Kamis, 22 Februari 2018
Dibutuhkan Wartawan Kriminal di Surabaya, Usia Maks 27 Tahun, S1, Punya Pengalaman, Kirim lamaran ke beritajatim@gmail.com

Bhepak Bhebuk, Ghuru, dan Rato

Sabtu, 03 Februari 2018 17:35:04 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Bhepak Bhebuk, Ghuru, dan Rato
Guru Achmad Budi Cahyanto (almarhum).

'Bhepak Bhebuk, Ghuru, Rato' merupakan salah satu jargon klasik yang tidak terbantahkan dalam peradaban masyarakat Madura. Sebuah, simbol 'penekanan' kuat yang sudah mendarah daging, dijadikan sebagai jargon utama dan bertahan dalam dekade cukup lama.

Bagi sebagian besar masyarakat Madura, 'bhepak bhebuk' (ayah ibu) menempati posisi tertinggi untuk dihormati dan jelas tidak terbantahkan.

Hal tersebut juga tertuang jelas dalam ajaran Islam sebagai agama yang dianut mayoritas masyarakat Madura, berbakti dan berbuat bagi kepada kedua orang tua merupakan anjuran dan ajaran Islam.

Hal tersebut tergambar jelas dalam QS Al-Isra': 23 yang menjabarkan secara detail agar menaruh hormat sekaligus anjuran berbakti kepada kedua orang tua; "Wa Qađá Rabbuka 'Alla Ta`budū 'Illa 'Īyahu Wa Bil-Walidayni 'Iĥsanaan 'Imma Yablughanna `Indaka Al-Kibara 'Aĥaduhuma 'Aw Kilahuma Fala Taqul Lahuma 'Uffin Wa La Tanharhuma Wa Qul Lahuma Qawlaan Karimaa".

Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan mulia".

Dalam ayat tersebut setidaknya terdapat sebanyak dua poin penting sebagai anjuran dalam ajaran Islam, yakni menyembah Tuhan Maha Tunggal dan berbakti kepada kedua orang tua.

Bahkan, dalam ayat tersebut juga ditekankan jelas agar kita tidak 'mengumpat' sekalipun dengan perkataan 'ah'.

Tidak hanya itu, perintah berbakti kepada orang tua juga dijabarkan dalam berbagai ayat lain maupun hadits Nabi Muhammad SAW. Seperti tertulis jelas dalam QS Al-Isra': 24, QS An-Nisa': 36, QS Lukman: 14 dan beberapa ayat lain sebagai anjuran dan perintah berbakti kepada orang tua.

Termasuk juga tingkatan kedua pasca 'bhepak bhebuk', yakni ghuru (guru). Dalam budaya Madura, guru merupakan sosok terhormat dan harus selalu dihormati laksana kita menghormati kedua orang tua.

Sebab, guru selalu memberikan santapan jiwa dengan bekal ilmu, membina akhlak terpuji serta meluruskan perilaku yang buruk yang dimiliki peserta didik.

Bahkan guru juga memiliki kedudukan tinggi dalam Islam, guru atau pendidik disamakan dengan ulama yang sangat dihargai kedudukannya. Seperti yang tertuang dalam QS Al-Mujadalah: 11; "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".

Dalam ayat lain juga disebutkan perintah agar manusia senantiasa berilmu dan mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada orang lain, termasuk juga larangan menyembunyikan ilmu. Seperti tertuang dalam QS Al-Baqoroh: 129 dan 146, QS Ali Imron: 187, QS An-Nahl: 125, QS At-Taubah: 122 dan beberapa ayat lainnya.

Selain dalam Al-Qur'an, terdapat juga sejumlah hadits Nabi SAW tentang kedudukan seorang guru. Salah satunya seperti hadits yang artinya; "Barang siapa mengetahui ilmu, kemudian ia menyampaikannya, maka pada hari kiamat Allah mengenakan kendali kepadanya Mahkota dari gemerlap cahaya".

Dalam budaya Madura, guru sebagai sosok sentral dan sangat dihormati. Sebab, sebagian besar masyarakat Madura sangat yakin mereka mendapatkan norma dan nilai demi kehidupan yang akan mereka jalani.

Sosok guru selain sebagai pengajar juga merupakan pendidik, pembimbing, pembina dan lainnya. Sehingga mereka sangat layak dihormati dan bahkan dijadikan sebagai teladan.

Sayang hal itu justru kembali tercoreng akibat aksi kekerasan yang menimpa Achmad Budi Cahyono, seorang guru honorer yang mendapatkan penganiayaan dari siswanya sendiri di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, hingga akhirnya wafat sebagai 'Pahlawan Tanpa Tanda Jasa', Kamis (1/2/2018) kemarin.

Kondisi tersebut jelas menjadi 'tragedi' khususnya dalam dunia pendidikan di Indonesia, tidak terkecuali di Madura. Fenomena tersebut menandakan sebagai dekadensi moral dalam dunia pendidikan secara keseluruhan, tidak hanya berlaku bagi manusia yang berprofesi sebagai guru, tapi juga menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk orang tua, pemerintah, ulama, tokoh dan tentunya masyarakat secara umum.

Memang dalam beberapa tahun terakhir, guru selalu menjadi 'pesakitan' dengan berbagai aturan demi memberikan transfer pengetahuan, transformasi ilmu hingga internalisasi nilai kepada para peserta didik.

Bahkan mereka cenderung tidak berkutik dengan berbagai kebijakan yang bisa berakibat fatal terhadap diri mereka sendiri sebagai seorang pendidik.

Mengaca dari pengalaman penulis saat mengenyam pendidikan tingkat dasar hingga menengah, beberapa tahun silam. Jangankan menghabisi guru, menceritakan salah satu 'kejelekan' guru saja sangat tidak diperkenankan. Bahkan tidak jarang, 'perlakukan kekerasan' dari guru justru diamini dan sangat didukung demi menggembleng putra-putri mereka agar menjadi pribadi yang beradab dan tentunya menghormati guru.

Bahkan tidak jarang, 'kekerasan tambahan' justru didapatkan langsung dari orang tua kala diketahui melanggar perintah guru. Bahkan orang tua, guru dan masyarakat tampak kompak untuk menggembleng para generasi muda agar lebih baik dan selalu menjunjung tinggi untuk menghormati guru. Kontras dengan fenomena dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak hanya itu, sikap 'cangkolang' sungkan juga sudah mulai luntur. Bahkan saat ini sikap tersebut justru mulai sirna dan tidak lagi menjadi doktrin yang harus dilestarikan. Sekalipun tradisi 'cangkolang' dari peserta didik kepada pendidik (guru) sudah menjadi tradisi ulama Islam klasik yang justru mengakar di tataran masyarakat Madura.

Fenomena kekerasan terhadap guru jelas menandakan bahwa sebagian masyarakat sudah tidak lagi menaruh hormat terhadap sosok guru yang notabene sebagai sosok sentral dalam perubahan perilaku. Padahal aspek 'cangkolang' sudah menjadi doktrin demi menanamkan nilai-nilai afektif bagi peserta didik.

Sayang hal itu justru dinilai sebagai pelemahan terhadap kreativitas siswa, akhirnya sang siswa tidak mengalami ketidakseimbangan pola pikir dan terbawa dalam arus ranah kognetif dan keterampilan semata tanpa nilai afektif.

Saat 'cangkolang' sirna, hati justru tidak lagi menaruh hormat dan lisan tidak lagi sungkan menggunjing hingga tangannya tega 'menghabisi' gurunya sendiri. Na'udzubillah.

Selaras dengan jargon di atas, demi menjaga tradisi dan kekuatan penanaman etika juga termaktub dalam jargon Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata; 'Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya daripada Kecerdasan'. Bahkan jargon tersebut terpampang jelas tepat di depan kantor pesantren yang terletak di Desa Panaan, Pakengaan, Pamekasan.

Dalan jargon tersebut jelas secara gamblang memberikan penilaian bahwa bukan berarti kecerdasan tidak penting, tapi kesopanan justru melebihi nilai daripada sekadar kecerdasan semata. Termasuk juga sopan santun antara guru dan siswa atau sebaliknya.

Sementara poin ketiga 'rato' yang memiliki arti pemerintahan, hal itu jelas juga tergambar jelas dalam ajaran Islam. Bahkan juga terdapat sejumlah ayat yang mengupas tuntas tentang pemerintahan, seperti dalam QS An-Nisa': 58, 59 dan 83, QS An-Nur: 55 dan sejumlah ayat dan hadits lainnya. [pin/air]

Tag : pendidikan

Komentar

?>