Minggu, 18 Nopember 2018

Gus Ipul atau Khofifah yang Menang, Jokowi Tetap Nyaman

Rabu, 31 Januari 2018 13:11:20 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Gus Ipul atau Khofifah yang Menang, Jokowi Tetap Nyaman

KOMPOSISI petarung di Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) tahun 2018 bisa dibilang membuat nyaman bagi Pemerintah Pusat, yakni pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Siapapun yang menang, apakah pasangan Saifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno (Gus Ipul – Puti) atau Khofifah Indar Parawansa – Emil Elestianto Dardak (Khofifah – Emil) tidak berpengaruh besar bagi Pusat.

Pendukung utama pasangan Gus Ipul – Puti Guntur adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Di tingkat pusat, kedua partai ini merupakan pendukung utama Pemerintahan Jokowi.

Dua partai ini pula yang pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 yang menjadi leader berjibaku memperjuangkan pasangan Jokowi – Jusuf Kalla mengalahkan pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Maka tidak heran, politisi PKB dan PDI Perjuangan mengisi beberapa pos strategis dalam komposisi kabinet Jokowi.

Keikutsertaan Khofifah dalam tiga kali Pilgub Jatim terbilang unik. Dia gonta ganti partai pendukung utama. Tahun 2008, leader partai Khofifah adalah Partai Persatuan Pembangunan. Tahun 2013 lalu, PKB ganti yang jadi pengusung utama. Tahun 2018 ini, peran tersebut diambil oleh Partai Demokrat. Bisa jadi, sandaran utama Khofifah memang bukan partai. Khofifah memiliki basis massa yang dikenal sangat loyal, yakni anggota Muslimat NU. Sudah beberapa periode Khofifah memimpin Muslimat NU dan sampai sekarang pun belum ada tanda-tanda muncul pemimpin lain yang dipercaya selain dia.

Maka, Jokowi – JK sangat diuntungkan ketika pada Pilpres 2014 lalu Khofifah bersedia didaulat menjadi Juru Bicara Tim Pemenangan. Khofifah merapat ke Jokowi – JK dengan membawa serta pendukung tradisionalnya. Dan tidak heran pula, begitu Jokowi ditetapkan sebagai Presiden RI, Khofifah diberi tempat sebagai Menteri Sosial.

Pasangan Khofifah, yaitu Emil Dardak, juga bukan orang yang jauh dari lingkaran PDI Perjuangan. Ketika maju dalam Pemilihan Bupati Trenggalek, PDI Perjuangan adalah salah satu pengusungnya. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri memiliki hubungan erat dengan kakek Emil Dardak. Hubungan itu diungkapkan Megawati saat Emil Dardak dipanggil secara khusus oleh Megawati di kediamannya.

Tentang Puti Guntur Soekarno, hubungannya dengan Istana Merdeka tidak perlu diragukan lagi. Puti dan Jokowi sama-sama petugas partai PDI Perjuangan.

Selain pilihan politik, latar belakang kultural kedua pasangan bakal calon Pilgub Jatim juga membikin Pemerintah Pusat tidak terlalu khawatir soal kerukunan di level masyarakat. Itu karena kedua pasangan sama-sama kombinasi antara Santri – Mataraman. Dua kultur yang cenderung moderat. Dua kultur paling dominan di Jawa Timur.

Gus Ipul dan Khofifah lahir dan besar di lingkungan Nahdliyin. Ketika dewasa, keduanya merupakan tokoh penting di NU. Gus Ipul pernah menjabat sebagai Ketua GP Ansor dan kini Ketua PBNU. Adapun Khofifah Ketua Muslimat NU.

Meskipun agak absurd, Puti Guntur dan Emil Dardak dinilai mencerminkan keterwakilan kultur Mataraman. Puti Guntur besar di Jakarta, dua periode menduduki kursi DPR RI dari daerah pemilihan di Jawa Barat. Tapi, kultur Mataraman dinilai melekat erat pada Puti karena dia keturunan Presiden pertama RI, yaitu Soekarno. Emil Dardak juga sama, besar di Jakarta. Beberapa lama bekerja di perusahaan asing. Tapi, Emil tetap dinilai merepresentasikan kultur Mataraman karena terpilih menjadi Bupati Trenggalek.

Ketika calon pemimpin merepresentasikan kultur yang dominan, Pemerintah Pusat lebih mudah mencegah kemunculan isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Bandingkan dengan yang terjadi di Pilgub DKI tahun 2017. Pemerintah Pusat terpaksa mengeluarkan energi amat besar karena salah satu calon mendapat masalah terkait SARA. Energi Pemerintah Pusat terkuras oleh adanya kegaduhan di media sosial, polemik berkepanjangan di media cetak dan pengadilan, termasuk adanya demo besar-besaran.

Situasi politik di Jawa Timur lebih adem karena dua pasangan yang bakal bertarung memiliki latar belakang sama. Dan terutama, keduanya merepresentasikan dua kultur paling dominan di Jatim.

Satu fakta lagi yang membuat Pemerintah Pusat nyaman adalah kegagalan Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengusung calon di Pilgub Jatim 2018. Di Parlemen (DPR RI), Gerindra dan PKS secara konsisten bertindak sebagai oposisi Pemerintahan Jokowi. Keduanya juga sama sekali tidak memiliki keterwakilan di Kabinet.

Dalam konteks Pilgub Jatim, Gerindra dan PKS sudah sejak lama menjajaki untuk membentuk koalisi. Namun, jumlah kursi keduanya belum mencukupi untuk mengusung calon sendiri. Gerindra mempunyai 13 kursi di DPRD Jatim, PKS sebanyak 6 kursi. Jika digabungkan, keduanya hanya bermodal 19 kursi. Padahal syarat mengusung calon adalah 20 kursi. Artinya, keduanya membutuhkan partai lain untuk masuk dalam koalisi.

Semula, komunikasi dibangun Gerindra – PKS dengan Demokrat, PAN, dan PPP. Beberapa kali pertemuan, hasilnya hanya jalan buntu. Oleh sebab waktu yang semakin mepet, koaliasi yang hendak dibangun pun pelan-pelan runtuh. Demokrat merapat ke Khofifah yang sudah sejak lama didukung oleh Partai Golkar, Nasdem, dan Hanura. Disusul kemudian oleh PPP. Kemudian PKS tampaknya juga mulai patah semangat. PKS akhirnya berlabuh ke Gus Ipul. Hari-hari menjelang pendaftaran, dinamika politik kian panas dan tinggal tersisa Gerindra bersama PAN yang belum menentukan sikap. Koalisi akhirnya benar-benar gagal terbentuk. Gerindra memilih mendukung Gus Ipul, PAN mendukung Khofifah.

Melihat konstalasi politik di Pilgub Jatim, meskipun menjadi partai pendukung, Gerindra dan PKS tidak punya peran signifikan dalam tim Gus Ipul – Puti Guntur. Sebab, Gus Ipul melekat pada PKB dan Puti Guntur melekat pada PDI Perjuangan.

Kondisi hubungan erat antara Pemerintahan Jokowi dengan kedua pasangan yang bakal bertarung di Pilgub Jatim bakal meminimalkan resistensi koordinasi antara Pusat dengan Daerah. Sebab bagaimana pun juga, Gubernur merupakan perpanjangan tangan Presiden di daerah. Entah Gus Ipul atau Khofifah yang menang, Pemerintah Pusat sama-sama nyaman.

Namun perlu diingat, bukan berarti Pilgub Jatim bakal berjalan landai. Dalam sepakbola, Pilgub Jatim ini mirip panasnya pertandingan derby. Sebuah laga sarat gengsi. Seperti Manchester United melawan Manchester City di liga Inggris, seperti AC Milan melawan Inter Milan di liga Italia.

Baik Gus Ipul maupun Khofifah tentu sama-sama berjuang ingin menang. Pertarungan bakal seru karena keduanya memperebutkan kue yang sama, suara pemilih berlatar belakang Santri. Pasangannya kurang lebih sama, berebut suara di wilayah Mataraman.

Lantas siapa pemenangnya? Gus Ipul ataukah Khofifah?

Tentu tidak hanya kaum Nahdliyin atau kaum Nasionalis yang menentukan. KPUD Jatim bakal menghitung semua suara sah dari warga Jawa Timur tanpa memandang latar belakang kultural. Sebab, ini adalah pesta demokrasi seluruh warga. Apakah nyoblos Gus Ipul, apakah nyoblos Khofifah; masing-masing pribadi warga sendiri yang menentukan. [but]

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>