Selasa, 16 Oktober 2018

Mission Impossible: Memburu Cityzen

Minggu, 21 Januari 2018 14:51:02 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Mission Impossible: Memburu Cityzen
Klopp dan Guardiola (sumber: metro.co.uk)

Manchester City mengakhiri rekor tak terkalahkan di Liga Inggris musim 2017-2018 di Anfield. Oxlade Chamberlain, Roberto Firmino, Sadio Mane, Mohamed Salah bergantian membuat Ederson menjadi tukang pungut bola. Skor akhir: 4-3 untuk Liverpool.

Pertanyaannya: apakah kekalahan itu akan menjadi awal perburuan posisi puncak klasemen yang masih diduduki dengan nyaman oleh The Cityzen. Memasuki pekan ke-23, anak-anak Pep Guardiola masih menjaga selisih 12 angka dengan Manchester United dan 15 angka dengan Liverpool dan Chelsea. Mungkinkah di pengujung musim, Liverpool, Chelsea, atau Man United bisa menggulingkan City?

Matematis: mustahil. City masih memiliki delapan kandang kandang dan tujuh laga tandang. Rerata perolehan angka saat mereka bermain di Ettihad adalah 2,8. Nyaris sempurna. Sementara di laga tandang, mereka memiliki rata-rata perolehan angka tertinggi, yakni 2,58. Jika ditabulasi dengan asumsi rata-rata itu konsisten hingga akhir musim, maka dari sisa pertandingan kandang, City akan memperoleh 22,4 angka dan 18,06 angka saat tandang. Total di akhir musim, tim biru langit itu akan mengoleksi 102 angka.

Lima klub besar sisanya akan berebut tiga posisi di zona Liga Champions. Man United akan memperoleh total 82 angka di akhir musim dan berada di posisi kedua. Setan Merah punya rata-rata poin di kandang 2,4 dan di tandang 1,9. Jika ditabulasikan dengan sisa tujuh laga kandang dan delapan laga kandang, mereka akan memperoleh total 82 angka di ujung musim. Tertinggal 20 angka dari City dan unggul lima angka dari Liverpool dan Chelsea yang berada di posisi tiga dan empat.

Liverpool dan Chelsea hingga akhir musim sama-sama memiliki sisa tujuh pertandingan kandang dan delapan pertandingan tandang. Mereka sama-sama memiliki rata-rata poin kandang 2.17 dan poin tandang 1.9. Di akhir musim keduanya akan sama-sama memperoleh 77 angka. Namun Liverpool lebih diunggulkan mengisi tempat ketiga, karena produktivitas barisan depannya yang mengerikan. Hingga pekan ke-23, The Reds mencetak 54 gol. Tertinggi kedua setelah City yang mencetak 67 gol.

Dari sisi rata-rata perolehan angka kandang, Arsenal sebetulnya lebih bagus daripada Liverpool, Chelsea, dan Tottenham Hotspur. The Gunners rata-rata meraup 2.36 angka di Emirates dan masij punya delapan pertandingan kandang tersisa. Namun rekor pertandingan away mereka sangat buruk: hanya mencatatakan rata-rata 1,08 angka, dan masih ada sisa tujuh pertandingan tandang hingga akhir musim.

Tak heran jika kemudian Arsenal hanya akan menduduki posisi keenam dengan total 65 angka di akhir musim. Mereka akan berada di bawah Spurs yang memiliki rata-rata poin kandang 2,08, dan poin tandang 1,73. Anak-anak asuhan Mauricio Pochettino secara matematis akan memperoleh 72 angka di akhir musim ini.

Klasemen dengan asumsi tabulasi rata-rata poin sejak awal musim ini bisa berubah, jika kita hanya menghitung rata-rata perolehan poin total sejak 1 Desember 2017 atau Festive Period. Namun perubahan hanya akan terjadi pada peringkat zona Liga Champions. Juara akan tetap disandang City.

Desember adalah bulan tersibuk dalam Liga Inggris, dan secara psikologis konsentrasi pemain terbelah dengan semangat libur Natal bersama keluarga. Tim papan atas yang berhasil Festive Period dengan baik memiliki peluang untuk menjadi juara di akhir musim. Festive Period adalah ujian konsistensi.

Man City sudah memainkan sembilan  pertandingan sejak awal Desember 2017 hingga pekan ke-23. Mereka meraup 22 poin di masa sibuk dengan memenangkan 7 pertandingan, 1 kali imbang, dan 1 kali kalah  Rata-rata perolehan angka mereka 2,4, masih lebih baik dibandingkan Liverpool (2,3), Spurs (2,2), Man United (2), Chelsea (2), dan Arsenal (1,2).

Jika mengacu laju rata-rata perolehan angka tersebut, maka setelah pekan ke-23, akan diperoleh perkiraan klasemen akhir musim 2017-2018 sebagai berikut:

1. Man City 98 angka

2. Liverpool 81,5 yang dibulatkan menjadi 82 angka

3. Man United 80 angka

4. Spurs 77 angka

5. Chelsea 77 angka

6. Arsenal 57 angka

Perolehan angka Spurs dan Chelsea sama. Namun Spurs memiliki tren lebih baik dengan rata-rata perolehan angka 2,2 pada Festive Periode dibandingkan Chelsea (2). Jadi The Lilywhites lebih diunggulkan memperoleh slot terakhir Liga Champions.

Secara historis, Liga Inggris pernah mencatat: besarnya keunggulan angka dalam klasemen sementara tak selamanya menjadi garansi juara. Ini liga tempat di mana Manajer Manchester United bisa mengatakan sumpah-serapah penuh bangga: football bloody hell.

Musim 1995-1996, Newcastle pernah unggul sembilan angka atas Man United dan memiliki keuntungan satu pertandingan lebih sedikit. Di bawah asuhan Kevin Keegan, The Magpies menampilkan sepak bola super ofensif alias gung ho. Namun di akhir musim, pasukan Alex Ferguson menjadi juara.

Liverpool pernah tercecer di peringkat 12 pada musim 1981-1982 hingga pekan ke17. Namun Bob Paisley berhasil membawa Reds menjadi juara dengan keunggulan empat angka atas Ipswich Town.

Namun, dari aspek kesejarahan pula, keunggulan 12 angka sangat sulit untuk didekati, terutama jika tim penguasa klasemen berhasil melewati Festive Period dengan poin tinggi. Jadi, misi perburuan Cityzen tak ubahnya petikan puisi: 'hidup hanya menunda kekalahan'. Kemenangan Liverpool 4-3 pekan lalu hanya menunda waktu Cityzen mengangkat trofi liga musim ini. [wir]   

Klopp dan Guardiola (sumber: metro.co.uk)

Tag : sepakbola

Komentar

?>