Jum'at, 25 Mei 2018

Andik Vermansah dan 'Situasi Gerrard' di Persebaya

Minggu, 28 Januari 2018 15:21:07 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Andik Vermansah dan 'Situasi Gerrard' di Persebaya

Sepucuk surat yang diikhiarkan untuk menjelaskan sesuatu, harus bersiap dengan sejumlah kemungkinan bertambah rumitnya persoalan. Saya tidak tahu, apakah itu sudah diantisipasi saat Presiden Persebaya Surabaya Azrul Ananda bercerita tentang kronologi tarik-ulur kontrak Andik Vermansah melalui surat terbuka berjudul Kereta Tidak Berhenti untuk Satu Orang. 

Dengan gaya esai yang persuasif, Azrul menerangkan bagaimana manajemen Persebaya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk merekrut kembali Andik Vermansah, pemain tim nasional yang lahir dari rahim pembinaan kompetisi internal klub itu.

Ada beberapa poin kutipan surat tersebut.
1. Tidak ada satu individual atau satu pihak yang lebih besar dari tim/perusahaan secara keseluruhan. Dan itu termasuk mengenai pemain.
2. Demi kepentingan tim yang lebih besar, untuk 2018 ini saya memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan bergabungnya Saudara Andik Vermansah di Persebaya, walaupun itu sebenarnya merupakan keinginan awal tim, harapan besar sejumlah penggemar, dan keinginan Saudara Andik sendiri.
3. Kami sudah berkomunikasi dengan pihak Saudara Andik sejak lama, walau tidak pernah mempublikasikan.
4. Via pesan teks, pihak Saudara Andik selalu menekankan soal angka. Bagi kami wajar. Ini olahraga profesional. Tapi seandainya angka itu bukan masalah bagi kami, tetap ada hal-hal lain yang harus dibicarakan. Ini bicara soal tim, dan rencana masa depan tim. Bukan soal satu orang, dan rencana satu orang tersebut.
5. Cara terbaik untuk membahasnya adalah dengan bertemu langsung, berbicara baik-baik, dan merancang apa yang terbaik bersama.
6. Kenapa tidak mau duduk bersama, berdiskusi tentang tim? Kenapa hanya soal angka yang untuk setahun?... tim ini tidak untuk satu tahun, tidak untuk satu orang.
7. Kalau saya biarkan ini berlarut-larut, maka ini tidak akan fair kepada tim.
8. Tim ini bak sebuah kereta yang sudah berjalan, dan siap berlari kencang. Dan kereta tidak akan berhenti hanya untuk satu orang.
9. Persebaya lebih besar dari kita semua.
10 Ketika tim sudah memasuki era membangun, maka sekarang kita tidak boleh lengah dari ancaman yang lain. Yaitu ancaman dari kita sendiri, atau dari lingkungan di sekitar kita sendiri.


Surat itu jelas ditujukan untuk kepada seluruh Bonek, pendukung Persebaya. Saya tidak bisa menerka mengapa Azrul menulisnya. Dalam industri sepak bola modern, mempublikasikan runtutan proses negosiasi dengan pemain (apalagi gagal) bukanlah hal yang lazim. Proses negosiasi bukan ranah publik. Ini domain privat. Media massa hanya bisa mengandalkan narasumber anonim yang beragam tingkat akurasinya.

Liverpool pernah terlibat ketegangan yang kurang lebih serupa dengan sang kapten Steven Gerrard. Mourinho menginginkan Gerrard bermain di Stamford Bridge untuk Chelsea. Tawaran 20 juta pon diletakkan di atas meja, beberapa bulan sebelum final dramatis Piala Eropa Antarklub 2005 di Istanbul.

Chelsea mencoba memanfaatkan peluang dengan masuknya Rafael Benitez menggantikan Gerrrard Houllier sebagai manajer Liverpool. Mereka memperkirakan Liverpool tidak punya cukup uang untuk membeli pemain-pemain baru sesuai dengan keinginan Rafa.

Spekulasi berkembang di media massa. Salah satunya rumor Gerrard melayangkan pesan singkat kesanggupan untuk bergabung dengan Chelsea kepada Mourinho, setelah timnas Inggris kalah di babak perempat final Piala Eropa 2004. Keragu-raguan bercampur kecemasan mulai muncul di kalangan fans Reds, karena sang kapten tak segera memastikan bahwa dia tak akan ke mana-mana.

Tak ada yang tahu secara detail apa yang tengah terjadi di balik tembok Melwood. Chief Executive Rick Parry meredakan ketegangan dengan penjelasan efisien ke pers: 'Steven lebih penting daripada uang. Dia masa depan Liverpool. Kami tak akan menerima tawaran berapapun, bahkan 30, 40, atau 50 juta sekalipun'.

Tidak ada yang lebih besar daripada klub. No one bigger than club. Namun bukan berarti klub sepak bola bisa seenaknya saja melepas aset terbaik mereka, terutama seorang pemain yang telah menjadi ikon dan identifikasi klub selama bertahun-tahun. Gerrard adalah ikon sempurna bagi klub: lahir di Liverpool, tumbuh dan berkembang dari akademi klub, kapten, dan menjadi faktor penentu dalam pertandingan-pertandingan penting.
 
Parry menemui Gerrard dua kali, dan mengatakan ingin memperpanjang kontrak. Namun dia tak juga meletakkan tawaran di atas meja. Berapa angkanya. Rafa menginginkan Gerrard memiliki komitmen. "But how could I without seing what Liverpool proposed?" kata Gerrard, dalam buku autobiografi yang ditulis bersama jurnalis Henry Winter.

Gerrard tak bisa memahami langkah manajemen Liverpool yang tak terbuka soal tawaran angka perpanjangan kontrak. Dalam pandangannya, manajemen Liverpool tampaknya hanya ingin menggunakan pendekatan: 'tanda tangani bila kami mengatakannya, dan jika kau setuju, kami akan katakan eberapa angkanya'.

Model pendekatan manajemen Liverpool membuat Gerrard merasa tak dihargai. Spekulasi di media massa semakin riuh-rendah. Rafa mengatakan, hiruk-pikuk ini bisa berakhir jika Gerrard bersedia menandatangani kontrak. Namun Gerrard tak melihat tawaran angka berapapun dari Liverpool.

Keraguan terhadap loyalitas Gerrard menyebar bagai wabah di kalangan fans Liverpool, setelah Liverpool kalah 2-3 dari Chelsea dalam Final Piala Liga 2005. Salah satu gol Chelsea yang berasal dari kakinya cukup menjadi bensin bagi teori konspirasi, bahwa dia sudah enggan bermain untuk Liverpool dan ingin segera berseragam biru. Sejumlah fans membakar seragam merah bernomor punggung 17 milik Gerrard di depan Gerbang Shankly.

Liverpool sudah berusia lebih dari satu abad. Mereka tetap tegak berdiri dengan ratusan pemain yang datang dan pergi. Hal pertama yang paling tidak diinginkan manajemen klub adalah menambah ketegangan di kalangan penggemar, yang bisa berujung pada ketidakpercayaan terhadap mereka.

Dalam situasi seperti ini, tekanan sesungguhnya bukan pada klub, melainkan pemain. Pemain seperti Gerrard yang dilahirkan dan dibesarkan dari rahim klub dihadapkan pada dilema: bersiap dituding tidak memiliki loyalitas untuk menyelamatkan karir dari ketidakpastian atau mengikuti kemauan klub. Gerrard tak akan hidup seribu tahun lagi seperti kata Chairil Anwar. Dia hanya punya waktu setidaknya sepuluh tahun untuk bermain dan kemudian pensiun.

Sebuah keajaiban di Istanbul: Liverpool mengalahkan AC Milan dan menjuarai Piala Eropa untuk kelima kalinya. "Bagaimana saya akan pergi setelah malam seperti ini?" kata Gerrard kepada pers.

Namun tawaran kontrak dari Liverpool di bawah harapan Gerrard. Dia merasa seperti ditodong untuk menandatanganinya. Gerrard bukan orang yang tamak. "Rakus itu bagus," kata Gordon Gekko, dalam film Wall Street.

Tapi Gerrard bukan Gekko. "Saya hanya ingin digaji sama seperti gelandang top Eropa lainnya." Sederhananya, loyalitas bukan alasan untuk dihargai murah.

Saya baru membaca detail saga kontrak Gerrard dari buku autobiografinya, sama seperti jutaan penggemar Liverpool lainnya, bukan dari keterangan pers Presiden Klub David Moores maupun Rick Parry. Tak ada kewajiban bagi manajemen klub untuk memberikan keterangan mengenai proses transfer atau negosiasi kontrak begitu rinci. Kinerja mereka dinilai dari hasil akhir, bukan proses. Maka mereka hanya akan mengabarkan keberhasilan, bukan menjelaskan kegagalan.

Satu-satunya kepastian adalah saat proses negosiasi berhasil dan pemain datang ke stadion kandang klub untuk sesi foto. Saat seorang pemain harus pergi dari klub ke klub lain karena tak ada kesepakatan soal klausul kontrak, maka satu-satunya surat yang diluncurkan departemen kehumasan adalah ucapan terima kasih dan doa harapan kesuksesan untuk sang pemain. Tak ada manajemen klub mana pun yang begitu putus asa sehingga melansir kegagalan mereka di media massa atau kepada suporternya. Urgensi dan konsekuensi yang harus ditanggung tak sepadan dengan kegaduhan dan efek domino yang muncul.

Filsuf Michel Foucault pernah menyatakan: author is dead. Penulis mati. Yang tumbuh adalah tafsiran-tafsiran yang tak bisa dikendalikan siapapun. Ini terjadi pada surat terbuka Azrul. Siapapun dengan mudah menginterpretasikan bahwa Andik Vermansah ditempatkan dalam posisi terdakwa. Tak butuh waktu lama, di media sosial bermunculan tudingan bahwa pemain kelahiran Kabupaten Jember, Jawa Timur, itu sudah kehilangan loyalitas. Serakah. Mata duitan.

Sementara di alinea yang lain, manajemen Persebaya menempatkan diri dalam kuasa lebih besar dengan mengatakan:  'Tim ini bak sebuah kereta yang sudah berjalan, dan siap berlari kencang. Dan kereta tidak akan berhenti hanya untuk satu orang... Persebaya lebih besar dari kita semua'.

Surat itu juga menghadirkan sosok musuh imajinatif yang tak bisa ditebak. "Ketika tim sudah memasuki era membangun, maka sekarang kita tidak boleh lengah dari ancaman yang lain. Yaitu ancaman dari kita sendiri, atau dari lingkungan di sekitar kita sendiri."

Siapakah atau apakah yang disebut sebagai 'ancaman dari diri kita sendiri atau dari lingkungan di sekitar kita sendiri'? Apakah Andik? Apakah mereka yang bersikap kritis terhadap manajemen? Tidak jelas. 'Ancaman dari diri kita sendiri' lebih sulit didefinisikan dan diidentifikasi daripada ancaman dari luar. Azrul seperti tengah menghidupkan jurus klasik: untuk membangun solidaritas dan soliditas internal, dibutuhkan musuh bersama dan rasa terancam yang tak pernah rehat.

Ada semangat konfrontatif dalam surat tersebut, sehingga tak ada yang bisa melarang Andik menafsirkan surat tersebut sebagai serangan terhadap dirinya, setelah sebelumnya media massa memberitakan pernyataan Manajer Persebaya Chairul Basalamah bahwa tak ada namanya dalam rencana pelatih. Andik terjebak dalam 'situasi Gerrard', setelah terlanjur menyatakan hanya akan bermain untuk Persebaya di Indonesia sehabis kontraknya dengan Selangor, Malaysia. Sama seperti Gerrard yang menegaskan tak ingin pergi setelah Liverpool menjadi juara Eropa. Keduanya sama-sama diminati banyak klub.

Selanjutnya adalah pertarungan tak produktif di media sosial antara Andik dan Persebaya. Andik melakukan pembelaan dengan menulis surat terbuka serupa dan memberi keterangan kepada pers. Dua kubu sama-sama punya pendukung. Sejenak orang lupa, bahwa Persebaya tengah berkompetisi dalam Piala Presiden dan sudah berhasil menahan imbang PS TNI 1-1 dan mengalahkan Perseru Serui 2-0.

Tentu saja, setiap persoalan membutuhkan juru tengah. Dalam kasus Gerrard, ada David Moores, lelaki asli Liverpool yang mencintai klub itu sepenuh hati. Gerrard pada akhirnya setuju menandatangani perpanjangan kontrak dengan angka yang diminta Liverpool. Sementara di Surabaya, rasanya tak ada yang lebih cocok menjadi juru damai selain Dahlan Iskan, ayah Azrul dan mantan Ketua Umum Persebaya yang disegani Bonek.

Namun apa boleh buat. Konflik belum terselesaikan, rumor di media massa menyebutkan Andik bersiap menerima tawaran bermain di klub lain. Surat terbuka ini pun menempatkan Persebaya di bawah mikroskop klub-klub Liga 1 lainnya: berapa kekuatan finansial klub tersebut sesungguhnya. Azrul menyebut empat kata 'angka' dalam surat terbukanya.Tidak sulit untuk menduga nominal kontrak yang ditawarkan Andik di luar skema finansial Persebaya.

Ada sejumlah spekulasi soal nominal ini. Tapi itu tidak terlampau penting jika dibandingkan dampak lain dari surat terbuka tersebut: ketidakmampuan manajemen menangani persoalan dengan 'bersih dan cepat', sekaligus kegagalan membaca prioritas masalah yang harus dijelaskan kepada publik.

Persoalan tiket dan pengaturan penonton pada hari pertandingan sejak awal bangkitnya Persebaya sudah menjadi isu bersama, terutama di kalangan fans. Tiket pertandingan Persebaya dalam beberapa pertandingan diburu Bonek. Jumlah penonton di stadion membludak dan mereka yang bertiket sekali pun kesulitan untuk masuk. Seorang Bonek meninggal karena terjatuh saat menyeberangi tambak untuk mencapai stadion, sementara ribuan lainnya berjalan kaki berkilo-kilometer dari tempat parkir kendaraan agar bisa menyaksikan pertandingan.

Sayangnya, tidak ada surat terbuka untuk masalah ini. Kita tentu berbaik sangka: manajemen Persebaya terus-menerus berikhtiar membenahinya. Namun jika sebuah surat terbuka dapat dijadikan penentuan parameter prioritas perhatian, tentu akhirnya orang mafhum dan bisa menilai bagaimana sebenarnya cara pandang manajemen klub ini terhadap bisnis sepak bola. [wir/kun]

Komentar

?>