Sabtu, 24 Februari 2018

Pemimpin yang Membenci Masa Lalu

Jum'at, 19 Januari 2018 00:09:23 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Pemimpin yang Membenci Masa Lalu
Oryza A Wirawan, wartawan beritajatim.com

Seorang pemimpin yang dilahirkan dengan kebencian terhadap masa lalu hanya akan menghasilkan nihil. Dia merasa tak perlu berdamai dengan sejarah, karena pada masa lalulah dia menemukan tempat eksist bagi kegagalannya menyelesaikan persoalan. Dia tak bersalah. Dia hanya menanggung warisan keberengsekan masa lalu. Titik.

Maka pemimpin yang dilahirkan dengan kebencian terhadap masa lalu akan lebih suka memacak diri di tengah keramaian dalam acara-acara seremoni dan festival. Dia akan menghindari diskusi, karena di sana ada sekian pertanyaan, dan itu merepotkan. Dia tak butuh pertanyaan dari yang lain, karena masa lalu sudah tersedia sebagai jawaban atas apa yang gagal dicapai hari ini.

Dia mencoba memangkas hubungan dengan masa lalu, menghapuskan ingatan rakyat terhadap yang lampau, dan mencoba menjadi titik nol, awal mula hal-hal baru. Maka dia cari cara untuk mengungkap apa yang dianggapnya busuk dari masa lalu untuk menegaskan perbedaan dengan yang kini, dengan dirinya.

Tapi mungkinkah menjadikan sejarah diskontinyu, terputus di tengah jalan seperti benang layang-layang? Pertanyaan ini tak akan pernah bisa terjawab olehnya, dan dia memang tak butuh menjawabnya.

Di tengah riuh tepuk tangan dan pujian-pujian yang dilemparkan hulubalang dan orang-orang dekatnya, pertanyaan tidak dibutuhkan.

Namun ada satu problem yang akan dihadapi tipe pemimpin seperti ini. Dia akan senantiasa merasa terancam dan tidak percaya dengan orang-orang di sekitarnya, para pegawainya, para staf, anak buahnya. Orang-orang itu adalah bagian dari masa lalu. Dia tak mempercayai loyalitas mereka. Dia dirundung kecemasan yang nyaris paranoid: bahwa ada yang membencinya dan menghendaki kursinya. Dia tak bisa membuktikannya, namun cerita tetap harus disebar: tentang rasa terancam yang tak rehat.

Pemimpin yang dilahirkan dengan kebencian terhadap masa lalu membuat demarkasi imajiner: saya dan mereka. Saya bersih, saya benar, saya lurus. Mereka kotor, mereka salah, mereka bengkok.

Dia menuntut orang lain menyandang obligasi moral untuk menaati regulasi. Namun dia menafsirkan regulasi sendiri. Demi kepentingan pribadinya? Kita tidak tahu. Tapi setiap tafsir yang tak bisa dipertanyakan dan menolak untuk digugat adalah tafsir yang berdiri di atas logika kesendirian.

Oleh sebab itu, pemimpin seperti itu cenderung menampik inisiatif dari orang lain, kawan atau lawan politiknya. Tak peduli sebagus apapun prakarsa itu. Ia tak ingin ada orang lain dalam memori publik. Ruang kenangan itu terlalu sempit untuk egonya.

Pada satu titik dia mungkin kesepian. Tapi itu tidak penting. Bukankah Machiavelli pernah menganjurkan: lebih baik ditakuti daripada dicintai. Maka saat ada seorang bawahan mengaku lebih takut kepadanya daripada terhadap seekor singa, kita tahu, kuasa absolut memang dikehendaki.

Namun apakah ketakutan itu akan abadi? Bahkan, seperti kata Bung Karno, seekor cacing pun akan berkelugat-keluget saat disakiti. Setiap rasa takut tak bisa dipelihara sendiri. Ia membutuhkan perkakas dan orang-orang yang bekerja untuk menebarkan rasa takut itu.

Lalu bagaimana orang mau bekerja untuk menebarkan rasa takut itu jika sang pemimpin tak mempercayainya?

Lalu saat rasa takut itu menguap, yang tersisa adalah kebencian orang-orang yang lemah dan tersakiti terhadap sang pemimpin. Ketika dia turun tahta, dia menjadi masa lalu bagi orang-orang itu untuk kemudian diburu, diungkit-ungkit kesalahannya, dibongkar-bongkar rahasia gelapnya.

Pemimpin yang dilahirkan dengan kebencian terhadap masa lalu akan berhadapan dengan masa lalu saat ia berhenti. Dia kemudian tahu: bahwa setiap pemimpin memiliki aib, dan tak ada manusia yang bisa melarikan diri dari masa lalunya. [wir/air]

Esai ini ditulis sebagai bahan refleksi dalam pemilihan kepala daerah serentak tahun 2018

Tag : politik

Komentar

?>