kadang suka lupa betapa buruknya kondisi klub ini di bawah Hicks dan Gillett. Saya bicara dengan orang-orang sekarang dan ingatan mereka benar-benar terbatas'.

Mungkin itu juga dirasakan manajemen Persebaya. Namun sebagaimana manajemen Liverpool, Azrul tak perlu terbawa perasaan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang personal. Mendengarkan para suporter tentu tak akan melukai siapapun. Tidak semua permintaan fans memang harus dituruti. Namun setidaknya keinginan mereka harus didengar. 

Ini bukan partai politik. Tak ada satu pun suporter yang bermimpi menyalakan api pemberontakan untuk merebut saham klub dengan jalan kekerasan. Bukan waktunya untuk baper. Pada dasarnya tak ada yang bisa berjalan sendirian. [wir]   

 

Tag : sepakbola

Komentar

?>