Rabu, 23 Mei 2018

Kiai, Soekarnoisme, dan SBY-isme

Rabu, 24 Januari 2018 00:12:16 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Kiai, Soekarnoisme, dan SBY-isme
Ainur Rohim, Penanggung jawab beritajatim.com.

Dua pasangan cagub-cawagub Jatim telah ditentukan dan tinggal penetapan oleh KPU. Kedua pasangan itu, pertama, Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarnoputra, yang diusung PDIP, PKB, PKS, dan Partai Gerindra. Kedua, Khofifah Indar Parawansa-Emil E Dardak yang didukung Partai Demokrat, Partai Golkar, PAN, Partai Hanura, PPP, dan Partai NasDem.

Kedua pasangan cagub-cawagub itu dipandang merepresentasikan dua arus besar aliran politik (isme) di Indonesia, lebih spesifik di Jatim: Nasionalisme dan Islamisme (Islam Tradisional/NU).

Kedua pasangan cagub-cawagub juga dinilai mewakili dua tlatah sosial politik dan budaya terbesar di Jatim: Tapal Kuda (Islam/Hijau) dan Mataraman (Nasionalisme/Merah).

Melihat potret di atas, seolah memposisikan tak ada perbedaan prinsip dalam perspektif politik antara pasangan Gus Ipul-Puti dengan Khofifah-Emil Dardak. Keduanya juga berasal dari pintu politik serupa: kekuasaan dan atau rezim politik yang sedang memangku kekuasaan.

Gus Ipul-Puti dari Poros Teuku Umar, dengan PDIP dan PKB sebagai kekuatan politik utamanya. Khofifah-Emil Dardak disebut-sebut sebagai kekuatan yang memperoleh restu dari rezim politik yang sedang berkuasa sekarang.

Kalau kita lebih jeli, Pilgub Jatim 2018 agak berbeda dibanding dua kali kontestasi langsung dalam demokrasi elektoral sebelumnya (2008/2009 dan 2013). Salah satu letak perbedaannya adalah turunnya aktor dari garis nasab Soekarno (Bung Karno), baik secara biologis dan ideologis, dalam kontestasi politik ini: Puti Guntur Soekarnoputra.

Putri Guntur ini turun gelanggang ke Jatim setelah terjadi 'kecelakaan politik' Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, yang sebelumnya diposisikan sebagai bakal cawagub mendampingi bakal cagub Gus Ipul.

Gerakan dan manuver politik Puti, alumni FISIP Universitas Indonesia (UI) Jakarta, sangat khas. Jatim merupakan teritori politik baru bagi dia, karena selama ini Puti terjun di daerah pemilihan (Dapil) di Provinsi Jabar, sehingga mengantarkannya sebagai anggota DPR RI.

Puti dan tim pendampingnya sadar betul apa yang harus dikerjakan sebagai pemain politik belum lama di Jatim. Jaringan dan komunitas pengagum Bung Karno berikut ajaran politiknya (kaum Soekarnoisme) yang banyak itu yang pertama disentuh dan disapa Puti Guntur.

Komunitas Soekarnoisme, terutama generasi old, yang banyak tersebar di kawasan Mataraman dan Pendalungan Jatim, dengan kehadiran Puti Guntur, disadarkan dan digerakkan kekuatannya untuk memenangkan pasangan Gus Ipul-Puti. Kelompok Soekarnoisme itu pendukung tradisional Puti Guntur, karena mereka memiliki relasi historis, politis, ideologis, sosiologis, dan kultural dengan ajaran Bung Karno, terutama Marhaenisme.

Kaum Marhaen, kaum wong cilik, rakyat kawula, dan kelompok marginal perkotaan diharapkan memberikan dukungan dan pilihan politik kepada pasangan Gus Ipul-Puti.

Soekarnoisme adalah salah satu isme yang coba di- engineering dalam perspektif politik untuk menggerakkan dan memobilisasi dukungan politik dalam kontestasi politik demokrasi elektoral, yang rawan disusupi kepentingan pragmatis dan transaksional. Kaum Marhaen dan Soekarnoisme diharapkan tetap menjadi voter ideologis bagi pasangan Gus Ipul-Puti.

Dalam perspektif lain, nilai-nilai Islamisme, terutama aliran Islam Tradisional (NU) merupakan determinan isme lain yang tak mungkin dinafikan dalam Pilgub Jatim 2018. Kalkulasi politik aktor yang dilakonkan apakah NU atau bukan NU, menjadi pertimbangan strategis bagi semua kekuatan politik yang secara legal-formal mengusung dan mendukung cagub-cawagub.

Pandangan ini tak mungkin beranjak dari realitas sejarah politik Pemilu 1955, di mana Jatim merupakan satu-satunya wilayah yang dimenangkan Partai NU. Sehingga berbicara politik Jatim tanpa NU sungguh tak logis dalam perspektif politik kontestasi.

Institusi dan figur paling penting di NU adalah kiai. Sebagai cultural broker, kiai menjadi jembatan strategis antara umat dengan komunitas lain, termasuk penguasa, dalam konteks ketatanegaraan dan politik pemerintahan. Kiai bukan sekadar menjalankan fungsi pencerahan teologis, tapi sekaligus sosial politik. Sekalipun pelibatan kiai dalam urusan politik tak selamanya bersifat praktis.

Relasi kiai-umat yang bersifat paternalistik menempatkan kiai dalam positioning strategis dalam perspektif politik, terutama dalam praktek demokrasi elektoral. Volume dan kuantitas voter yang menjadikan kiai bukan sekadar rujukan keagamaan, tapi sekaligus political election di Jatim jumlahnya sungguh besar. Mereka berada terutama di kawasan Tapal Kuda.

Kiai sebagai satu pemahaman umat dalam political behaviour di kontestasi politik secara langsung, merupakan realitas politik yang dipahami banyak elite. Karena itu, pertimbangan NU bukan NU, Hijau (Islam Tradisional) bukan Hijau, dan aspek lain menjadi sangat penting dan kalkulatif dalam konteks penentuan aktor yang akan diusung, didukung, dan kemungkinan terpilih dalam konteks Pilgub Jatim.

Gus Ipul dan Khofifah bersumber dari latar sosiologis, politis, dan kultural yang sama: NU. Sekalipun keduanya mewakili dua kutub berbeda, yakni kutub Tebuireng (Khofifah) dan kutub Lirboyo (Gus Ipul).

Pembelahan ini tak akan bersifat permanen dan berjangka panjang. Ketika perhelatan Pilgub Jatim usai, pembelahan sosial dan politik ini secara alamiah akan sirna dan antartokohnya bakal ger-geran, bersalam-salaman dan bukan berujung gegeran.

Pada titik lainnya, selama 10 tahun terakhir, kepemimpinan Jatim di bawah kendali Soekarwo (Pakde Karwo), kader GMNI yang bergabung di Partai Demokrat. Tokoh sentral Partai Demokrat adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang memenangkan Pilpres 2004 dan 2009. SBY, pensiunan jenderal TNI-AD bintang 4 kelahiran Kabupaten Pacitan, Jatim selama 10 tahun menjabat Presiden RI.

Partai Demokrat menjadi kekuatan politik baru yang kehadirannya langsung menorehkan prestasi emas. Demokrat memenangkan Pileg dan Pilpres 2009. Partai ini mengusung kredo politik Nasionalis-Religius atau Religius-Nasionalis. Demokrat menjadi Partai Tengah, di tengah tarik-menarik politik yang kadang mengeras dan melembek antara kutub ideologi Nasionalis dan Islam di Indonesia: Fakta historis politik yang muncul sejak menjelang kemerdekaan sampai di era Indonesia modern.

Pengikut dan pengagum SBY di Indonesia, khususnya di Jatim, tidaklah kecil. Kaum SBY-isme (istilah bagi pengikut dan pengagum paham politik SBY) setidaknya telah membuktikan kekuatan politiknya di Pilpres 2004 dan 2009 dan di Pilgub Jatim 2008/2009 dan 2013.

Di mana pada dua kali Pilgub Jatim secara langsung itu, pasangan Pakde Karwo-Gus Ipul yang didukung Partai Demokrat dan parpol lainnya mampu memenangkan kontestasi politik secara langsung.

The SBY factor kemungkinan besar tetap menjadi faktor strategis dalam Pilgub Jatim 2018. Pandangan itu lebih diyakinkan dengan masih kuatnya pengaruh politik kader ideologis SBY, Pakde Karwo, di peta perpolitikan Jatim, terutama di kawasan Mataraman dan Pendalungan.

Kiai, Soekarnoisme, dan SBY-isme kami prediksi menjadi faktor politik penting yang mempengaruhi perilaku memilih sekitar 32 juta voters Pilgub Jatim 2018. Tentunya masih banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi pilihan politik voter, termasuk praktek politik transaksional. [air]

Penulis adalah Penanggung jawab beritajatim.com dan mahasiswa program Magister Ilmu Politik, FISIP, Unair Surabaya.

Tag : politik

Komentar

?>