Kamis, 22 Februari 2018
Dibutuhkan Wartawan Kriminal di Surabaya, Usia Maks 27 Tahun, S1, Punya Pengalaman, Kirim lamaran ke beritajatim@gmail.com

Menuju Karya Seni Kolaborasi

Sabtu, 20 Januari 2018 01:27:19 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Menuju Karya Seni Kolaborasi

TIBA-TIBA saya teringat pertunjukan Panji Remeng di Taman Budaya Jawa Timur, sepuluh tahun yang lalu. Selasa malam tanggal 2 Desember 2008, tepatnya. Pertunjukan ini, menurut saya, merupakan pelajaran berharga bagi masyarakat seni kita di Jawa Timur. Seni kolaborasi.

Pada pertunjukan tersebut sutradara, yaitu Heri Lentho Prasetya, mengajak beberapa seniman lintas disiplin. Langkah ini, meskipun tidak sepenuhnya baru, adalah lompatan bagus bagi kebuntuan kreasi ranah pertunjukan di Jawa Timur.

Heri Lentho, yang memiliki latar belakang tari, berkolaborasi dengan Toyib Tamsar (seni rupa), Tri Handoyo (seniman sekaligus pengrajin topeng), Pambuko (seniman musik), dan Rizard Grandong (seniman tata cahaya). Semua seniman tersebut hadir membentuk tim artistik. Saling menyumbangkan daya ciptanya untuk satu karya pertunjukan. Hasilnya, walau belum terlalu maksimal, ada beberapa sisi yang mengagumkan.

Pertama masalah setting. Begitu memasuki gedung Cak Durasim, malam itu, penonton langsung disuguhi format setting yang rapi sekaligus menimbulkan kesan angker. Tampak sekali sentuhan daya cipta Toyib Tamsar bersama dengan Tri Handoyo. Pada bagian belakang, ada sulur-sulur seperti sulur pohon beringin. Di sisi kiri, ada papan kayu berundak. Terdapat beberapa topeng dipajang di situ. Tepat di sebelah papan, ada pohon bercabang-cabang. Kering. Pada dahan, pada ranting, dan pada batangnya bergelantung topeng-topeng pula. Dan yang paling menyeramkan, di sisi kanan pojok, setting amat mirip dengan tempat pemujaan. Di situ ada lima sosok patung berwajah menyeramkan (mirip leak Bali). Keberadaan patung ini dilengkapi dengan asap yang selalu mengepul. Sekali lagi, keseluruhan tata setting menampilkan kesan angker tapi juga rapi.

Ketika pertunjukan dimulai, adegan awal adalah seorang bancak (baca: rakyat kecil) yang membikin topeng kayu. Oleh sebab diperankan Tri Handoyo (cucu maestro topeng Mbah Karimun), adegan ini seakan tanpa cacat. Sang bancak seperti memamerkan teknik mencipta topeng. Berbekal tatah, pisau, dan palu, Tri mengubah potongan kayu menjadi topeng.

Selang beberapa saat, para aktor bertopeng Panji memasuki panggung. Mereka mengeluarkan dialog-dialog ringan. Tapi sebenarnya, bukan dialog tersebut yang ditonjolkan. Masing-masing aktor membawa alat musik rebana. Di atas panggung, keempat aktor bergerak atraktif menguasai ruang sembari memainkan beragam adonan musik. Mulai dari acapella, nyanyian dolanan Jawa, musik yang bernafas Islam, tembang lelanturan, dan musik klotokan. Adegan ini diperankan oleh pemain yang benar-benar berlatar belakang musik. Mereka adalah Pambuko, Suwandi, Triyono, dan Antok.

Tapi yang paling mengagumkan tentu saja sajian tari topengnya. Atraksi dari empat penari, dua wanita (Mega Kartika Putri dan Ernawati) dan dua lelaki (Supriyadi dan Hariyanto, dia Duta Penari Jawa Timur), secara konsisten merepresentasikan kehadiran sosok sang Panji. Tarian topeng yang memang bersandarkan dari kisah Panji.

Semua sajian tersebut dipadukan dengan kehadiran tokoh emban (pengasuh). Tokoh ini diperankan oleh Purbandari, seorang aktor potensial yang memiliki improvisasi bagus dan suara cemerlang. Secara intens, Purbandari merespon pembuat topeng, penari, dan pemusik. Di tengah-tengah pertunjukan, dia justru naik ke arah penonton. Sampai ke penonton paling belakang. Menyapa penonton untuk menawarkan topeng. Ada beberapa celetukan dari penonton dan Purbandari secara cerdas meresponnya.

Dari pertunjukan Panji Remeng yang difasilitasi Taman Budaya Jawa Timur tersebut, ada beberapa catatan yang penting untuk dikemukakan. Ini perihal kolaborasi seni. Dalam 15 tahun terakhir, Jawa Timur tidak memiliki seni pertunjukan yang gemilang. Setidak-tidaknya yang mampu menginspirasi dunia seni pertunjukan dalam wilayah nasional. Lain halnya dengan Yogyakarta yang memiliki Teater Garasi. Bandung yang memiliki Teater Payung Hitam.

Kolaborasi para seniman Jawa Timur bila terus dilanjutkan, setidak-tidaknya, akan mampu menghasilkan karya seni yang maksimal dalam tiap sisinya. Pasalnya, sebuah seni pertunjukan adalah pertautan seluruh aspek seni. Di atas panggung ada aktor-aktor yang berdialog, ada tata setting, ada permainan cahaya, ada musikal, ada kisah, ada alur, ada pemikiran yang sedang didedahkan, ada olah tubuh manusia. Sekali lagi, segala bentuk seni melebur. Menjadi sajian pertunjukan yang utuh.

Pada pertunjukan Panji Remeng, pertautan lintas bidang seni tersebut telah menunjukkan potensialitas mengagumkan. Setting bagus, tarian bagus, musik bagus, tata cahaya bagus, dan kisah yang diangkat pun akrab dalam kazanah kultur Jawa Timur. Satu hal yang belum tergarap secara maksimal hanyalah keutuhannya. Purbandari, yang nota bene seorang aktor, mampu menyuguhkan keluwesan dialog. Dia mampu berimprovisasi secara matang. Lain halnya dengan Tri Handoyo. Tampak dia masih gagap membangun “ping pong” dialog. Olah vokalnya juga kurang bagus. Para pemusik pun, ketika di atas panggung dituntut tidak hanya bermain musik, maka kelemahannya jelas tergambar. Olah tubuhnya kedodoran. Sedangkan para penari juga terlalu asyik main sendiri. Tidak tampak menyatu dengan permainan sesama aktor di atas panggung.

Keutuhan pertunjukan memang problem berat bagi sebuah seni kolaborasi. Ini berbeda dengan koreografer yang mempertontonkan pertunjukan tari. Seorang sutradara teater yang memainkan drama. Atau, musisi yang memainkan pentas musik. Kolaborasi menggabungkan kesemuanya sehingga segala lintas seni melebur.

Seni kolaborasi membutuhkan kesamaan visi yang kuat. Bila visi telah sama, pertautan antar-seniman mudah untuk dikonkretkan. Ada konsep yang sama dan ada koridor yang sama. Pertunjukan seni tidak lagi tempelan-tempelan tetapi kesatuan yang utuh. Dalam prosesnya, para pemain juga harus memiliki sikap rendah hati. Saling belajar. Bagaimana membangun dialog, seniman berbasis tari maupun musik harus mau belajar pada seniman berlatar teater. Dalam hal kelenturan tubuh, seniman lain musti percaya kepada seniman bertalar tari.

Selebihnya, pertunjukan seni kolaborasi perlu sering digelar. Semakin banyak produksi seni kolaborasi, pola ini akan semakin menemukan ketepatan bentuknya. Kemungkinan-kemungkinan baru dapat muncul. Karya baru yang memiliki kekuatan pada tiap aspek seni bisa terwujud. Bagi seniman sendiri, mereka akan semakin terbiasa berinteraksi kreatif. Saling bergesekan, belajar, dan saling bertukar-tafsir. Menciptakan sebuah hubungan profesional yang produktif.

Sedangkan, di luar panggung, garapan seni kolaborasi membutuhkan masukan atau pendalaman tema dari para pakar atau akademisi. Semisal bersinggungan dengan tema lingkungan, maka, membutuhkan dialog dengan aktivis lingkungan atau pakar hukum lingkungan.

Dan yang tidak kalah penting lagi, di luar panggung, adalah peran kehumasan. Isu tentang tema yang digarap dalam seni kolaborasi harus disebarkan sejak mula produksi. Agar publik paham. Agar publik penasaran menanti tanggal pertunjukannya. Saat sekarang, pengemasan atau persebaran isu tidak harus melulu melalui media cetak. Teknologi memanjakan kita dengan media sosial dan website gratisan. Sekaligus memudahkan menjalin jaringan melampaui batas teritorial Indonesia. Kemajuan zaman ini juga tidak layak untuk diabaikan. [but]

Tag : seni

Komentar

?>